Bab.7 Apa Tubuh Kerempeng Itu Bisa Memuaskan Liliati

791 Words
  Ini adalah sebuah bungalow berdinding putih dengan lima kamar, di depan pintu terdapat halaman besar dengan enam meja biliar, dan di atasnya dihiasi dengan kain berwarna, beberapa pria bertelanjang d**a sedang bermain biliar.   Di depan pintu bungalow terdapat kulkas minuman yang berisi bir dan minuman lainnya, di belakangnya terdapat rak kayu berisikan rokok.   Seorang wanita gemuk dengan baju tidur seksi merah muda duduk di belakang kulkas minuman, saat mendengar suara Firdaus dia langsung berdiri dan menyapa sambil tersenyum, "Firdaus, kamu datang."   Firdaus menepuk bahuku dengan bangga, berkata kepada wanita gemuk, "Mami, dia adalah teman baik yang pernah aku ceritakan padamu, dia baru saja sampai, apakah Liliati sudah siap?"   Ekspresi wanita gemuk itu tetap sama, masih tersenyum, hanya mengalihkan pandangannya menatapku, terkejut, "Aduh, wajahmu kenapa?"   Firdaus terkekeh, "Baru turun dari kereta dia sudah dijambret, temperamennya buruk, jadi dia langsung menyerang orang itu, hanya dengan beberapa pukulan dan tendangan dia membuat orang itu masuk rumah sakit, tapi dia juga terluka."   Bualan Firdaus sedikit berlebihan, membuatku tidak nyaman. Jika menggunakan bahasa gaul sekarang, lebay.   Tapi dari ekspresi wanita gemuk itu dia tampaknya percaya kata-kata Firdaus, dia juga mendekati wajahku untuk melihat, menghela nafas, wajahnya prihatin, "Pemuda yang begitu tampan, kenapa begitu tidak hati-hati."   Aku dengan sekilas menyadari tatapan tidak suka beberapa pemuda yang sedang bermain biliar.   Firdaus terus terkekeh, tidak peduli, "Dimana Liliati? Suruh dia keluar, sobatku ini sudah menunggu selama dua puluh tahun, dia sudah tidak sabar."   Wanita gemuk itu tertawa, "Kenapa begitu terburu-buru, Liliati sepertinya belum bangun."   Firdaus bergegas masuk ke dalam, "Aku pergi membangunkannya, sudah jam berapa ini masa masih tidur."   Tapi begitu dia memasuki pintu, dia didorong keluar oleh seorang pria paruh baya yang sedang memegang piring stainless.   Begitu Firdaus melihat pria itu, matanya langsung berbinar, dengan cepat mengeluarkan rokok, dan memberikannya, dengan hormat berkata, "Papi, ayo merokok."   Pria paruh baya melambaikan tangannya dan berkata, "Aku mau makan." Saat berbicara dia menatapku, dan aku mengangguk dengan ramah.   Hubungan ini membuatku bingung, apakah kedua orang ini benar-benar mertua Firdaus?   Tirai di pintu kembali terbuka, seorang wanita cantik dengan tubuh jenjang muncul sambil membawa piring, dia melirikku, dan kemudian meletakkan piring di depan wanita gemuk, "Makan."   Firdaus menyapa dengan konyol, "Halo istri pertama."   Wanita cantik itu menoleh dan tersenyum, kemudian masuk ke ruangan lagi.   Aku bingung lagi, apa maksudnya istri pertama?   Wanita gemuk itu melihat makanan di dalam piring tetapi tidak mulai makan, dia berbalik ke dalam ruangan dan berteriak, "Liliati, apakah ada telur rebus?"   Dari dalam terdengar jawaban seorang wanita dengan suara yang jernih, "Tidak ada!"   Wanita gemuk itu menambahkan, "Kalau begitu kamu rebus beberapa, sebentar lagi mau digunakan." Selesai mengatakan itu, dia mengambil sendok dan mulai makan malam, sambil menatapku dan tersenyum.   Aku membandingkan wajah wanita gemuk itu dengan wanita cantik yang baru saja keluar, dan aku menyimpulkan bahwa mereka ibu dan anak.   Apakah itu berarti bahwa wanita gemuk ini membuka toko, dan putri kandungnya sendiri yang melayani tamu?   Kemudian mendengar suara berisik Firdaus, "Liliati sudah bangun ya."   Wanita gemuk itu tertawa, "Biarkan dia makan dulu, kalian main dulu di sana."   Firdaus menghela nafas, "Oke, ayo, kita pergi main."   Sambil berkata Firdaus pergi menghampiri para pemuda yang sedang bermain, bertanya, "Main berapa besar?"   Seorang pemuda dengan rambut cepak menjawab, "Kita mengikuti Kak Firdaus saja."   Firdaus tertawa, "Dua puluh ribu per skor." Sambil berkata dia mengambil tongkat dan mulai bermain.   Untuk hal ini aku sangat yakin pada Firdaus, sebelumnya saat di sekolah dia terkenal dapat menyelesaikan permainan dalam sekali tembak, tidak disangka setelah datang ke Pangkasar pun dia masih sering main.   Dia sedang bermain bola, dan aku mencari kursi untuk duduk.   Pria paruh baya itu memberi sekantong buah pinang, aku mengambilnya, kemudian menyobek plastik dan memakannya, tapi baru mengunyah beberapa kali, merasakan tenggorokan kaku, seperti ada yang tersangkut di tenggorokan, dan aku tidak bisa mengeluarkannya, sangat tidak nyaman.   Pria paruh baya berkata, "Ini pertama kalinya kamu nyirih ya, tidak apa, semakin mengunyahnya kamu akan semakin terbiasa."   Ada seseorang yang datang lagi, dengan langkah besar, dan berkata, "Papi, satu bungkus sampoerna."   Pria paruh baya itu berbalik untuk mengambil rokok dan menyapa pria itu, "Bagaimana keberuntunganmu hari ini?"   Pria itu menggelengkan kepalanya, "Jangan tanya, aku belum tidur sejak tadi malam, aku sudah kehilangan enam belas juta." Selesai bicara dia merobek bungkus rokok, "Apa Liliati ada waktu malam ini?"   Papi tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada waktu."   Pria itu bertanya lagi, "Siapa yang memakainya?"   Papi menunjukku, orang yang baru datang melihatku, aku juga menatapnya, orang itu memiliki wajah menyeramkan dengan alis yang turun, sekali lihat pun sudah tahu dia orang yang memiliki banyak pengalaman. Dia memasukkan rokok ke mulutnya, menatapku dan kemudian berkata kepada pria paruh baya itu, "Apa tubuh kerempeng itu bisa memuaskan Liliati?"   Pria paruh baya itu tidak menjawab, hanya tertawa. Aku mendengar provokasi dalam perkataannya, tapi aku terlalu malas untuk meladeninya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD