LAN 2. Putus

1337 Words
Pintu itu terbuka dengan keras. Bunyi dentingnya menggema di lorong hotel yang sepi, seperti pertanda bahwa sesuatu yang buruk baru saja dimulai atau mungkin baru saja berakhir. Danial berdiri di ambang pintu, napasnya memburu. Dadanya naik turun, matanya tajam menyapu ruangan itu dengan cepat, seolah mencari sesuatu atau seseorang. Dan di sana lah di atas tempat tidur yang berantakan, dengan seprai yang kusut dan cahaya lampu redup yang menyinari setengah ruangan. Sang kekasih ada di sana, Lyo. Tubuhnya tertutup selimut, rambutnya berantakan, wajahnya pucat, dan napasnya pelan, seolah masih terjebak di antara sadar dan tidak. Di sisi lain tempat tidur, seorang pria berdiri. Kemeja pria itu belum sepenuhnya rapi, wajahnya dingin, dan matanya menatap Danial tanpa ekspresi yang jelas, pria itu terlihat familiar. Pria itu terlalu tenang seolah apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang perlu dijelaskan. Danial berdiri membeku. Menatap ranjang yang begitu berantakan, sepertinya terjadi sesuatu seperti perang hasrat. Danial begitu hancur, kehancuran yang ia temukan pada perempuan yang ia cintai, siapa yang tak akan hancur, melihat sang kekasih berperang hasrat dengan pria lain? “Apa… ini?” tanya Danial, menghampiri pria itu dan memukuli wajahnya. “Apa yang kau lakukan padanya?” tanya Danial lagi, membuat pria itu hanya bisa diam, karena ia tahu posisinya saat ini salah, namun ia tidak sepenuhnya salah, yang salah di sini adalah Mala. Pria itu bernama Rainer yang hanya menatapnya sekilas, lalu mengambil jaketnya tanpa tergesa. Sementara itu, Lyo mulai bergerak pelan. “Hmm.” Suara lirih keluar dari bibirnya. Kepalanya terasa berat, tubuhnya lemas. Dunia di sekitarnya seperti berputar perlahan, tidak stabil. Lyo mencoba membuka mata. Cahaya lampu terasa menyilaukan dan sosok pertama yang ia lihat. “Danial?” Suaranya nyaris seperti bisikan dan Danial langsung menatapnya. Mata mereka bertemu dan saat itulah semuanya benar-benar runtuh. Lyo mencoba bangkit, ia tidak tahu apa yang terjadi dan ia tidak tahu ia dimana, perasaannya saat ini sudah membaik setelah merasakan panas luar biasa yang menyerangnya. Tangannya bergerak pelan, menyibak selimut sedikit, tanpa sadar dan tanpa benar-benar memahami situasi. “Danial, kamu di sini?” Ada kelegaan dalam suaranya yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lyo mencoba tersenyum. Mencoba meraih sesuatu yang familiar, sesuatu yang aman. Lyo mengulurkan tangan. “Danial, aku—” Lyo mencoba mendekat. Namun sebelum ia sempat menyentuhnya, Danial mendorongnya dengan kasar cukup untuk membuat tubuh Lyo terhuyung dan jatuh kembali ke atas tempat tidur. Di saat itulah, selimutnya bergeser dan untuk pertama kalinya, Lyo benar-benar menyadari. Tubuhnya tidak tertutup apa pun di balik selimut yang kini sedikit terbuka. Napasnya seolah berhenti, ia mengedipkan mata dan matanya membesar seketika, tangannya langsung menarik selimut itu kembali, menutup dirinya dengan panik. “Ini … apa?” tanya Lyo dengan suara gemetar. Lyo menekan kepalanya, hingga potongan-potongan ingatan mulai muncul. Lyo ke bar bersama Mala, lalu minum sedikit, lalu terasa pusing seketika, dan setelah itu semuanya benar-benar kosong. “Danial, aku … aku nggak tahu—” “Cukup!” Satu kata itu menghentikannya, nada suara Danial dingin tak seperti biasanya, tak ada kelembutan. Tapi, tatapan matanya menunjukkan kekecewaan yang terlalu dalam. Pria yang menikmati tubuhnya beberapa menit yang lalu sudah berdiri didepan pintu. Rainer tak pergi dari sana dan hanya menatap keduanya sebentar. Ia tak mungkin meninggalkan wanita yang sudah rusak karenanya, Rainer juga sempat melihat noda darah di kasur itu, artinya wanita yang bernama Lyo itu masih perawan. Rainer merasa bersalah ada di sini dan hendak pergi, namun langkah kakinya terhenti ketika Danial bersuara. “Kamu!” Rainer menoleh. “Keluar.” Nada itu bukan permintaan dan Rainer tidak membantah. Rainer hanya menatap Lyo sekali lagi, tatapan yang sulit diartikan, lalu keluar tanpa sepatah kata pun. Pintu akhirnya tertutup meninggalkan mereka berdua dan kehancuran yang tidak bisa dihindari. “Jelasin,” ucap Danial. Lyo menggigit bibirnya. Air matanya mulai jatuh, sejak tadi ia sudah berusaha mengingat apa yang terjadi, namun ia tidak mengingat apa pun. “Aku … aku nggak ingat apa-apa.” “Hebat.” Nada sinis itu seperti pisau. “Kamu harus dengeri penjelasanku dulu,” kata Lyo. “Apa yang mau kamu jelasin kalau kamu nggak ingat apa-apa, Lyo. Apa kamu pikir aku bodoh?” “Tapi—” “Aku dateng ke sini karena pesan dari Mala. Dia bilang aku harus lihat sendiri siapa kamu sebenarnya.” Lyo menggeleng cepat. “Bukan … bukan gitu, aku dijebak—” “Dijebak?” Danial tertawa pelan. Tawa yang tidak mengandung kebahagiaan sama sekali, membuat Lyo benar-benar hancur sehancur-hancurnya, tatapan Danial bukan lagi tatapan sayang, melainkan tatapan jijik. “Kamu pikir aku bakal percaya itu?” “Aku beneran nggak tahu, Danial! Aku cuma minum, terus aku pusing, aku—” “Kamu tidur sama dia.” Kalimat itu dipotong dengan dingin dan tanpa ampun, membuat Lyo terdiam dan akhirnya tangisnya pecah seketika. “Aku nggak sadar.” “Cukup, Lyo. Kalau kamu mau bohong, jangan ke aku, kita udah lama sama-sama,” ujar Danial dengan nada itu lebih rendah sekarang. Lyo menggeleng keras. “Aku nggak bohong! Aku nggak mungkin ngelakuin itu, aku cuma—” “Terus ini apa?!” Suara Danial meninggi untuk pertama kalinya. Tangannya menunjuk ke arah tempat tidur yang berantakan. Ke arah dirinya yang duduk di sana, menggigil di balik selimut. “Ini semua kebetulan?!” Lyo tidak bisa menjawab. Karena bahkan dirinya sendiri, tidak mengerti. Keheningan jatuh di antara mereka. Danial menatapnya lama. Danial bingung dan tidak tahu harus bagaimana, di satu sisi ia mencintai Lyo, di sisi lain ia jijik pada Lyo. “Aku bodoh ya,” katanya pelan. Lyo mengangkat wajahnya. “Aku percaya sama kamu.” Air mata Danial jatuh dan itu lebih menyakitkan dari semua teriakan. “Danial, aku—" “Aku bela kamu di depan semua orang, aku mengira kamu beda.” Suara Danial bergetar. Lyo menggeleng. “Aku memang beda! Aku nggak kayak yang kamu pikir sekarang—” “Tapi ini yang aku lihat, Lyo! Ini yang ada didepan mataku,” lirih Danial. Lyodra terdiam, karena ia tidak bisa melawan itu. “Aku sayang sama kamu, Danial,” lirih Lyo, terdengar sangat lemah dan lembut, namun Danial malah tertawa pahit. “Sayang? Lucu sekali kamu.” Danial melangkah mundur, seolah ia ingin menjauh dan tidak ingin berada lagi didekatnya. “Kalau ini caranya kamu sayang aku … aku nggak butuh.” Danial menghela napas kasar. Hati Lyodra seperti diremas. “Danial, jangan gitu … tolong … aku bisa jelasin—” “Udah selesai,” ujar Danial secara final dan kata-kata itu tak bisa ditarik kembali. Lyo langsung turun dari tempat tidur, masih memegang selimut erat-erat di tubuhnya. Lyo tak perduli lagi, ia tak perduli pada rasa malu dan keadaan dirinya sekarang, karena yang terpenting sekarang, ia tidak boleh kehilangan Danial. “Jangan pergi, aku mohon dengarkan aku,” ujar Lyo meraih lengan Danial. Danial menatap tangannya yang memegangnya, lalu menepisnya pelan. “Jangan sentuh aku. Aku jijik, Lyo. Lihat tubuhmu, bekas merah di lehermu, semua itu bukan aku yang memberikannya, tapi pria lain, selama ini aku sudah menjaga harga dirimu agar ketika kita menikah, kamu masih suci dan dalam keadaan baik-baik saja. Namun … apa ini?” Kalimat itu seperti tamparan, berhasil membuat Lyo membeku. Air mata Lyo jatuh tanpa henti. “Mulai sekarang … kita nggak ada hubungan apa-apa.” Danial menatapnya untuk terakhir kali. “Danial, kita cari Mala, Mala bisa jelasin semua ini, aku sama Mala tadi,” lirih Lyo. “Jangan bawa orang lain di dalam hubungan kita. Sekarang terserah padamu, Lyo, aku selesai.” Danial pergi dan meninggalkan Lyo yang masih tak mengenakan apa pun, harga diri itu usai terjualkan. Pintu itu tertutup keras dan akhirnya hanya ada dirinya. Lyo berdiri di sana, masih memegang selimut agar tidak jatuh, ia juga masih gemetar, masih tak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi satu hal yang pasti ia sudah kehilangan semuanya. Lyo terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya, hubungan yang tiga tahun sudah ia jalani bersama Danial, hancur seketika dan untuk pertama kalinya ia melihat amarah di wajah Danial, terlihat jelas bahwa ia kecewa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD