Lyo 4. ditolak

1114 Words
Pagi itu, Lyo berdiri di depan cermin kecil di kamar kost Mala, ia menatap tubuhnya yang sudah kotor karena telah direnggut pria asing yang tidak ia kenal, bahkan mengingat wajah pria itu pun sulit untuknya. “Gue harus kuat,” gumamnya pelan sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan. Tangannya berhenti di pipi sendiri, matanya sembab. Terlalu banyak drama dalam hidupnya belakangan ini. “Aku harus cari kerja, hidup harus lanjut,” bisiknya lagi, lalu menarik napas panjang. Lyo mengambil tas, memasukkan map berisi lamaran, lalu melangkah keluar rumah. Di gang depan kost Mala, dua ibu-ibu sedang duduk sambil mengupas sayur. Begitu Lyo lewat, suara mereka langsung pelan. Lyo mempercepat langkah, menunduk, pura-pura tidak dengar. Ketika hendak meninggalkan kost, seseorang memanggilnya, Lyo menoleh dan melihat Sari—tetangga kost Mala, yang juga mengenalnya. “Lyo!” Lyo berhenti. “Iya, Sar?” “Serius ya yang sedang tersebar? Katanya lo ani-ani?” tanyanya santai, tapi nadanya menusuk. Lyo menggenggam tali tasnya lebih erat. “Siapa yang mengatakan itu? Gue bukan ani-ani.” “Lah terus kenapa lo jalan ngangkang gitu? Kayak habis di perkosa lo.” Lyo menelan ludah. “Sar, gue lagi buru-buru.” “Serius deh gue tanya, Lyo. Lo beneran ani-ani kah? Atau hanya gosip doang? Tapi lihat cara jalan lo, lo kayaknya ani-ani beneran deh.” “Sar, ini semua nggak ada urusannya sama lo. Jadi, mending diam aja.” “Lo beneran deh, Lyo, gue nggak nyangka banget.” “Apa sih, Sar? Lo tahu apa?” “Udah nggak usah pura-pura, semua udah tahu kok, selain jadi beban hidup Mala, lo juga sok polos.” “Gue nggak kayak yang lo bilang ya.” “Terus ini apa?” Sari mengangkat ponselnya, memperlihatkan sesuatu sekilas. Lyo refleks melangkah mundur. Tangannya langsung gemetar. “Itu bukan—” “Udah deh, Lyo, kalau mau hidup bebas ya jangan sok alim.” Sari menurunkan ponselnya, lalu mendecak pelan. Kalimat itu menghantam. “Gue nggak kayak gitu,” suara Lyo mulai pecah. “Ya kelihatannya sih iya,” sahut Sari ringan, lalu berbalik. Lyo berdiri di sana, ia begitu malu untuk melanjutkan langkah kakinya dan itu aneh sekali, gambar yang Sari pegang di ponselnya saat ini darimana, tak mungkin Danial yang mengambil gambar itu. “Gue buru-buru, gue nggak bisa ladenin lo ngomong.” Lyo lalu pergi meninggalkan Sari dan beberapa orang yang berteriak padanya, berteriak seperti meneriaki maling. *** Beberapa jam kemudian, Lyo duduk di ruang tunggu sebuah kantor kecil, map di pangkuannya, tangannya dingin dan ia mencoba menarik napas dalam. Ia harus tenang dan fokus. Seorang wanita HR keluar dari ruangan. “Lyodra?” panggilnya sambil melihat berkas. Lyo langsung berdiri cepat. “Iya, Bu.” “Masuk,” ujar wanita itu singkat sambil membuka pintu. Di dalam ruangan, Lyo berdiri sampai dipersilahkan duduk, untuk mendapatkan informasi, ia berharap besar pada lamarannya saat ini akan di terima, semoga saja. “Silakan duduk,” kata wanita itu sambil meletakkan berkas di meja. Lyo duduk pelan, tangannya masih menggenggam map. “Jadi, kamu melamar sebagai admin, ya?” tanya wanita itu sambil membuka CV. “Iya, Bu,” jawab Lyo pelan. Wanita itu mengangguk kecil, lalu membaca beberapa detik. “Pengalaman belum ada?” tanyanya tanpa menoleh. “Belum, Bu. Tapi saya siap belajar,” jawab Lyo cepat. Wanita itu akhirnya mengangkat kepala dan menatapnya. Seolah tahu sesuatu tentangnya, seperti sedang menelisik. “Kamu … Lyodra?” tanyanya lagi, nadanya berubah sedikit. Lyo mengangguk. “Iya, Bu.” Wanita itu mengambil ponselnya, menekan sesuatu, lalu menoleh kembali. “Maaf,” katanya singkat. Lyo mengernyit. “Maaf, Bu?” “Kami belum bisa menerima kamu,” lanjutnya datar. “Tapi, saya belum interview—” Lyo mencondongkan badan sedikit. “Keputusan sudah kami ambil,” potong wanita itu, menutup berkasnya. Lyo terdiam. “Boleh saya tahu alasannya, Bu?” tanyanya pelan. Wanita itu ragu sebentar, lalu mendorong ponselnya sedikit ke arah Lyo. “Ini,” katanya. Lyo menatap layar itu sekilas saja, tangannya langsung lemas. Mengapa HR di tempatnya mendaftar kerja juga, harus ada fotonya? Siapa yang kirim? Tidak mungkin kan hanya kebetulan? “Ini bukan saya, Bu,” suaranya gemetar. “Kami tidak bisa ambil resiko,” sahut wanita itu cepat. “Tapi—” “Maaf,” ulangnya, kali ini lebih tegas. Akhirnya, Lyo pasrah dan memilih keluar dengan patah hati, patah hati terbesarnya bukan hanya diputuskan Danial, tapi ketika semua orang melihatnya jijik, tak jarang yang mengirim pesan makian padanya. Saking mereka menghargai usaha Danial untuk membawa Lyo ke kota. Lyo berjalan tanpa arah dan matanya kosong, tangannya masih menggenggam map, tapi sudah tak seerat tadi karena ia mulai pasrah. Langkahnya terhenti dan ia duduk di bahu jalan, ia memeluk lututnya dan akhirnya ia menangis. Tak lama kemudian, suara klakson terdengar, Lyo mendongak dan melihat Mala. Lyo tersenyum. “Ayo naik, lo ngapain sih kayak ngemis di situ?” geleng Mala. Lyo lalu naik ke mobil Mala, lalu menghela napas panjang. “Ada apa sih? Kok sedih gitu?” tanya Mala. “Gue … ditolak kerja,” jawab Lyo lirih. “Lagi?” Mala menghela napas pelan. “Bukan cuma itu, mereka tahu.” Lyo menutup wajahnya dengan tangan. “Tahu apa?” suara Mala pelan. “Tahu tentang apa yang terjadi, anehnya kenapa sampai di HR tempat gue melamar kerja sih. Nggak mungkin hanya kebetulan. Lagian itu hanya gambar, bukan foto dari majalah atau surat kabar.” “Kok bisa ya?” Mala langsung memalingkan wajah dan berusaha tenang, ia tidak boleh ketahuan. “Gue juga ngerasa aneh.” “Ya udah. Lo tenang aja, ini juga masih perusahaan kecil kok.” “Perusahaan kecil aja nolak gue. Apalagi perusahaan besar.” Lyo menggeleng. “Terus rencana lo apa sekarang?” “Gue balik aja kali ya di desa?” “Lo mau balik ke desa? Ngapain?” “Ya mending di desa deh, tenang dan nggak bising.” “Ya terserah lo sih, apa pun itu gue dukung kok,” angguk Mala. “Tapi, gue harus ngerepotin lo dulu, Mal. Nggak apa-apa?” “Nggak apa-apa kok,” angguk Mala. “Mal, gue hanya bisa ngandelin lo sekarang, gue nggak punya duit banyak, duit gue sisa 300 rebo. Cukup lah hidup beberapa hari dan biaya pulang ke desa.” “Emang kapan rencananya lo pulang ke desa?” “Pekan besok deh.” Mala merasa menang, jika Lyo pulang ke desa, ia tidak punya saingan lagi dan ia bisa bebas mendekati Danial yang sedang patah hati saat ini, Mala harus melakukan itu sebelum ada wanita lain yang mendekati Danial. Lagian Danial cukup mapan, dia bekerja di tempat yang bagus dan gajinya cukup besar. Jadi, Mala akan beruntung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD