10

503 Words
Karna lelah sepulang bekerja, Indah duduk sambil meuandarkan belakangnya di kursi, Dian yang melihat sang istri seperti itu langsung menghampiri dan ikut duduk tepat di samping sang istri.. Indah membuka suara kala melihat Dian duduk di sampingnya. "Mas." "Kamu capek?" Tanya Dian. Dan di anggukan kepala oleh Indah. "Mandi dulu, terus istirahat." Ucap Dian kembali. "Iya mas, tunggu sebentar dulu." "Sayang, hari ini aku gajian. Tapi maaf aku tidak memberimu gajiku." "Maksudnya??" Tanya Indah yang mulai merasa aneh, suaminya gajian tapi tidak memberikan padanya. "Itu, tadi ibu datang dan mengambil semua gajiku. Kata ibu, dia akan menyimpan gajiku." "Mas!!" "Tidak masalah kan sayang?" "Lalu, jika ibu menyimpan semua gajimu, apa yang akan kita makan sehari hari?" "Kau kan kerja, kau juga kan punya gaji. Gaji mu itu yang kita pakai hidup sehari hari." "Tapi mas, aku sedang mengandung. Aku sedang menabung untuk persiapan persalinan ku nantinya." "Sabar yah sayang. Nanti kalau gajiku sudah terkumpul di ibu. Aku akan minta dan pakai untuk biaya persalinan." Indah hanya diam mendengar penjelasan Dian. Karna baginya percuma saja berurusan dengan sang ibu mertua, karn bagaimana pun Indah bersikeras, Dian tidak akan mendengar nya sama sekali. Indah juga tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Dian. Toh, jika Dian sayang sama dirinya dan juga bayi yang Indah kandung, pasti Dian akan berusaha bagaimana pun caranya.. Hari berganti minggu, lalu berganti menjadi bulan. Indah tak habis pikir rumah tangga macam apa yang ia jalani saat ini. Tapi Indah tetap saja mengalah. Mengingat kini usia kandungan nya sudah memasuki bulan ke sembilan. Jadi Indah tidak bisa berbuat apa apa lagi. Segala kebutuhan sehari hari, semua di tanggung oleh Indah. Tak ada seribu rupiah pun yang Dian berikan semenjak mereka menikah.. Dan pada bulan april tahun 2001, Indah melahirkan di kota asalnya Cirebon.. Dan lagi lagi semua biaya persalinan Indah yang tanggung. Tidak ada dari Dian sedikit pun.. "Maafkan aku sayang." Ucap Dian menyesal "Tidak usah, semua sudah terlambat. Untung saja aku pandai mengisipkan sedikit uangku perbulan nya." "Maaf sayang. Aku tidak menyangka jika ibu tidak menyimpan uang yang kuberikan tiap bulan nya." Indah tersenyum miring mendengar ucapan Dian. "Sampai kapan kau akan seperti ini?" Tanya Indah pada Dian. "Maksud kamu sayang?" Jawab Dian dengan pertanyaan. "Kita sudah punya anak, sampai kapan kau akan seperti ini? Apa tiap bulannya kau akan memberikan lagi gajimu pada ibu?" Dian terdiam mendengar petanyaan Indah. "Diam mu berarti iya. Lalu jika kau seperti ini terus, dimana tanggung jawab mu sebagai seorang suami sekaligus ayah?" Lagi lagi Dian terdiam untuk sesaat mendengar ucapan Indah. "Jawab" ucap Indah. "Aku akui, aku salah." "Memang." "Iya aku minta maaf, aku janji tidak akan memberikan lagi gajiku pada ibu." "Kamu boleh memberikan gajimu pada ibu, karna dia ibu kandungmu. Tapi tidak semuanya harus kau beri. Kau harus ingat, jika saat ini kau sudah memiliki istri dan juga seorang putri. Kalau kau seperti ini terus yang ada aku dan putri mu bisa bisa makan batu. Untung saja aku bekerja, jika tidak, mungkin saja aku dan anak kita akan makan batu beneran." Jelas Indah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD