Aku terbangun saat sinar matahari menyirami wajahku. Aku melenguh dan berusaha mengumpulkan potongan potongan ingatan ku. Aku masih belum sepenuhnya sadar, sampai Bagaskara mengusap pipi ku. Aku mengerjapkan mataku. Sekali lagi aku berharap ini bukan sekedar mimpi. Dia bergerak memelukku. Aku merasakan kulitnya menempel dengan kulitku. Kami masih sama sama telanjang, aku menghembuskan nafas lega dan senang. Ini bukan mimpi.
"kamu laper?" tanya nya di telingaku, aku menggeleng dan menenggelamkan wajahku di dadanya. Dia mengusap usap punggungku lalu menarikku menjauh, menatap mataku sembari mengusapi pipiku. "ini pertama kali bagiku, maaf kalau aku sedikit kasar" ucapnya.
Aku tersenyum dan menggeleng, "aku suka" kami sama sama terkekeh. aku memeluknya lagi, sambil memandang langit langit. "aku ga pernah nyangka bakal berakhir diranjang sama kamu"
"haha, Gantari, kamu gatau kalo aku suka sama kamu, bahkan dari kita masih sama sama kecil?" Aku terkejut dan berbalik menatapnya. Dia mengecup bibirku sekilas. "menurutmu kenapa aku masih sama kamu sampe sekarang mm? kenapa aku ikut kemana pun kamu sekolah walaupun keuangan keluarga ku gak sebaik sekarang?" dia mengusap rambutku, aku terdiam. Aku tidak menyadarinya selama ini? "2 tahun ke belakang bener bener tahun yang berat buat aku. aku harus pisah dari kamu. tapi aku ga diem aja." Dia menunjuk ke arah AC.
Aku mengikuti arah tangannya, dan semakin bingung. "Aku masang kamera, hampir disemua ruangan yang kamu sering pake. Disekolah juga" Dia berkata dengan tampang tidak bersalahnya, aku melotot. Benar benar terkejut. bagaimana bisa aku tidak sadar dia melakukan itu selama ini? ingin sekali aku menamparnya sekarang, tapi katakanlah aku lemah. Aku luluh melihat matanya. Matanya menatapku dengan tulus, aku... melihat banyak kerinduan disana.
"maafin aku soal itu. Tapi aku bener bener khawatir ninggalin kamu sendirian. Aku mau terus tau keadaan kamu?" Pantas saja dia jarang menghubungiku, dia pasti melihatku seharian dari monitornya. "Awalnya aku kaget ngeliat semua aktifitas kamu. Apalagi di kamar ini. hampir setiap malam kamu m********i. haha sayangkuu" wajahku memerah, dia lekas memelukku dan menepuk nepuk kepalaku.
"Bagaskaraaaa aaaa aku maluuuu" aku merengek, sungguh aku benar benar malu.
"kamu juga sering tidur telanjang kan?" bisiknya di telingaku, aku semakin menyembunyikan kepalaku di dadanya. Dia tertawa. "Aku ngerasa bersalah banget udah ngeliat itu, tapi di sisi lain aku gamau itu diliat sama laki laki lain. Aku makin ga betah jauh dari kamu" dia mengecupi kepalaku. "d**a kamu cepet besar ya, padahal dulu belum sebesar ini"
Aku memukul bahunya kuat, yang dipukul justru tertawa. Aku kesal, malu, tapi merasa sedikit puas saat tau seseorang sering melihat tubuhku, dan menginginkannya. "kamu, pernah h***y ngeliat aku?" tanyaku, aku sudah tidak malu sekarang. Rasa penasaranku lebih besar dari apapun.
"Gantari, kamu pake baju tertutup pun aku masih bisa h***y. Apalagi kamu bugil sambil masturbasi." dia mencubiti pipiku gemas. Aku merasa puas seseorang tergoda dengan tubuhku. Mungkin aku tidak menyadari, bahkan bisa jadi ada lebih banyak orang yang mendambakan bersetubuh denganku.
"terus... apa kamu yang ngehubungin aku kemarin siang?" Aku sebenarnya sedikit takut, takut kalau jawabannya adalah bukan. Tentu ini akan menjadi masalah baru bagiku.
Dia mengangguk "aku juga pasang kamera di ruang eskul kamu" aku menghembuskan nafas lega. Beberapa hal sudah bisa ku pahami sekarang. Dia tiba tiba menyerangku semalam bukan karena terbiasa melakukan hubungan seks, tapi teringat hal hal nakal yang aku lakukan dikamar ini.
Jelas dia mengganggu privasi ku. Harusnya aku marah, tapi entah aku tidak bisa melakukannya.
Bagaskara mengecup keningku sekilas, lalu bangun dari tempat tidur. Oh sungguh sial, dia masih belum memakai sehelai benang pun. Bayang tubuhnya terus terusan terngiang di kepalaku. Dia berjalan keluar kamarku. Masih dengan tubuh telanjangnya. Hei, apa dia tidak takut ku serang?
Aku tetap meringkuk di kasurku. Enggan untuk bangun. Tak lama, Bagaskara kembali. Dia membawa sebuah nampan, berisikan sarapan? apa itu untukku? Aku menatapnya penuh tanya.
"Sarapan sayang, bukankah kamu lapar?" ucapnya menjawab kebingungan di wajahku. Senyumku mengembang.
Aku bangun dan ikut duduk di dekatnya. Tidak seperti dia yang pede tanpa busana, aku menutupi tubuhku dengan bedcover.
Aku mengambil roti di piringnya, menikmati sarapan sekaligus menikmati tubuhnya lagi. Aku benar benar tidak bisa berpaling dari tubuh kekar nya. Masih saja aku merasa tidak percaya dengan apa yg ada dihadapnku.
Makanan yg dibawanya habis. Dia mengusap rambutku sambil tersenyum.
"good girl, aku taruh ini dulu ya" Aku mengangguk, dia langsung berdiri dan keluar dari kamar sembari membawa nampan.
Aku mengambil ponselku di nakas, sudah pukul 8 pagi. Sangat terlambat untuk ke sekolah. Aku mengangkat bahu acuh, lalu berdiri dari kasur. Tentu dengan bedcover yg melilit di tubuhku.
Baru 1 langkah, aku tiba tiba terjatuh.
"awwhh" aku meringis pelan, selangkanganku terasa perih sekali. Aku terduduk dilantai, kesulitan bangun.
Tak lama, Bagaskara telah kembali dari dapur. Ia langsung menggendong ku, membawaku duduk dikasur.
"sakit ya?" tanya nya to the point. Aku mengangguk pelan. "kamu mau kemana emangnya tadi?"
"mau mandi" dia langsung menarik selimutku, aku terkejut karena sekarang kita sama sama sedang telanjang. Dia menggendongku ala bridal style, aku tidak ada pilihan lain selain berpegangan di lehernya. Ya, aku tidak bisa berjalan juga karena dia.
Dia menurunkanku di bathtub, lalu berdiri disampingnya.
"ka.. kamu engga keluar?" ucapku sambil membuka keran air. Dia menggeleng. Tanpa aba aba dia langsung masuk ke bathub, seraya menindihku. Aku menahan bahunya dan menatapnya penuh tanya.
Dia hanya diam, lalu mengecupi pipiku. aku pun terdiam, sekujur tubuhku terasa panas. Air di bathub ku sudah mencapai d**a, dia pun bangun dari pipiku dan menutup keran air.
Aku menuangkan sabun busa ke dalam air. Bagaskara juga mengambil sabun, oh apakah dia akan memandikanku?
Perlahan, dia menyabuni bahuku lalu turun ke payudaraku dan meremasnya pelan. Sungguh modus yang bagus. Aku diam, memberinya ruang untuk menyentuh tubuhku.
*****
Aku tengah fokus dengan tugas-tugas ku, setelah mendengar omelan Selly dan Caca. Mereka mengomeliku karena tumben bolos sekolah. Aku beralasan sedang sakit. Cukup banyak perdebatan kami, karena mereka memaksa untuk datang menjengukku. Ya, aku melarang mereka, karena Bagaskara masih disini. Usai mandi bersama pagi tadi, dia enggan pulang.
Sampai sekarang.
"Gantarii sayangg.. apa tugasmu masih banyak mm?" rengeknya lagi sambil mengintip di pintu ruang belajarku. Aku mengangguk mantap. Hey banyak yang harus aku kerjakan karena dia mengambil sangat banyak waktuku.
Dia menutup pintu dengan perasaan kecewa. Aku tidak terlalu suka diganggu saat sedang fokus. Aku masih harus melanjutkan proposal eskul, dan membuat catatan pelajaran pagi tadi.
*****
Pukul 1 pagi aku baru menyelesaikan semuanya. Aku meregangkan tubuhku, sangat pegal. Perlahan aku bangun dari kursiku dan melangkah ke kamar. Bagian bawahku masih terasa sakit, tapi aku masih bisa menahannya.
Bayi besar itu mungkin telah tidur. pasalnya, dia tidak kembali mengganggu ku sejak 2 jam. Aku menyuruhnya untuk tidur duluan. Sebenarnya dia terlihat sangat menggemaskan saat memintaku ikut tidur dengannya. Tapi pekerjaanku masih sangat banyak.
Senyumku merekah saat melihatnya sedang tidur di kamarku. Aku pun merebahkan diri di depannya, lalu memeluknya. Tangannya bergerak memelukku balik. Aku mendongak, ternyata dia terbangun.
"Gantari baru selesai?" Aku menjawab dengan anggukan. Dia lalu menengok ke arah jam. "jangan sering sering begadang" aku mencubit pipinya.
"aku begadang gara gara ulahmu" Dia terkekeh, lalu mencium keningku lama. Aku memeluknya dan menenggelamkan wajahku di dadanya. Kami sama sama berpakaian. tidak telanjang bulat seperti terakhir kali.
Bagaskara mengusap rambutku pelan. Tak lama, aku terhanyut dalam mimpi.
*****
Aku terbangun. Ku lihat jam, pukul 6 pagi. Biasanya aku bangun pukul 5 untuk mandi dan menyiapkan sarapanku. Mungkin aku masih kelelahan. Bagaskara sudah tidak ada disampingku.
Aku bangun dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar. Apartment ku senggang. Kemana dia pergi?
Aku enggan mencarinya. Dapur, itu tujuanku sekarang. Sesampainya di dapur, aku melihat 2 styrofoam makanan. Dia membeli ini, pasti. Aku membukanya, bubur ayam kesukaanku.
Aku pun duduk dan makan tanpa mengaduknya. Rasanya enak, ini adalah makanan favorit ku.
"Gantarii kamu dimana" teriak Bagaskara memenuhi apartemen ku. Aku meringis.
"aku di dapur Bagaskara" jawabku ikut berteriak, yaa tak perlu menunggu lama pria itu telah tiba di dapurku. "kamu dari mana?" tanyaku langsung, aku meneliti tampilannya.
"pulang, ambil seragam sama buku sayang" Jawabnya sambil mencium pipiku.
"apa kata mama?"
"mama? mama masih tidur, cuma ketemu bibi" Dia duduk di sampingku, lalu membuka styrofoam makanannya. Belum sempat keluar pertanyaan selanjutnya, aku melihatnya mengaduk bubur ayam itu.
Aku menghela nafas jengkel. "kan dari dulu aku udah bilang, jangan diaduk. jadi ga aesthetic lagiii kann" ucapku agak jengkel, dia ngakak dan malah menciumku dengan bibir yg belepotan.
*****