Dengan senyum tak bersalahnya, Bagaskara duduk di sampingku.
"kamu kenapa si .." bisik ku.
"apanya yang kenapa? kan aku sayang kamu" dia tersenyum lagi. Tidak, lesung pipinya terlalu manis.
Aku menggeleng pasrah, dan menyantap semangkuk bakso di hadapanku.
Selly dan Caca hanya diam, sembari memberikan tatapan penuh benci pada Bagaskara.
"ngapain kamu ganti running text itu." Caca mengawali.
"iya, kenapa juga pake nama Gantari. Nama si monyet aja harusnya, kan dia yang kamu cium" Selly menambahkan. Jika aku tidak sedang makan, mungkin aku akan tertawa ngakak mendengar ini.
Bagaskara hanya diam, enggan menanggapi Caca dan Selly. Dia justru merapikan rambutku yang tergerai.
"nanti kalo kelas kamu keluar duluan, tunggu aku di mobil ya" ucapnya. Aku mengangguk. Selly berdecak sinis. Pasti dia berfikir kalau Bagaskara sangat b******k.
Makananku telah habis. Aku beranjak bangun, karena sudah lelah melihat 3 orang disampingku ini yang saling melempar tatapan tajam.
"sayang mau kemana" Bagaskara bertanya panik, seperti anak yg akan ditinggal kepasar oleh ibunya.
"toilet" jawabku asal.
"mau ikuttt ayangg" Aku melotot tajam. Selly dan Caca serentak menggebrak meja.
"gak boleh!" ucap mereka serentak juga.
Aku hanya menggeleng dan berjalan meninggalkan mereka. Belum sampai di kelas, bel masuk berbunyi. Aku melirik sekilas ke kelas Bagaskara, pandanganku bertemu dengan Kellie.
Entah dorongan setan dari mana, aku menggerakkan bibir menyebut "i win, you lose" aku tersenyum saat melihatnya mengepalkan tangan. Aku pun melenggang menjauhi kelasnya.
*****
Tebakan Bagaskara benar. Kelasku lebih dulu usai. Dari pada aku menunggu dia di emperan kelas, aku lebih memilih menunggunya di parkiran mobil.
Parkiran mobil di sekolahku cukup sepi. Karena tidak banyak siswa yang sudah boleh membawa mobil.
Karena kunci mobil dibawa Bagaskara, aku hanya bisa menyender di samping mobil. Tak butuh waktu lama, aku sudah melihat Bagaskara memasuki area parkir. Tapi, lagi lagi diikuti oleh perempuan itu. Dari jauh, dia terlihat emosi. Dahinya mengerut dan matanya menyipit.
Mataku bertemu dengannya, Bagaskara langsung tersenyum. Benar benar seperti anak kecil. Aku juga tersenyum, sambil merentangkan tangan. Bagaskara paham dengan maksudku, dia berlari kecil menghampiriku, lalu memelukku erat.
Wajah Kellie merah padam. Aku yakin, dia pasti tidak mengira aku ada disini.
"kamu kenapa kesel gitu mukanya" ucapku sambil mengusap bahunya. Aku menatap Kellie sambil menjulurkan lidah. Kellie nampak sangat kesal, ia langsung berbalik dan berlari menjauhi kami.
"aku kesel ayangg" jawabnya, aku terkekeh lalu melepaskan peluknya. Dia mengeluarkan kunci mobilnya, lalu membuka kan pintu untukku.
Aku melempar tas ku ke kursi belakang, lalu membuka 2 kancing atas bajuku. Hari ini sangat sulit menjaga image.
Dia tertawa pelan saat melihat buah dadaku. "kenapa ketawaa, mau nenenn?" Bagaskara mengangguk cepat, gantian aku yang tertawa.
Dia menutup pintu mobilnya, melempar tas ke kursi belakang lalu menghadap ke arahku. Dia tersenyum. Oh tidak kawan, ini bukan senyuman manisnya... ini senyuman h word.
Tangan kananku mengusap gundukan diantara paha nya. Sedangkan tangan kiriku menarik tangannya untuk menyentuh payudaraku.
Baru pagi tadi kami bersetubuh, tapi sekarang aku sudah ingin melakukannya lagi.
Dia mengikuti arahanku, tangannya meremas remas p******a ku. Aku menatapnya sayu, menggodanya dengan menggigit bibirku. Tanganku mulai bergerak liar, membuka resleting celananya.
oohhh Bagaskara melenguh saat aku meremas kontolnya. Aku semakin bersemangat, ku ciumi bibirnya sambil mengeluarkan benda panjang yang sudah mengeras itu.
Ciuman kami semakin liar, remasan di p******a ku juga semakin kuat. Dengan kasar Bagaskara melepaskan seragamku, dan juga bra ku. Kini, aku sudah setengah telanjang.
"sayanghh kamu sexy banget sihh" ucapnya di sela sela ciuman. Dia meremas p******a ku, memainkan putingnya. Sedangkan aku, mulai mengocok kontolnya yang sudah sangat keras.
ahhh sayanghhh desahnya lagi. Tautan di bibir kami sudah terlepas. Aku menatapnya penuh nafsu, sambil terus nengocok batangnya.
"sayangg boleh aku jilatin?" matanya merem melek merasakan kocokan ku. Dia hanya menjawab dengan anggukan. Aku pun langsung menjilat kepala batangnya. Kumainkan lidahku di ujungnya, perlahan turun sampai biji kembarnya.
ohhh Gantari sayanghhh
Aku suka mendengarnya menyebut namaku. Ku masukkan kontolnya yg tegang ke dalam mulutku sampai mentok. Aku mengeluar masukkan kontolnya dengan cepat di mulutku. Tangan kirinya mengusap rambutku, membenahi anak rambut yang lepas dari ikatan. Tangan kanannya meremas setir dengan kuat.
Kepalanya menengadah, terlihat sangat jelas urat leher dan tangannya. Sangat sexy. Peluhnya yang mengalir di lehernya, semakin membuatku panas.
slurrphhh mmmmhhh
Batangnya mengeras, sepertinya dia akan segera sampai. Aku mempercepat tempoku, desahan kenikmatan itu terus terucap dari bibir tipisnya. Aku benar benar senang, dia mendesah untukku.
Pejunya membanjiri mulutku. Aku membersihkan kontolnya dengan mulutku. Dia bergerak sedikit, mengambil tissue di dashboard.
"sayang keluarin" Aku melepaskan sponganku, lalu mengeluarkan p**u dimulutku ke tissue yg dia sodorkan. Sambil mengusap usap batangnya, aku menatapnya lagi. Wajahnya Yangs serius membersihkan mulutku, terlihat sangat menggemaskan.
Aku tersenyum senang saat dia selesai membersihkan mulutku. Bibirnya di daratkan ke bibirku sekilas. Aku merasa itu terlalu singkat. Ku cium lagi bibirnya, kini lebih lama.
"kamu nakal ya kalo berdua sama aku" ucapnya setelah melepaskan tautan dari bibirku. Aku mengusap d**a bidangnya dan tersenyum.
Bagaskara mengigit pipiku, lalu memakaikan ku seragam lagi. Tanpa bra dan 3 kancing atasnya di buka, payudaraku di keluarkannya. Dia menjilat Rachel dan Samantha bergantian, aku terkekeh.
Perhatianku beralih ke sekeliling, parkiran sudah sepi. Berapa lama kami bermain di mobil?
Bagaskara menyalakan mobilnya, aku tidak kaget. Yang membuatku kaget justru tangannya yang mengusap paha dalamku, terus sampai ke m***k.
Mobilnya bergerak pelan, aku menatapnya penuh tanya. Dia hanya tersenyum. Lagi lagi, dia menunjukkan senyuman menyebalkan itu. Aku hanya bisa pasrah di colok colok olehnya sepanjang jalan.
Pasrah tapi nikmat.
*****
Aku telah sampai di apartemen ku 30 menit yang lalu. Bagaskara sudah ku usir pulang. Semakin lama dia disini, semakin aku tidak aman. Waktuku sendirian ku gunakan untuk membersihkan apartemenku. Setelah bersih semua, aku mencuci pakaian lalu memasak. Aku terbiasa melakukan basic skill manusia. HAHAHAHAHAHAHA.
Hari ini aku sudah sangat kelelahan. Seluruh badanku terasa pegal dan remuk. Oke, itu bukan masalah besar.
Aku merebahkan diriku di kamar. Banyak hal baru yang terjadi padaku belakangan ini. Tapi, apa semuanya akan terus seperti ini? Apa suatu saat nanti, akan ada yang berubah? Lebih baik atau lebih buruk?
Waktu Indonesia Bagian Overthinking.
Bel apartemen ku berbunyi, siapa yang menghampiri ku sore hari begini? Aku bangun dari tidurku. Sambil melepas celemek, aku berjalan ke arah pintu. Aku melihat di layar, Arya?
Ku buka pintu apartemen ku, ku pandangi dia penuh tanya. "Minggu depan kita ada camp kan?" Aku menghembuskan nafas berat. Ya, aku lupa kalau Arya juga anak kir. Bu Maya pasti memberi tahu nya tentang itu juga.
"Masuk" ucapku singkat. Jarang ada seseorang yang bertamu di apartemen ku. Arya memang pernah beberapa kali datang kesini, karena aku malas bertemu dengannya di cafe.
Aku menutup pintu apartemen ku, lalu. mengikuti Arya di belakang. "duduk dulu ya, aku ambilin minum" Dia menjawab dengan anggukan singkat.
Di dapur sepertinya ada beberapa makanan ringan. Saat aku menyiapkan makanan di nampan, aku berfikir. Kenapa Arya yang datang? bukan kah yang menyetujui ini Bagaskara? Aku pun bergegas kembali ke ruang tamu, dengan nampan di tanganku.
"kamu di suruh Bu Maya?" tanyaku. Lagi lagi, dia menjawabnya dengan anggukan singkat. Aku ber "oh" ria.
"file panduan, sama daftar acara udah dikirim sama Bu Maya"
"Aku belum buka. Sebentar, aku ambil laptopku dulu" Aku pun langsung cuss ke kamarku, mengambil laptop dan beberapa alat tulis.
Sampai di ruang tamu, Arya juga sudah siap dengan laptopnya.
Baiklah, sepertinya sisa hari ini akan ku habiskan mengurus proposal dengannya.