Seburuk Apa Pengetahuan Agamaku?

1411 Words
Dua hari berlalu, istirahat di rumah bisa membuatku leluasa bersama Athaya, tubuh juga sudah mulai membaik, hanya tinggal mual saja yang begitu mengganggu. Sering kali makanan yang kutelan keluar lagi karena saking mualnya. Tapi mungkin karena sakit ini juga semua tetangga malah mengira aku sedang hamil. Apalagi ditambah salah seorang tetangga melihat kedatangan Iqbal saat mengantarku pulang kemarin. Mereka mengira aku hamil karena dia. Gosip menyebar luas dengan cepat ke seluruh kampung seperti hembusan angin, semua warga heboh mendengar kabar itu. Apalagi kaum Ibu-Ibu di daerah sini rata-rata membenci keberadaanku karena para suami mereka terkadang memperlakukanku spesial. Itu menurut mereka. Sampai satu hari, ada seorang Ibu-Ibu datang ke warung Ibu mertuaku. Tubuhnya gempal, dia suka memakai daster ke mana-mana, bibirnya merah menyala serta full make-up. Awalnya dia membeli sayuran yang ada di warung. Dia mengajak ngobrol, aku menjawab iya dan tidak saja. Tapi lama kelamaan, pertanyaannya sedikit menyulut emosiku. "Neng, udah berapa bulan?" tanya Ibu-Ibu yang kukenal bernama Susi. Aku mengernyit heran. "Berapa bulan? Maksudnya apa ya, Bu?" tanyaku balik bernada ketus. "Halah! Si, Neng. Jangan suka pura-pura, emang saya gak hafal Neng tuh lagi hamil, kan? Sama siapa? Laki-laki yang kemarin?" BRAK! Aku menggebrak meja tempat menyimpan barang dagangan cukup kencang. Dia terperanjat. Aku menatapnya semakin tajam. Darah semakin mendidih mendengar perkataan itu langsung mengarah padaku. "Eh, Bu! Punya mulut itu dijaga ya! Maen jeplak aja gak pakai lak-lakan! Itu fitnah! Ibu punya bukti apa kalau saya lagi hamil, hah?!" bentakku padanya dengan keras. Bu Susi terlihat terpancing emosi juga mendengar bentakanku padanya. Suaranya lantang meluapkan emosi. Kami pun jadi pusat perhatian para tetangga yang datang menonton. Sungguh, aku tak menerima fitnah sekejam itu. Hingga aku balas memakinya. "Nika, Nika, sudah cukup, Nak! Jangan emosi." Bu Dewi menarik lenganku, mencoba menahan emosi yang kian menjalar sampai ke ubun-ubun. "Tapi, Bu. Bu Susi tuh jahat! Berani-beraninya dia fitnah aku tanpa bukti!" "Iya, iya, Ibu tau. Tapi masalah ini takkan selesai jika kamu emosi. Kamu tenang dulu, Nak. Istighfar, astagfirullahal'adzim ...." Bu Dewi terus menarik-narik lenganku mundur ke belakang. "Jablai wae, sombong!" teriak Bu Susi. Mataku terbelalak, itu sungguh penghinaan berat. Sedangkan semua tetangga sudah mengerumuni pertengkaran kami. Bu Dewi menangis. Dia masih memegang lenganku dan berusaha berbicara pada Bu Susi baik-baik. Aku juga mulai menahan air mata yang ingin menerobos keluar. Tak tega melihat Ibu mertuaku menangis gara-gara fitnah ini. Sampai pada akhirnya, datanglah seseorang di tengah kerumunan, lebih tepatnya di hadapanku. "Danish?" ucapku kaget. "Eleuh ... lelakinya udah ganti lagi aja! Emang ya kamu tuh perempuan gak bener!" sambar Bu Susi tatkala dia melihat kedatangan Danish. Danish menunjukan ekspresi tak mengerti. "Sudah berhenti! Pergi kalian semua! Jangan fitnah anak saya lagi! Pergi!" usir Bu Dewi pada mereka. Dia masih menangis. Beriringan dengan para tetangga yang sedikit demi sedikit bubar. Bu Susi melangkahkan kakinya dengan satu hinaan yang tak tertinggal. 'Jablai'. Aku mulai menangis. Bu Dewi menghampiri, matanya masih mengeluarkan tetesan air. Namun dia malah membelai rambutku yang masih berusaha mengatur napas. "Jangan dengarkan mereka, Nak. Jangan dengarkan," ucap Bu Dewi. "Tapi aku tidak terima Bu, mereka juga tidak akan berhenti kalau aku diam," ucapku. "Sabar, Nak ... sabar, istighfar, tenangkan emosi kamu dulu," kata Bu Dewi memeluk erat tubuhku. "Ya Allah ... Ibu mengerti perasaanmu." Aku menangis lagi dalam pelukannya. Bu Dewi juga terus mengusap punggung dan memintaku beristighfar. Sampai lama-kelamaan ... kalimat itu kuucapkan juga. "Astagfirullah ... astagfirullah ... astagfirullah ...." Semakin kuucapkan kalimat itu, hati terasa bergetar, sedih menjalar, penyesalan terasa menusuk. Tiba-tiba tersadar akan satu hal yang menyebabkan semua ini terjadi. "Astagfirullah ... maaf, Bu. Maaf, harusnya aku tidak melakukan hal seperti tadi, aku sudah membuat malu Ibu, aku salah, aku minta maaf, Bu," ucapku yang masih berada dipelukannya. Sesal, itulah yang kurasakan. Kenapa aku selalu mudah terpancing emosi saat menghadapi sesuatu. Kenapa dengan mudahnya amarah itu merajai diri. Yang akibatnya, Bu Dewi yang harus menanggung malu atas kelakuanku. Tapi Bu Dewi dengan sabarnya menerima apa yang terjadi. Dia menasihati agar aku bisa tegar dan tak terbawa emosi lagi. Ya Allah ... aku benar-benar telah menyakiti orang yang begitu baik. *** Masih setengah tidak percaya dengan kedatangannya. Danish kupersilahkan masuk. Kejadian tadi pun sudah menghilang dengan sendirinya, sekarang aku mengerti, bahwa emosi takkan menyelesaikan masalah. Aku tak ingin membuat Bu Dewi menangis lagi. Apalagi karena ulahku yang seperti tadi. Kami berdua bicara di ruang tengah. Pintu rumah terbuka lebar-lebar, itu semua agar para tetangga tahu kalau aku tak pernah berbuat apa-apa. "Ada urusan apa kamu datang ke sini?" tanyaku. Masih dengan sikap yang sama. Aku memperlakukannya berbeda. "Nika, aku datang ke sini karena ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu." "Apa ada hubungannya sama aku? Apa soal Agama lagi? Sudah kubilang, aku sama sekali tidak tertarik," ucapku padanya. Mencoba mencari celah dari ekspresi yang Danish tunjukan, tapi aku malah buntu. Dia tak bisa ditebak, raut wajahnya tenang, meski berkali-kali aku berkata kasar. "Itu ...." Danish terdengar agak ragu dengan ucapannya. "Apa?" Terdiam beberapa saat, aku menunggu apa yang hendak dikatakan Danish. "Kalau tidak ada yang mau kamu bicarakan, mendingan kamu pergi. Apa tadi kamu tidak lihat, sikap warga ke aku seperti apa?" Aku beranjak dari kursi. Namun Danish masih diam. Dia tak berkata dan seolah enggan menyingkir. "Aku ... berniat melamarmu dalam waktu dekat." "A-apa? Melamar?" Napasku terjeda karena saking kagetnya. Kutatap dia tanpa celah, sekali lagi mencoba menelaah lebih dalam lagi pada jalan pikirannya. Tapi benar-benar buntu sebab dia menunjukan keseriusan. Danish berkata lagi. "Ya, aku ingin menjadikanmu sebagai istriku ... Anika." Aku terkekeh kecil. "Kamu pasti bercanda kan? Kamu mau nikah sama aku? Aku? Ngawur." Tak percaya dengan yang diucapkannya. Aku menganggap dia bergurau atau salah bicara. "Tidak ... aku serius." Tawaku kian menipis, raut wajah Danish terlihat tak menunjukan perubahan. Apa dia benar-benar serius? Dia ingin melamarku? "Ini tidak lucu, sekarang juga kamu pergi dari rumah ini dan jangan pernah ucap lagi kalimat itu," ucapku padanya. Dasar bodoh! Dia memang hanya ingin menambah masalah saja. Belum juga selesai masalah yang tadi. Sekarang ada lagi yang jadi beban pikiran. Danish beranjak dari duduknya. "Tidak." "Aku, ingin menjadikanmu halal untukku. Dan mengeluarkanmu dari fitnah," imbuhnya lagi. "Apa?" Aku kian tak percaya. "Aku memang tidak pernah berjanji, aku juga tidak bisa meramal dan bisa mengetahui segala sesuatu," kata Danish. "Aku takkan memberimu jawaban dengan kata-kata. Tapi, perkataanmu tempo hari, akan kuperlihatkan padamu tentang betapa indahnya Agama yang kita miliki. Insya Allah," ucap Danish. Aku mengalihkan pandangan. Tak ingin menatap atau membalasnya sama sekali. *** Danish Chinaldy Pratama. Nama itu terus terngiang di telinga akhir-akhir ini. Perkataannya begitu serius. Dia ingin menjadikanku istrinya. Dengan tidak mengurangi segala kesopanan. Dia bahkan berbicara pada Ibu mertuaku atas niatnya. Aku ragu. Bahkan sangat ragu. Pemuda yang seperti dirinya, begitu alim, sopan dan memiliki pengetahuan agama malah mengajakku sebagai pendamping hidupnya. Apa dia hanya kasihan? Atau dia terpaksa? Pikiran mulai kalut sendiri. Di pabrik, aku kerja seperti biasanya. Bahkan tak jarang makan siang bersama dengan Iqbal di kantin. Pembicaraan kami berdua memang biasa-biasa saja. Tapi sorot mata dan kebaikan Iqbal begitu mengisyaratkan sesuatu. Entahlah, benar kata Bu Dewi, manusia hanya bisa menduga-duga. Namun sikap Danishlah yang membuatku heran. Tempo hari dia berkata ingin melamarku, tapi dia tak terlihat cemburu sama sekali saat aku bersama dengan Iqbal. Sikapnya sungguh tak bisa k****a. Jalan pikirannya berbeda dari yang lain. Tak ada kata, tak ada kontak fisik. Dia benar-benar menjaga jarak denganku. Pernah bertanya pada Bu Dewi tentang kegundahan yang kurasa. Dan dia pun memberi jawaban. "Berdoa dan bertadharru, terutama di waktu yang mustajab, seperti tengah malam. Mintalah petunjuk dari Allah. Insya Allah, kamu akan mendapat jawabannya." Tiba-tiba terbangun di malam hari. Aku teringat perkataan Bu Dewi. Turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Aku berdiri di depan sebuah kran air yang biasa dipakai Bu Dewi untuk berwudu. Air mengalir membasahi kedua telapak tangan, dingin meresap menembus kulit. Niat wudu masih teringat. Aku kembali ke dalam kamar setelahnya. Sebuah mukena putih kukeluarkan dari dalam lemari. Mukena ini kudapat dari Wingky saat kami menikah dulu. Dan setelah itu. Aku tidak pernah memakainya lagi. Namun, saat hati sudah bulat hendak melakukan salat malam. Aku malah tertegun menatapi hamparan sajadah. Aku tak tahu bagaimana caranya melakukan salat malam. Bahkan bacaan-bacaannya pun aku tak tahu. Dua rakaatkah? Niatnya apa? Bacaanya apa saja? Apa salatku akan disebut sah salat malam jika menggunakan bacaan biasa? Tubuh merosot ke bawah terduduk di hamparan sajadah, menatap kosong kearahnya. Meratapi kebodohan yang kulakukan selama ini. "Ya Allah ... seburuk apa pengetahuan agamaku saat ini?" gumamku dalam hati. Aku menangis ... hanya menangis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD