Bab 23

1019 Words
Dua bulan sudah berlalu. Selama dua bulan menetap di New Zealand Samudra pikir akan membuatnya selalu bahagia dengan Gwenny. Tapi sayangnya kepergian mereka ke sini dengan keadaan seperti kemarin masih membuat Gwenny tidak tenang. Sejauh ini, Samudra sering kali memergoki Gwenny menangis sediri atau sekadar termenung karena memikirkan sesuatu. Kondisi kesehatan Gwenny pun selama di sini juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Sungguh, hal ini sebenarnya sangat membuat Samudra sangat mencemaskan istrinya itu Gwenny berdiri di depan balkon kamar. Pandangannya beralih pada orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana. "Aku nggak tau hidup aku sampai kapan, tapi aku kangen mama sama papa. Gimana kalau waktu aku tinggal sebentar lagi?" kata Gwenny dalam hati. Ini memang tempat impiannya sejak dulu. Namun dengan masalah yang terjadi sekarang justru membuatnya tidak nyaman untuk berada di sini. Ingin pulang dan memperbaiki hubungan suami dan ayahnya. Setelah itu, mungkin dia akan bahagia tinggal di sini. "Kamu mau pulang? Aku nggak tau apa perbuatan aku bisa dimaafkan papah atau sebaliknya, karena aku sudah bawa kamu pergi secara diam-diam. Kita pulang besok lusa, aku lebih memikirkan kamu kedepannya." Samudra berdiri dibelakang Gwenny, memeluk Gwenny hangat sambil mencium bahu istrinya itu. "Aku hanya takut kalau kembali Papah memisahkan kita lagi." "Aku nggak tau Sam, cuma aku takut kalau aku nggak punya waktu lagi. Kamu tau gimana kondisi aku. Kemungkinan aku meninggal saat melahirkan nanti itu ada. Aku cuma pengen ketemu orang tua aku, walau cuma sebentar aja." Samudra menggelengkan kepala dengan cepat "Kamu jangan bicara seperti itu. Apa pun yang terjadi, kamu nggak boleh ninggalin aku dan anak kita. Aku butuh kamu, mereka juga jauh lebih butuh kamu. Kalau mereka tumbuh tanpa sosok ibu, mereka akan sangat sedih Gwenny." "Samudra, aku itu udah sekarat." "Aku mohon, jangan bicara seperti itu lagi, Please, Gwen, kita akan pulang. Kita kemas dulu barang-barang kita." "Kamu marah?" "Enggak, aku paham posisi kamu. Jadi lebih baik memutuskan kita pulang ke Jakarta." Gwenny hanya bergeming. Melihat Samudra yang memasukkan baju ke dalam koper "Maafin aku ya, aku selalu nyusahin kamu." Samudra tersenyum tipis. Dia sama sekali tidak pernah merasa dibebani oleh Gwenny. Justru dia sangat ingin membahagiakan Gwenny selalu. Jika kembali mengingat masa lalu, Demi Tuhan, Samudra merasa sangat menyesal karena sudah pernah mengecewakan Gwenny. Menyembunyikan identitas Ayla dan bahkan lebih parahnya lagi, mematahkan hati istrinya itu hanya karena dendam yang akan berujung sia-sia. Ada satu hal yang sangat membuat Samudra takut setengah mati. Dia tidak siap jika harus kehilangan Gwenny. Jika hanya ada dua pilihan, maka Samudra akan lebih memilih untuk menyelamatkan Gwenny daripada bayinya. *** Mereka kembali ke Jakarta, sesampainya di apartemen sudah ada Papah Ardi dan juga kedua orang tua Samudra di Apartment itu. Gwenny disambut pelukan hangat antara dua keluarga mereka. "Ya Ampuuun, perut kamu udah gede banget." Jihan gemas sendiri, perut Gwenny sudah seperti orang hamil sembilan bulan. Maybe, karena sedang mengandung bayi kembar, itu lah yang menyebabkan perut Gwenny lebih besar dari pada ibu hamil pada umumnya. Gwenny membalas pelukan hangat dari mertuanya itu. Kemudian berjalan memeluk sang Papa dan Mama. "Aku kangen banget sama kalian." Samudra masuk dengan membawa dua koper. "Kamu sehat Gwenny? Mamah dihubungi Sam hari itu, tapi mamah bingung harus apa. Mamah juga mau ketempat kalian, Papahnya Sam malah melarang." "Aku sehat kok, Ma, kayak yang Mama lihat sekarang. Aku nggak bakal baik kalau Papa dan Sam nggak bisa akur." "Biar mereka selesaikan masalahnya. Mamah yakin, ini hanya salah paham antara menantu dan mertua." "Papa, Gwen mohon banget sama papa. Tolong jangan pisahin Gwen sama Samudra. Dulu kalian yang maksa kami buat dijodohkan, tapi kenapa sekarang justru papa juga yang pengen misahin aku sama Sam? Papa pikir aku ini permainan? Di saat papa nggak suka sama lawan main aku, papa ambil aku dan manik aku lagi?" Gwenny meraih tangan sang papa. Memohon agar tidak diminta untuk bercerai. "Papa itu salah paham, Gwen waktu nangis karena Gwen kesal sama Samudra. Gwen lagi ngidam tapi Samudra nggak penuhi karena itu juga bahaya buat aku, dan masalah dia sama Ayla. Itu Ayla yang terlalu memaksa Sam, Pa." "Fine! Papa bisa memaklumi alasan Sam. Apalagi alasan kalian pergi tanpa pamit, tanpa sepengetahuan Papa! Tapi kenapa, kenapa harus diam-diam?" "Karena Sam nggak mau Papa misahin aku sama Gwenny." "Siapa pun yang menyakiti kamu, papa akan pasang badan untuk putri papa. Tidak terkecuali siapapun itu' sekali pun itu Sam." "Iya, aku percaya papa pasti bakal selalu ada buat aku. Tapi sekarang aku mohon, jangan kayak gini. Kalau papa sayang sama aku pasti papa nggak mau kan aku stres yang akhirnya berpengaruh sama kesehatan aku?" Jihan yang ada di sana pun ikut bicara. Tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. "Saya mohon Ardi, jangan pisahkan mereka. Kamu lihat? Sebentar lagi mereka bakal punya anak. Apa kamu tega cucu kamu tumbuh tanpa sosok ayah? Oke, saya sebagai ibu Sam minta maaf kalau memang anak saya melakukan kesalahan. Tapi kita juga harus realistis, jangan terlalu memaksa mereka untuk berpisah. Kita juga gak tau apa masalah sebenarnya." Apapun akan Jihan lakukan demi Samudra. Tidak ingin Samudra harus meninggalkan perempuan yang dia cintai itu "Sam pergi bukan karna masalah Sam dan papa Ardi. Sam jauh lebih takut berpisah dengan Gwenny, apapun perlakuan papa pada Sam. Sam terima, tapi jangan sesekali memisahkan aku dan Gwenny." "Oke, saya tidak akan memisahkan kamu. Asal kamu, Sam. Kamu jangan pernah sedikit pun membuat anak saya menangis, apa pun alasannya!" "Mungkin Sam belum pernah membuat bahagia Gwenny, hal sekecil apapun bukan lagi tolak ukur untuk alasan dipisahkan. Butuh waktu untuk memperbaiki kesalahan yang diperbuat ." "Sudah. Kita sudahi semua masalah yang ada. Ini Gwenny udah tujuh bulan. Kita seharusnya ngadain acara tujuh bulanan buat Gwenny. Jangan ribut terus." Kali ini Dirga pun ikut bicara tapiasih hati-hati takut jika Ardi tersinggung lagi "Gwenn, kita syukuran aja ya sayang? Hanya mengundang keluarga dekat aja, gimana menurut kamu?" Ujar mama Jihan. "Aku terserah mama aja. Yang penting kita kan doa buat sikembar." Samudra hanya bisa melihat raut bahagia diantara kedua orangtua dan mertuanya. mereka benar-benar tampak bahagia untuk menyambut kedatangan bayi kabar itu. Tapi sayangnya hati Samudra malah menjadi tidak tenang. Selalu di ganti rasa takut kehilangan orang tercintanya itu. *** bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD