17
"Untuk beberapa hari aja Gwen, please! Jangan membuat aku semakin khawtir lagi! Aku cuma mau yang terbaik buat kamu."
Gwenny mengembuskan napas pelan. "Oke, okeee..."
Samudra sudah menghubungi semua keluarganya, karena bagaimanapun mereka harus tahu bagaimana kondisi Gwenny sekarang.
"Ini yang mama takutkan, Sam. Tapi mama nggak tau harus gimana. Seorang ibu pasti nggak mau kehilangan anaknya." Aruni terkulai lesu. Putri satu-satunya sekarang ada di rumah sakit dalam kondisi yang amat menghawatirkan mengenai kehamilannya
"Keduanya sangat penting buat aku. Gwenny dan anak itu. Karena anak itu yang bisa mempererat hubungan aku dengan Gwenny, kalau nggak ada anak itu, mungkin aku udah kehilangan Gwenny, karena Gwenny bisa aja ninggalin aku kemarin-kemarin. Sekarang, Gwenny nggak mau anak itu dikorbankan. Aku bingung, aku harus apa..." Air mata Samudra jatuh. Disaat dia benar-benar ingin serius memperbaiki kesalahannya, kenapa Tuhan memberikan takdir seperti ini? Apa yang harus dia lakukan?
Baiklah, Samudra mengaku bersalah karena sudah berniat tidak baik pada Gwenny. Sempat ingin mempermainkan hatinya. Tapi sungguh, itu adalah kesalahan terbesar baginya. Sekarang bertukar nyawa dengan Gwenny dia pun bahkan siap.
"Apa Tuhan marah sama aku? Sampai harus seperti ini?"
Jihan juga merasa sangat sedih, menantunya dalam kondisi sedang tidak baik. Bagi Jihan, tak masalah jika memang calon cucunya harus digugurkan demi keselamatan nyawa Gwenny. Perihal Cucu, mereka pasti akan memiliki anak lagi, bahkan setelah Gwenny sembuh nantinya.
"Lebih baik pilih tindakan sejak sekarang, Sam. Pilih yang paling penting diselamatkan. Kalau anak kalian yang harus diselamatkan nanti, pikirkan gimana anak kamu tumbuh tanpa sosok ibunya. Dia akan tersiksa, Sam."
"Aku bingung, Ma."
Ardi hanya bisa duduk sambil memijit kepala yang pening.
"Saya nggak mau anak saya meninggal. Harusnya, Gwenny jangan hamil dulu."
"Aku nggak tau, Pa. Aku nggak tau kalau bisa sebahaya ini."
"Ardi, saya akan membantu kamu untuk mencari donor jantung untuk Gwrnny. Kita tidak akan kehilangan mereka." Dirga berusaha meyakinkan Gwenny. Meski pun hanya kecil kemungkinan, tapi Dirga yakin, kalau mereka berusaha, mereka pasti menemukan pendonor jantung untuk Gwrnny. Sebab sekarang sudah ada beberapa orang yang sudah memiliki identitas untuk sebagai pendonor organ jika mereka sudah meninggal nanti, maka organ mereka akan didonorkan pada yang membutuhkan.
"Terimakasih, Dirga. Saya harap begitu."
***
Samudra tidur diatas ranjang yang sama, saling berpelukan saling mengingat satu sama lain kenangan akan masalalu mereka
"Kamu ingat nggak pas kamu pertama kali boncengin aku? Kamu dengan pedenya bilang kalau kamu bisa, padahal itu pertama kamu kamu boncengin orang, gara-gara kamu jatuh, kita malah ngerusak tanamannya Bu Titi, tetangga sebelah rumah yang waktu itu ngomelnya panjang banget, sampai datengin mamah kamu minta ganti rugi."
"Inget kok, dan nabrak tukang gorengan pinggir jalan deket pos satpam." sesekali Samudra mengecup kepala Gwenny.
Gwenny tertawa, "Iya-iya, aku inget. Ada lagi nih, kita nyempung ke got! Gara-gara kamu, jidat aku bocor!"
"Siapa suruh kamu goyang-goyang pas dibonceng, untung yang nolongin tukang somay yang lewat"
"Ih jadi kamu masih nyalahin aku nih?" Mata Gwenny menatap sinis ke arah Samudra.
"Hhmm.. enggak sih, emang sepedanya yang rusak dipaksa bonceng jadi gak kuat.
"Ahh tetap aja, kamu nyalahin aku."
Dibuat gemas dengan tingkah Gwenny, Samudra menyarankan agar tidur dan istirahat yang cukup
"Udah malam loh, kamu gak mau tidur?
"Nggak." Gwenny menjawab dengan ketus
"Inget apa kata dokter kan? Jangan tidur terlalu larut malam."
"Tapi, aku masih kepikiran kucing."
"Kucing? Kan aku udah bilang ,iya nanti kalo udah sembuh total."
"Kamu marah?"
"Enggak."
"Bohong."
"Udah sayang, nanti bakal aku cari"
Samudra semakin mengencangkan pelukan pada Gwenny. Berusaha membuat Gwenny nyaman dan bisa tertidur pulas.
***
Dua hari Gwenny mendapatkan perawatan di rumah sakit Medical Jakarta. Membosankan memang, tapi tidak ada pilihan lain selain dia mau mengikuti ini semua.
"Hari ini aku pulang."
"Sekali ini aja, kamu harus nurut sama aku, oke? Jangan macem-macem, kamu harus istirahat total."
"Iya, tapi ini kan emang udah waktunya aku pulang. Aku udah baik-baik aja ini. Pegel tau, tiduran terus."
"Iya, nanti kalau udah diizinin sama dokter. Kan nunggu infus kamu habis dulu. Itu masih sisa setengah loh. Palingan nanti agak Soreang kamu baru bisa pulang."
Waktu terus berjalan, hingga sorepun sudah tiba. Gak yang sangat dinantikan Gwenny, akhirnya mereka kembali pulang. Sekarang, mereka sudah sampai rumah, dikejutkan dengan kucing lucu yang sangat menggemaskan.
"Saaam, ini serius kucingnya?" Gwenny langsung mengambil kucing yang dia lihat. Sangat menggemaskan
"Iya. Dia tipe munchkin, lucu kan?"
"Kamu kapan siapin ini?"
"Ya rahasia dong, masa dikasih tau sih. kan mau bikin suprise."
"Makasih yaaa. Makasih karena kamu udah kasih aku kebahagiaan kayak gini."
"Umh, makasih doang nih? Gak ada yang lain gitu?"
Berharap ada kecupan yang membuat Samudra senang.
Gwenny mendekati Samudra. Menarik wajah Samudra kemudian mengecup pipi Samudra pelan. "Kamu tinggi banget."
Samudra sampai menunduk kepala sedikit agar gweny sampai setara dengan tingginya.
Senyum merekah di bibir samudra.
"Mau namain si oyen ini siapa?"
"Gemoy gimana? Gemoy nanti biar jadi temannya anak kita."
"Gemoy? Lucu juga, oke baiklah oyen! Selamat datang di rumah kita." gendong kucing seperti anak kecil.
Tidak lama setelah itu orang tua Samudra dan Gwenny datang. Untuk beberapa waktu juga, Aruni ibu Gwenny ingin tinggal menemani sang anak sampai Gwenny benar-benar pulih
"Mama...."
"Selamat datang kembali di rumah sayang,gimana? Udah sehat? Baikan?"
"Udah, Ma. Ini mama bawa koper?"
"Iya mama bawa koper buat nginap di rumah kamu, sampai kamu pulih, Gwen"
"Terus papa gimana, Ma?"
"Papah kan bisa jaga diri sendiri ada yang ngurus rumah kok." Aruni nenjawab dengan santainya,
"Yaudah. Nanti, aku boleh kan tidur sama Mama? Aku kangen banget. Kapan lagi kan aku bisa tidur sama Mama."
"Nanti Samudra gimana? Mamah bisa kok tidur di kamar tamu. Pamali kalo udah punya suami tidurnya pisahan, apalagi lagi hamil begini , Samudra sih memang nyuruh mamah ke sini buat jagain kamu kalo Sam lagi kekantor atau keluar."
Gwenny melirik ke arah Samudra. "Yaudah, iya deh. Tapi janji ya Ma, di sini yang agak lama yaa."
"Iya sayang..."
"Nanti mama sering main ke sini ya. Jagain kamu juga sama calon cucu mama."
"Makasih ya ma, aku seneng banget, aku berasa punya dua mama dan dua papa yang sayang banget sama aku."
"Iyaaa sayang, iyaaa. Sekarang kamu istirahat, gih. Kamu mau dibikinin apa? Sop mau?" tanya Jihan menawarkan menantunya itu.
"Mau, Ma. Mau banget."
"Yaudah, mama siapin dulu."
"Kita berdua, Jihan udah lama kan nggak masak bareng?"
"Hahaha iya, boleh."
***
Haripun sudah berganti, pagi-pagi sekali, Aruni ke luar dari dalam kamar, dia melihat Samudra yang sedang membereskan rumah. Menyapu, Pel bahkan semua ruangan sudah tertata rapi oleh Samudra. Kening Aruni berkerut, diliriknya jam yang ada di dinding masih menunjukkan pulang 5 pagi.
"Samudra?"
Samudra yang tengah mencuci piring, telinganya disumbat earphone , memutar lagu Bruno mars Just the way you are, sehingga dia tidak mendengar ada yang memanggilnya.
Aruni menyentuh pundak Samudra. "Sam?"
Samudra tersentak kaget saat ada yang menyentuh.
"Mama?"
"Kamu ngapain pagi-pagi ngapain? Gwenny mana?"
""Ggg... Gwen.. Gwenny ada di kamar, Mah."
"Makasih ya kamu udah mau repot untuk Gwenny. Maaf Gwenny gak bisa jadi istri sempurna buat kamu, dia nggak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga bahkan hanya sekadar masak. Mama emang gak pernah izinin dia buat melakukan hal seperti ini."
"Ini memang aku yang inisiatif sendiri mah, dan aku melarang Gwenny untuk melakukan pekerjaan rumah, tapi Mama gak usah khawatir , Gwenny dan Sam mau mempekerjakan asisten rumah tangga untuk bantu-bantu di sini."
Tolong, cari yang berumur. Jangan yang muda." Aruni takut jika nanti Samudra mengkhianati Gwenny lagi.
"Kalau begitu, mamah yang pilihkan saja gimana?"
"Iya, nanti mamah yang cari. habis ini kamu mau ngapain? Ke kantor?"
"Untuk saat ini , Sam gak ke kantor mah, kerja pun dari rumah untuk beberapa bulan kedepan. Mungkin Sampai Gwenny melahirkan nanti."
"Yaudah, ini bahan masakan apa yang ada? Biar mama yang masak. Gwenny suka banget sama sip daging. Di kulkas ada daging?"
Samudra mengecek stock daging di kulkas, tapi memang Samudra type perfectsionist dan harus selalu fresh.
"Nmhh, belum beli lagi mah, kayaknya harus belanja dulu ke bawah."
"Yaudah, kamu belanja, biar mama yang lanjutin."
Samudra bergegas masuk kamar , untuk mandi dan berganti pakaian. Setidaknya harus masak masakan yang enak untuk mamah mertua yang berkunjung di kediamananya.
Kali ini sam tidak kepikiran mau masaka apa, yang jelas harus lezat dan ludes dimakan habis.
Gwenny meregangkan otot-ototnya. Membuka sedikit matanya.
"Sam, kamu mau kemana?"
Samudra memakai kaos polos, celana pendek selutut kesukaannya, ini outfit yang sering dipakai belanja.
"Mau belanja ke supermarket, mau ikut?"
"Mau.... Bentar!" Gwennya langsung lari ke kamar mandi, cuci muka dan gosok gigi seadanya.
"Aku tunggu di depan yaa." Samudra lebih ke depan,
Supermarket cukup dekat dengan apartment mereka. Hanya turun ke lantai 2 sudah masuk ke area bahan pangan, beragam. Mulai dari kebutuhan pokok hingga kebutuhan sandang. Kali ini, Samudra ingin membuat resep rendang special dari padang, sempat menetes air liur, Samudra kalau ingat pagi tadi ,melihat resep rendang padang yang di lihay di internet. Jadi menutuskan untuk membuatnya.
"Aku mau rendang deh kayaknya, bikin yuk?"
"Ayuk. Tapi aku nggak tau cara bikinnya."
"Aku yang masak, kan aku pintar masak"
"Iya deh iyaaa. Kamu pinter masak."
Dalam beberapa saat Samudra sibuk memilih bahan yang akan di masak, Gwenny sudah menghilang. Dia pergi ke toko boneka dan memilih boneka yang lucu untuk anaknya kelak.
"***
Gwenny yang sedang mencari boneka untuk calon anaknya.
"Ayla?"
"Aku pikir kamu sudah terbaring di rumah sakit atau bahkan sudah bercerai dari Samudra, tapi rupanya baik-baik aja, oh ya. Sam gimana?"
"Maksud kamu? Kamu pikir kamu bisa rebut suami aku?"
"Kamu tau? Samudra bukan orang yang mudah jatuh cinta pada satu wanita saja."
"Dia udah berubah dan janji."
"Jangan mengandalkan ucapan Gwenny, dia orang yg penuh ambisi, dia bisa tinggalin kamu kapan pun dia mau."
Gwenny terdiam. Tapi mendengar perkataan Ayla, semuanya seakan benar. Samudra pernah beberapa kali berjanji untuk memulai semuanya dengan baik, tapi lihatlah, Samudra berkali-kali bisa berubah. Tangan Gwenny bergetar. Bagaimana kalau Samudra memang seperti itu lagi? Membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya lalu kembali ditinggalkan dengan hati yang sudah hancur tak berbentuk. Bagaimana jika memang saat ini Samudra hanya bersandiwara lagi? Memainkan peran sebaik mungkin untuk membuatnya lebih sakit lagi?
Gwenny memejamkan mata, berusaha terlihat percaya di depan Ayla.
"Nggak mungkin. Dia udah ambil risiko kalau dia siap pisah kalau nyakitin aku lagi. Jadi, nggak mungkin dia ngelakuin kesalahan yang sama lagi. Kamu cuma mau bikin aku ragu sama Sam, kan?"
"Terserah kamu sih, kamu orang yang bodoh, masih mau percaya sama laki-laki seperti Samudra. Kasian banget, cuma dijadiin ajang buat bermain-main."
"Samudra nggak gitu."
"Apa kamu bisa jamin dia bersungguh-sungguh? Apa kamu selain itu, Gwen?" Ayla tertawa Sarkas. "Kalau dia cinta sama kamu seharusnya nggak mempermainkan kamu dong, berkali-kali lagi. Hanya orang bodoh yang mau jatuh di lobang yang sama."
Dari jauh Samudra melihat keduanya tengah membicarakan sesuatu. Lantas dia langsung bergegas mengambil bahan yang perlu saja, lalu segera mendekat ke arah Gweny dan Ayla berada.
"Gwen!kita pulang." menarik tangan Gweny menghindar dari Ayla.
"Sam, kamu takut rahasia kamu kebongkar?"
Kedua tangan Samudra terkepal. Andai dia bukan seorang perempuan sudah pasti Samudra akan menghajar Ayla habis-habisan.
"Rahasia apa?"
"Kalau Gwenny hanya mainan kamu. Kamu lupa? Kamu pernah bilang sama aku kalau dia itu cuma tikus yang gak ada artinya, kalau kamu bosen kamu buang!"
"Sakit jiwa Lo Ay." Samudra enggan menanggapi Ayla. Dia lantas membawa Gwenny pergi menjauh. Tak akan membiarkan otak Gwenny diracuni oleh Ayla.
Gwenny diam, dia hanya mengikuti Samudra. Dilihatnya punggung Samudra
"Kenaoa harus buru-buru, kamu takut Sam?" Tanya Gwenny dalam hati
Sudah selesai dengan urusan perbelanjaan dan pertemuan yang membuat moodnya rusak hari ini. Sekarang mereka sedang berada di dalam lift, menuju lantai 12.
"Aku udah pernah bilang kan, jangan pernah temui Ayla lagi, dia bahaya."
"Bukan aku yang nemuin."
"Kamu bisa menghindar dari Ayla, bukan percaya segala rumor dari dia."
"Kamu nggak pernah jujur sama aku siapa Ayla sebenarnya."
"Gwen, aku harus jujur seperti apalagi kali ini, aku jujur pun dianggap bohong sama kamu? Aku lakukan semuanya, dari pekerjaan kantor aku lakukan dari rumah, demi kamu, demi kamu, Gwen!"
"Aku nggak pernah minta kamu untuk kerja di rumah. Kalau di kantor silakan."
Samudra lelah bicara panjang lebar dengan Gwenny, susah di mengerti.
"Gwen, aku sebegitu terbukanya, sebegitu aku ingin berada dekat sama kamu, bahkan aku mau menyisihkan waktu aku untuk kamu, semuanya, buat kamu."
"Samudra, aku itu lagi ada di situasi yang sulit. Kamu udah berkali-kali berbuat baik sama aku, aku percaya, saat aku bahagia diperlakukan baik sama kamu, kamu jatuhin aku. Kamu lakuin itu. Berkali-kali, seperti kata Ayla. Aku aku masih bisa percaya sama kamu? Sementara kamu nggak pernah jujur sama aku kalau dia adalah mantan kamu."
"Kalau kamu tau dia mantan aku, apa kamu juga mempermasalahkan itu? Jadi please, jangan lagi kamu bahas tentang Ayla."
"Oke, aku minta maaf." Gwenny bahkan enggan sekarang menatap Samudra.
Samudra mengembuskan napas resah
"Gwen, aku tau. Dapetin kepercayaan kamu susah. Tapi kali ini aku mohon, percaya sama aku. Sekarang ini aku benar-benar nggak mau kehilangan kamu. Jika seandainya aku dikasih pilihan mati atau hidup tanpa kamu, aku lebih baik mati. Percuma aku hidup kamu nggak ada kamu di samping aku. Ingat, ada anak kita juga, jangan jadikan ucapan Ayla tadi beban pikiran buat kamu, hal itu bisa mempengaruhi anak kita."
Samudra merangkul Gwenny ke dalam pelukan.
"Sebentar lagi kita sampai, jangan terlihat berantem di depan Mama."
"Oke."
***