Episode 3

1046 Words
Karena Gwenny yang tak kunjung sadar, Samudra langsung menghubungi panggilan darurat 112. Dan pada akhirnya Gwenny pun harus dilarikan ke rumah sakit. Obat yang Gwenny konsumsi masih ada pada Samudra, nanti dia akan mengecek sendiri jenis apa obat yang dikonsumsi oleh gadis itu. "Excusez-moi, bon médecin de l'après-midi. puis-je demander de l'aide? pour vérifier ce type de médicament. parce que ma femme a pris ce médicament." (Permisi, Selamat Siang dokter. bolehkah saya meminta bantuan? untuk mengecek jenis obat ini. sebab istri saya sudah mengosumsi obat ini.) "D'accord, plus tard, je vérifierai ce type de médicament. Je l'ai d'abord emmené au laboratoire pour être vérifié. peux-tu attendre un moment." (Baiklah, nanti saya akan mengecek jenis obat ini. saya bawa dulu ke laboratoroum untuk diperiksa. biskah menunggu beberapa saat?) Samudra mengnggukkan kepala. "Bien sûr, j'attendrai avec plaisir." (Tentu, saya akan menunggunya dengan senang hati.") Setelah kurang lebih dari satu jam menunggu, akhirnya hasil tes lab itu keluar. Sungguh di luar dugaan. Samudra nyaris tumbang mendengar pernyataan dokter, obat yang dikonsumsi istrinya memiliki dosis yang tinggi, bahkan jenis obat itu dikonsumsi oleh penderita kelainan jantung. (Mohon koreksi jika ada kesalahan) Tubuh Samudra lemas seketika. Memang ia tidak mencintai Gwenny dan ini tidak berpengaruh besar baginya tapi kenapa rasanya Samudra sulit sekali menerimanya? "Jadi selama ini perempuan tengil itu sakit? Kenapa dia terlihat baik-baik aja, apa karena dia sekuat itu?" Sejenak, Samudra jadi ingat masa kecilnya dulu bersama Gwenny. Sebelum mereka sering cekcok dan akhirnya saling bermusuhan. Dulu, dulu sekali, mereka berteman begitu baik. Saat itu mereka masih TK. "Samudra, kita punya gelang yang sama, ini nggak boleh hilang ya. Kamu harus janji sama aku," "Iya nggak akan. Oh iya Gwenny nanti kalau udah besar, misalnya Gwenny belum punya pacar dan aku juga belum punya pacar, Gwenny mau nggak kalau kita berdua pacaran?" Saat itu dengan polosnya Gwenny menganggukkan kepala, entah apa yang ada dipikiran mereka saat itu. Namun bagi Gwenny dan Samudra bersama selalu adalah suatu hal yang menyenangkan. "kalau salah satu diantara kita langgar janji, berarti kita nggak akan temanan lagi." "Siap, Gwenny. aku janji, kita akan terus sama-sama." "Makasih Samudra." Gwenny dan Samudra saling berpelukan Samudra malah tertawa geli saat mengingat masa kecil itu. betapa bodohnya mereka saat itu, bahkan sekarang keinginan mereka lebih dari sekadar berpacaran. takdir malah mengikatt mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. "Nggak lucu Gwen, Lo malah bisa-bisanya sembunyikan ini dari gue, Lo mau bikin gue jadi duda? jangan seenak itu Lo bersikap ke Gue Gwen! Lo nggak bisa mati gitu aja!" Samudra membuang kertas itu, tidak. bagaimana pun Gwenny harus sembuh. dia tidak boleh meninggal. "Permusuhan kita belum selesai Gwen, jangan harap Lo bisa pergi ninggalin gue!" Tanpa samudra sadari, air matanya jatuh menetes. Jelas hal itu karena keterkejutan yang luar biasa ditambah dengan ketakutan Samudra yang tanpa sadar karena tak ingin kehilangan Gwenny. Samudra berjalan kemudian masuk ke dalam ruang rawat Gwenny. apa yang harus dia katakan pada ayah dan ibu Gwenny. mereka pasti sangat menghawatirkan anak mereka. apalagi sekarang mereka berada di negara yang cukup jauh. "Lo lemah, Gwen!" *** Samudra memasuki Runag rawat Gwenny. di sana dia melihat Gwenny masih menutup mata. jujur ini sangat pedih sekali rasanya. padahal sebelumnya dia tidak sepeduli ini pada Gwenny, dia juga tidak memiliki rasa apa pun yang membuatnya harus mencemaskan Gwenny. Tapi kenapa saat ini, detik ini dia malah terjebak dengan rasa aneh seperti ini? takut, takut untuk kehilangan Gwenny. "Gwen, Lo dan gue baru menikah. Urusan Lo sama gue belum kelar, sekarang kalau Lo mati, gimana sama kesalahan lo ke Gue? Lo nggak ada niatan gitu? buat menebus semuanya?" Samudra menyimpan wajahnya pada tangan Gwenny. "Terus apa yang harus gue sampaiin sama orang tua Lo?" Samudra benar-benar sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. "Gwenny, kamu kenapa?" tanya Samudra. mereka baru saja bermin sepeda tapi tiba-tiba saja Gwenny berhenti dan mencari kursi yang ada di taman. Sore ini mereka bermain sepeda di area rumah mereka, di sama ada taman yang biasa mereka jadikan tempat bermain. "Aku capek, Sam. aku juga rasain d**a kau sakit banget." "kamu naik sepeda nya gak pelan-pelan kali." "Bisa jadi." Samudra menatap wajah Gwenny. apa rasa sakit yang dulu sering Gwenny rasakan adalah tanda dari sakitnya? Apa selama ini dia yang tidak peka? "Gwen, Sorry. kalau Lo sembuh gue janji nggak bakal bikin Lo kesel. Lo harus sembuh, Plis, Gue nggak mau di salahin sama orang tua Lo karena anggap gue nggak bisa jagain Lo." Gwenny tidak merespon apa pun. hal itu semakin membuat samudra semakin takut. Dia benar-benar takut jika Gwenny tidak lagi bisa membuka mata. ☘️☘️☘️ "Ayah, Gimana ya sekarang kabar Gwenny. gimana nanti kalau Misalnya Samudra tahu sama penyakit Gwenny? apa dia masih bisa terima Gwenny? Gimana kalau dia ninggalin Gwenny karena dia nggak mau punya istri yang penyakitan?" "Ibu, jangan bicara begitu. Semuanya akan baik-baik saja. samudra anak yang baik, dulu dia dan Gwenny pernah menjadi sahabat yang baik. Ayah yakin mereka sekarang pasti baik-baik saja. Ayah juga yakin sekarang mereka pasti saling terbuka, menceritakan kesalahan masing-masing, dengan begitu mereka akan kembali berbaikan seperti dulu lagi. Tapi gimana kalau enggak ayah?" Ibu percaya sama ayah. semuanya akan baik-baik saja." Perempuan paruh baya itu hanya bisa terdiam berusaha percaya dengan ucapan sang suami berusaha yakin kalau Samudra tidak mungkin meninggalkan anaknya. Tapi jika seandainya samudera melukai putrinya, maka dia tidak akan tinggal diam, dia akan membalas perbuatan sang menantu. *** Gwenny membuka mata dilihatnya setiap sudut ruangan berwarna putih. berbau obat-obatan langsung memasuki rongga hidung. dilihatnya di punggung tangannya terpasang jarum infus. di sebelahnya ada Samudra yang menemaninya sambil tertidur . tenggorokan Gwenny terasa pahit, rasa haus menjalar tiba-tiba. "Sam...." panggil Gwenny pelan. namun tidak ada respons apa pun dari Samudra. "Lo nemenin gue, tapi Lo malah molor!" kata Gwenny dalam hati. Gwenny mencoba duduk, meraih gelas yang ada di atas nakas di samping tempat tidurnya. "Gwen..." Samudra lantas memegang tangan Gwenny yang tengah berusaha menggapai gelas. "Lo ngapain nggak bangun gue, kalau ada apa-apa Lo tinggal bangunin gue kan beres!" Gwenny berdecak kesal, andai saja tenaganya tidak habis, mungkin dia sudah menghajar Samudra dengan tangannya. "Lo yang tidur kayak kebo, gue bangun nggak bisa!" "Jangan betingkah, nih minum!" Samudra menatap Gwenny dengan nanar. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, yang jelas Samudra benar-benar tidak ingin terjadi hal buruk apa pun pada Gwenny. *** bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD