Miniera - 10

1872 Words
Semenjak mengetahui jika Alvard adalah pamannya, Alexa selalu memanggil Alvard dengan sebutan Paman. Tidak hanya Alexa yang terkejut dengan kenyataan yang muncul itu. Paula yang akhirnya tahu siapa Gary, kini menjadi sedikit canggung dengan pria itu jika bertemu. "Kenapa kau bisa mengatakan jika aku tidak akan cemburu?" tanya Alvard. "Karena kau pamanku!" tegas Alexa. "Aku ingin memilikimu, Alexa sayang." "Tidak, Paman. Kau seharusnya mencari wanita lain, dan bukan aku," ujar Alexa. "Kau selalu begitu, Alexa sayang ... Apa di hatimu hanya ada Luca, hah?" "Tidak ,Paman. Kalian semua memiliki tempat di hatiku, hanya saja ... aku terlalu mencintai kalian, sehingga aku tidak ingin kalian saling berebut," ujar Alexa. Alvard terdiam mendengar penjelasan Alexa. Jika tidak ada yang dapat memilikinya, lalu siapa yang akan menikahinya kelak?. Banyak hal yang kini ingin Alvard tanyakan tentang siapa yang terbaik diantara dirinya dengan Luca. Alvard tidak pernah mengikutsertakan Darren ke dalam daftar rivalnya, karena Darren adalah kakak kandung Alexa. Selama perjalanan menuju mansion utama, Alexa tertidur sangat lelap. Hingga tanpa ia sadari jika sebuah mobil tengah mengikuti mereka dari belakang. "Cih! Kenapa ada pengacau," gumam Alvard. Alvard melihat Alexa yang sedang tertidur nyenyak, ia tidak sampai hati untuk membangunkan gadis itu karena pengganggu. Akhirnya Alvard mengeluarkan beberapa senjata yang sudah didesain secara otomatis, hanya dengan menekan tombol berwarna merah yang ada di dekat kemudi. Beberapa senjata keluar dari bagian belakang mobil, dan setelah menekan tombol itu, mobil berwarna hitam yang sedang mengikuti mereka terkena serangan secara beruntun. DOR DOR DOR BOOM BRAK Mobil yang mengikuti mereka terlempar dan meledak. "Ehm ... apa baru saja ada yang menyerang kita?" tanya Alexa. "Hanya satu pengganggu , tidurlah lagi, sayang." "Kau terlalu berisik, Paman!" "Sekali lagi kau memanggil aku dengan sebutan Paman, aku akan menghentikan mobil ini dan langsung memperkosa dirimu!" ancam Alvard. Alexa mengerjapkan matanya, ia tidak percaya jika Pamannya akan mengancam dirinya dengan kata-kata yang fulgar seperti itu. Alexa tidak menjawab Alvard, diam adalah pilihan terbaik untuk dirinya saat ini. Hingga sampai di mansion utama, Luca sudah berdiri di depan pintu utama dengan senyum manisnya. Lelaki itu berjalan mendekati mobil yang dikendarai oleh Alvard. Luca membuka pintu mobil ,lalu meraih tubuh Alexa. "Aku bisa berjalan sendiri, Luca." "Kau harus banyak istirahat ,sayang. Jangan membantah jika aku yang melakukan hal ini," ujar Luca. Mereka meninggalkan Alvard yang masih berada di dalam mobil. Masuk ke dalam mansion, menuju kamar pribadi Alexa. Sampai di kamar gadis itu, Luca merebahkan tubuh Alexa di atas ranjang. Lelaki itu langsung melumat bibir Alexa dengan ganas, seperti seorang kekasih yang sudah cukup lama tidak bertemu. "Ehm," desah Alexa yang tertahan karena ciuman itu. Tangan Luca sudah bermain di bagian d**a Alexa, membuat gadis itu merasa aneh dengan sentuhan yang dilakukan lelaki itu. "Ehm, Luca ...." Luca tidak menggubris, ia terus melakukannya. Bahkan entah sejak kapan tangan itu masuk ke dalam pakaian Alexa, dan menyentuh secara langsung puncak dadanya. "Ahhh," desah Alexa yang lolos. Gadis itu mencoba mendorong tubuh kekar Luca. Sayang ... tenaganya tidak cukup untuk melakukannya. Wajah Alexa sudah terlihat sayu, tangannya mencengkeram seprai erat. "Luca ... jangan lakukan itu," gumam Alexa. Seketika Luca menghentikan aksinya, lelaki itu mengambil langkah mundur. Sementara Alexa mencoba bangkit dari posisinya saat ini. Mereka saling menatap, dan terlihat jelas jika Luca menyesali perbuatannya. "Maaf ... maaf, sayang." "Sebaiknya kau keluar, aku ingin sendiri untuk saat ini." Setelah mengucapkan kalimat itu, Luca berjalan meninggalkan Alexa di kamar. Ia merutuki perbuatannya kali ini, tidak biasanya ia kehilangan kendali. Atau mungkin saja seseorang dengan sengaja mengendalikan chip yang ada di dalam tubuhnya. "Darren, awas kau!" ucap Luca. Di dalam kamar, Alexa masih bisa merasakan sesuatu yang aneh saat Luca menyentuhnya. Sesuatu itu membuat dirinya ingin mengulang apa yang Luca lakukan.  "Kenapa saat Luca melakukannya terasa begitu ... nikmat." Alexa tanpa sadar melihat pada bagian bawahnya yang terasa basah. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, selama ini ... ia hanya sebatas berciuman dengan ketiga lelaki itu. Bahkan saat Darren menyentuh tubuhnya, ia tidak merasakan hal yang baru saja ia rasakan. Berkali-kali Alexa menggelengkan kepalanya, kini ia memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin dengan mengguyur seluruh tubuhnya akan membuat dirinya merasa lebih baik. "Sial, kenapa ketiga lelaki itu membuat aku menjadi gila!" gumam Alexa. Selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, ALexa segera mengenakan pakaiannya. Kini ia menyiapkan beberapa barang yang akan ia bawa untuk berkeliling benua Asia selama satu tahun. Ceklek Paula masuk ke dalam kamar Alexa tanpa mengetuk pintu. Wanita yang lebih pantas jika di sebut kakak oleh Alexa dan Darren itu terlihat masih sama setiap tahunnya. Tentu saja hal itu karena Alive Water milik Golden Snake. Tak hanya membuat wajah dan tubuhnya terlihat seperti gadis berusia tujuh belas tahun. Paula juga tidak pernah terkena penyakit serius, ia hanya akan merasa lemah jika suaminya menyerangnya selama berhari-hari. "Mom," panggil Alexa. "Kau sudah siap untuk pergi?" tanya Paula. "Ya. Aku sudah siap, Mom. Dimana Daddy?" "Ia masih menyelesaikan satu pekerjaan, tunggu saja ... bagaimana kakakmu?" tanya Paula. "Kakak sedikit marah saat aku memberitahukan tentang rencana liburan ini." "Ia akan baik-baik saja, lagipula di dalam tubuhmu sudah ada chip yang bisa kami temukan setiap saat dimanapun kau berada," ujar Paula. "Aku tahu, Mom." Alexa kembali memasukkan ponsel dan juga beberapa senjata kesayangannya ke dalam tas kecil. Paula tersenyum melihat anaknya itu, bukan karena barang yang akan di bawa sangat sedikit. Tetapi senjata mematikan yang baru saja dimasukkan ke dalam tas. "Kau sangat menyukai senjata itu," ujar Paula. "Karena senjata ini buatan kakak. dan sangat sederhana untuk dibawa kemana saja," jelas Alexa. "Kau benar. Apa kau tidak ingin membawa baretta atau shotgun?" "Baretta, aku akan membawa satu milikku," ujar Alexa. "Bagus. Jika ada p****************g menggoda dirimu, jangan segan-segan untuk menembak kepalanya." Alexa tersenyum kecil mendengar penjelasan ibunya itu. Ia memeluk tubuh ibunya yang lebih kecil dari tubuhnya saat ini.  Gadis itu pergi tanpa sepengetahuan siapapun, sebelumnya Alexa mengganti pelacak yang tertanam di dalam tubuhnya dengan yang baru. Tentu saja alat itu buatan Paula, ibunya. Alexa hanya ingin berbagi lokasinya dengan kedua orang tuanya. Karena ia benar-benar ingin menjauhi ketiga pria itu untuk sementara hingga perjalanannya selesai. Luca terlihat panik saat mengetahui jika Alexa pergi dari mansion utama. Ia hanya menerima sebuah surat yang dititipkan pada Alvard. 'Luca sayang, maaf jika aku tidak memberitahu dirimu tentang keputusan ini. Jangan merasa jika hanya kau yang aku tinggalkan. Aku juga meninggalkan Alvard dan Darren, kalian bertiga terlalu berharga untuk kumiliki. Temukan wanita yang dapat menggantikan diriku di hatimu. Semua yang sudah kita lewati bersama semenjak kembalinya dirimu, tidak akan bisa aku lupakan. Aku akan membawa kenangan itu bersamaku, menyimpannya dalam-dalam. Aku akan kembali, hanya saja ... aku tidak tahu kapan akan kembali. Jangan menyakiti dirimu, aku akan sangat sedih jika mendengar hal itu. Aku mencintaimu Luca.' Luca terlihat murung, ia meremas kertas yang ada di tangannya. Sementara Alvard yang sudah mengetahui hal itu, hanya bisa menghormati keputusan wanita itu. Alvard sedang berada di laboratorium untuk melakukan sebuah riset tentang senjata yang menggunakan sensor sidik jari dan pemindaian tubuh. *** Paula terlihat sedang mengamati layar tablet yang ada di tangannya. Ia melihat posisi Alexa berada untuk saat ini. Terkadang ia tersenyum saat mendengar anaknya itu berbicara dengan beberapa pedagang yang menjual makanan maupun souvenir. Selain melihat keadaan Alexa dari layar 7 inch itu, kegiatan Paula yang lain adalah berkeliling Amerika untuk melihat bisnis restorannya lagi. Dengan pengawalan khusus tentunya, karena Hunt tidak akan mengizinkan istrinya pergi tanda pengawal kepercayaannya.  "Sayang, dimana Alexa sekarang?" tanya Hunt. "Alexa sedang berada di Singapura, ia sangat menikmati liburannya." "Senang mendengarnya, apa hari ini kau akan melihat restoran yang ada di Manhattan?" "Hmm, entahlah. Aku sedang malas untuk keluar mansion hari ini," ujar Paula. "Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi ke Brazil hari ini, jangan selingkuh dengan pengawal maupun lelaki lain," ujar Hunt. Paula terkekeh mendengar ucapan suaminya itu. Ia meletakkan tabletnya di atas nakas, lalu berjalan mendekati Hunt. Paula memeluk Hunt dari belakang, menghirup aroma tubuh lelaki itu dalam-dalam. "Aku selalu menyukai aroma tubuhmu ,Hunt." Mendengar ucapan istrinya, Hunt berbalik badan menghadap Paula. Lelaki itu langsung saja mencium bibir wanita itu dengan kasar. Ciuman itu terlihat begitu panas, dengan ekduanya yang saling bermain lidah ,dan bertukar saliva. Tangan Hunt meremas d**a Paula dengan kasar, membuat wanita itu sedikit tersentak. Tidak mau kalah, tangan Paula kini meraba bagian bawah Hunt yang mulai mengeras. Lelaki itu merobek pakaian istrinya dengan kasar, karena tidak sabar untuk menikmati tubuh indah itu. "Ahh," desah Paula saat Hunt memilin puncak dadanya. Hunt mendorong tubuh Paula dengan perlahan hingga jatuh di atas ranjang. Hunt melepaskan ciumannya, dan beralih mengulum puncak d**a Paula.  "Akh, Hunt jangan terlalu keras," protes Paula. Hunt tidak mempedulikan ucapan istrinya, ia terus saja melakukan kegiatannya. Desahan Paula semakin menggila di saat jari Hunt berhasil masuk ke dalam liang senggama milik wanita itu. Jarinya mengaduk dengan tempo cepat, hingga akhirnya Paula mendesah panjang mendapatkan pelepasannya.  Entah sejak kapan Hunt sudah melepaskan pakaiannya, lelaki itu kini menindih tubuh istrinya, dengan mengarahkan kejantanannya tepat di liang senggamanya.  "Aaahh ," desah keduanya saat penyatuan. Hunt menggerakkan pinggulnya perlahan, dengan kedua kaki Paula yang kini melingkar pada pinggang lelakinya. Tangan Paula mencengkeram seprai merasakan kenikmatan yang tengah diberikan oleh suaminya. Matanya terpejam, saat sensasi gila itu ia rasakan. Kejantanan Hunt terasa terjepit, karena liang kewanitaan itu sangat sempit. Beberapa kali Hunt merasakan bibir kewanitaan istrinya berkedut. Kejantanan Hunt terasa hangat dan basah karena pelepasan yang dialami Paula. "Aaaahh, teruss ... Hunt, yeah ... aahh," desah Paula. "Ehm ... milikmu selalu memanjakannya ,sayang." "Aahh, uuhh ... lebih dalam lagi ,Hunt." Hunt semakin memperdalam miliknya, dengan memompa tubuh istrinya. "Hunt, aku akan sampai lagi," ujar Paula. "Kau sangat menikmatinya ,sayang." "Yeah ... milikmu selalu nikmat saat berada di dalam sana," ujar Paula sembari tersenyum. Hunt menegakkan tubuhnya, ia mengangkat satu kaki Paula ke atas pundaknya. Lalu Hunt bergerak dengan tempo yang sedikit cepat, hingga akhirnya tubuh lelaki itu menegang dan kejantanannya mengeluarkan cairan itu di dalam pusat gairah Paula. Napas keduanya saling memburu, dengan peluh yang sudah membasahi tubuh kedua pasangan itu. Hunt melepaskan kejantananya, ia memilih untuk tidur di damping sang istri, dan memeluknya erat. Paula yang merasa senang dengan perlakuan suaminya kini tersenyum , dan memejamkan mata untuk merasakan hangatnya sentuhan suaminya. "Kau mengatakan akan pergi ke Brazil," ucap Paula. "Tidak, aku akan ke Brazil lusa." "Kau ingin membuatku tidak bisa berjalan?" "Aku hanya ingin menikmati waktu bersamamu beberapa hari ini," jelas Hunt. "Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu ,Hunt?" "Mereka bisa menjalankannya, sayang. Kenapa sekarang kau terlihat khawatir?" "Aku tidak khawatir, terakhir kali kau menyerahkan pekerjaanmu pada yang lain, kau selalu menembak mati mereka ,dan menjadikannya bahan ujicoba," ujar Paula. "Itu karena mereka memang bodoh!" "Kau ini." "Apa Darren belum kemari semenjak kepergian Alexa?" tanya Hunt. "Belum, ia menyibukkan diri untuk mengurus bisnisnya, dan ... Darren kembali ke Sala Silvermine," terang Paula. "Apa ia bosan tinggal di mansion besar itu?" tanya Hunt. "Entahlah." "Apa yang dilakukan Alvard dan Luca sekarang?" "Mereka menyibukkan diri dengan mengikuti misi yang dijalankan Gary dan Reon." Hunt mempererat pelukannya, ia memejamkan mata dan terlelap beberapa menit kemudian. Sementara Paula masih belum bisa terlelap, ia meraih tablet yang ada di atas nakas, lalu melihat kembali posisi keempat orang yang baru saja Hunt tanyakan. Setelah memastikan anaknya dalam kondisi baik-baik saja, dan tidak sedang dalam masalah, Paula memutuskan untuk memejamkan mata bersama suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD