Miniera - 8

1667 Words
Tepat di hari ulang tahun Alexa yang jatuh pada hari ini. Anak itu kini berusia tujuh belas tahun. dalam beberapa tahun ini ,Alexa melakukan sekolah secara online. Tidak hanya itu, Alexa juga berlatih setiap hari bersama Luca dan Alvard. Paula ingin mengadakan sebuah pesta kecil untuk merayakan ulang tahun anaknya. Sebuah pesta yang hanya dihadiri oleh orang-orang dalam saja. Tidak hanya itu, Hunt juga akan mengabulkan permintaan Alexa untuk berkeliling dunia seorang diri. "Nona, selamat ulang tahun," ucap Luca sembari memberikan sebuah kalung dengan liontin berbentuk bintang dan bulan. "Selamat bertambah usia, Tuan Putri," sahut Alvard yang juga memberikan hadiah untuk Alexa. Darren tidak nampak di sana, ia selalu datang dan pergi semaunya. Hal itu membuat alexa sedikit kesal saat kakaknya tidak berada di hadapannya. "Dimana Kakak?" tanya Alexa. "Darren sedang ada misi," ujar Alvard. "Di hari ulang tahunku? Serius?" "Nona, apa kau kecewa?" tanya Luca. "Maaf, Luca. Terima kasih untuk kalian," ucap Alexa. Wajah gadis itu terlihat murung karena Darren tidak datang di saat hari pentingnya. Luca dan Alvard saling menatap, keduanya mencoba untuk membuat Alexa sedikit teralihkan perhatiannya, dengan mengajaknya berkeliling kota. "Nona, bagaimana jika kita berkeliling kota?" ajak Luca. "Baiklah, aku mandi dulu, setelah itu kita akan pergi bersama," ujar Alexa. Gadis itu turun dari atas ranjang menuju kamar mandi. Selama di dalam sana, Alexa melihat sebuah sebuah layar kecil yang menampilkan video Darren sedang bersama Bianca. "Ada apa dengan diriku?" gumam Alexa yang akhirnya meletakkan ponselnya. Ia membersihkan diri di bawah guyuran shower. Tangannya menyeka air yang melewati wajah dan tubuhnya dengan puff yang berbusa, Alexa membersihkan tubuhnya dengan membilas dengan air dari shower. Lima belas menit kemudian, Alexa keluar dari kamar mandi dan langsung masuk ke walk in closet. Ia memilih atasan crop dengan hotpants yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Ia juga menggunakan sepatu boots berwarna cokelat dengan heels setinggi lima centimeters. Luca dan Alvard menunggu Alexa di depan pintu utama mansion. Ia berjalan dengan malas, sembari menenteng tas selempang kecil miliknya. Saat itu, Paula tanpa sengaja melihat anak gadisnya yang akan pergi. Wanita itu menghampiri Alexa dan memberitahu tentang Pesta yang akan ia adakan nanti malam. "Jangan pulang terlalu malam, sayang," ujar Paula. "Oke, Mom." *** Malam hari, Paula tangah khawatir dengan anaknya yang sampai saat ini belum juga kembali mansion. Beberap kali ia melacak keberadaan Alexa dari alat yang sudah terpasang pada tubuh anak itu, tetapi sayangnya alat itu tidak dapat menjangkau lokasi Alexa. "Hunt, kau yakin tidak akan mencari anak gadismu?" tanya Paula yang terlihat geram. "Sayang, Alexa aman bersama kedua anak itu. Ia memang sengaja mematikan alat pelacak itu agar kau tidak dapat menemukan lokasinya," jelas Hunt. "Tapi ,Hunt!" "Aku akan menghubungi Darren untuk menjemput Alexa," ujar Hunt sembari meraih ponsel dari saku jasnya. Hunt merasa aneh pada anak-anaknya hari ini, tidak hanya Alexa yang mematikan sistem pelacak, tetapi Darren juga tidak dapat dihubungi. Hunt memanggil Reon untuk membantu dirinya mencari keberadaan anak-anaknya itu. Dengan segera, Reon melihat seluruh layar berukuran 24' yang ada di ruang kerjanya. Setelah menekan sebuah tombol, akhirnya Reon dapat menemukan posisi Darren yang berada di Sala Silvermine bersama Bianca. Pencarian Reon tertuju pada Alexa, dengan beberapa kali kegagalan sistem, akhirnya pria itu dapat menemukan Alexa yang sedang duduk di sebuah taman. Sementara Luca dan Alvard berdiri di hadapannya. "Apa yang mereka lakukan?" gumam Reon. Reon mengambil sebuah ponsel dari atas meja, lalu pria itu menghubungi Luca. "Apa yang kalian lakukan di sana? Tuan dan Nyonya mencari Alexa saat ini! Acara pesta akan dilaksanakan dalam beberapa jam lagi!" terang Reon. "Aku mengerti, kami akan segera kembali." Usai menjawab pertanyaan Reon, Luca menutup sambungan telepon itu. Paula menunggu kedatangan putrinya di depan pintu utama. Ia sudah mengenakan sebuah gaun berwarna silver dengan belahan d**a yang mampu membuat Hunt tidak bisa berpaling dari sana. Paula memang selalu berhasil menggoda Hunt dengan pakaian apapun, selama wanita itu terlihat seksi juga menggoda, Hunt bisa dengan mudah b*******h dan menyerang istrinya itu. "Sayang, kau yakin tidak ingin mengganti pakaianmu?" tanya Hunt. "Tidak! Aku tau yang kau pikirkan ,Hunt. Aku harap kau bisa menahan diri sampai kedua anakku berada di hadapanku!" ujar Paula. "Baiklah," jawab Hunt kecewa. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berwarna kuning memasuki halaman mansion. Paula dan Hunt melihat Darren keluar dari dalam mobil bersama Bianca. "Hunt, apa aku tidak salah melihat?" tanya Paula memastikan penglihatannya. "Tidak ,sayang." "Mom, Dad," sapa Darren pada keduanya. "Masuklah, ajak tamumu untuk menikmati ruangan pesta," ujar Hunt. Darren mengangguk lalu menarik tangan Bianca untuk masuk ke dalam mansion. Bianca ynag belum sempat berkenalan dengan Paula dan Hunt menjadi bingung. Gadis itu terlihat sedikit kecewa pada Darren karena tidak langsung memperkenalkan dirinya. "Darren, kenapa kau tidak mengenalkan aku pada kedua orang tuamu?" tanya Bianca. "Tidak perlu, mereka sudah tahu siapa dirimu," ujar Darren. Bianca hanya bisa mengangguk, lalu ia mengikuti langkah Darren kemana pria itu membawanya. Sampai di sebuah aula besar yang ada di dalam mansion, mereka disuguhkan dengan pemandangan yang didominasi warna merah. Darren terlihat sedang mengambil segelas minuman lalu menegaknya dengan sekali tarikan. Matanya menyusuri seluruh ruangan pesta, sayangnya ia belum menemukan keberadaan Alexa di sana. "Apa kau mencari seseorang?" tanya Bianca. "Ya." "Siapa?" "Adikku!" Bianca mengenal Darren hanya dari luarnya saja, ia tidak mengetahui hubungan kedekatan antara Darren dengan Alexa. Bianca mengira, ia tidak mungkin memiliki saingan, karena selama ini seorang mata-mata utusan Bianca selalu memberikan info terbaru tentang Darren. Cukup lama mereka menunggu, hingga akhirnya seorang gadis masuk ke dalam ruangan pesta dengan gaun berwarna putih. Gaun yang melekat hingga memperlihatkan bentuk tubuh gadis itu, mampu membuat Darren dan seluruh pria di dalam sana terpesona dengan kecantikannya. "Al," ucap Darren. "Itu Adikmu?" tanya Bianca yang mendapat anggukan dari Darren. Bianca memberanikan diri mendekati Alexa untuk menyapanya. Saat itu tatapan mata Alexa begitu berbeda. Gadis itu seperti bukan dirinya, karena aura dingin yang keluar. "Hai, apa kau Alexa?" tanya Bianca. Alexa menatap tajam pada Bianca, hingga membuat gadis itu sedikit takut padanya. Luca meraih tangan Alexa lalu mengajaknya untuk melangkah masuk. Sementara Alvard yang berada di belakang keduanya hanya bisa tersenyum dan sedikit membungkuk pada Bianca. Bianca terlihat tidak begitu menyukai sikap Alexa. Ia menghampiri Darren lalu menarik tangannya untuk segera membawa pria itu keluar dari mansion. Sayangnya ,Darren tidak mau melakukan yang Bianca inginkan. Darren emmeilih melepaskan tangan Bianca lalu berjalan mendekati Alexa. Darren menggantikan Luca untuk berada di sampingnya. "Untuk apa kau datang?" tanya Alexa. "untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun," bisik Darren. "Sebaiknya kau kembali bersama wanita itu, daripada aku membuatnya menjadi mangsa untuk penelitian Alvard." "Kau yakin mengusir aku?" "Jika tidak, untuk apa aku berkata seperti itu." *** Siang ini mereka sampai di tengah kota Manhattan. Alexa sedang menikmati waktu liburan bersama kedua orang pengawalnya itu. Ia tengah membeli sebuah makanan ringan di kedai milik seorang janda. Alexa melihat jika kedai itu terlihat bersih dan juga mampu bertahan diantara bisnis makanan lainnya. "Nona, apa kau sudah puas?" tanya Luca. "Ya, tentu saja." Senyum Alexa tercetak jelas saat itu. Hingga akhirnya ia melihat seorang pria dengan mengenakan jas hitan dan sedang tertawa bersama wanita lain selain dirinya. Ya, Alexa melihat Darren sedang bersama Bianca, mereka baru saja keluar dari hotel mewah yang berada di kota itu. Tiba-tiba saja perasaan Alexa menjadi sedikit terasa sakit. Tentu saja hal itu membuat Luca dan Alvard terdiam dengan tidak mencampuri urusan keduanya. Beberapa saat kemudian, Alexa melangkah entah kemana. Gadis itu tidak memiliki sebuah tujuan saat ini. Ia terus saja berjalan hingga akhirnya berhenti di sebuah taman. "Nona ... apa kau baik-baik saja?" tanya Luca. "Ya ... tidak ... aku baik-baik saja," ujar Alexa. Luca mengambil tempat di sisi kanan, sementara Alvard duduk di sisi kiri gadis itu. Awalnya Luca terlihat bingung, apa yang harus ia lakukan saat itu. Entah dari mana asal orang-orang itu, Luca melihat ada yang saling berpelukan, ada yang mencium pasangannya, hingga akhirnya sistemnya menerima sebuah kejadian unik di sekitar sana. Seorang wanita terlihat menampar pria itu karena dengan sengaja menyentuh tubuhnya. Tentu saja Luca sedikit mengambil jarak agar apa yang ia lihat tidak terjadi kepadanya. "Ada apa?" tanya Alexa. "Ti-tidak ada apa-apa ,Nona." "Kau sedang memindai orang-orang di sekitar sini, begitu saja aku tidak bisa melihatnya kembali. "Maaf ,Nona," ucap Luca menyesal. "Nona, Tuan dan Nyonya sedang mencari dirimu," ucap Luca. "Aku tahu hal itu, mungkin hanya satu orang yang tidak kaan mencari keberadaanku." "Tuan putri, sebaiknya kita kembali sekarang, karena ibumu yang membuat pesta ini, aku takut ia akan menggila jika dalam beberapa menit kita belum juga sampai," ujar Alvard "Baiklah, ayo kita kembali ke mansion," ujar Alexa. *** Alexa meraih baretta milik Luca dan mengarahkan benda itu ke kepalanya sendiri. Sontak hal itu membuat seluruh orang yang berada di sana menjadi teralihkan pandangannya pada Alexa. Tidak hanya Luca dan Alvard, Darren mencoba kembali mendekati Alexa dengan berbicara perlahan pada gadis itu. "Al! Apa yang kau lakukan?" ujar Darren dengan nada tinggi. "Aku ingin mengosongkan pikiranku, mati di tangan sendiri adalah hal terbaik," ujar Alexa. Hunt terlihat biasa saja melihat aksi anaknya, pria itu sangat mengenal Alexa. Karena sifat gadis itu tidak jauh dari Paula ,ibunya. Sementara Paula tengah panik , hingga ingin ikut campur dalam masalah anaknya. "Hunt, kenapa kau diam saja?" tanya Paula. "Tenanglah, Alexa hanya ingin mencari perhatian Darren saja," jelas Hunt. Paula mengerutkan dahinya, seakan tidak percaya dengan ucapan suaminya itu. Akhirnya Paula mencoba untuk tetap tenang dan menyaksikan apa yang akan dilakukan anak-anaknya. "Nona, jangan seperti ini." "Tuan Putri, sebaiknya kau memberitahu kami jika ada yang salah," ujar Alvard. "Kalian tidak bersalah, akulah yang bersalah atas sikap yang menjijikan ini," ungkap Alexa. "Al, ikut aku," ucap Darren sembari mengulurkan tangannya. "Kemana?" "Kemanapun kau inginkan," jawabnya. Setelah baretta itu turun dari posisinya, Luca segera meraih baretta itu dan menjauhkannya dari Alexa. Sementara itu, Darren menggendong adiknya menuju tempat yang gadis itu inginkan. Sebuah mobil sudah siap di halaman depan ,dengan perasaan yang sedikit gugup Alexa menatap wajah Darren yang terlihat gelisah saat Alexa melakukan hal bodoh. "Kau ingin kita pergi kemana?" tanya Darren. "Tempat yang indah," jawab Alexa. "Baiklah."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD