Bab 8

1010 Words
Aluna terdiam saat melihat pantulan wajahnya di cermin. Ia menyentuh cermin untuk memastikan tidak ada teknologi di dalam sana yang dapat merubah wajah. "I ... Ini sungguh aku?" Aluna memerah. "Nyonya memang sudah cantik, dirias sedikit saja, anda jadi makin cantik," ujar Mery. "Yah ..." Aluna menatap Mery dan dua pelayan yang membantunya mempersiapkan diri. "Terimakasih banyak, semuanya." "Ini adalah tugas kami, anda tidak perlu berterimakasih!" jawab salah satu pelayan. "Aku berterimakasih karena kalian telah menjalankan tugas kalian dengan baik." Aluna berdiri. "Haruskah aku menemui Devan sekarang?" "Saya akan mengantar anda, Nyonya," balas Mery. Aluna mengikuti Mery keluar dari kamar. Dua orang bodyguard yang berjaga di luar kamar Aluna terkejut dengan perubahan Aluna. Dalam perjalanan, para pelayan yang sedang lewat tak dapat mengalihkan pandangannya dari Aluna. Mereka bahkan tak menyangka, kalau wanita dengan tubuh kotor kemarin, kini telah berubah jadi sosok yang luar biasa. "Hei, apa kau lihat?" "Kau pikir, aku buta? Tentu saja aku melihatnya!" "Nyonya kita sangat cantik!" "Padahal kemarin, kau tidak mau mengakuinya." "Dia sangat mempesona." "Kupikir, aku jatuh cinta!" Aluna sedikit malu dengan bisik-bisik penuh kagum itu. Mereka tiba di sebuah ruangan, yang merupakan tempat Devan bekerja. Empat orang yang berjaga di depan pintu bengong karena terpesona dengan kecantikan Aluna. Mery mengetuk pintu. "Tuanku, ini Saya, Mery." "Masuk." terdengar suara Devan dari dalam. Mery membuka pintu. "Masuklah, Nyonya." Setelah Aluna masuk ke dalam, Mery menutup pintu. Ruangan tersebut sama luasnya dengan kamar Aluna, namun dipenuhi dengan rak buku dan dokumen-dokumen. Ada sebuah meja kerja besar, dengan sebuah foto berukuran besar di atasnya. Aluna ingat, orang itu adalah Jason, kakek Devan yang ditolongnya dulu. Lalu di mana Devan? "Aku ingin kau mengurusnya dengan baik." Aluna bisa mendengar suara Devan. Rupanya pria itu sedang duduk di kursi besar yang ada di belakang meja kerja. Kursi putar itu kini sedang membelakangi Aluna, sehingga ia tidak dapat melihat Devan. Di sisi lain, Devan sedang berbincang dengan Jack di telepon. Ia sudah tahu kalau Aluna masuk ke dalam. "Apa hadiah untuk pamanku sudah sampai?" tanya Devan. "Sudah, Tuan. Dia sudah membukanya." "Lalu, bagaimana reaksinya?" "Dia sangat terkejut. Kelihatannya dia tidak menyangka, kalau mata-mata yang menyampaikan segalanya selama lima belas tahun, hanya tinggal kepalanya saja" "Sayang sekali, aku tidak bisa melihat wajahnya secara langsung." "Saya sudah merekamnya, akan saya kirimkan kepada anda." "Kerja bagus, Jack. Kau bisa kembali sekarang." "Baik, Tuan Wilson." Devan mematikan telepon. Ia memutar kursi, lalu menatap dokumen yang ada di meja kerjanya. "Baiklah, sampai kapan kau akan mengabaikanku?" tanya Aluna, karena Devan tak menatapnya. "Aku menyuruhmu datang satu jam yang lalu." "Jangan salahkan aku, salahkan Mery yang tidak mau berhenti meriasku." "Aku penasaran, seperti apa wajahmu setelah menghabiskan waktu satu ja ..." Devan terdiam saat menatap Aluna. "Apa? Kenapa tatapanmu seperti itu?" Aluna kesal. "Aluna? Itu kau?" "Hah?" "Kau, sungguh Aluna Miley?" "Apakah ini humor mafia? Aku bukan mafia, jadi aku tak paham." "Dari logat dan suaramu, kau memang Aluna Miley." "Kau ini kenapa, sih?" Devan mendekati Aluna, ia kembali menatap Aluna dengan lekat. "Hei!" Aluna menjentikkan jarinya di depan Devan, Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?" "Aku sehat." "Hmm ..." Aluna menghela nafas, "Ya, sudahlah. Ngomong-ngomong, menurutmu penampilanku bagaimana?" "Kau tambah jelek." "Apa?" Aluna tersinggung. "Kau b******n sialan! Berani sekali kau mengataiku jelek?" "Tersinggung artinya itu benar." Devan berjalan keluar ruangan. Aluna mengejarnya, meskipun ia kesusahan karena hak yang digunakannya. "Hei, Devan Wilson! Cepat tarik kata-katamu tadi, sialan!" "Diamlah. Sekali jelek, tetap jelek." "Oh, ya? Jadi kau pikir, dirimu tampan?" "Kau sendiri yang menyebutku tampan saat di mobil, kan?" Aluna mengingatnya "Aku menarik kata-kataku itu! Kau jelek, kau sangat jelek!" Devan tak mempedulikan kata-kata Aluna. "Dia hanya membersihkan diri, makeup nya juga sangat tipis. Dari awal dia memang cantik, tapi tak kusangka dia secantik ini." Devan kembali menatap Aluna yang sedang menggerutu. "Dengan kecantikan seperti itu, dia akan menarik banyak orang. Aku harus menjaganya dengan baik." "Ini seperti yang kulihat di film!" "Sudah kubilang, berhenti mengoceh." "Tapi itu memang benar, tahu!" Devan menyangga dagunya dengan telapak tangan. "Kau semiskin apa, sih?" "Jangan menghina!" Aluna menggebrak meja. "Aku bertanya, bukan menghina." Mereka menghela nafas, lalu memalingkan wajah satu sama lain. "Cih, sudah kuduga aku tidak akan cocok denganmu," ujar Aluna. "Sudah kuduga, orang miskin memang merepotkan." Devan mengambil garpu dan pisau. la mulai mengiris daging steak, lalu memakannya. Melihat itu, Aluna sedikit kebingungan. Saat ia menonton film, orang-orang memakan steak dengan nikmat. Mereka memotong dengan mudah, tapi rapi dan elegan. Sedangkan Aluna, melihat steak saja tidak pernah, apalagi memakannya. "Kau tidak makan?" tanya Devan. "Ak ... Aku akan makan sekarang!" Aluna mengambil garpu dan pisau. Ia memandang steak dengan lekat. "Kau memegangnya terbalik. Pegang pisau dengan tangan kanan, garpu dengan tangan kiri," ujar Devan. "Oh!" Aluna menukar posisi garpu dan pisau, namun ia masih kebingungan. Devan menarik piring Aluna, membuat wanita itu terkejut. "Hei, apa kau akan mengambil milikku?" Devan memotong-motong daging di piring Aluna menjadi potongan kecil. "Berhentilah berpikiran negatif tentangku." "Bukannya malah aneh, kalau aku tidak berpikiran negatif?" "Apa kau tahu, kau adalah satu-satunya orang yang tidak memiliki kekuasaan, tapi berani bersikap kurang ajar padaku?" Aluna mengendikkan bahunya. "Lalu kau mau apa? Membunuhku sekarang? Silahkan. Jadi, aku bisa bertemu dengan ibuku di Surga." "Aku ragu, kau masuk ke Surga.' "Sialan kau!" Devan tersenyum kecil, lalu meletakkan kembali piring Aluna. "Makanlah, calon istriku sayang." "Ih, geli." Aluna merinding. "Sungguh? Semua wanita yang kutemui berharap aku bersikap lembut pada mereka." "Mereka pasti katarak." Aluna memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya. Daging yang empuk, dibumbui dengan baik, dan tingkat kematangan yang sempurna, menari-nari di lidah Aluna. Aluna memegangi mulutnya sendiri. la ingin menangis. "Enak?" tanya Devan. "Ini luar biasa. Kau harus menaikkan gaji koki!" Devan melirik kepala pelayan laki-laki, Dean. "Kau dengar itu?" "Saya akan melaksanakan perintah Nyonya," jawab Dean. "Hah? Perintah apa?" Aluna kebingungan. "Menaikkan gaji koki. Bukannya kau sendiri yang meminta?" tanya Devan. "Kau benar-benar melakukannya?" "Kau adalah Nyonya, jadi kau bisa melakukan apapun yang kau mau." "Bagaimana jika aku bertindak diluar batas?" "Keluarga Wilson tidak mengenal batas. Kita adalah yang teratas di antara yang teratas." Devan mengambil gelas berisi wine. "Jadi, bisakah aku mendengar alasanmu sekarang?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD