6

1214 Words
"Jangan pernah menghilang lagi Dam, aku dan istriku jadi merasa bersalah, terutama pada ibumu, wanita baik itu jadi ikut menderita jika kau menghilang dan maafkan Livia," ujar Ananta saat ia menelpon Adam unutk menemuinya, di ruangannya. "Maafkan saya Pak, saat itu yang terpikir dalam benak saya hanya mengistirahatkan pikiran saya, dan saya akan selalu memaafkan Livia Pak, saya mencintainya sebesar apapun dia menyiksa hati saya, namun saat ini saya akan mencoba untuk melupakannya, melupakan bahwa saya sangat mencintainya, karena sepertinya Livia tetap berharap laki-laki itu bersamanya," ujar Adam sambil mengehela napas berat. "Yah silakan, lakukan sesuai keinginanmu, akan lebih baik memang jika sedikit demi sedikit kau menjauh dari Livia, aku hanya kasihan Biru, dia terlanjur menganggapmu papanya," Ananta merasakan sesak tiba-tiba saat mengingat wajah Biru. **** Adam aktif lagi di galeri seperti biasa, hanya benar-benar membatasi berkomunikasi dengan Livia, ia menampakkan wajah biasanya saja, berpapasanpun Adam berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun pada Livia, Adam memutuskan menjauh bukan memusuhi Livia, meski sebenarnya jaaauh di lubuk hatinya, ia ingin sekali memeluk dan mencium kenimg Livia seperti biasanya. Sementara Livia merasakan perubahan Adam dengan perasaan bingung, ingin rasanya ia menanyakan pada Adam tapi ia tak punya keberanian saat melihat wajah laki-laki itu menjadi dingin tiap melihat wajahnya. Hingga suatu saat Livia mengetuk ruangan Adam karena ada hal yang akan ia tanyakan sehubungan dengan galery. "Yaaa masuk," sahut Adam saat pintu ruangannya ada yang mengetuk. Dan menahan napas saat tahu Livia yang ada di balik pintu. Livia melangkah dan duduk di kursi, di seberang meja berhadapan dengan Adam. "Maaf mas mengganggu, dua hari ini beberapa pengrajin yang kita sewa umtuk kelas demo minta ijin karena ada keperluan, sementara kita tidak memiliki pengganti, bagaimana mengatasinya, aku sudah berusaha menghubungi beberapa yang biasa kita pakai jasanya tapi juga tidak bisa karena ada halangan juga?" "Akan aku carikan jalan ke luar,  aku punya kenalan beberapa pengrajin yang lain siapa tahu bisa," Adam menjawab sambil terus pura-pura sibuk dengan beberapa surat pemberitahuan dari biro travel. Lalu mendongak melihat Livia sekilas... "Jika sudah selesai ke luarlah, aku banyak pekerjaan," ujar Adam pelan. Mata Livia berkaca-kaca, ia ternyata tak sanggup jika Adam bersikap dingin padanya. "Mas mengapa jadi begini, aku dan Biru terbiasa melihat mas Adam di samping kami, aku kangen mas berada di samping kami dekat dengan kami, Biru selalu nenayakan mas, tengoklah Biru mas, aku memohon, tengoklah meski tak setiap hari," pinta Livia, akhirnya air matanya mengalir juga. Sekuat tenaga Adam menahan keinginannya untuk memeluk Livia, mengusap rambutnya dan menciumi rambutnya berkali-kali, seperti biasanya. "Aku rasa lebih baik seperti ini, aku menyiapkan hatiku agar tidak sakit jika suatu saat kau memilih laki-laki itu, dan membiasakan Biru juga agar tidak terlalu dekat denganku,aku menunggumu terlalu lama, tiga tahun lebih malah mungkin mendekati empat tahun, tidak ada yang bisa kita pastikan dari kedekatan kita, apalagi saat laki-laki itu datang kau seperti mengejar bayangan tak pasti, jika suatu saat dia datang lagi, pasti kau akan seperti itu lagi, aku tidak mau hatiku patah berkali-kali Livia, mungkin sudah waktunya aku berhenti berharap, aku akan mencoba menyukai wanita lain, aku ingin ibuku melihat aku bahagia meski bukan denganmu, meski beliau sangat berharap jika wanita itu adalah dirimu, tapi cintamu tak bisa aku belokkan, aku lelah Livia, lelah mengejarmu, mungkin sudah saatnya kita saling menjauh," Adam melihat air mata Livia bercucuran, ia ingin menyentuh wajah mungil itu, dalam hatinya ia ingin membawa Livia dalam pelukannya, menenangkannya bahwa semua baik-baik saja, namun ia tahan ia ingin melihat reaksi Livia dengan keputusannya. Livia mendongak dan menggeleng, terbata-bata berusaha berbicara. "Mas aku tak sanggup kau acuhkan, aku merasa bingung dan kangen mas sering ke rumah, terbiasa di dekatku, di dekat Biru," ujar Livia terisak. "Lalu apa aku harus membiarkan hatiku kau sakiti terus Livia, aku mencintaimu sejak dulu, lama aku menunggumu, tapi apa yang aku dapat kau tetap mengejar laki-laki itu, aku tidak mau membiarkan hatiku hancur berkali-kali, aku mencintaimu, sangat, tapi aku tidak mungkin membiarjan hidupku hancur karena menunggumu tanpa kepastian, ke luarlah, kita akhiri semuanya, aku akan berusaha melupakanmu, karena sejak laki-laki itu datang, akhirnya aku harus sadar bahwa perjuanganku selama bertahun-tahun telah sia-sia," Adam berdiri dan melangkah menuju pintu, Livia akhirnya bangkit, sadar bahwa Adam mengusirnya dari ruangannya. Livia melangkah menuju pintu, saat berdiri di samping Adam Livia menoleh sekali lagi, menatap wajah Adam yang terlihat juga menahan tangis. "Mas aku ingin kita baik-baik saja, aku...," "Ke luarlah, aku mohon," ujar Adam. Livi melangkah ke luar dan Adam segera menutup pintu. Ia sandarkan kepalanya dan air matanya luruh. Aku mencintaimu Livia, mencintaimu, sebesar apapun kesalahanmu aku akan selalu mencintaimu, aku akan menunggumu, selama apapun, aku akan selalu berada di dekatmu... **** Tiga hati setelah peristiwa itu, Adam tidak melihat Livia ke galery, satu dua hari ia masih tahan diam saja tapi memasuki hari ketiga tak urung hatinya tak dapat dibohongi, ia merasa ada yang hilang. Adam menemui Nia dan bertanya... "Ka mana Livia, sudah tiga hari ini tak kelihata?" "Loh kok bapak nggak tahu, Biru kan sudah tiga hari ini masuk rumah sakit, sempat masuk picu/nicu pak, tapi tadi sudah mendingan sudah ada di ruang perawatan, tapi ya masih gitu kondisinya, kok bapak bisa nggak tahu, kan bapak dekat sama mbak Livi?" Adam bergegas hendak menuju rumah sakit, sempat menoleh pada Nia dan mengatakan agar berkoordinasi dengan karyawan yang lain jika ada sesuatu. **** Adam menuju serepsionis bertanya ruangan Biru dan kembali bergegas menuju ruangan yang disebutkan oleh resepsionis tadi. Ia membuka pintu dan melihat wajah lelah Livia, Devi dan wajah tirus Biru. "Papaaa," suara lemah Biru menggetarkan Adam. Ia mendekati Devi, mencium punggung tangannya dam meraih Biru dari gendongan Livia. Tubuh ringkih itu segera terpeham gak lama setelah Adam menggendong, mengusap kepalanya dan menciuminya berkali-kali. "Maafkan papa nak, maafkan papa," bisik Adam lirih. Devi menghembuskan napas dan menoleh pada Livia. "Lihatlah, bagaimana laki-laki itu bisa membuat nyaman anakmu, jika kau masih mengharap laki-laki tak berguna nan jauh di sana, aku kawatir seumur hidup anakmu akan lebih banyak dihabiskan di rumah sakit, pikirkan hidup anakmu, jangan hanya berpikir hatimu," ujar Devi lirih namun penuh penekanan. Livia menatap punggung Adam yang membelakanginya, akhirnya ia menoleh pada Devi. "Bunda, mas Adam terlanjur membenciku, bagaimana caraku mengembalikan suasana kaku ini menjadi kembali seperti sedia kala?" tanya Livia menatap Devi dengan wajah sedih. "Aku yakin kau tahu caranya, empat tahun dia di sisimu, kau pasti tahu bagaimana memperlakukan dia, bunda pulang dulu, jika kau berniat memperbaiki keadaan lupakan laki-laki itu, menikahlah dengan Adam, dekat dengannya sebagai istri akan membantumu melupakan laki-laki tak berguna itu," Devi bangkit dan pamit pada Adam. Adam mengangguk dan tersenyum pada Devi. Setelah Devi pergi, Adam menuju tempat tidur dan hendak menidurkan Biru namun anak itu kembali bergerak mendekap Adam lebih erat lagi. "Jika mas capek aku ganti," Livia mendekati Adam  hendak meraih Biru, namun Adam hanya menggeleng. "Kau tidurlah, kau terlihat lelah," ujar Adam pelan. "Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa menggendong Biru tiga hari ini," sahut Livia. "Tidurlah Livi, aku tak mau melihatmu sakit," ujar Adam pandangannya masih pada tubuh Biru. "Tidak apa-apa aku sakit mas, toh mas tidak sudah tidak peduli lagi padaku?" "Dan kau juga tak peduli padaku saat laki-laki itu datang," sahut Adam. "Mungkin aku hanya terbawa perasaan, aku ternyata lebih bingung saat mas mengacuhkanku," Adam menatap Livia, keduanya saling menatap. "Aku ulang sekali lagi Livia, pertanyaan terakhirku padamu, maukah kau menjadi istriku?" ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD