"Bagaimana? Apa perutmu sakit?", tanya Arslan.
Ellen meneguk air mineral miliknya kemudian menjawab.
"Kalau perutku sakit, ayam yang kau bawa tidak akan lenyap."
Arslan tertawa.
"Sebenarnya untuk apa wanita sexy itu berdiet sedangkan mereka sangatlah kelaparan."
"Itu yang dinamakan berkorban, Bodoh."
"Tidak untuk malam ini, Nona."
"Karena kau berulah, Ars."
Mereka membereskan sisa makanan dan kembali duduk di depan televisi dengan satu botol minuman di tangan masing-masing.
"Kapan kau kembali?"
Ellen mendengar pertanyaan Arslan tapi dia tidak menoleh.
"Tiga hari lagi."
"Secepat itu?"
"Liburanku selesai."
"Liburan? Tapi kenapa kau juga bekerja disini?"
"Hanya selingan daripada aku bosan."
Arslan mencoba mengerti.
"Dan kau ingin segera bertemu kekasihmu?", pertanyaan menohok yang sebenarnya berat dia ucapkan tapi terlanjur.
"Sebaiknya kita tidak membahas privasiku."
Arslan kembali melihat ada perubahan di wajah Ellen. Dia meraih dagu Ellen dan membuatnya menoleh ke arah Arslan.
"Lihat aku. Kau selalu seperti ini jika membahas dia. Apa ada masalah?"
Ellen menunduk.
"Kita tidak dalam porsi membahas itu, Ars."
Arslan menyerah.
"Baiklah. Tapi cobalah tersenyum lagi. Aku suka senyummu meskipun itu sangat jarang terlihat."
Ellen menatap Arslan lalu tersenyum.
"Seperti ini?", Ellen menunjukkan.
Arslan meleleh melihatnya dalam jarak yang sedekat itu.
"Aku tersenyum agar kau berjanji tidak mengungkit masalah tadi."
"Tentu. Aku janji tidak membahasnya, tapi tahukah kau jika senyum itu membangkitkan sesuatu?"
Ellen mengernyit terkejut.
"Hey, apa-apaan kau.", mendorong Arslan menjauh.
Arslan tertawa.
"Wajahmu memerah, Ell."
Ellen melempar bantalan sofa ke wajah Arslan.
"Jangan kau coba kurang ajar, Tuan Payah."
"Hahaa iya iya. Aku tidak bisa berbohong jika kau begitu sexy ditambah senyum manis. Aahhh malam ini aku sial."
Ellen ikut tertawa.
"Sekarang terlihat jika pikiranmu memang kotor."
"Kau pintar.", Arslan tidak menampik.
Mereka melanjutkan pembahasan malam itu.
"Kau kembali ke Indonesia, tepatnya dimana?", tanya Arslan lebih lanjut.
"Tidak jauh dari tempatmu."
"Ahh aku malas berteka-teki."
"Nikmati harimu disini dan jangan khawatirkan aku."
Arslan memandang Ellen dalam.
"Kau sadar aku perhatian?"
"Entahlah, hanya saja aku merasa kau berlaku sesuka hatimu beberapa hari ini."
Arslan menopang kepala dengan siku di sandaran sofa. Mereka tetap berhadapan.
"Karena jika aku sudah di Bali, waktuku hanya untuk bekerja."
Ellen mencoba memahami kondisi itu.
"Dan kau tidak mungkin mengabaikannya."
"Tentu, aku juga tak ingin perusahaan hancur lalu menggelandang karena diusir Ayahku."
Ellen tertawa.
"Resiko yang menyeramkan, bukan?", sambung Ellen.
"Tapi aku menikmatinya. Aku sudah terbiasa. Tidak ada salahnya menyenangkan orangtua."
Ellen kembali menunduk dan memainkan jari di minuman botol yang ia pegang.
"Kenapa?", tanya Arslan. "Ekspresimu berubah lagi."
Ellen tersenyum kecut.
"Aku kasihan pada diriku yang tak punya mental sepertimu."
Arslan mengernyit bingung.
"Mental gila dan payah seperti yang kau bilang?"
Ellen tertawa lalu menyentil dahi Arslan.
"Dasar. Itu bakatmu dan aku tak iri. Yang kumaksud adalah mengemban tanggungjawab keluarga."
Arslan sebenarnya faham namun menggoda Ellen sangat menarik.
"Haha, mungkin karena aku laki-laki, anak tunggal, jadi mereka tidak punya pilihan lain selain mempercayakan perusahaan pada lelaki payah ini. Aku belajar banyak hal bersama sahabatku dan aku siap. Tidak ada manusia sempurna, bisa saja suatu waktu aku membuat perusahaan colapse. Aku mempersiapkan beberapa rencana cadangan sebelum itu terjadi dan memperkirakan solusi jika itu benar terjadi."
Ellen tersenyum, kali ini merasa kagum.
"Bagus."
Arslan hampir menyatukan alisnya.
"Hanya itu tanggapanmu?"
Ellen mengendihkan bahu.
"Jangan pernah berpikir untuk menyerah, oke?", pinta Ellen.
Arslan kemudian tersenyum.
"Bahagia sekali ada yang memberi semangat seperti ini."
Ellen sadar dan kembali menyentil dahi Arslan.
"Luruskan kembali akal sehatmu, bodoh."
"Ell, aku serius untuk yang tadi. Bukan maksudku kurang ajar, tapi aku berusaha jujur."
Arslan meraih tangan Ellen dan menggenggamnya.
"Sebenarnya apa yang kau simpan, apa yang diam-diam kau rasakan sendiri, aku ingin tahu.", ungkap Arslan dengan bertatap mata.
"Cukup, Ars."
Arslan tetap mengelus pelan tangan Ellen.
"Aku tidak memaksamu, hanya ingat jika tidak baik seperti itu. Perubahan ekspresimu begitu kentara untuk hal-hal tertentu."
Ellen menunduk melihat tangannya digenggam Arslan.
"Kadang aku merasa gagal. Sebenarnya aku juga payah."
Arslan menggeleng.
"Kau belum bercerita, aku belum tahu apa-apa. Judge itu hanya ada di kepalamu, bahkan orang lain mungkin berpikir sepertiku."
Arslan mengangkat satu tangannya ke arah pipi Ellen. Sebuah tindakan berani. Dia mengelus disana dan Ellen hanya diam.
"Jangan lakukan ini pada wanita lemah, Ars."
Arslan melembutkan tatapan.
"Sekarang kau mengaku lemah? Tapi kenapa aku merasa kau adalah orang yang sangat berharga?"
Ellen tidak percaya akhirnya mendengar kalimat seperti itu.
"Kau hanya belum tahu.", balas Ellen.
"Caramu berpikir dan lainnya begitu menarik. Ini pertama kalinya bagiku.", ungkap Arslan.
Tanpa sadar jarak wajah mereka sudah sangat dekat. Arslan bergerak pelan dengan tetap mengelus pipi Ellen. Hidung mereka sudah bersentuhan.
"Ini salah, Ars.", Ellen sempat berbicara pada posisi itu.
Arslan tidak menjawab, sudah terlambat, bibir mereka kini sudah menyatu.
Arslan menikmati tanpa perlawanan. Ellen tidak bergerak sedikitpun untuk mengusir tangan Arslan yang kini berpindah ke tengkuknya.
Sekian waktu saling menjelajah menikmati bibir satu sama lain. Arslan dan Ellen sepertinya sudah lepas kendali. Sayang sekali kebutuhan oksigen membuat bibir mereka akhirnya terlepas.
Ellen menegakkan tubuh menghadap ke televisi dan menyandarkan punggung ke sofa.
Arslan memasang muka datar masih menghadap Ellen.
"Kesalahan seperti ini yang kau inginkan? Kau sudah mendapatkannya.", ucap Ellen.
Arslan mematung tanpa memalingkan wajah sedikitpun.
"Dengar, aku tak akan minta maaf karena bagiku ini bukan kesalahan."
Ellen terkejut.
"Aku sudah punya kekasih, Ars."
"Aku tidak peduli."
Ellen menjauh ke arah dapur untuk mencari udara dan minuman. Terasa panas dan sesak berada di sekitar Arslan beserta pikirannya yang sulit ditebak.
Dari jauh Ellen berkata, "Bisa kau pulang sekarang? Aku butuh sendiri."