Siang ini cuaca mendung, aku beranjak dari kantin kampus hendak kembali ke kelas.
"Bu, Soto 1 minumnya jeruk anget", Suara yang lama tidak aku dengar. Suara yang aku kangenin 3 Minggu terakhir ini. Suara yang pemilik nya membuat hatiku gundah gulana.
Aku menoleh pelan, Karena di kantin banyak mahasiswi lainnya, akupun memilih diam sembari keluar dari kantin tanpa melihat wajahnya yang sebenarnya aku sangat kangen.
Biasanya disegala kesempatan bertemu, dia akan memanggil. Pura pura ada hal kampus yang dibicarakan. Kali ini tidak ada.. aku menunggunya memanggil namaku. Dan itu tidak terjadi.
Hatiku semakin galau, ada apa dengan dia?
Apa yang sebenarnya telah terjadi.
Kalimat terakhir sebelum kami terpisah jarak
"Aku pasti bakal kangen sama kamu".
masih terngiang jelas ditelingaku.
Jelas sekali.
Tet tet tet...
Bel tanda perkuliahan berakhir..
Aku sedikit malas merapikan buku. Dengan muka lesu aku memilih diam duduk menunggu semua mahasiswa keluar kelas.
"Ayo mbak Liya pulang.." Ajak Vina yang sedari tadi menyadari bahwa aku sedang tidak enak hati.
"Duluan sana.. aku masih mau disini dulu sebentar"..pintaku.
"Oke, aku duluan ya..., cepet balik ke asrama, kita nanti beli rujak ya.."
"Sipp..." kataku.
Aku melamun memikirkan ada apa dengan dia.
Kenapa dia tidak segera menghubungiku atau mencoba menemui ku.
Tak terasa sudah 1 jam aku melamun di kelas, Aku bergegas kembali ke asrama.
Berjalan sendiri di siang hari sangat membosankan, tiba tiba ada secarik kertas dijatuhkan ke arahku. Dan dia berlalu dengan motornya.
Akupun memungut kertas itu, dan membuka nya .
Ada yang ingin saya bicarakan.penting.
hari Sabtu depan kamu jangan pulang, kita bicara.
begitu isi pesannya.
Aku semakin penasaran. dan tak sabar menunggu hari Sabtu tiba.
Pukul 14.00wib hari Sabtu perkuliahan usai. Hari ini jatah pulang mahasiswa di Minggu ke dua tiap bulannya. Dan aku memilih tidak pulang.
Lantai 2 asrama sepi sekali. Tersisa beberapa mahasiswa saja. Mereka tidak pulang karena rumah mereka jauh.dikamarku hanya tersisa aku, dan dinkamar sebelah hanya tersisa 2 anak saja.
Aku menunggu SMS darinya. Kapan dan dimana kita akan bertemu.
Lampu Hp Nokia 8250 menyala. Aku bergegas membuka isi pesan dari nomer yang sangat aku hafal nomernya.
"Turun ke toko", isi pesan nya.
Aku segera merapikan baju dan Sekilas bercermin. Bergegas aku menuruni tangga.
Aku melihat di toko asrama dia minum sebotol teh dengan memakai kaos garis garis berwarna orange. Tampak bersih dan Aaahh... tampan sekali.
Aku berpura pura menyapa..
"Pak..",
"Oh iya mbak Liya, Saya minta tolong ya untuk jaga pos kesehatan nanti gantiin mbak kakak tingkatmu yang ijin pulang tadi. Bisa kan?"
Aku berfikir ini mungkin alasan dia saja untuk bisa bicara bebas denganku.
" Baik pak, saya ambil tas dulu",
"Bareng saya saja mbak sekalian, biar gak jalan kaki", jelasnya lagi.
Ya, disana ada penjaga toko yang dikhawatirkan curiga dengan hubungan kami. Yang meski kami tau sepertinya semua pun sudah pada tau.
Selama perjalanan, kami tidak berbicara sepatah katapun. Sesampainya di pos kesehatan kampus, aku masuk ke dalam ruangan, dan diapun mengikutiku di belakang.
"Gimana kabarnya?" tanyanya memecah keheningan.
"Alhamdulillah baik, tapi galau" jawabku agak ketus.
"Kenapa jennengan kok gak ada kabar sama sekali?, Trus di sini beredar kabar kalau Jennengan mau menikah", tanyaku dengan cepat.
Dia diam sesaat..
Aku mendengar desahan nafasnya..
"Memang benar, saya akan menikah",
Seperti disambar petir disiang bolong. Hatiku hancur, Sakit Sekali rasanya, tubuh ini lemas seakan akan kibas, tak merasakan apapun.
"Maaf, kalau selama ini saya mengganggu kamu, saya disuruh cepat menikah dengan ibu, dan kebetulan kampus mau merekrut dosen baru. Dan dia adalah dosen baru dikampus ini nantinya." jelasnya tanpa memandangku sedikitpun.
Hening seketika.
Aku berusaha menahan air mataku.
"Jennengan dijodohkan?" tanyaku
"Gak, aku sudah lama kenal dia. Dia teman kampusku, seandainya aku lebih awal bertemu dengan kamu, pasti aku akan memilihmu".
Deg !!! Aku mencerna baik baik perkataan dia.
seandainya aku lebih awal bertemu denganmu..
maksudnya? Aku berarti ?
Jadi selama ini dia sudah punya kekasih.. dan masih bersamaku.
Air mataku tak terbendung lagi.. Aku menangis tanpa bersuara.
Dia mendekat, sambil duduk di depanku.
"Aku benar benar gak bermaksud buat menyakiti mu, aku terbawa perasaan yang tidak bisa aku tahan. Aku mencintaimu, tapi aku tau ini tidaklah mungkin. Aku tidak mungkin melepasnya, karena aku sudah 4 tahun menjalin hubungan dengannya. Seandainya 1 tahun saja lebih awal aku bertemu denganmu, aku akan melepasnya. Aku sudah berjanji akan menikahinya 1 tahun silam."
Penjelasannya sungguh membuatku sakit. Sakit sekali. Pria idamanku ternyata milik orang lain. Bagaimana aku akan menjalani 2 tahun sisa masa kuliahku. Aku hanya terdiam tak berkata apapun.
Terdengar sayup lantunan lagu Hanya ingin Kau Tau Republik hanya menambah suasana menjadi lebih dramatis.
Semuanya berakhir.. sampai disini.
Aku hanya diam sambil sesekali mengusap air mata. Dia hanya terus berucap "Maaf..."
Kata maaf yang semakin didengar semakin membuatku sakit hati dan hancur.
Dikamar aku diam sendiri, semakin meratapi kesedihanku. Aku semakin sedih, Menangis sejadi jadinya. Hingga suara ketukan pintu
"Mbak Liya.. ada telepon di saluran 1"
"Hm..iya makasih..", suara serakku terdengar sangat menyedihkan.
"Assalammualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Hati ini semakin berkecamuk
"Sudah makan?, jangan lupa makannya, Jangan menyendiri", suara ke khawatiran yang selama ini membuatku bahagia. Tapi tidak kali ini.
"Jennengan ngapain telpon saya lagi, Gak usah perduli in saya lagi, gak perlu khawatiran saya lagi, Fokus aja dengan acara Jennengan, nanti pasti saya yang disalahkan, bukan Jennengan". cerocosku dengan ketus. Tak perduli dia itu adalah dosenku.
Hening sesaat diseberang sana.
"Marah gakpapa, kok tadi gak marah aja di Pos, gimana saya gak khawatir, bagaimanapun kamu itu perempuan yg saya cintai saat ini, dan masih saya cintai",
Luluh seketika hati ini.. dan aku terdiam..
"Tetep fokus belajarnya, nilainya jangan sampai turun, Gak usah pacaran",
What!! Bisa bisanya dia meminta hal aneh seperti itu.
"Kok enak Jennengan, saya kok gak boleh pacaran, Jennengan nikah saya suruh diem sendirian." Ketusku
"Biar gak menganggu belajarnya mbak Liya.." Rayunya dengan nada lembutnya.
Aku tau dia berusaha mencairkan suasana tegang diantara kami.
"Sudah, gak usah telpon telpon lagi, anggap saja gak pernah terjadi apapun selama ini".
Aku langsung menutup telpon dan berlari ke kamar. Sakit itu masih sangat terasa.
Undangan mulai tersebar.
Tiap kelas mendapat 1 undangan acara pernikahan Hadi Wijaya,SKep.Ns & Ana Dwika,S.Kep.Ns. Minggu depan bertempat di aula kampus.
Aku memilih mengambil jatah pulang saat itu.
Berharap rasa sakit ini tak kubawa lagi ke kampus. Dan menjalani 2 tahun masa kuliahku dengan biasa.
Antrian absen masuk asrama sangat panjang.
Pukul 17.00wib pintu asrama ditutup. Yang lewat dari jam tersebut dikenakan sanksi.
Aku kembali ke kamar dan semua nya menyambutku dengan senyuman menghibur. Ya sebenarnya mereka pun tau apa yang telah terjadi. Dan aku berpura pura tidak terjadi apapun.
Sidak kamar mendadak pukul 22.00 wib.
Para Dosen bergiliran masuk ke tiap tiap kamar memeriksa apakah ada peralatan yang dilarang di simpan dikamar. Untung saja semua Hp di tempat yang aman. he he.
Setelah sidak, kami dipersilahkan masuk ke dalam kamar masing masing.
Aku naik ke ranjang paling atas, Sambil merapikan selimut, aku menemukan secarik kertas, aku buka dan aku baca dalam hati.
Semoga mimpi indah
Kangen
What???!!! apa apa an ini, kepalaku langsung pusing, aku masukkan kertas itu ke dalam kamus Bahasa Inggris. Aku melanjutkan tidurku yang terganggu tadi.
Kelas sangat riuh, menceritakan istri dari dosen Favorite kami. Ada yang bilang cantik, serasi, ada juga yang bilang lebih cantik dosen satunya.. Aah... obrolan yang bikin telinga kurangmg nyaman.
"Aku ke perpus ya.. ", Pamitku ke Vina.
Aku mencari entah buku apa yang aku cari. Aku hanya menghindar dari obrolan kelas yang malah bikin pusing kepala.
Sambil duduk aku membaca buku tentang Patologi Kebidanan.
"Mbak Liya.., dipanggil Pak Hadi di ruang komputer", kata salah satu mahasiswa adik tingkat menghampiriku.
Ngapain dia panggil aku. Sebenarnya malas tapi statusnya kan dosen.
"Assalammualaikum.. pak Hadi manggil saya pak?" tanyaku langsung.
"Iya mbak , masuk mbk Liya", pintanya.
"Sebentar ya mbak, duduk di sana saja mbak, pinjam mejanya pak Mus", perintahnya.
Aku berjalan ke meja pojok tempat Pak Mus Bagian IT.
"Maaf ya menunggu", sambil duduk di depanku
"Ada apa ya pak?" tanyaku agak kurang nyaman.
"Masih marah?" tanyanya berbisik..
Apa apaan sih ni dosen, ngajak berantem kali ya..ufh..
" Mbak Liya, beasiswanya sudah bisa dicairkan, jadi ini butuh tanda tangan mbk Liya,"
"Oh...saya kira apa pak?"..
"Gak Kangen? "..
Iiihh.. habis nikah kok tambah genit ya ni orang.
"Sudah ya pak? saya mau kembali ke kelas"
"Belum" jawabnya singkat.
"Apa lagi pak?"
"Kamu belum jawab pertanyaan saya",
"Kangen gak?"
Tanpa disadari mataku langsung melotot dan anehnya dia senyum senyum genit .Aku buru buru ngeluyur keluar ruangan. Aneh tu orang.
kesambet apa an dia begitu. Baru nikah kemaren tambah genit aja.
Kangen??? Iya Kangen..
Tapi harus dilawan. Kangen ku saat ini Kangen yang terlarang.