Nadia Sesuatu mengelitik tenggorokannku, rasa haus benar-benar membakar tenggorokanku saat ini. Aku butuh minum iya aku butuh segelas air. Kupaksa kedua mataku untuk terbuka sekarang. Rasanya kepalaku begitu pusing saat ini. Dan aku bertanya-tanya dimana aku sekarang? Aku membuka kedua mataku, dimana aku? kenapa... tanganku? Aku meraba tangan kiriku, infus? Aku dimana? di rumah sakitkah? Kenapa aku bisa disini? Bukan kah aku tadi masih di toliet coffee shop? “Re...van... Re...van...” spontan aku menyebut nama itu. nama yang terdengar menyakitkan lebih menyakitkan dari pada aku memanggil papa. “Nadia, kamu udah sadar?” tanya seseorang. Aku mendongak terlihat Dikta terduduk disampingku. Wajahnya begitu lelah dan panik. Tunggu, matan

