“Halo apakah masih Iora yang ada di dalam tubuh manusia di hadapanku ini?” Dr. Arthur mengernyitkan dahi. Beruntung tak sampai membuat Dr. Arthur mengurungkan niatnya untuk mendekati Iora. “Uhugkh hukh” Iora sampai tersedak menghentikan tawanya. “Maaf Dr. Arthur, saya jadi teringat pertemuan pertama kita dulu. Itu yang membuat saya tertawa. Hahaha.” “Kamu konyol sekali waktu itu. Hahaha”. “Dan kamu arogan Dr. Arthur. Hahaha.” Dibaliknya Fea memanyunkan bibirnya, mencibir pembicaraan itu. Vivian masih menyukai kegiatan meledeki sahabatnya. “Huaaaaaaaa” tangisan Sondea mengacaukan segalanya. Anak itu sudah tidak tahan dengan lilitan tangan Ibunya yang sedang memangkunya. Iora dan Dr. Arthur reflek menoleh ke sumber suara. Iora menunjukan mimik wajah memaklumi setelah

