“Terminal, terminal, terminal. Ayo turun, turun, turun … sudah sampai terminal terakhir!” Teriakan kernet bus, mengejutkan Widya yang terlelap di sepanjang perjalanan. Penuh rasa malas, ia menggerakkan tubuh ke samping kiri dan kanan, sebelum melangkah keluar dari bus. Tubuh mungilnya terasa remuk, setelah menguras tenaga seharian di rumah makan tempatnya bekerja, ditambah lagi dengan perjalanan jauh yang harus ditempuh. Pulang menjenguk kedua putrinya yang berada di desa. Wanita cantik itu berdiri sebentar di depan pintu bus, memindai keadaan yang masih sepi dan gelap gulita. Diliriknya arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri, masih mrenunjukkan pukul empat pagi. Ia menghela napas sesaat, berpikir apa yang dapat dilakukan sembari menunggu matahari terbit. Sebab angkot yang

