Rain menatap foto yang ada di dalam dompetnya. Itu adalah foto dirinya, Aira, dan mendiang istrinya. Foto itu diambil saat pertama kali Aira menginjakkan kakinya di rumah Rain. Rain mengusap foto itu dengan lembut, “Sayang, Om sangat merindukan kamu. Apa kamu sama sekali nggak merindukan Om? Apa sebenci itu kah kamu sama Om?” “Cinta...apa yang bisa membuat kamu jatuh cinta sama Om? Padahal begitu banyak lelaki diluar sana yang lebih baik dari Om.” “Sayang, Om nggak tau apa yang sebenarnya terjadi diantara kita. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? padahal dulu kita hidup dengan bahagia, bersama dengan tante kamu—Karin. Tapi, kini semuanya hancur, dan semua itu karena keegoisan Om. Maafkan Om, Sayang.” Terdengar suara pintu diketuk. “Masuk,” sahut Rain lalu memasukkan kembali dompetnya

