"Senyummu harusnya menghantarkan hangat di hatiku. Tapi mengapa kini hanya sakit yang aku rasa?" ©©© Langit mendung menyampaikan duka kepada semua siswa karena mendung itu datang dengan membawa setetes demi setetes air yang kemudian menjadi deras. Seluruh warga sekolah memilih menepi menunggu hujan sedikit lebih reda barulah pulang. "Sial!" rutuk Renan kepada hujan. "Kenapa harus dateng pas pulang sekolah, sih? Mana gak bawa jas hujan lagi!" "Kenapa, Ren?" Pertanyaan itu menyapa Renan dengan suara lembut. Nyaris tidak terdengar karena tertelan suara sepatu yang berlarian juga suara hujan. "Hujannya sialan. Mereka turun keroyokan!" sungut Renan. Seolah-olah tidak terjadi apa pun di antara mereka. Sedangkan lawan bicaranya hanya mampu meringis kecil mendengar kalimat Renan. "Gak baik

