Begitu mobil yang ia tumpangi melaju di jalanan, Acasha baru menyadari sesuatu. Ia menoleh ke sana kemari termasuk memperhatikan sopir yang tengah mengemudi.
"Pak," panggil Acasha takut-takut. "Ini benar mobil yang saya pesan, kan? Kok di Maps nggak sesuai, ya?"
Orang yang kini tengah mengemudikan mobil itu menoleh sebentar sebelum kembali fokus menatap jalanan di depan. Duh, sepertinya Acasha salah memanggil. Orang itu belum cukup tua untuk Acasha panggil dengan sebutan "Pak". Bahkan Acasha perhatikan, tampaknya pemuda itu seumuran dengannya atau lebih tua barang beberapa tahun saja.
"Tujuanmu ke mana?" tanya orang itu kemudian.
"Sesuai titik di Maps," balas Acasha dengan polosnya.
Hening, tak ada komentar dari orang itu. Jelas ini membuat Acasha tak tenang.
"Saya bukan pengemudi yang kamu maksud," ujar pemuda itu kemudian. Dan lucunya, itu bertepatan dengan adanya pesan masuk ke ponsel Acasha dari pengemudi asli.
Acasha melebarkan mata ketika membaca pemberitahuan dari si pengemudi asli. Mulutnya menggumam lirih, "Kak, saya sudah nunggu lama di titik yang Kakak pilih. Kakaknya di mana, kok nggak muncul-muncul? Saya harus bagaimana? Ini justru ada dua ibu-ibu yang minta diantarkan ke alamat tujuan Kakak."
Acasha membeku di tempat. Ponselnya bahkan jatuh begitu saja ke pangkuan. Acasha juga tidak bisa mengontrol ekspresi wajahnya hingga pemuda yang tengah berada di balik kemudi itu menegurnya.
"Ada masalah?" tanya pemuda itu. Ia lantas berinisiatif, "Mau saya antar kembali ke tempat tadi?"
Acasha memekik lantang. "Jangan!"
Pemuda itu mengerutkan kening. Kaget juga dengan respon Acasha yang kelewat histeris. "Terus saya harus mengemudi ke mana?"
Acasha memajukan tubuhnya. Ia lantas bertanya, "Mas tahu area Universitas Bestari?"
"Universitas Bestari?" ulang pemuda itu. Betapa leganya Acasha ketika pemuda itu menganggukkan kepala pertanda dia tahu tempat yang ingin Acasha tuju.
"Saya mau ke sana, Mas. Rencana sih saya mau tinggal di indekos di sekitar sana. Udah saya bayar juga indekos itu, mau saya tempati hari ini. Tapi diam-diam gitu biar orang tua saya nggak tahu alamat pasti dari indekos yang mau saya tempati. Ya, sementara waktu saja biar saya nggak diseret balik ke rumah. Eh, tapi kejadiannya malah kaya gini." Acasha jadi curcol alias curhat colongan.
Tak ada respon berarti dari pemuda itu. Sehingga Acasha ragu untuk melanjutkan ucapannya. Sepertinya cepat atau lambat, ia akan membuat pemuda itu kesal. Bagaimana jika Acasha diturunkan di pinggir jalan di tempat antah-berantah?
"Mas," panggil Acasha pelan.
"Saya dengar kamu ngomong apa. Lanjutkan saja," balas pemuda itu dengan gaya bicara yang datar.
Acasha berdeham sejenak untuk melonggarkan tenggorokannya yang terasa tercekat. "Jadi saya nggak mau ke indekos yang sudah saya pesan itu, Mas. Saya mau cari indekos lain biar orang tua saya nggak bisa melacak keberadaan saya. Mas mau nemenin saya, kan?"
Tanpa aba-aba, mobil yang Acasha tumpangi itu berhenti mendadak. Gadis itu sampai refleks mengaduh karena tubuhnya sedikit terpelanting.
Acasha langsung menoleh ke belakang, memastikan tidak ada kendaraan yang akan menabrak mobil yang tengah ia tumpangi karena berhenti secara mendadak. Untunglah, tanpa Acasha sadari, sejak tadi mobil itu memang melaju sendirian di jalanan yang sepi. Eh, ini namanya untung atau tidak, ya?
"Saya nggak mau menemani kamu," ujar pemuda itu dingin menanggapi pertanyaan Acasha tadi. "Memangnya kamu pikir cari indekos jam segini bisa? Ini udah hampir tengah malam. Yang punya indekos pasti udah pergi tidur."
Kedua sudut bibir Acasha tertarik ke bawah. Gadis itu cemberut. Napasnya memburu dan pikirannya sudah berkelana, membayangkan ia akan tidur di jalanan malam ini.
"Selain indekos, kamu punya tujuan lain?" Suara pemuda itu melembut. Mungkin ia melihat Acasha yang sedang resah dan gundah gulana.
Acasha menggelengkan kepala lemas. Ia memang tidak tahu harus pergi ke mana lagi jika tidak mendatangi indekos, satu-satunya tempat yang terlintas di pikiran Acasha seharian ini. Bahkan sejujurnya, rencana Acasha untuk keluar dari rumah memang sangat mendadak.
"Saya antar ke hotel bagaimana?" tawar pemuda itu.
"Hotel?" Acasha membeo. Ia tidak pernah pergi ke hotel sendirian. Apakah ini aman? Bagaimana cara memesan kamarnya? Selama ini Acasha tidak pernah mengurus hal-hal seperti itu. Yang Acasha tahu adalah segala sesuatu sudah tersedia dan siap ia gunakan.
Pemuda itu yang justru terdiam. Mungkinkah ia juga ragu meninggalkan gadis sepolos dan setidak jelas Acasha di dunia luar begitu?
Lalu tak berselang lama, Acasha mendapati pemuda itu sibuk membuat sambungan telepon. Ia tampaknya berbicara dengan seorang perempuan di seberang sana.
Setelah sambungan telepon berakhir, pemuda itu berkata kepada Acasha, "Saya antar kamu ke indekos adik tingkat saya. Kamu bisa menginap di tempatnya, hanya malam ini. Besok pagi kamu harus segera mencari tempat untuk bisa kamu tinggali."
Acasha menganggukkan kepala dengan antusias. Ia lantas bertanya, "Adik tingkat Mas juga kuliah di Universitas Bestari?"
Pemuda itu mengiakan secara acuh tak acuh.
Lalu Acasha mengambil kesimpulan, "Kalau gitu, Mas juga kuliah di Universitas Bestari? Mas angkatan tahun berapa? Sekarang semester berapa?"
"Saya alumni," jawab pemuda itu telak.
Acasha lantas sibuk ber-oh-ria. “Ternyata alumni toh,” gumamnya kemudian. Mulut Acasha yang ceriwis itu lantas kembali mengeluarkan pertanyaan, “Lulus tahun berapa? Masnya masih muda.”
Alih-alih menjawab, pemuda itu menggusah napas. Tampaknya, ia tidak ingin mengumbar-ngumbar informasi pribadi pada gadis aneh yang baru saja ia temui.
Acasha mengigit bibir. Ia sudah terlalu banyak mengusik pemuda itu. Akhirnya Acasha putuskan untuk menutup mulut dan berhenti bicara. Ia mengisi waktu dengan sibuk mencari-cari informasi terkait indekos di sekitar Universitas Bestari melalui ponselnya.
Entah sudah berapa menit berlalu, mobil yang Acasha tumpangi kini memelankan lajunya dan menepi. Belum sempat Acasha bertanya, pemuda itu sudah lebih dulu turun dari mobil.
Dari dalam mobil, Acasha melihat pemuda itu berlari-lari kecil menghampiri seorang gadis yang berdiri di depan gerbang bangunan indekos. Ah, pasti di sinilah Acasha akan bermalam.
Pemuda itu tak berlama-lama meninggalkan Acasha. Ia lantas kembali ke mobil dan membukakan pintu untuk Acasha, sekaligus menurunkan dua koper bawaan Acasha.
“Ini tempat yang saya bicarakan tadi,” kata pemuda itu tanpa Acasha tanya lebih dulu.
Acasha manggut-manggut. Ia lantas tidak terlalu fokus lagi pada pemuda yang menolongnya. Fokus Acasha beralih pada si gadis yang akan memberikan tumpangan tempat menginap malam ini.
Acasha langsung beramah-tamah dengan gadis itu. Secara, malam ini Acasha akan menginap di tempatnya. Acasha ingin memberikan first impression yang baik.
“Sorry, malam-malam begini ngerepotin lo, Ner. Titip cewek ini ya. Gue cabut dulu,” pamit pemuda itu kepada gadis yang belakangan Acasha ketahui bernama Senera. Sebelum beranjak, pemuda itu juga mengangguk singkat pada Acasha.
“Makasih, Mas,” teriak Acasha sambil melambai-lambaikan tangan ke arah pemuda yang tidak ia ketahui namanya sampai detik ini. Acasha lantas berbicara dengan Senera, “Masnya baik. Mau nolongin saya padahal nggak kenal.”
“Iya,” jawab Senera singkat. Senera lantas membantu Acasha membawa barang-barang Acasha masuk ke dalam kamar indekos. Ia juga mempersilakan Acasha untuk turut mengekorinya.
Sambil berjalan, Acasha berujar, “Senera juga baik, mau nampung Acasha yang nggak punya tempat tujuan malam ini. Makasih ya, Ner.”
Senera tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Nggak masalah,” pungkas Senera.