Hai !

303 Words
Akhirnya sampai juga kami di depan rumahnya. Rumah yang sederhana tapi nyaman dan menyejukkan. Aku pasti betah kalau berlama-lama tinggal di rumahnya ini. "Assalamu'alaykum, Bel. Kamu ada di rumah enggak ?" Dinda mengucapkan salam sambil bertanya. "Wa'alaykum salam," Jawab seseorang dari dalam rumah. "Eh, ada Dinda sama Nani. Ayo masuk, Nak !" ajak seorang wanita paruh baya. "Iya, Ma. Ini kami bertiga mau nengok Belia. Mengganggu enggak nih ?" sahut Nani. "Ah ya enggak dong. Malah seneng ada yang nengok. Oh ya, ini siapa ya nak ganteng, perasaan baru ke sini ya ?" tanya Ema kemudian. "Oh iya, Ma. Perkenalkan ini teman kami juga," sahut Dinda. "Saya Rama, Ma. Temannya Belia juga," aku memperkenalkan diri. "Kenalkan juga, Ema teh emanya Belia, " jelasnya. "Ayo pada masuk, nunggunya di dalam aja," ajak Ema. Kami pun duduk setelah dipersilakan masuk. Deg-degan sebenarnya, tiap aku berusaha untuk tetap tenang. "Ada siapa, Mak ?" terdengar tanya seorang perempuan. Aku tidak salah dengar, itu pasti Belia. "Lihat aja sendiri di depan, Nak !" seru Ema. Terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah kami. "Dinda, Nani. Kalian ke mana aja sih baru ke sini lagi. Aku kangen tau !" omelnya tiba-tiba ketika baru sampai di ruang tamunya. "Ih ... kamu tuh ya kebiasaan kalo teriak, bikin aku mau loncat indah aja, dasar Belia !" Nani bersungut-sungut tapi sambil memeluk Belia. Tak ketinggalan juga Dinda ikut andil berpelukan. "Tapi ada yang lebih kangen lagi ke kamu lho, Bel," sahut Nani. "Siapa, siapa ?" tanya Belia penasaran. "Itu tuh yang lagi duduk dan berbaju biru. Itu yang paling kangen ke kamu. Rindu berat deh, hi ... hi ... hi ... ," Dinda terkikis geli. Spontan Belia menatap wajahku yang sedari tadi memandanginya, rindu. "Hai !" sapaku padanya. "Eh .. hai juga," jawabnya sambil tersenyum manis membuatku semakin terpesona. To Be Continues
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD