Seperti hari-hari sabtu pada umumnya, kami sekeluarga berangkat ke rumah Aki-Nini, untuk kumpul keluarga. Kali ini, Papa mengizinkan aku membawa mobil sendiri, ngangkut Yuri dan Sasi tentu saja. Kedua adikku itu pasti pilih semobil sama aku dibanding menghabiskan waktu satu jam lebih denger omelan Mama sepanjang perjalanan.
"Mami Bian dateng gak ya?" Tanya Sasi saat kami sedang di perjalanan.
"Ya kali, dek. Kan dari Jakarta." Sahut Yuri.
"Ihh padahal mau ngobrol tau sama Mami Bian, nanya kuliah di Jakarta gimana."
"Eh? Emang kamu gak mau di SU?" Tanyaku.
"Gak ah, semua keluarga kita kuliahnya di situ, Kakak-kakak juga, aku gak mau. Mau cari yang beda."
Seperti biasa, Sasriya Danastri memang selalu punya pilihannya sendiri. Saat kami semua masuk sekolah formal, dia sendiri yang pengin home schooling. Kedua adikku ini memang unik-unik.
Tak berapa lama menyetir, kami sampai di rumah Nini, aku langsung turun, begitu juga dengan Yuri dan Sasi.
Kalau melihat dari mobil-mobil yang terparkir, sepertinya sudah ada Papi dan keluarganya di dalam rumah. Jadi aku langsung menggandeng Sasi masuk ke dalam rumah.
"Kata Mama, Papi Rafi udah selesai urusin sekolah Kakak, serius beres wisuda Kakak mau ke London?" Tanya Sasi.
"Iya, dek."
"Terus aku tidur sendiri dong?"
Aku tertawa, Sasi memang sering masuk ke kamarku, dia takut tidur sendiri. Kadang, dia mengetuk pintu kamar Mama dan Papa, terus tidur bertiga deh. Ajaib memang dia. Padahal umurnya cuma beda empat tahun lebih muda dariku.
Tahun ini, dia sudah masuk dunia perkuliahan. Sama seperti dua sepupu perempuanku yang kembar.
"Kak Gara sini deh woy!" Seru Elva ketika aku dan Sasi bergabung di ruang keluarga.
"Apaan?" Tanyaku sambil mendekatinya.
"Keren gak?" Elva menunjukan ponselnya, ada foto sebuah mobil, kalau dilihat dari logonya sih Maserati, tapi aku gak tau jenisnya apa.
"Tipe apa?" Tanyaku.
"Gran Turismo, ganteng ya?"
"Banget, minta dibeliin kamu ke Papi?" tanyaku.
"Pengennya sih."
"Kamu kan doyannya Aston Martin atau Porsche, Va?"
"Papi pelit banget gak mau pinjemin Aston Martinnya, mentang-mentang limited edition, jadi cuma dibikin pajangan." Jelas Elva.
"So? Emang dikasih kalo minta Maserati?"
"Selama gak pinjem mobil Papi, kayaknya dikasih sih Kak, tapi aku belum berani bilang."
Aku tersenyum, Elva dan aku punya kesamaan. Kami sama-sama pecinta mobil, sama seperti Papi Rafi. Mobil koleksi Papi itu banyak, banget! Bayar pajaknya aja bisa buat jalan-jalan keliling Eropa tujuh putaran. Kebayang kan harga-harga mobilnya seperti apa?
Beda sama Papaku, Papa gak terlalu suka mobil, doyannya motor. Punya mobil pun cuma satu, Range Rover, itu juga dapet dikasih dari Kakiyang. Papa males banget beli mobil.
"Bilang dong, kali aja dibeliin."
"Kakak kaya gak tau Papi aja. Aku kudu jadi volunteer tujuh hari tujuh malem di panti asuhan baru bisa dapet apa yang dimau, Kak."
Seperti itulah Papi Rafi mendidik anaknya. Kamu akan diberi apapun yang kamu mau kalau kamu sudah menolong orang, meringankan pekerjaan orang lain, atau membuat banyak orang bahagia.
"Ya gak apa. Maserati dek, Maserati! Kamu jadi volunteer sebulan, Aston Martin kayanya boleh kamu pake!"
"Kak Ara!" Aku menoleh, Mami Cici memanggilku. Mami Cici itu Maminya Elva, Vissa, Kama dan Kala. Istrinya Papi Rafi.
"Iya Mi?"
"Kamu jangan ngomporin Adek beli mobil ya? Pusing Mami liat garasi rumah udah kaya parkiran di mall."
Aku tertawa, Elva yang ada di sampingku langsung menyikut rusukku.
"Mau mobil apa emang? Sayang?" Kakiang buka suara. Ah, Aki nih emang terbaik sih. Manjain semua cucu banget.
"Maserati Ki, Gran Turismo. Aki mau beliin?" Tanya Elva dengan nada santai.
"Apa-apaan? Hampir 4 Miliar itu harganya. Kamu Papi beliin honda jazz aja dah. Gimana?" Papi Rafi turun dari lantai dua, ikut bergabung dengan kami semua.
Kami semua tertawa mendengar itu. Termasuk Vissa yang sedang duduk di samping Yuri. Senyumannya manis, selalu seperti itu.
"Mobil kamu banyak Raf, gak mau dibagi ke anak?" Tanya Aki.
"Papi pelit, Ki! Jani pinjem buat main aja gak boleh. Sakit hati kan ya? Ke anak sendiri pelitnya ampun-ampunan." Elva, yang menyebut dirinya sendiri dengan panggilan Jani mulai mengadu ke Kakiyang. Pindah duduk dari di sampingku jadi ke samping Aki.
"Papa jangan marahin Rafi dulu. Elva tuh belum punya SIM, Pa! Mana iya Rafi izinin dia bawa mobil sport keliling Bali tanpa SIM?" Papi Rafi mengutarakan pembelaannya.
"Jani gak punya SIM gara-gara Papi gak mau bayar orang satlantas buat nembak SIM, Ki! Jahat ya??!"
"Eh kunyuk! Punya KTP aja belum, segala mau nembak SIM!" Papi Rafi mulai kesal.
"Language, Son!" Tegur Aki.
"Hehehe sorry Pa. Abis ini anak satu ngeyel mulu. Padahal udah ada Yusuf loh yang siap anterin kemana-mana. Apa gunanya coba Rafi bayar supir kalau gak kerja?"
"Udah ahhh! Gak di rumah gak di sini, ribut mulu berdua!" Mami Cici menengahi.
"Pi, Kama sama Kala mana?" Aku menanyakan keberadaan sepupu kembarku yang lain.
"Di atas, main catur mereka berdua. Pengin tenang." Jawab Papi.
Aku bangkit, mau nemenin Nini aja di dapur. Ketika aku bangkit, Papa dan Mama datang bergabung.
"Macet banget!" Keluh Papa.
"Curut-curut pada gak telat. Bilang aja kalian abis uh-ah-uh-ah pas rumah kosong! Gak usah nyalahin macet!" Terdengar suara Papi Rafi menyahuti.
Langsung terjadi keributan di ruang keluarga sementara aku berjalan ke arah dapur. Ku lihat Nini duduk di atas dingkle, sedang sibuk menunjuk-nunjuk apa yang harus dikerjaan oleh 4 orang asisten rumah tangganya.
"Ni?!" Sapaku.
"Gara! Udah pada dateng?"
"Udah Ni." Aku duduk di lantai di samping Nini.
"Bagus."
"Nini gak gabung?"
"Pusing, pasti Papamu sama adeknya lagi berantem kan? Bosen liatnya." Ujar Nini.
Aku tersenyum.
"Temeninin Nini ke luar yuk?" Ajak Nini.
"Ke luar mana, Ni?"
"Ke belakang, liat ombak."
Aku mengangguk, langsung bangkit kemudian membantu Nini berdiri. Sebelum keluar lewat pintu belakang, Nini menginstruksikan beberapa pekerjaan lain ke Mbak Ita, setelah itu barulah kami berjalan menuju kursi panjang yang ada.
Rumah Nini dan Aki ini memang tipe rumah pantai, ada di dekat tebing, jadi kami hanya perlu menuruni tangga batu lalu sampai ke pesisir pantai.
Aku dan Nini duduk dalam diam, memandang ombak yang berlarian ke arah pantai.
"Gara bener mau kuliah ke Eropa?" Tanya Nini.
"Kok Nini tau?"
"Papamu cerita, Papamu khawatir, kamu di sana sendiri. Gak ada keluarga."
"Gara udah gede, Ni. Udah 22 tahun, masa gak dipercaya buat tinggal sendiri di luar?" Kataku.
"Percaya, sayang. Papa kamu emang orangnya parnoan, tapi ya gak berani bilang langsung sama kamu. Takut disangka mengekang."
"Jadi sebenernya dibolehin gak sih Ni, sama Papa?" Tanyaku.
"Boleh, cuma Papamu khawatir aja. Maklum lah, orang tua. Kamu anak pertama, Firi pasti menaruh perhatian lebih sama kamu, nak." Jelas Nini.
"Waktu dulu Papi Rafi ke London. Nini khawatir gak?"
"Banget! Om kamu itu kan gilanya gak ketulungan. Bebas banget gak ada aturan. Parah deh waktu dia muda itu. Untung ketemu pawang yang bener tuh, Tante Gizel."
"Terus, sampe akhirnya Papi Rafi jadi berangkat ke London. Itu gimana?"
"Nini temenin, cariin apartment, duit jajan dibatesin biar dia gak macem-macem. Tapi dasar banyak akalnya, Rafi kerja di restoran fast food. Jadi duit dari Nini buat biaya hidup, duit penghasilan buat gaya hidup."
"Gara gak apa kok digituin, asal direstuin belajar ke London. Biar berkah gitu ilmu yang dicari di sana."
"Nini percaya! Kamu tuh anak baik!" Nini mengacak rambutku.
"Papi Rafi engga?" Ledekku.
"Orang gendeng yang bilang Rafi anak baik! Tapi dia nakal tau batesan sih. Nini gak pernah dipanggil guru BP pas Om-mu itu sekolah. Kuliah juga selesai tepat waktu. Ya, nakalnya tau aturan lah. Malah, bandelan Papamu kayaknya."
"Eh? Papa bandel gimana?"
"Sering balapan liar pake mobil orang, teruuus Mamamu dihamilin duluan sebelum dinikahin." Ujar Nini santai.
"Lha? Gara anak haram dong?" Ceplosku. Nini langsung menepuk bahuku.
"Ngaco aja."
"Terus?"
"Kamu itu anak yang tidak direncanakan tapi membawa berkah. Udah itu aja."
"Nini cuma senengin aku doang bilang gitu."
"Gara, kamu udah gede. Udah bisa diajak diskusi soal hal-hal orang dewasa. Adanya kamu, dari perbuatan Mama sama Papa kamu itu, menurut Nini itu bukan masalah besar."
"Hamil diluar nikah bukan masalah besar maksudnya, Ni?" Aku memperjelas pembahasan Nini.
"Iya, yang penting tanggung jawab sama apa yang dilakuin. Nini mau tanya, jujur yaa! 22 tahun, tytyd kamu dipake apa aja? Cuma pipis doang? Atau yang lain??!"
"Woww! Nini!" Seruku kaget.
"Dari jaman Papa sama Om-mu, Nini gak pernah canggung bahas kaya gituan. Kenapa? Nini cuma mau tau, anak-anak Nini udah ngapain aja. Tanggung jawab gak mereka sama perbuatannya. Gitu, Gara. Dan kalau Papa atau Mama kamu gak bisa kaya gitu, ya Nini yang akan ambil peran. Nini mau obrolan seputar s*x itu bukan hal yang tabu. Mending kamu ajak ngobrol Nini daripada kamu browsing di google yang belum tentu penjelasannya bener."
Aku mengangguk.
"Nini udah bahas ini lebih dulu, Ke Kak Evan, sama Kak Varde. Pas mereka 21 tahun. Tapi untunglah Om Dion orangnya terbuka akan hal-hal seperti itu. Jadi Nini gak harus banyak ngomong." Ujar Nini.
"Jadi maksud Nini, kalo Gara mau macem-macem nih, boleh?" Tanyaku.
"Ya terserah kamu, yang penting tanggung jawab."
"Kok Nini gak kaya Nenek-nenek yang lain sih? Jangankan diobrolin kaya gini, kayanya kalo orang lain, pacaran aja dilarang gitu, Ni. Dosa lah, bahaya lah, dan lain-lain."
"Gini, Nak. Anak muda itu, kalo dilarang, pasti penasaran kenapa hal tersebut dilarang, akhirnya nyoba. Lha kalo akhirnya nyoba tanpa pernah mengenyam s*x education sama sekali, kan bahaya.
"Jadi Nini pilih mending diobrolin baik-baik sama anaknya. Kalo mau ngelakuin, ya silahkan. Pilih mau main aman, atau gimana? Lalu, Nini tekankan untuk melakukannya atas dasar mau, bukannya dipaksa orang. Dan yang paling penting, Nini tau sama siapa kalian melakukan itu."
"What??" Ceplosku.
"Kak Kimora, Nini bilangin gini. Kalau dia mau enaena sama cowok, kenalin cowok itu ke keluarga, ajak ke rumah, makan malem sama-sama. Biar keluarga tau dia anaknya kaya apa, siapa orang tuanya, di mana tinggalnya. Jadi, pas ngelakuin pun, kita tenang karena tau siapa orangnya.
"Jangan pernah ya Gara, kenalan sama random people di tempat yang gak jelas lalu berakhir di kamar hotel, hanya untuk one night stand. Nyesel kamu nanti."
"Iya Ni. Lagian, Gara belum pernah kok Ni. Gara juga belum pernah pacaran, jadi ya belum ngapa-ngapain." Kataku.
"Nini tahu alesan kamu belum pernah pacaran." Ujar Nini.
Aku diam.
Kutatap laut yang menghitam di bawah sana, berusaha menenangkan jantungku yang mendadan riuh. Aku takut ketauan.
"Gara?" Panggil Nini.
Aku menoleh dan melihat Nini tersenyum.
"Kadang, rasa suka dan cinta emang susah dikendalikan. Tapi semua tergantung kamu, sekuat apa kamu.
"Ibarat kamu sedang terserang virus, nak. Kamu akan jadi inang yang kuat apa inang yang lemah. Kamu akan ikut mati bersama virus itu, apa sanggup membunuh virus tersebut, dan menjadikan diri kamu imun."
"Ni?"
"Nini tau kamu sama Vissa sama-sama suka. Tapi Gara, kamu harus tentuin sikap. Jangan ikut virus dan akhirnya menghancurkan kamu."
Aku langsung memeluk Nini. Jantungku berdetak tak karuan mendengar itu. Ya tuhan, ku kira hanya aku dan Vissa yang tahu perasaan ini. Ternyata, Nini tahu.
Siapa lagi yang tahu? Gosh! Jangan sampai Mama dan Papa tahu. Aku gak mau kecewain mereka.
****