Bisnis itu melelahkan. Asli! Aku gak bohong! Padahal ini baru belajar, bukan beneran ngejalanin bisnis kaya Papi Rafi. Tapi sumpah, otakku lelah.
"Kakak gak pulang?" Aku menatap layar laptopku. Mama, Papa dan Sasi berdesakan di sana.
"Banyak kegiatan, Pa." Aku menjawab pertanyaan Papa.
"Bener Kak? Emang sih dulu Rafi juga gitu. Papa kira itu alesan dia doang."
"Beneran, Pa."
"Yaudah, tapi cepet beres ya, Kak?" Kali ini Mama yang bersuara.
"Ara usahain, Ma."
"Kangen tau, Kak!" Seru Sasi.
"Ya sama, Kakak juga kangen."
"Yaudah, di sini udah malem banget. Kamu semangat ya sayang!" Seru Mama.
"Iya, Ma. Bye Pa, Sas. Salam buat Yuri yaak! Daaahhh!"
"Kakak jangan lupa berdoa, sembahyang Kak!" Pesan Papa.
"Iya, Pa. Daaahhh!"
Aku memutus sambungan skype ini, kemudian sedikit menyesal karena aku menutup tepat ketika Mama akan membuka mulut. Jadi kuulangi panggilan tersebut.
"Kenapa Kak?" Mama tersenyum menjawab panggilanku.
"Tadi Mama mau bilang apa?" Tanyaku.
"Jangan lupa makan, minum vitamin, jaga kesehatan ya, sayang."
Aku tersenyum mendengar itu. Entah kapan aku dianggap dewasa oleh Mama dan Papa, yang kurasa aku selalu diperlakukan seperti anak kecil oleh keduanya.
"Iya, Ma. Siap."
"Yaudah, Kakak baik-baik di sana, inget pesen Papa tadi. Mama tutup ya Kak? Love you!"
"Love you more, Ma. Bye!"
Kali ini Mama yang memutus sambungan. Lalu aku teringat pesan Papa tentang sembahyang. Ya, aku punya peralatan lengkap sih untuk sembahyang. Tapi, sudah lama sekali aku tidak sembahyang.
Karena pesan Papa masih hangat, jadilah aku ke kamar. Mengambil alas untuk sembahyang lalu menyiapkan perlengkapan lainnya.
Mengambil sikap Padmasana*, aku mulai menyalakan beberapa dupa sesuai dengan mantra-mantra yang kupanjatkan.
Semua ritual selesai, selanjutnya bagian akhir; kramaning sembah.
Om Atma tattvatma suddha mam svaha.
Aku melanjutkan membaca mantra-mantra lain, hingga yang paling akhir;
Om deva suksma paramacintya ya namah svaha Om santih santih santih Om.
Selesai. Aku menarik nafas pelan-pelan. Lega. Mantra terakhir memang terapal untuk meminta kedamaian, baik di hati maupun di dunia. Dan aku benar-benar langsung merasa damai.
Harusnya aku melakukan ini dari dulu, sesering mungkin.
*****
"Tugas apaan sih emang, Gar?" Tanya Melani.
"Disuruh bikin bisnis, apaan yak?"
"Lha, lo doyannya apa?"
Aku menggeleng. Menutup buku yang sedang k****a. Duh, aku rindu novel, rindu menulis puisi, aku bosen buka buku bisnis. Bisnis gak semenyenangkan yang kukira.
"Ngapain kalian?" Akmal yang baru bergabung duduk di samping Melani.
"Bantuin gue belajar si Gara. Eh malah dia yang pusing sama tugas." Jawab Melani.
Aku mengangguk.
"Dek, lo kan mau belajar ya buat tugas akhir lo, butuh tempat sepi kan? Nginep gih di tempat temen lo. Temen-temen gue ada yang ngajak party. Gue host!" Ujar Akmal.
"Lo ya! Party mulu! Gue laporin Ayah, mampus lo!"
Aku membuka bukuku kembali. Lebih baik membaca buku yang menurutku membosankan ini, dibanding ikut serta dalam pertempuran saudara di hadapanku.
"Gar, mau ikut gak lo?" Tanya Akmal.
Buru-buru aku menggeleng. Temen-temennya Akmal itu setannya bir kayanya. Pada kuat minum banget.
"Yaudah, lo jagain adek gue aja ya?"
"Lha??" Ceplosku.
"Gak ngerepotin kok. Si Lani makannya gak banyak. Santai aja!"
Aku menatap Melani dan ia terlihat kesal dengan kelakuan kakaknya itu.
"Dek, lo gue beliin sepatu yang lo mau. Jangan laporin Ayah, oke?"
"Yaudah lah, dosa lo ini yang nanggung!" Sahut Melani.
Lha, ini maksudnya gimana? Melani beneran nginep di tempatku?
"Tjakepsss!" Seru Akmal.
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal ini. Hopeless sama kelakuan kedua kakak-adik ini.
"Serius lo mau nginep di tempat gue?" Tanyaku ke Melani. Cobalah, dia cari tempat lain aja gitu.
"Iya, Gar. Unit lo sama unit kita kan sama, suruh Lani tidur di kamar kedua aja. Kalo gak mau, tidur di atas keset juga bisa dia." Seru Akmal.
"Kakak durhaka ya lo!" Melani mencubit lengan Akmal. Terlihat Akmal menahan suaranya, tidak ingin membuat keributan di perpustakaan yang sepi ini.
"Traktir gue sandwich ya, Mel!" Kataku.
"Suruh dia yang bayar!" Melani menunjuk kakaknya. Akmal mengangguk.
"Emang kapan party-nya?" Tanyaku.
"Nanti malem!"
"Buseeet! Terus barang-barang gue gimana?" Ujar Melani kesal.
"Gampang, udah lo balik dari sini langsung ke unit Gara aja. Nanti gue bawain. Oke adik kecil?"
"Tau ah!"
"Thank you, Gara!" Seru Akmal.
Aku hanya mengangkat bahu. Sebenarnya aku agak keberatan sih. Aku kurang suka ada orang lain masuk ke unit apartmenku. Karena, menurutku apartmentku adalah ruang pribadiku. Aku berusaha sekuat tenaga pindah dari Bali ke London hanya agar bisa sendiri. Lha sekarang? Ketenanganku diganggu.
**
Malam hari, Melani duduk di karpet ruang tengahku. Membaca sambil memejamkan mata seolah ia merapalkan mantra.
Aku yang tadinya mau menonton, memilih duduk di sofabed sambil sesekali menenggak bir yang ada di genggaman tangan kananku.
"Mel, lo beneran gak mau?" Tawarku ketika membuka botol kedua.
"Sorry, gue gak minum gituan." Jawabnya.
Iya sih, aku tahu dia gak minum alkohol, dulu pas aku tanya, katanya diagamanya dilarang. Meskipun sedikit mengherankan, karena Akmal justru pencinta bir dan minuman beralkohol lainnya.
"Okay!" Sahutku.
Aku tidak menyalakan TV karena takut mengganggu Melani, jadi aku memilih memainkan game-game yang ada di ponselku. Sudah lama aku gak menengok peternakanku di HayDay. Apa kabar ya??
Sudah hampir pukul 11 malam, Melani pindah ke sampingku, masih belajar. Kali ini ia memberikan makalahnya padaku, memintaku memberikan pertanyaan-pertanyaan padanya.
"Udah sih, Mel. Lo udah bisa kok." Kataku setelah bingung apa lagi yang mau kutanyakan.
Melani mengangguk. Kukembalikan makalahnya lalu mengambil remote untuk menyalakan TV.
"Lo ngikutin series ini juga Gar?" Tanya Melani.
"Iyaps, seru tau."
"Banget! Demen gue sama Chase Grave, ganteng banget!"
"Sebenernya agak bingungin sih, ini yang jahat siapa, komplotan Coyote, FG atau orang-orang yang masih jadi manusia." Kataku.
Melani mengangguk. Sepanjang malam kami bahas iZombie, dan series lainnya. Kebanyakan dari CW sih, sama netflix.
"Gar, gue ngantuk, tidur duluan gapapa?"
"Gue juga ngantuk, tapi gak enak sama lo!"
"Okedeh! Kamar yang itu kan?" Melani menunjuk kamar kedua, aku mengangguk.
Membantu Melani merapikan buku-bukunya. Setelah Melani masuk kamar, baru aku mematikan televisi, lalu masuk ke kamar dan tidur.
***
Pagi ini, saat aku terbangun aku mendengar suara-suara berisik dari luar. Aku segera ke kamar mandi untuk cuci muka, lalu keluar dan mengecek ada huru-hara apa.
Begitu keluar, kulihat Melani sedang memasak di dapurku yang kecil itu. Bingung juga dia masak apaan, kan di kulkasku gak banyak bahan masakan. Aku cuma stock telur sama mie instan, sama sosis sih, plus kornet.
"Lo masak? Masak apa?" Tanyaku, menghampiri Melani yang sedang sibuk.
"Nasi goreng."
"Nasi goreng? Dapet nasi dari mana??" Tanyaku kaget, aku gak punya nasi, demi Tuhan.
"Tadi ada beras di baskom kecil, gue masak aja, terus bikin nasi goreng. Mayan nih buat dua orang!"
"Beras?? Beras di tempat putih?"
"Iya!"
"Itu bekas gue sembahyang, Melani!"
"Lhaaaaa???"
"Berasnya udah jadi Bija."
"Bija apaan?" Tanyanya heran.
"Wewangian gitu."
"Ohhhh! Gue kira beras lo pandan wangi!"
Aku mengusap wajah. Mana nasi gorengnya udah jadi lagi, kacau banget dah si Melani. Segala ngatain pandan wangi, beda kali bau cendana sama pandan.
"Masak mie aja, Mel."
"Lo ada mie kuah? Hujan nih enaknya yang anget-anget, kaloga yang ngeyangin." Pintanya. Aku membuka lemari atas mengambil dua buah mie rebus.
"Nih, masakin ya. Gue mandi dulu!"
Aku berbalik ke kamar. Masih agak syok juga sih, gimana bisa coba beras buat sembahyang dipake masak? Dibikin nasi goreng pula. Hadeh!
Setelah mandi, aku keluar kamar. Berjongkok di dekat perapian untuk menyalakannya agar ruangan menjadi hangat. Pagi ini London hujan, bukan hujan deras, hanya sedikit gerimis romantis, tapi tetap membuat suhu turun beberapa derajat dan membuatku kedinginan.
"Itu nasi goreng mau lo buang?"
"Jangan, gue juga bingung mau diapain. Tapi jangan buang makanan." Kataku.
"Sorry, ya Gara. Gue gak tau berasnya buat ibadah. Gue mikirnya lo orang Indonesia, makan nasi udah paling bener. Eh taunya!"
"Udah gak apa-apa."
"Tapi lo punya beras beneran gak sih? Yang buat dimasak?" Tanyanya.
"Gak, gue gak bisa masaknya. Itu Mama gue yang beli beras seliter, buat ibadah. Niatnya mau dipake dikit-dikit." Jelasku.
"Sorry ya!"
"Iya gak apa." Aku meniup uap mie yang kupegang, lalu mulai memakannya.
Kami diam, yang ada hanyalah suara kunyahan kami dan hujan dari luar, suasananya tenang. Aku jadi malas menyalakan televisi karena akan merusak moment.
Setelah makan, aku langsung membawa mangkuk kotor ke bak cuci, mencucinya lalu meletakkan di rak pengering. Melani melakukan hal yang sama ketika aku mengambil s**u untuk kami berdua.
"Mau nanya dong, lo makan sapi gak?" Tanyanya. Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.
"Kalo lo gak mau jawab, gak apa kok!" Lanjutnyanya dengan tampang bersalah.
"Gue makan kok daging sapi." Kataku.
"Bukannya dilarang ya?" Tanyanya.
Aku mengangkat bahu, ada beberapa alasan yang menjadikan umat Hindu tidak memakan daging sapi, tapi aku sendiri tidak percaya begitu saja dengan alasan-alasan yang pernah dijelaskan Papa. Toh, Papa juga makan daging sapi.
"Gitulah." Jawabku santai.
"Kenapa emang sih Hindu gak dibolehin makan daging sapi?"
"Di Islam, kenapa lo gak makan daging babi?" Aku balik bertanya.
"Karena haram."
"Di kami kebalikannya. Sapi dianggap suci, makanya gak boleh dimakan."
"Suci kenapa? Terus kenapa lo masih makan?"
"Kenapa lo gak pake jilbab? Padahal itu diwajibkan?" Lagi-lagi aku balik bertanya.
"Gue belum siap, belum dapet hidayah juga."
"Sama! Gue makan sapi karena gue belum siap jadi vegetarian, dan gue belum dapat hidayah untuk memuliakan sapi." Kataku sambil memberikan segelas s**u yang tadi kuambil.
"Kok jadi vegetarian?" Tanyanya, Melani menerima s**u yang kuberikan lalu berjalan kembali ke ruang tengah.
"Karena, kalau gue memuliakan sapi, ya gue harus memuliakan hewan lainnya."
"Gak ngerti."
"Mau gue bikin ngerti, apa ini biarin menggantung?" Tanyaku.
"Lo ada kuliah hari ini?"
"Gak ada, cuma tugas yang udah gue kerjain."
"Kalo gitu, jelasin."
Kami duduk di sofa, berhadapan dan sedikit berjarak. Aku berdeham sedikit untuk membersihkan tenggorokan, lalu mulai menjawab.
"Di Hindu, ada 7 macam Ibu yang harus dimuliakan; Ibu kandung, Istri dari Guru, Istri dari Raja, Istri Brahmana, Perawat, Bumi dan Sapi."
"Gue potong boleh ya? Kok Bumi sama Sapi masuk? Yang lain okelah gue terima, wujudnya cewek."
"Bumi itu Ibu Pertiwi, Mel. Sapi dianggap mulia, mungkin karena susunya, sapi memberikan kita semua s**u, bisa juga sebagai pengganti ASI, kan? Nah ini salah satu alasan kenapa gue masih makan sapi. Karena yang produksi s**u gak cuma sapi, ada domba, kuda, dan lain-lain kan?"
"Ohh gitu, terus?"
"Papa gue pernah jelasin, kenapa gak makan sapi itu karena membunuh sapi itu dianggap keji, biasa disebut Ashima. Tapi lagi-lagi gue mengelak karena sapi bukan satu-satunya hewan ciptaan Tuhan, ya kan? Kalo gak makan sapi, ya sekalian aja jadi vegetarian, biar gak usah bunuh semua makhluk hidup."
"Oke paham deh gue. Hindu gak makan sapi karena menganggap sapi itu mulia sementara lo berfikir kalau mau dimuliain ya gak cuma sapi, ya kan? "
Aku mengangguk, syukur lah aku hanya perlu menjelaskan 2 alasan. Kalo sampe kaya Papa jelasin ke aku waktu dulu, bisa maghrib kelarnya.
"Lo gak kuliah?" Aku berbalik menghadap TV, mengambil remot lalu menyalakannya.
"Engga, kan gue nyisa ujian, Gar."
Aku mengangguk.
"Gue disini dulu boleh? Akmal belum kabarin gue. Gue males kalo masuk apartment kalau masih ada temen-temennya Akmal teler berserakan di mana-mana."
"Iya, boleh kok."
Melani mengucapkan terimakasih, kami diam sambil menonton TV. Kemudian, ponselku yang ada di meja berbunyi, aku meraihnya dan membukanya.
Jino:
Papi sama Mami nginep di rumah Nini
Aku bisa kunci kamar hahahaha
Mau kak VC nanti malem?
Aku naked deh!
Aku tersenyum membaca pesan tersebut. Haruskah ini kami teruskan??
******