OwG 31

1689 Words
Ketika Cecille sudah memulai hidup barunya dengan Nicho, di pihak Evan, kakeknya masih menunggu cucunya datang untuk menjelaskan semua. Pada saat pernikahan yang sudah  direncanakan dengan matang itu berakhir kacau karena Evan, keluarga Muljadi menjadi orang kedua yang meninggalkan venue pernikahan. Karena pengantin pria dan besannya tidak ada di sana, tetua keluarga berpikir tidak ada gunanya mereka di sana, keuali untuk menerima tatapan yang mengandung gosip dan menghadapi pertanyaan dari kolega yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawab. Tidak ada cara lain untuk menghindari rasa malu selain secepatnya pergi dari sana dan meninggalkan Cecille sendirian menghadapi semua masalah ini sendiri. Evan percaya pernikahan Cecille dan Nicholas itu palsu. Dan Evan tidak berencana pulang ke rumah keluarga sampai dia berhasil menemui Nicholas, bernegosiasi dengan pria itu untuk segera mengakhiri pernikahannya dengan Cecille. Mungkin itu butuh waktu  sekitar dua atau tiga hari. Ketika pagi tadi dia bangun dan menemukan keempat ban mobilnya kempes dengan cara menggenaskan, Evan mengira itu perbuatan orang suruhan kakeknya. Yaah, memangnya harus menuduh siapa lagi? Gedung tempat tinggalnya sekarang sangat aman, ada kartu khusus untuk bisa masuk ke tempat parkir pribadi. Selain pekerja di bagian perawatan gedung dan pemilik unit tidak ada yang bisa masuk ke sana. Dan kakeknya punya satu kartu di lantai yang sama dengannya. Benar saja, ketika dia turun untuk berangkat ke kantor dengan kendaraan lain yang diantar asistennya, sopir keluarga Muljadi baru saja tiba di lantai bawah. Dia melihat Evan yang sudah duduk di kursi belakang mobil, dan buru-buru melangkah maju. Setelah berpikir sejenak, dia mengikuti kata-kata kakek Muljadi  dan berkata, "Ko Evan, bapak nyuruh Koko pulang ke rumah. Beliau bilang, cepat jangan lama.” Evan melihat jam di pergelangan tangannya, “Oke, Pak Parmin duluan aja. Saya bawa sopir sendiri.” Rumah keluarga Muljadi berada di komplek perumahan orang kaya lama yang menunjukkan identitas mereka. Berada tidak jauh dari pusat kota dan memiliki lokasi yang sangat strategis, sembilan puluh sembilan penghuni komplek adalah warga keturunan, dan kebanyakan dari mereka adalah penggerak roda perekonomian negara. Jadi tidak heran tempat ini memiliki pengamanan yang berlapis. Kebanyakan rumah di sini sudah di renovasi menjadi dua lantai dengan desain yang lebih modern, tetapi rumah tempat Evan di besarkan seperti tidak tersentuh perkembangan jaman. Selain cat tembok  yang setiap tahun diperbarui, dan taman serta tempat parkir yang semakin luas, tidak ada perubahan berarti untuk rumah besar mereka. Ketika masuk melewati pagar, Evan seperti kembali ke jaman dulu dia kecil dimana masalah hidupnya hanya seputar di PR dan nilai sekolah yang menurun. Setelah dia masuk, pengurus rumah memberitahu keluarganya  sedang berada di ruang makan. Memberi  sedikit anggukan, kakinya melangkah ke dalam. Muljadi sepertinya sudah menunggu cucunya, Baru saja dia duduk dan meminum segelas air, kakek yang sejak tadi memasang wajah angker segera memarahinya. Ini baru pertama kalinya dia dimarahi dengan keras sejak terakhir kali dia memecahkan guci antik milik neneknya saat duduk di kelas lima. Dan eksperesi Evan lebih suram dari sebelumnya. “Ini salah paham, sudah kujelasin ke dia semalam.” Muljadi menatap cucunya dengan mata dingin, “Dia terima penjelasanmu?” Evan terdiam lama dan menggeleng, “Aku diusirnya.” Brak!!! Tongkat berukir dari kayu jati yang puluhan tahun menemani Muljadi berjalan melayang ke bagian belakang bangku yang di duduki Evan. “Pah!” “opa!” Seruan dari dua wanita beda generasi yang duduk di meja yang sama tidak dihiraukan oleh pria tua yang fokus kepada satu-satunya cucu laki-laki yang selama ini paling membuatnya bangga. “Masih bagus cuma di usir! Kalau itu nenekmu, nggak mungkin kamu masih bernapas sampai sekarang!” Mendengar ayahnya berkata seperti itu, Syane, ibu Evan yang menjawab, “Cecille cinta mati sama Evan, nggak mungkin dia menyakiti orang yang dia cintai.” Jawaban ini membuat orang tua di ujung meja menjadi murka. “Kalau dia cinta mati sama Evan. Nggak mungkin dia menikah sama orang lain!” pandangan matanya berpindah ke anaknya, “Ngomong memang pakai mulut, tetapi mata, telinga, terutama otak jangan kamu tinggal! Ini akibatnya karena kamu terlalu memanjakan anak!”  “Itu karena…” “Ini nggak akan terjadi kalau Evan mau mendengarku, dan menjauhi artis itu dari dulu!” Ketika Muljadi menyela kata-katanya dengan fakta. Bahkan Syane yang pandai bicara tidak tahu bagaimana harus membela Evan. Wanita itu juga menatap anaknya yang tidak sedikitpun membantah omelan kakeknya. Hanya terdengar helaan napas panjang dan atmosfer dingin dalam ruang makan. Kakek mngetuk lantai dengan tongkatnya, menatap Evan lama sebelum dia berkata, “Segera minta maaf ke Cecille dan cari cara supaya dia mau kembali ke kamu!” Meskipun keluarga Muljadi adalah keluarga kaya, bahkan jauh lebih kaya dari keluarga Liemanto dan bukan pihak yang paling dirugikan seandainya pernikahan ini gagal. Kakek Muljadi tetap mau perjodohan ini berhasil. Beliau  memikirkan kebaikan keluarga Liemanto kepadanya di saat keluarganya dalam keadaan sulit. dan dia sangat baik kepada Cecille. Selain itu,  merasa bahwa Cecile adalah pasangan yang cocok untuk Cucunya  "Cecille gadis yang baik. Aku memujinya bukan karena kakeknya baik padaku, aku membiarkan kalian berdua bersama karena kalian berdua cocok. Kalian berdua memiliki temperamen yang saling melengkapi. Dia menyukaimu, dan kamu bisa berhasil seperti ini karena dukungannya kan?” Evan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, dan tidak sedikitpun memberikan pendapatnya. Barulah ketika Muljadi berkata, “Atau, begini saja, kakek akan mencari metode lain untuk membalas Liemanto kalau memang kamu nggak mau menikah,” Evan segera menjawab, “Aku berencana untuk menemui Nicholas lebih dulu. Setelah itu baru menemui Cecille, dan melanjutkan pernikahan kami.” “Bagus!” Kakek Muljadi menjadi lebih senang, “Percayalah, kamu jauh lebih unggul dari anak itu!” Setelah dua hari menghadapi hal yang berat dan menguras pikirannya, baru kali hari Evan tersenyum. Itu karena kata-kata dari kakeknya. Itu benar, dirinya jauh lebih unggul dari Nicholas! Setelah menemui kakeknya, Evan memerintahkan sopir untuk membawanya ke kantor dan mengeluarkan ponsel untuk menelepon Cecille. Nada dering berdering beberapa kali, dan suara merdu operator terdengar, “ Maaf, nomor yang Anda tuju tidak bisa dihubingi, silakan coba lagi nanti." Lalu ada nada sibuk... Evan mengerutkan alisnya lebih dalam, nomornya masih diblokir? Ini adalah pertama kalinya Cecille memblokir nomornya, dia cemas untuk sementara waktu. Evan berpikir sejenak, dan merasa bahwa tunangannya itu mungkin masih marah dan sedang menenangkan diri. Kesalahannya kali ini memang benar-benar fatal. Dan seingatnya dia belum meminta maaf dengan benar. Berpikir begitu, Evan segera memutar telepon Kenny, asitennya yang langsung diangakt dalam satu kai dering, "Siapkan beberapa hadiah dan kirimkan ke Cecille." Kenny bertanya, "Apa yang harus saya kirim? Perhiasan? Tas?" “Hadiah apa yang biasanya kalau dia lagi marah?” Evan mendengar Kenny menjawab di sisi lain, “Saya kurang tahu kalau untuk Nona Cecille. Tetapi kalau untuk Anye, dia biasanya cukup senang kalau di kirimi tas atau barang bermerek keluaran terbaru.” Menggunakan tangan kanan, Evan memijit dahinya dengan nurani yang sedikit menyesal. Bahkan, dia tidak pernah memberi hadiah untuk membujuknya saat Cecille marah. Beda dengan Anye, Evan akan segera mengiriminya hadiah untuk menghiburnya begitu tahu gadis itu sedang tidak bahagia karena menjadi bahan bully dia media sosial. Tahu kegalauan bosnya, Kenny buru-buru berkata, “Nona Cecille bukan tipe gadis yang suka ngambek lama. Paling lama dua atau tiga jam dia marah, setelah emosiny reda biasanya baik lagi.” Itu benar! Karena itulah Evan tidak pernah menganggap serius saat Cecille protes dan ngambek saat cemburu dengan Anye. Akibatnya, dari awal mereka menjalin hubungan sampai detik ini, dia tidak tahu apa yang diinginkan Cecille sebagai hadiah. Kenny masih menunggu Evan memberitahu apa yang harus dia beli. tetapi pria itu menutup telepon setelah sebelumnya berkata, “Biar aku pikirkan dulu!” Setengah perjalanan menuju kantor, Evan melihat ada toko bunga. “Pak,berhenti dulu di sini.” Walaupun sudahn turun dari mobil dan masuk kedalam toko dia masih ragu-ragu sesaat, dia belum pernah memberi bunga untuk seorang wanita, jadi Evan tidak tahu apa yang harus dia beli. Pegawai toko yang melihat Evan masuk segera menghampiri dan menyapa dengan sopan, “Selamat datang, mau mencari bunga apa?” “Saya lihat dulu.” Pegawai itu mengangguk dengan bersemangat. Gadis muda itu pengikut akun-akun gosip yang banyak bertebaran di i********:, dan dia tahu siapa Evan dari beberapa unggahan yang berhubungan dengan Anye. Dan belakangan ini mereka viral karena Evan yang lari dari pernikahan demi mengejar cinta sejati. Menemukan pria itu datang ke toko bunga kecil ini membuatnya bertanya-tanya dia membeli hadiah untuk siapa. Evan yang tidak tahu ada mata yang memandangnya penuh gosip, melihat lemari display dengan serius, dan dia tertarik dengan rangkaian mawar merah dan cokelat yang indah dalam lemari kaca. Seingatnya, jaman sekolah dulu Cecille pernah menerima rangkaiann seperti ini, dan wajahnya terlihat senang. Dengan cepat Evan memutuskan. “Ada ini nggak, rangkaian bunga sama cokelat?” “Ada, ada!” Pegawai itu segera mengeluarkan tablet  dan mencari foto dalam galery sebagai referensi. “Silakan dipilih dulu mau yang mana.” Setelah beberapa kali menggulir layar, Evan menemukan rangkaian yang dia inginkan. Kecuali merek cokelatnya, semua  persis yang di terima Cecille. “Oke, 99 tangkai mawar merah dan tiga lusin cokelat Ferrero rocher, modelnya yang ini ya? Kartunya mau ditulisin apa?” “Biar saya sendiri yang nulis.” Pegawai memberikan kartu kecil ke Evan, dan pria itu menulis satu baris kalimat singkat. “Sorry and I love you.” Ketika Inggo memindahkan sebagian barang-barang Cecille dari apartemen, bel berdering. Ketika membuka pintu, satpam yang biasa berjaga di lobi berdiri depan dengan wajah ketutupan rangkaian bunga. Hanya kakinya yang kelihatan dan suaranya yang terdengar. “Kiriman untuk Non Cecille.” Inggo membuka pintu lebar-lebar, membiarkannya masuk dan meletakkan rangkaian di atas meja yang sudah kosong. “Thank’s, Pak.” Katanya Setelah itu dia mengambil foto rangkaian itu dan mengirimnya ke Nicho dengan pesan provokatif di bawahnya. “Ko, ada fans istrimu yang kirim ini. Merah itu berani, berani mencintai istri orang! Ahahahahah!” Cecille yang mendengar ponsel Nicho berdering mendesah lega, karena bisa lepas dari pertanyaan memalukan tentang k****m. Saat Nicho membaca pesan, dia menggunakan kesempatan itu untuk kabur ke dari sana. Untunglah ada WA masuk, dan kayaknya itu penting. Kalau nggak dia nggak tahu dimana harus meletakkan mukanya. Semantara itu, Inggo yangg menemukan kartu ucapan segera memfotonya dan mengirim ke Nicho Eskpresi Nicho mencibir, saat dia mengetik balasan. Buang semua!!!”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD