OwG 29

1472 Words
Ketika Cecille turun dari mobil, dia mengikuti Nicho tetap dalam keadaan linglung. Keduanya berjalan melewati taman ke rumah  utama. Begitu pintu terbuka, lampu menyala.Cahaya di dalam sangat nyaman, terang, bersih dan rapi. Lobi, ruang tamu, dan ruang makan semuanya ada di lantai satu, dan melihatnya sekilas.. Ini sangat besar. Nicho tersenyum ketika dia menatapnya, lalu  membuka kunci pintar di pintu dan berkata, "Kemari, ambil sidik jarimu.” Saat menempelkan ibu jarinnya ke pengingat kunci, dia bertanya dengan tidak yakin. “Beneran kita tinggal di sini?” “Kamu lebih suka tinggal di kolong jembatan?” Nicho balik bertanya. Cecille tidak bisa menahan wajah cemberut, “Maksudku, berapa jumlah yang kamu bayar tiap bulannya?” Rumah yang ia datangi bersama Nicho luasnya sekitar 200 meter persegi, luas bangunan sekitar 150 meter dengan tiga kamar, dan dua garasi. Ini yang paling besar dengan kisaran harga empat setengah milyar. Berdasarkan gaji karyawan dengan level wakil direktur sepertinya, Cecille harus mengeluarkan sekitar 22 juta setiap bulan setelah mengambil pinjaman selama dua puluh lima tahun. Tekanan dalam hidup Nicho tidak kecil, memangnya dia sanggup membayar tagihan sebesar itu? Seakan melihat kekhawatiran Cecille melalui matanya, Nicho menatap bangunan dengan dalam sebelum menjawab, “Dp nol rupiah, tiga puluh juta, 360 bulan” Mata bulat itu membelalak, “tiga puluh juta? kebayar?” Nicho menjawab dengan acuh tak acuh, “kenapa nggak, istriku wanita kaya.” Cecille terkejut, dan mengejang sesaat, “Kontrak kita setahun, dan kamu ngandelin aku buat bayar rumah yang tempo cicilannya tiga puluh tahun? Konyol!!” Nicho  memasukkan tangannya ke saku, dan memandangnya dengan santai, “Kalau gitu kenapa kita nggak menikah seterusnya? Itung-itung membantu meringankan bebanku.” Cecille mendorong d**a Nicho. “In your dream!” umpatnya, lalu menginjak sepatunya berbali menjauhi menjauh dari pria itu, dan berjalan  ke balkon samping. Rumah ini letaknya di dataran tinggi, hampir mencapai puncak bukit. Berdiri di balkon dan melihat ke bawah akan terlihat pemandangan kota dan atap-atap rumah di sekitarnya. Cecille bisa membayangkan bagaimana bagusnya pemandangan di malam hari dan berpikir untuk menaruh kursi di sini untuk sekadar duduk menimati secangir teh. Apartemennya juga berada di lantai atas dan bisa melihat pemandangan kota malam hari. Tetapi vibesnya beda dengan rumah. Dia mendengar suara di belakangnya bertanya, “Bagus kan?” “Worth it lah untuk cicilan segitu.” Cecille memutar tubuhnya, memandang Nicho dengan mata yang menyelidik. “Rumah ini, bagaimana kamu bisa dapatnya?” “Marcell!” sahut Nicho, “dia sudah janji, kalau aku berhasil bantu dia dapatin tanah saat pelelangan, aku yang jadi pemilik pertama saat cluster selesai di bangun.”   “Kamu kenal Marcell Tjhia?” Cecille membelalakan matanya. Semua pengusaha di kota ini tahu nama Marcell Tjhia si tangan midas baru dalam industri digital. Setelah bertahun-tahun di luar negeri akhirnya mereka merambah pasar Indonesia. Meskipun toko oranye adalah market place terbesar di Indonesia, tetapi belum ada yang pernah benar-benar melihat Marcel sejak pria itu lulus kuliah dan pergi ke luar negeri, dan keluarganya terlalu tertutup. Bahkan Evan yang mau menjalin kerjasama dalam pengembangan game online tidak bisa mendapatkan kontaknya sama sekali, dan ternyata Nicho yang bukan siapa-siapa kenal dengan pria itu. Ini terlalu… mengejutkan. Menjawab pertanyaan Cecille, Nicho mengangguk. “Seniorku saat kuliah.” Jawaban itu hanya mendapat respon “Ooo” panjang dari cecille. Ada beberapa keraguan, tetapi dia tidak bertanya. Cecille memakai prinsip, untuk melindungi hatimu, maka jangan selidiki hatinya. “Ada yang mau disampaikan?” Nicho seperti cenayang yang bisa membaca pikiran duduk di depannya. Menjernihkan tenggorokannya, Cecille memanggil, “Nicholas, aku punya pekerjaan sendiri dengan gaji yang lebih dari cukup, jadi kamu nggak perlu memberiku nafkah.” “Oh.” Pria itu mengangat alisnya dan ekspresinya tidak terduga. Dan Cecille dengan semangat menyarankan, “Kita pakai sistem sendiri-sendiri untuk keperluan pribadi. Maksudku, pekerjaanmu nggak jelas, belum lagi utang keluargamu, ditambah cicilan rumah yang nilainya besar. Ngga mungkin aku nambah bebanmu kan?” Nicho tertegun, menatapnya, dan mereka berdua saling memandang.Pupil cokelat itu dalam dan pria itu menyapu wajahnya dengan tenang tanpa jejak. “Jangan tersinggung, aku cuma nggak mau utang budi denganmu.” Nicho mengangguk, “Oke.” “Buat rumah, selama tinggal di sini, aku akan membayar cicilannya setengah. Anggap saja itu sewa.” Nicho  puas dan mengangguk, "Itu bagus." Diskusi mereka untuk membangun rumah tangga sementara sudah mencapai kesepakatan. Selain untuk makan dan keperluan bersama yang dibayar patungan, yang lainnya urusan masing-masing. Ketika berjalan ke dapur untuk mengambil air minum dalam kulkas, tanpa sadar mata wanita itu terbang ke dapur dan mendapati dapur itu sangat bersih. Bahkan tanpa kompor. Dalam kulkas cuma ada sisa makanan dari restoran cepat saji dan bungkusan makanan instan, yang kebanyakan adalah mie yang tinggal diseduh dengan air panas dari dispenser sebelum dimakan.  Tidak ada sayur, buah, atau makanan bergizi yang layak dimakan oleh manusia normal. Cecille bertanya setengah mencibir, “Beneran orang dewasa yang tinggal di sini?” Alis NIcho mengendur, dengan senyum di matanya, “Aku sibuk, lebih gampang kalau pesan  makanan dari luar.”   “Jangan kebanyak makan junk food, nanti cepat mati!” sambil bicara Cecille menyingkirkan sisa makanan, setelah semua terkumpul barurah dia bilang,“Ini  nggak apa-apa kan dibuang?” Nicho meliriknya perlahan. Makna di matanya jelas, seolah-olah dia protes, “kalau ini dibuang, aku makan apa?” “Itu sih gampang!” Cecille menepuk debu kotoran di kedua tangannya berkata, “Karena aku lebih suka masak, yang pertama harus kita isi itu dapur. Ayo!” “Ke?” Punggung Cecille melengkung saat mengambil sling bag di meja depan, lalu menoleh untuk melihat Nicho yang masih tertinggal di belakang. “Ke supermarketlah! Memangnya kamu mau makan angin!” Ada supermarket besar yang jaraknya setengah jam perjalanan dari rumah mereka. Nicho yang pada dasarnya  tidak betah berpakaian formal mengganti kemeja dan celana kainnya. Melihat penampilannya kedua alis Cecille naik atas. Dia memakai hoodie abu-abu muda dan jaket kulit , memangnya nggak panas? Tetapi Nicho tidak mempedulikan tatapan aneh istrinya, memakai sneakers putih, kedua tungkai panjang yang dibalut jeans sobek yang warna birunya mulai pudar itu mendahului Cecille membukakan pintu mobil. “Hati-hati,” saat berkata begitu, dia menggunakan satu tangannya untuk  melindungi bagian atas kepala Cecille agar tidak membentur bagian atas mobil. Sedikit perhatian itu membuatnya tercengang. Begitu Cecille mengangkat kepalanya, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memerah ketika dia bertemu dengan tatapan yang intens. Nicho sepertinya bukan tipe orang yang suka belanja,tetapi mungkin karena baru menikah, dia mau mengikuti Cecille ke Mall untuk mengisi rumah baru mereka. Bukan hanya kompor, Cecille memperhatikan bahwa Nicho benar-benar membeli semua perlengkapan dapur. “Ambil yang ini.” Cecille mengerutkan kening pada satu set pisau marmer berwarna pastel cerah di tangan Nicho, “Sebanyak ini? Buat apa?” “Terserah kamu buat apa. Asal jangan buat ngiris-iris perasaanku aja!” Mata bulat Cecille sedikit terangkat saat menyapu karakteristik wajah tampan pria di depannya,  ada senyum di mata pria itu dengan pusaran dalam di kedua pipinya saat garis bibirnya naik ke atas. Tahu pria itu  lagi-lagi menggodanya, dia mengangkat dagu sebelum memutar leher angsanya dengan anggun, “Receh!” Nicho terkekeh dan tertawa. Tawa renyah pria itu masih terdengar di telinganya saat Cecille menginjak anak tangga dan turun ke area grocery. Memandang Nicho yang membuntutinya dengan kereta belanja, hatinya dipenuhi pertanyaan Hei, sejak kapan dia jadi suka tertawa? Ketika berbelanja untuk isi kulkas dan dapur, Cecille memilih dengan terampil apa yang dia butuhkan untuk rumah. Nicho yang bertanggung jawab mendorong kereta belanja mengikutinya dari belakang tanpa mengeluh. Keduannya memiliki pembagian tugas yang jelas. “Drrt .” Ponsel di saku Nicho tiba-tiba bergetar. Dia berhenti di tempat yang sama, memegang kereta belanja dengan satu tangan untuk menjawab panggilan. Di ujung telepon ada suara lelaki muda: "Bos, bug sudah diperbaiki. Kamu bisa online dan melihat.”   "Jangan sekarang, aku sibuk."   Mata Nicho jatuh pada deretan rak tidak jauh di depan, dan Cecille sedang berjinjit untuk mencapai deretan atas handuk kertas toilet. Karena pipinya memerah, dia mengangkat kepalanya dan merentangkan tangannya tinggi, dengan canggung. Ekspresinya penuh perhatian. "Hah? Kenapa nggak punya waktu, memangnya sekarang dimana?" Mata Nicho tidak lepas dari Cecille yang melanglah menghampirinya saat menjawab dengan satu kata, “supermarket." "Supermarket?" orang yang menelepon mengira dia bercanda. “sama istri yang lahi ramai diomongin anak-anak?” Jawabannya ringan, “He’eh.” Telepon diam selama beberapa detik, dan kemudian raungan mengejutkan muncul, “Nicholas, bantu aku.” “Siap!” saat menutup telepon secara langsung, dia bahkan tidak membiarkan orang yang bertanya menyelesaikan pertanyaannya. Kemudian melangkah maju, menyeberangi Cecille dan dengan mudah mengambil sebungkus tissue dan melemparkannya ke dalam keranjang belanja. Cecille tahu dia sedang menelepon sebelumnya, tetapi dengan cepat datang saat dirinya, dia menatapnya dengan tulus dan penuh kepuasan, "Terima kasih." Menanggapi dia adalah pandangan belakang Nicho yang mendorong kereta belanja pergi, berpaling ringan ke rak yang berlawanan. Cecille segera berteriak memberi peringatan, “Hei! Jangan beli makanan instan!” …..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD