Bab 6: Dara.

1590 Words
--- Cahaya pertama subuh merayap masuk melalui celah-celah jendela yang tertutup tirai tipis. Garis-garis kuning pucat jatuh di lantai, menciptakan pola-pola abstrak yang bergeser pelan seiring matahari naik. Di atas kasur, kelopak mata Dara bergetar. Terbuka perlahan. Langit-langit. Putih. Bersih. Asing. Ia mengerjapkan matanya, mencoba mencerna apa yang dilihatnya. Ini bukan langit-langit kamarnya—bukan langit-langit kamar kosong yang ia sewa di pinggir kota, yang penuh retakan dan noda kecokelatan karena bocor. Ini langit-langit yang berbeda. Lebih bersih. Lebih... normal. Di mana aku? Ia mencoba bangun. Tubuhnya langsung memprotes—otot-ototnya terasa lemas seperti bubur, kepalanya berdenyut-denyut, tenggorokannya kering seperti amplas. Ia mengerang pelan. Lalu ia melihatnya. Seorang pria. Duduk di kursi. Menatapnya. Lalu bangkit, panik, langsung mendekati Dara. Dara mendorong tubuhnya ke belakang, menabrak kepala ranjang. "Siapa kau?! Di mana aku?! Apa yang kau lakukan padaku?!" Suaranya serak, pecah, penuh ketakutan dan kemarahan. Matanya liar, mencari sesuatu—apa pun—yang bisa dijadikan senjata. Tidak ada. Hanya bantal dan selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Pria itu tidak bergerak. Tidak bereaksi. Hanya, menatapnya dengan mata yang tenang—terlalu tenang. "Aku yang menyelamatkanmu." Suaranya datar, seperti melaporkan fakta cuaca. "Kau hampir mati tadi malam. Overdosis." Overdosis. Kata itu memicu sesuatu di kepala Dara. Gambar-gambar kabur mulai bermunculan. Gang gelap. Lampu bohlam yang redup. Jarum suntik di tangannya. Lalu... kegelapan. Ia menatap lengannya sendiri. Di sana, di lipatan siku, bekas suntikan baru—merah, sedikit bengkak, kontras dengan bekas-bekas lama yang sudah memudar menjadi putih. Malu. Itu yang ia rasakan. Bukan takut lagi. Malu. Ia menatap pria itu lagi. "Kenapa... kenapa kau selamatkan aku?" Suaranya lebih pelan sekarang, hampir seperti bisikan. Pria itu tidak menjawab langsung. Ia berjalan ke meja, mengambil botol air mineral. Kembali duduk di kursinya. Memberikan botol itu pada Dara. Dara menerimanya dengan tangan gemetar. Membuka tutupnya. Minum. Air itu terasa dingin, menyegarkan, seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Pria itu duduk lagi. "Karena kau bisa berguna bagiku." Dara menatapnya, bingung. "Apa maksudmu?" Pria itu menatap matanya—dan Dara merasakan sesuatu yang aneh. Tatapan itu tidak seperti tatapan pria-pria lain yang pernah melihatnya. Tidak ada nafsu. Tidak ada kebencian. Tidak ada rasa jijik. Hanya... pengamatan. Seperti dia sedang membaca halaman-halaman buku yang tidak terlihat. "Aku tahu kau terlibat dengan jaringan narkoba Ricky." Suara pria itu tetap datar. "Aku tahu kau ingin keluar. Aku tahu kau ingin mati." Dara menegang. "Kau... kau siapa?" Pertanyaan itu menggantung di udara. Pria itu tidak menjawab. Hanya menatapnya, menunggu. Dan entah kenapa—mungkin karena kelelahan, mungkin karena tidak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan, mungkin karena tatapan itu tidak menghakimi—Dara mulai bicara. "Aku... aku mantan kekasih Ricky." Suaranya pelan, datar, seperti membaca naskah yang sudah dihafal. "Kami bersama sejak aku SMP. Dia... dia yang pertama kali kasih aku narkoba. Katanya buat seneng-seneng. Buat lupa masalah." Ia tertawa pahit. "Awalnya emang enak. Aku bisa lupa. Lupa kalau bokapku pemabuk yang suka mukulin nyokap. Lupa kalau nyokapku akhirnya kabur ninggalin aku sendirian sama dia. Lupa kalau aku gak punya masa depan." Air matanya jatuh. Tapi ia cepat menyekanya, seperti malu. "Lama-lama aku ketagihan. Ricky seneng. Dia jadi bisa kendaliin aku. Aku disuruh jadi kurir—nganterin barang ke alamat-alamat. Terus... terus dia mulai suruh aku jebak orang. Pria-pria yang berutang sama dia. Pria-pria yang jadi target dia." Suaranya bergetar. "Aku cuma barang buat dia. Barang yang bisa dipake, bisa dijual, bisa dibuang kapan aja." Keheningan. "Aku mau keluar." Suara Dara sekarang hampir tidak terdengar. "Tapi aku gak bisa. Dia terlalu kuat. Dan aku... aku gak punya siapa-siapa." Pria itu—Arkan—membiarkan keheningan menggantung sejenak. Lalu ia bicara. "Aku bisa membantumu keluar dari ini, dari Ricky." Suaranya tenang, terukur. "Aku bisa memberimu kehidupan baru. Tapi ada syaratnya." Dara mendongak. Untuk pertama kalinya sejak ia bangun, matanya menunjukkan sesuatu selain keputusasaan. "Apa? Kau mau tubuhku? Aku tidak punya apa-apa selain tubuh ini." "Tubuh? Lebih tepatnya dirimu. Kau jadi mataku di dalam. Kau kasih aku info. Nama-nama. Tempat. Jadwal. Semua yang kau tahu tentang jaringan narkoba Ricky ini." Dara menatapnya, mencari jebakan. "Kalau aku ketahuan, Ricky akan bunuh aku. Jadi janjimu untuk memberiku hidup baru itu. Omong kosong!" "Aku akan lindungi kau." Dara tertawa—tawa pahit yang keluar seperti batuk. "Kau? Sendirian? Kau gila." Arkan menatapnya. Matanya dingin, tapi ada sesuatu di balik kedinginan itu—sesuatu yang dalam, sesuatu yang purba. "Aku sudah mati sekali. Aku tidak takut mati lagi. Dan aku tidak akan biarkan kau mati sebelum waktunya." Mati sekali. Kata-kata itu menggantung di udara. Dara menatap pria di depannya—benar-benar menatapnya untuk pertama kali. Matanya yang seperti laut dalam. Rahangnya yang keras. Bekas luka kecil di bawah dagunya. Siapa kau sebenarnya? Dara menatap lengannya sendiri. Bekas suntikan. Puluhan bekas suntikan, beberapa sudah memudar, beberapa masih merah. Peta dari kehancurannya. "Aku... aku udah rusak." Suaranya serak. "Aku gak berguna. Meskipun akhirnya aku ketahuan dan mati. Aku setuju. Setidaknya untuk balas budi sudah menyelamatkaku. Meski aku nggak ingin." Arkan menatapnya. "Kau tidak rusak. Kau hanya terluka. Itu beda. Kau berguna. Dan... Kau tidak akan mati." Dara mendongak. Matanya berkaca-kaca. Tidak ada yang pernah berkata seperti itu padanya. Semua pria dalam hidupnya—Ricky, klien-klien Ricky, bahkan ayahnya sendiri—hanya melihatnya sebagai barang. Untuk dipakai. Untuk dijual. Untuk dibuang. Tapi pria ini... pria ini berbeda. Sesuatu bergeser di antara mereka. Ketegangan yang berbeda—bukan hanya sekutu dan target, tapi pria dan wanita. Dara menyadari betapa dekatnya mereka. Ia bisa mencium aroma Arkan—campuran keringat dan sesuatu yang maskulin, sesuatu yang bersih meski ia baru saja begadang semalaman. Untuk pertama kalinya sejak lama, Dara merasa... tertarik. Bukan karena paksaan. Bukan karena narkoba. Bukan karena ia butuh sesuatu dari pria ini. Tapi karena sesuatu yang nyata. Sesuatu yang sudah lama ia kira mati di dalam dirinya. Ia membuang muka. Pipinya terasa hangat. "Aku... aku harus istirahat." Arkan berdiri. "Istirahatlah. Nanti seseorang bawakan makanan." Ia berjalan ke pintu. "Namamu." Arkan berhenti. Menoleh. "Revan" Dara menyimpan nama itu di suatu tempat di dalam dirinya—tempat yang masih bersih, tempat yang belum tersentuh oleh semua kotoran hidupnya. "Aku Dara." "Aku tahu." Balas Arkan. Meskipun ia baru tahu. Arkan keluar. Pintu tertutup di belakangnya. Dara menatap pintu itu lama. Lalu ia berbaring, menatap langit-langit. Revan. Nama itu terasa asing di lidahnya. Tapi juga... hangat. Apa aku bisa percaya padanya? Ia tidak tahu. Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa... tidak ingin mati hari ini. --- Di dapur, Santi memasak bubur. Tangannya sibuk mengaduk, tapi pikirannya tidak di sana. Pikirannya di lantai dua, di kamar Arkan, pada wanita yang dibawa Arkan tadi malam. Siapa dia? Kenapa Mas Revan membawanya? Apa hubungan mereka? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Ia tidak suka perasaan ini. Perasaan tidak nyaman yang aneh, seperti ada duri kecil di dadanya. "Santi." Santi tersentak. Menoleh. Arkan berdiri di ambang pintu dapur. "Eh, Mas Revan. Pagi." Ia mencoba tersenyum, tapi senyumnya terasa kaku. Arkan duduk di kursi. "Dia sudah bangun. Namanya Dara. Dia akan tinggal di sini untuk sementara." Santi menatapnya. "Tinggal di sini? Tapi... kamar penuh, Mas." "Dia bisa di kamarku. Aku tidur di ruang tamu." Itu kamarmu, Mas. Santi ingin protes. Masa aku yang punya kos malah ngusir tamu dari kamarnya? Dan... menerima orang asing. Tapi ia menahan diri. Ada sesuatu di mata Arkan yang membuatnya tahu—ini bukan permintaan. Ini keputusan yang sudah dibuat. "Aku... aku bisa sediakan kasur tambahan di kamar Dara nanti. Biar Mas Revan gak usah tidur di ruang tamu." Arkan mengangguk. "Sekarang, tolong bawakan bubur untuknya. Dia butuh makan." Santi menuangkan bubur ke mangkuk. Saat ia berjalan menuju tangga, ia bertanya-tanya dalam hati: Kenapa Mas Revan begitu peduli pada wanita itu? Santi berhenti di depan pintu kamar Arkan. Mangkuk bubur di tangannya masih mengepul. Dari lantai bawah, dua pintu terbuka bersamaan. Dewi dan Ika keluar dari kamar masing-masing—seperti yang sering terjadi secara kebetulan di kos ini. Mereka melihat Arkan di dapur, sedang menyeduh kopi. Ika langsung menarik lengan Dewi, berbisik sesuatu. Dewi melirik ke arah Arkan, lalu tersenyum kecil—senyum wanita yang mendapat gosip terbaru. "Pagi, Mas Revan," sapa Ika sambil berjalan ke meja makan, mengambil piring berisi nasi goreng yang sudah disiapkan Santi. "Pagi," jawab Arkan singkat, tanpa menoleh dari kopinya. Dewi mengikuti, juga mengambil sarapan. Mereka duduk, makan, tapi mata mereka sesekali melirik ke arah Arkan. Santi tidak melihat semua itu. Ia sudah masuk ke kamar. Di kamar, Dara sedang duduk di kasur, menatap ke luar jendela. Sinar matahari pagi jatuh di wajahnya, membuat kulit pucatnya terlihat hampir transparan. Melihat Santi masuk, ia menegang. Matanya waspada, seperti binatang yang pernah disakiti dan tidak mau disakiti lagi. "Jangan takut aku... aku Santi. Yang punya kos." Suara Santi ragu. Dara menatapnya. "Revan yang suruh?" Santi mengangguk. "Dia bilang kau butuh makan." Ia memberikan mangkuk bubur itu. Dara mengambilnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia menatap bubur itu lama. Lalu, tanpa peringatan, air matanya jatuh. Santi panik. "Eh, kenapa? Sakit? Mana yang sakit?" Dara menggeleng. "Aku... aku cuma..." Suaranya tercekat. "Udah lama... gak ada yang peduli." Santi terdiam. Ia menatap wanita di depannya—wanita yang rapuh, rusak, dengan bekas-bekas suntikan di lengannya dan lingkaran hitam di bawah matanya. Wanita yang jelas sudah melalui neraka. Dia sama sepertiku, pikir Santi. Terluka. Sendirian. Tapi masih hidup. Ia duduk di tepi kasur. "Makanlah. Nanti dingin." Dara menatapnya. Lalu, perlahan, ia mulai makan. Sendok demi sendok. Air matanya masih mengalir, tapi ia terus makan. Santi menatapnya. Dan dalam hatinya, ia bergumam: Mas Revan... kau ini siapa? Kenapa kau membawa dia ke sini? Dan kenapa... kenapa aku merasa tidak nyaman? ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD