---
Di dalam kamar, Dara berbaring di d**a Arkan.
Mereka tidak bicara. Hanya suara napas mereka yang mengisi keheningan. Dara menatap langit-langit, air matanya masih mengalir—tapi kali ini bukan karena sedih.
"Aku... aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Terimakasih." bisiknya.
Arkan menoleh. Menatapnya. "Terimakasih, untuk apa?"
"Selama ini, orang hanya menikmatiku. Tanpa peduli apa aku menikmatinya. Hingga sekarang, aku mengerti rasanya dinikmati dan menikmati."
Arkan tidak menjawab. Tapi ia meraih tangan Dara. Menggenggamnya. Jari-jari mereka saling bertautan. Itu cukup.
Dara menutup matanya. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa aman.
Di luar, Santi berjalan menuruni tangga dengan kaki gemetar.
Air matanya masih belum berhenti. Ia menyekanya dengan kasar, tapi air mata itu terus mengalir. Di ruang tamu, ia bertemu Meli yang baru saja pulang kerja. Meli melihat wajah Santi yang basah oleh air mata, matanya yang merah.
"Mbak Santi? Kenapa?" Suara Meli khawatir.
Santi menggeleng. "Gak apa-apa."
"Mbak..." Meli meraih tangan Santi, menuntunnya duduk di sofa. "Cerita. Mas Revan menyakitimu?."
Santi menatap Meli. Gadis muda yang biasanya ceria dan santai, kini menatapnya dengan mata penuh kepedulian. Dan Santi tidak bisa menahannya lagi. Ia mengajaknya duduk.
Mereka duduk berdampingan, dan Santi, memulai.
"Aku... aku suka sama Mas Revan, Mel." Suaranya pecah. "Tapi dia... dia sama Dara. Aku lihat mereka. Aku dengar mereka. Dan aku... aku gak bisa berhenti mikirin dia. Aku mau dia. Aku mau dia lihat aku seperti dia lihat Dara."
Air matanya mengalir lebih deras. Meli memeluknya.
"Mbak Santi..." Suara Meli lembut. "Aku ngerti. Aku ngerti kok."
Santi menangis di pelukan Meli. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya merasakan semua kesedihan itu. Tidak menyembunyikannya di balik senyum dan tawa dan keramahan.
---
Di tempat lain, di sebuah ruangan gelap di pinggir kota, Ricky duduk di kursinya.
Di hadapannya, preman berdiri dengan wajah babak belur. "Rumah kosong diserang. Bos."
"COK! a*u! b******n! Suara Ricky melengking. "Lagi. Oleh orang yang sama?"
Salah satu preman mengangguk. "Iya, Bos. Dia... dia gak sendiri. Ada wanita. Aku kenal dia, Bos."
Ricky menegang. "Siapa?"
"Dara."
Nama itu meluncur seperti pisau. Ricky tidak bergerak. Matanya menatap preman itu. "Dara."
"Iya, Bos. Dia yang dulu sering sama Bos. Yang jadi kurir. Yang—"
"Aku tahu siapa dia." Suara Ricky memotong. Dingin. Mematikan.
Ia menatap dinding. Dara. Jadi kau yang membawa iblis itu. Kau yang mengkhianatiku.
"Cari dia." Suaranya pelan. Terlalu pelan. "Bawa dia padaku. Hidup. Aku ingin dia melihat sendiri apa yang terjadi pada orang yang mengkhianatiku."
Preman itu mengangguk cepat, lalu keluar.
Ricky duduk sendirian di ruangan gelap itu. Matanya menatap bohlam yang berayun pelan.
Dara... kau akan menyesal telah melawanku.
---
KEESOKAN HARINYA.
Pagi itu, dapur kos Santi hangat oleh aroma nasi goreng.
Dara dan Santi berdiri berdampingan di depan kompor. Santi menggoreng nasi, Dara memotong mentimun dan tomat untuk lalapan. Gerakan Dara masih sedikit canggung—ia tidak terbiasa memasak. Tapi ia belajar. Santi dengan sabar mengajarinya. Meski masih menyimpan sakit hati padanya.
"Potongnya jangan terlalu tebal, Mbak Dara. Nanti susah dimakannya."
"Oh. Maaf." Dara memotong lebih tipis. "Aku gak pernah masak. Dulu... dulu aku cuma masak mi instan buat makan. Kadang gak makan sama sekali."
Santi menatapnya. "Sekarang beda. Sekarang Mbak Dara punya kita."
Dara tersenyum kecil. "Iya. Terimakasih, Santi."
Mereka terus memasak dalam diam yang nyaman. Sesekali Santi mengoreksi cara Dara memotong, sesekali Dara bertanya tentang bumbu. Suasana hangat. Damai.
Setelah selesai, Dara mencuci tangannya. "Aku mau beli obat dulu. Antibiotik buat Revan. Lukanya perlu yang lebih kuat." Ia mengambil dompetnya.
Santi ragu. "Aku temenin?"
"Gak usah. Aku sendiri aja. Kamu di sini aja, jagain Revan." Dara tersenyum. "Aku gak akan lama."
Ia keluar. Pintu tertutup di belakangnya.
Santi menatap pintu itu. Ada sesuatu di dadanya. Semoga dia baik-baik saja.
---
Satu jam berlalu.
Santi duduk di sofa, memangku bantal. Matanya sesekali melirik ke pintu. Kok lama?
Dua jam.
Santi mulai gelisah. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Ke mana dia?
Pintu depan terbuka. Santi menoleh, lega. Tapi itu bukan Dara. Itu Meli. Wajahnya pucat. Matanya lebar. Napasnya terengah-engah seperti habis berlari.
"Mbak Santi..." Suaranya bergetar.
"Meli? Ada apa?" Santi langsung mendekat.
"Tadi... tadi aku lihat Mbak Dara. Di dekat pasar. Dia... dia diseret ke dalam mobil." Air mata Meli mengalir. "Aku mau teriak, Mbak. Tapi... tapi aku takut. Mobilnya langsung pergi. Aku gak bisa apa-apa."
Dunia Santi berhenti berputar.
Dara.
Diculik.
Santi dan Meli membangunkan Arkan yang sedang tidur di sofa dengan tangan gemetar.
Arkan membuka matanya. Melihat wajah Santi yang pucat dan Meli yang menangis. Ia langsung duduk, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. "Apa yang terjadi?"
"Dara..." Suara Santi pecah. "Dara diculik. Meli lihat dia diseret ke mobil. Di dekat pasar."
Wajah Arkan berubah.
Untuk pertama kalinya, Santi melihat kemarahan murni di mata Arkan. Bukan kemarahan dingin seperti biasanya. Bukan ketenangan yang menakutkan. Tapi api. Api yang membara. Api yang siap membakar apa pun yang menghalanginya.
Arkan berdiri. Tubuhnya masih sakit tapi ia tidak peduli. "Meli." Suaranya tajam, seperti peluru. "Di mana tepatnya kau melihatnya? Kapan? Mobil apa? Warnanya? Platnya?"
Meli menjawab sebisanya, suaranya masih bergetar. "Di dekat pasar... dekat toko obat. Tadi... sekitar setengah jam yang lalu. Mobilnya hitam. Aku gak lihat platnya, Mas. Maaf..."
Arkan tidak membuang waktu. Ia membuka laptopnya. Peta Gresik. "Mobil hitam. Dari pasar. Ke mana mereka pergi?" Pikirannya bekerja cepat. "Ricky pasti membawanya ke suatu tempat. Tempat yang dia anggap aman. Bukan rumah kosong. Bukan gudang. Tempat yang hanya dia dan anak buahnya yang tahu."
Ia menatap Santi. "Siapkan perlengkapanku."
Santi mengangguk, lalu berlari ke kamar Arkan.
Arkan menatap peta itu lagi. Matanya menyala. Ricky. Kau menyentuh Dara. Kau menyentuh orang yang ku lindungi.
Aku akan menghabisi mu.
---
Arkan berdiri di tengah ruang tamu. Tubuhnya masih kaku, luka-luka di lengan, punggung, dan betisnya masih terasa seperti duri yang menancap setiap kali ia bergerak. Tapi matanya—matanya tidak menunjukkan rasa sakit. Hanya api.
Ia memeriksa perlengkapannya dengan gerakan cepat dan efisien. Pisau lipat andalannya. Senter kecil. Tali nilon. Sarung tangan hitam. Semua masuk ke dalam ransel kecilnya. Wajahnya keras seperti batu. Tidak ada ekspresi. Tidak ada keraguan.
Santi dan Meli berdiri di sudut ruangan, menyaksikan dengan cemas. Meli menggigit bibirnya, tangannya saling menggenggam. Santi menatap Arkan dengan mata yang berkaca-kaca, tapi ia menahan air matanya. Ia tidak ingin Arkan melihatnya lemah. Tidak sekarang.
"Mas Revan..." Suara Santi pelan, hampir seperti bisikan. "Aku bisa ikut. Aku bisa bantu."
Arkan berhenti. Menoleh. Menatap Santi. "Tidak. Kau di sini saja."
"Tapi—"
"Kalau aku tidak kembali dalam enam jam..." Suara Arkan terpotong. Ia menatap Santi, lalu Meli. "...telepon polisi. Bilang semuanya. Tentang Ricky. Tentang gudang. Tentang Dara. Semuanya. Bahkan jika aku ditangkap. Aku siap."
Santi menatapnya. Air matanya akhirnya jatuh, mengalir di pipinya. "Kau akan kembali, kan? Kau harus kembali, Mas."
Arkan tidak menjawab.
Ia mengingat cerita Dara dan informasi yang dikumpulkannya sendiri. Sebuah rumah tua di pinggir kota, tersembunyi di balik rimbunan pohon. Tidak ada yang tahu tempat apa itu. Hanya seseorang yang pernah ke sana yang tahu.
Aku akan menemukannya.
Ia Melangkah ke pintu.
"Mas Revan." Suara Santi memanggil.
Arkan berhenti. Tidak menoleh.
"Hati-hati. Bawa Dara pulang."
Arkan mengangguk sekali. Lalu keluar.
Pintu tertutup di belakangnya.
Santi berdiri di sana, menatap pintu itu. Air matanya mengalir tanpa suara. Meli mendekat, meraih tangannya. "Mbak Santi... dia pasti kembali. Dia kuat."
Santi menggenggam tangan Meli. "Aku tahu. Aku tahu."
Tapi di dalam hatinya, ia berdoa pada siapa pun yang mau mendengar. Tolong... lindungi dia. Lindungi Dara. Bawa mereka pulang.
---