Setelah kejadian malam itu, Aria berusaha untuk melupakan Darius Widodo. Dia mengarahkan fokusnya kembali pada pekerjaan fotografi dan proyek-proyek yang sedang berjalan. Namun, setiap kali ponselnya berbunyi atau dia menerima notifikasi media sosial, hatinya selalu melompat dengan harapan bahwa itu adalah dari Darius. Dia menyadari bahwa dia sangat jatuh pada pria yang baru saja dia kenal, dan hal itu membuat dia merasa sedikit bodoh.
Tiga minggu kemudian, Aria menerima panggilan dari agensi periklanan terkemuka yang mengatakan bahwa mereka sedang mencari fotografer profesional untuk sebuah kampanye besar untuk merek pakaian ternama. Klien mereka menginginkan seorang fotografer yang bisa menangkap essence dari keindahan dan kehidupan nyata dalam setiap frame. Aria sangat bersemangat tentang proyek ini karena dia tahu bahwa ini bisa membuka pintu baru dalam karirnya.
Hari pertama pemotretan, Aria tiba di studio yang luas dan penuh dengan peralatan profesional. Studio itu berada di gedung bertingkat di area Jakarta Selatan yang modern dan sophisticated. Dia mulai mengatur setup kameranya dan lighting, bekerja dengan anggota tim lainnya untuk memastikan semuanya sempurna. Dia menghabiskan tiga jam hanya untuk mengatur pencahayaan agar sesuai dengan visi kreatifnya.
Saat itu, klien memasuki studio bersama dengan tim executive-nya, dan Aria terkejut setengah mati. Di hadapannya berdiri Darius Widodo, namun kali ini dia mengenakan setelan bisnis yang mahal dan terlihat sangat profesional. Darius adalah wakil direktur dari perusahaan pakaian yang menjadi klien agensi periklanan. Aria merasa wajahnya menjadi panas saat Darius memperhatikannya. Dia tidak tahu apakah dia terlihat menakjubkan atau terlihat seperti orang yang tidak pernah melihat pria tampan sebelumnya.
"Aria? Ini benar-benar kebetulan yang luar biasa," kata Darius dengan senyuman yang lebar dan mata yang bersinar dengan kegembiraan. "Aku tidak tahu bahwa kau adalah fotografer yang mereka pilih untuk proyek ini. Aku benar-benar excited tentang ini."
Aria mencoba untuk tetap profesional dan tenang, meski jantungnya sedang berdebar-debar dengan kuat. "Darius, aku tidak tahu bahwa kau bekerja di sini. Aku pikir kau bekerja di firma investasi," kata Aria sambil berusaha menyembunyikan nervousnya dan berusaha untuk menjaga ekspresi wajahnya tetap netral dan profesional.
"Iya, aku bekerja di firma investasi, tetapi perusahaan pakaian ini adalah salah satu klien kami, dan mereka memintaku untuk menjadi wakil direktur dalam proyek ini karena mereka ingin perspektif investment yang fresh," jelasnya dengan percaya diri. "Jadi, kita akan bekerja sama dalam proyek ini. Aku sangat senang dengan ini." Dia menatap Aria dengan cara yang membuat hatinya melompat lagi.
Mereka mulai bekerja sama dalam proyek pemotretan. Darius memberikan feedback yang konstruktif tentang setiap foto yang Aria ambil, dan dia juga memberikan arahan yang jelas tentang visi klien untuk kampanye ini. Dia bahkan turun langsung ke set untuk membantu arrange positioning dari model. Aria terkejut dengan seberapa baik mereka bekerja sama. Mereka saling melengkapi, dan kreatifitas Aria yang bersinar-sinar mendapat dukungan penuh dari keahlian bisnis dan visi Darius yang sharp dan analytical.
Selama pemotretan, mereka juga menemukan waktu untuk berbincang di antara pengambilan gambar. Darius bercerita tentang pengalamannya di universitas, tentang bagaimana dia memutuskan untuk bekerja di bidang keuangan dan investasi setelah menyadari bahwa dia memiliki passion yang kuat untuk membantu bisnis tumbuh, dan tentang mimpinya untuk suatu hari menjadi entrepreneur yang sukses. Aria mendengarkan dengan seksama, terpesona oleh determinasi dan visi Darius untuk masa depannya yang jelas dan well-planned.
Hari pemotretan berlangsung selama dua belas jam, dari pagi yang masih gelap hingga malam yang sudah gelap. Semua orang sangat tired tetapi satisfied dengan hasil pekerjaan hari itu. Ketika semuanya selesai, Aria merasa sangat lelah tetapi juga sangat puas dengan hasil kerjanya. Darius membantu Aria membongkar peralatan kameranya dengan tangan sendiri, dan mereka keluar dari studio bersama-sama saat matahari mulai terbenam dengan indah di cakrawala Jakarta.
"Apakah kau sudah makan? Aku sangat lapar dan ingin makan sesuatu yang enak," kata Darius sambil membuka pintu mobilnya untuk Aria. "Bagaimana jika kita makan malam bersama? Ada restoran Italia yang sangat bagus di dekat sini. Aku ingin merayakan kesuksesan hari pertama pemotretan ini dengan bersama dirimu."
Aria terkejut dengan penawaran ini. Dia tahu bahwa itu bisa dianggap sebagai kencan, dan hatinya langsung mulai berpacu dengan cepat. Namun, dia juga mencoba untuk tidak terlalu cepat bersemangat dan untuk keep cool. "Tentu, mengapa tidak? Aku juga sangat lapar," jawab Aria sambil mengikuti Darius ke mobilnya dengan perasaan yang campur aduk antara excitement dan nervousness.