Bab 3
Rahasia yang Menghancurkan
Rumah itu terasa jauh lebih besar sejak ayahnya pergi.
Sunyi.
Kosong.
Setiap sudutnya seperti menyimpan bayangan kenangan yang tidak bisa Elena hindari.
Langkahnya terdengar pelan di lorong panjang rumah itu.
Biasanya tempat ini ramai oleh suara staf, pengawal, atau para tamu penting yang datang menemui ayahnya.
Namun sekarang…
Hanya ada keheningan.
Elena berhenti di depan sebuah pintu kayu besar.
Pintu kamar kerja ayahnya.
Tangannya gemetar saat menyentuh gagangnya.
Untuk beberapa detik ia hanya berdiri di sana.
Menarik napas dalam-dalam.
Seolah begitu pintu itu dibuka, semuanya akan terasa semakin nyata.
Bahwa ayahnya benar-benar sudah tidak ada.
Klik.
Pintu itu terbuka perlahan.
Aroma khas ruangan itu langsung menyambutnya.
Campuran aroma kayu tua, buku, dan parfum ayahnya.
Air mata Elena langsung menggenang lagi.
“Ayah…”
Suaranya pecah pelan.
Ruangan itu masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya.
Meja kerja besar.
Rak buku penuh dokumen.
Dan sebuah foto keluarga di atas meja.
Elena berjalan perlahan mendekati meja itu.
Tangannya meraih bingkai foto tersebut.
Foto itu memperlihatkan dirinya dan ayahnya saat ulang tahunnya yang ke dua puluh.
Ayahnya tersenyum lebar di sana.
Tangan besar itu merangkul bahunya dengan hangat.
Air mata Elena jatuh membasahi kaca foto itu.
“Ayah…” bisiknya lagi.
Ia memeluk foto itu erat-erat ke dadanya.
“Kenapa Ayah pergi secepat ini…”
Tangisnya pecah.
Selama beberapa menit ia hanya berdiri di sana, memeluk foto itu sambil menangis.
Rasa kehilangan itu seperti lubang besar di dalam dadanya.
Namun saat ia meletakkan foto itu kembali ke meja, sesuatu menarik perhatiannya.
Sebuah map cokelat yang sedikit terbuka di laci meja.
Elena mengerutkan dahi.
Ayahnya biasanya sangat rapi dengan dokumen.
Jarang ada sesuatu yang dibiarkan terbuka seperti itu.
Dengan rasa penasaran, Elena menarik map tersebut keluar.
Awalnya ia hanya berniat menutupnya kembali.
Namun saat matanya membaca baris pertama dokumen itu…
Tubuhnya membeku.
“Transfer dana… proyek pembangunan… pengalihan anggaran…”
Elena mengerutkan kening.
Tangannya mulai membalik halaman berikutnya.
Angka-angka besar memenuhi dokumen itu.
Jumlah uang yang sangat besar.
Dan semua itu terlihat seperti…
Penggelapan dana.
“Tidak mungkin…”
Suara Elena bergetar.
Ia membuka halaman lain.
Dan halaman lain.
Semakin ia membaca, semakin wajahnya pucat.
Ini bukan sekadar kesalahan administrasi.
Ini adalah korupsi besar-besaran.
Jumlahnya mencapai miliaran.
Namun yang membuat jantung Elena hampir berhenti berdetak adalah halaman terakhir.
Sebuah laporan singkat.
Tentang seseorang yang “dihilangkan” karena mengetahui terlalu banyak.
Elena membaca nama itu.
Dan laporan tentang bagaimana orang itu dibunuh.
Tangannya langsung gemetar hebat.
Dokumen itu jatuh dari tangannya ke lantai.
“Tidak…”
Elena mundur beberapa langkah.
Matanya penuh ketidakpercayaan.
“Tidak mungkin…”
Ayahnya adalah orang yang selalu ia kagumi.
Seorang pejabat yang dihormati banyak orang.
Bagaimana mungkin…
Bagaimana mungkin semua ini benar?
“Ayah… ini tidak mungkin…”
Air matanya kembali jatuh.
Namun sebelum ia sempat memikirkan semuanya—
BRAK!
Suara keras dari pintu depan rumah membuat Elena tersentak.
Beberapa pria masuk ke dalam rumah dengan langkah tegas.
Di depan mereka berdiri seorang pria berkacamata dengan jas rapi.
“Siapa kalian?” tanya Elena dengan suara gemetar.
Pria itu menunjukkan kartu identitasnya.
“Kami dari KPK.”
Jantung Elena seperti jatuh ke perutnya.
“Kami datang untuk melakukan penyitaan terhadap seluruh aset milik almarhum Daniel Arman.”
Elena menatap mereka dengan kaget.
“Apa maksud kalian?”
Pria itu berkata tegas.
“Bukti korupsi terhadap ayah Anda sudah cukup kuat.”
“Seluruh harta yang berkaitan dengan kasus ini akan disita negara.”
Kepala Elena terasa berputar.
“Tidak… ini pasti salah…”
Namun para petugas sudah mulai bekerja.
Mereka memeriksa ruangan.
Mendokumentasikan barang-barang.
Seolah rumah itu sudah bukan miliknya lagi.
“Elena Daniel Arman.”
Pria berkacamata itu kembali berbicara.
“Anda juga harus meninggalkan rumah ini.”
Elena menatapnya dengan tidak percaya.
“Apa?”
“Rumah ini termasuk dalam daftar aset yang disita.”
“Tidak!”
Elena berteriak marah.
“Ini rumahku!”
Namun pria itu tetap tenang.
“Saya mengerti ini sulit bagi Anda.”
“Tapi hukum tetap berlaku.”
Elena menggigit bibirnya keras.
Air mata jatuh lagi.
Dalam waktu kurang dari satu minggu…
Ia kehilangan ayahnya.
Kehormatan keluarganya.
Dan sekarang…
Rumahnya.
---
Malam itu.
Elena duduk sendirian di sebuah klub malam.
Lampu warna-warni berkedip di sekelilingnya.
Musik keras menggema.
Namun semua itu terasa jauh.
Di depannya sudah ada beberapa gelas kosong.
Elena meneguk minuman lagi.
Cairan pahit itu membakar tenggorokannya.
Namun ia tidak peduli.
“Tambahkan lagi,” katanya pada bartender.
Pria itu menatapnya ragu.
“Kau sudah minum banyak.”
Elena tertawa pahit.
“Aku masih bisa bayar.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari tasnya.
Bartender akhirnya menuangkan minuman lagi.
Di sudut ruangan klub itu, seorang pria duduk diam.
Alden.
Ia memperhatikan Elena sejak beberapa menit lalu.
Ia tidak berniat datang ke klub malam malam ini.
Namun sesuatu tentang gadis itu membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
Ia mengenalinya.
Putri pria yang ia bunuh.
Elena tampak jauh berbeda dari malam itu.
Lebih rapuh.
Lebih hancur.
Alden meneguk minumannya pelan.
Ia tidak tahu kenapa masih memperhatikan gadis itu.
Namun tiba-tiba dua pria mabuk mendekati Elena.
“Hey cantik…”
Salah satu dari mereka menyeringai.
“Kau sendirian?”
Elena menatap mereka dengan mata setengah mabuk.
“Pergi…”
Namun pria itu justru tertawa.
Tangannya mencoba meraih bahu Elena.
“Jangan galak begitu…”
Elena mencoba berdiri.
Namun tubuhnya terlalu lemah karena alkohol.
Pria itu menarik tangannya kasar.
“Lepaskan aku!”
Elena berteriak.
Namun musik keras menenggelamkan suaranya.
Pria itu mulai menariknya ke arah lorong belakang.
“Ayo kita bicara di tempat yang lebih sepi…”
Saat itulah kursi Alden bergeser.
Ia berdiri.
Beberapa detik kemudian—
TANG!
Pria yang memegang Elena tiba-tiba jatuh ke lantai.
Wajahnya memar.
Alden berdiri di depannya.
Tatapannya dingin.
“Lepaskan dia.”
Pria kedua mencoba menyerangnya.
Namun dalam satu gerakan cepat, Alden menjatuhkannya juga.
Dua pria itu langsung kabur setelah melihat tatapan Alden.
Elena hampir jatuh.
Namun Alden menangkapnya sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
“Kau…”
Elena menatapnya dengan mata mabuk.
Namun penglihatannya terlalu kabur untuk mengenali wajahnya.
Alden menghela napas pelan.
Ia membawa Elena keluar dari klub.
Udara malam yang dingin menyentuh wajah mereka.
Elena bersandar lemah padanya.
“Kenapa…” gumamnya setengah sadar.
“Hidupku jadi seperti ini…”
Alden tidak menjawab.
Ia hanya memasukkan Elena ke dalam mobil.
Beberapa waktu kemudian mobil itu berhenti di depan sebuah rumah kecil.
Rumah sewaan murah yang Elena tempati setelah diusir dari rumah lamanya.
Alden membantu Elena keluar dari mobil.
Namun saat mereka berdiri di depan pintu rumah itu…
Elena tiba-tiba menatap wajah Alden.
Untuk beberapa detik.
Matanya menyipit.
Seolah mencoba mengenali sesuatu.
Lalu ia berkata dengan suara lemah.
“Kau…”
Alden berhenti bergerak.
Dan Elena berbisik pelan.
“Aku pernah melihatmu… kan…?”