Bab 5
Di Bawah Hujan
Angin laut berhembus pelan di pantai.
Langit cerah.
Suara ombak bergulung tenang di kejauhan.
Namun ponsel di tangan Alden membuat suasana santai itu berubah.
Pesan dari Victor masih terpampang di layar.
"Tentang gadis yang kau biarkan hidup malam itu."
Alden menatap layar itu tanpa ekspresi.
Selama beberapa detik ia tidak membalas.
Wanita-wanita di sekelilingnya masih tertawa, bercanda, dan menikmati matahari.
Namun bagi Alden, semua itu tiba-tiba terasa jauh.
Ia akhirnya bangkit dari kursi pantai.
“Aku kembali sebentar,” katanya singkat.
Salah satu wanita mencoba menahannya.
“Sudah mau pergi?”
Alden hanya mengambil ponselnya.
“Ada urusan.”
Ia berjalan menjauh dari pantai menuju balkon hotel yang lebih sepi.
Di sana, ia menekan nomor Victor.
Beberapa detik kemudian panggilan itu terhubung.
Suara Victor terdengar santai di ujung telepon.
“Akhirnya kau menjawab juga.”
“Apa maksud pesanmu?” tanya Alden langsung.
Victor terkekeh pelan.
“Kau tidak perlu khawatir.”
Alden menyipitkan matanya.
“Bicara jelas.”
Victor menghela napas.
“Kasus pembunuhan Daniel Arman sudah ditutup.”
Alden terdiam.
“Media sekarang sibuk dengan hal lain,” lanjut Victor. “Setelah semua dokumen korupsi itu dibuka ke publik… perhatian orang-orang berubah.”
Alden mengerti maksudnya.
Ketika seorang pejabat ternyata terbukti korup, kematiannya sering kali tidak lagi dipandang sebagai tragedi.
Melainkan sebagai karma.
Victor melanjutkan dengan nada santai.
“Sekarang justru banyak orang yang berkata pria itu pantas mendapatkannya.”
Alden menatap laut di depannya.
“Jadi?”
“Artinya kau aman.”
Victor tertawa kecil.
“Aku bilang apa? Menghilang sebentar adalah langkah yang tepat.”
Alden tidak menjawab.
Namun Victor tiba-tiba berkata lagi.
“Aku punya pekerjaan baru.”
Alden langsung menolak.
“Aku belum kembali.”
Victor mendesah dramatis.
“Kau selalu begitu.”
“Tidak.”
Alden menatap cakrawala.
“Aku belum selesai beristirahat.”
Victor terdiam beberapa detik.
Namun kemudian suaranya berubah sedikit lebih serius.
“Pekerjaan ini besar.”
“Bayarannya tiga kali lipat.”
Alden tetap tidak tertarik.
Victor akhirnya berkata dengan nada lebih santai lagi.
“Pikirkan saja dulu.”
“Tidak.”
Jawaban Alden pendek.
Victor tertawa pelan.
“Baiklah… tapi jangan terlalu lama berlibur.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan satu kalimat lagi.
“Dunia kita tidak pernah benar-benar memberi libur panjang.”
Panggilan itu terputus.
Alden menurunkan ponselnya perlahan.
Ia berdiri di balkon itu beberapa saat.
Namun entah kenapa pikirannya kembali pada satu hal.
Elena.
Gadis yang hidupnya mungkin sedang hancur sekarang.
Alden menghela napas pelan.
Itu bukan urusannya.
Ia kembali ke pantai.
Kehidupan santai itu kembali menyambutnya.
Namun jauh di dalam pikirannya, ada sesuatu yang terasa sedikit mengganggu.
---
Sementara itu di kota yang jauh dari pantai—
Langit dipenuhi awan gelap.
Hujan mulai turun sejak sore.
Elena berdiri di depan sebuah rumah besar.
Rumah itu milik salah satu teman lamanya.
Dulu mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Berbelanja.
Pergi ke pesta.
Bahkan liburan bersama.
Elena menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.
Seorang wanita muda muncul.
Namun begitu melihat Elena, ekspresi wajahnya langsung berubah.
“Elena?”
Suaranya terdengar kaku.
Elena mencoba tersenyum meskipun matanya lelah.
“Hai…”
Ia menggenggam tangannya sendiri dengan gugup.
“Aku… ingin bicara sebentar.”
Wanita itu terlihat ragu.
“Ini tidak lama,” tambah Elena cepat.
Wanita itu melirik ke dalam rumahnya.
Lalu kembali menatap Elena.
“Ada apa?”
Elena menelan ludah.
“Aku… sedang kesulitan.”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Aku butuh bantuan.”
Wanita itu menghela napas panjang.
“Elena…”
Nada suaranya berubah tidak nyaman.
“Kau tahu kan situasi sekarang?”
Elena mengangguk pelan.
Namun ia tetap berkata.
“Aku hanya butuh tempat tinggal sementara.”
“Beberapa hari saja.”
Wanita itu menggeleng cepat.
“Maaf.”
Elena membeku.
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
Wanita itu terlihat kesal.
“Semua orang tahu ayahmu koruptor sekarang.”
Elena menunduk.
“Kalau orang tahu kau tinggal di rumahku…”
Ia tidak melanjutkan kalimat itu.
Namun maknanya sudah jelas.
Wanita itu perlahan menutup pintu.
“Maaf, Elena.”
Klik.
Pintu itu tertutup tepat di depan wajahnya.
Elena berdiri diam beberapa detik.
Hujan mulai turun lebih deras.
Namun ia tetap berdiri di sana.
Air hujan membasahi rambut dan pakaiannya.
Setelah beberapa saat, Elena berjalan lagi.
Ia mendatangi rumah teman lain.
Dan teman lain.
Namun jawabannya selalu sama.
Penolakan.
Beberapa bahkan tidak membuka pintu.
Ada yang langsung berkata dari balik jendela.
“Kami tidak mau terlibat masalah!”
Dan ada yang bahkan berkata lebih kejam.
“Keluargamu sudah menghancurkan negara!”
Kalimat-kalimat itu seperti pisau yang terus menusuk hati Elena.
Padahal dulu…
Ia sering membantu mereka.
Membayar makan mereka.
Memberi hadiah mahal.
Namun sekarang tidak satu pun dari mereka yang peduli.
Akhirnya Elena berhenti di tengah jalan.
Hujan turun deras.
Lampu jalan menyala samar.
Tubuhnya gemetar kedinginan.
Ia tidak punya uang lagi.
Motor satu-satunya sudah dijual minggu lalu.
Uang itu bahkan sudah hampir habis.
Elena menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Tangisnya pecah.
“Ayah…”
Suaranya tenggelam oleh suara hujan.
“Apa yang harus aku lakukan…”
Ia benar-benar tidak tahu harus ke mana lagi.
Langkahnya terasa kosong saat berjalan di jalan yang basah.
Mobil-mobil melintas cepat di jalan raya.
Lampu mereka menyilaukan di tengah hujan.
Elena berhenti di tepi jalan.
Ia menatap arus kendaraan itu dengan mata kosong.
Sebuah pikiran gelap muncul di kepalanya.
Jika semuanya berakhir sekarang…
Mungkin semua rasa sakit ini juga akan berakhir.
Tidak ada lagi rasa malu.
Tidak ada lagi kesepian.
Tidak ada lagi penderitaan.
Elena melangkah maju sedikit.
Lampu mobil mendekat dengan cepat.
Suara klakson terdengar keras.
Namun Elena tidak bergerak.
Hingga—
SCREEECH!
Sebuah mobil berhenti mendadak tepat di depannya.
Pintu mobil terbuka keras.
Seorang pria keluar dengan wajah marah.
“Apa kau gila?!”
Elena terkejut.
Ia mengangkat kepalanya perlahan.
Lampu jalan menerangi wajah pria itu.
Dan pria itu menatapnya dengan tajam.
Untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Hujan masih turun deras di antara mereka.
Lalu pria itu berkata dengan suara dingin.
“Kalau kau ingin mati…”
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya menyipit.
“…jangan lakukan itu di depan mobilku.”
Elena menatapnya dengan mata merah karena menangis.
Dan tanpa ia sadari—
Pria yang berdiri di depannya sekarang…
adalah orang yang membunuh ayahnya.