Bab.2 Membalas Dendam

1192 Words
  Firdaus seperti telah masuk ke dunia yang baru, di kepalanya berputar pot perunggu berkaki tiga, berkilau kemerahan dan memiliki banyak tulisan yang tidak dia pahami di permukaannya.   "Langit dan bumi ada di tempat yang sama, hanya terpisah jarak. Pot kecil ini menggabungkan langit dan bumi, ia dapat menggabungkan segala sesuatu, serta dapat menumbuhkan segala sesuatu, dapat memperbanyak segala sesuatu, dapat memurnikan segala sesuatu......"   Sebaris kata muncul di depan matanya.   "Pot kecil, langit bumi yang kecil, kemakmuran untuk ribuan tahun. Anda sekarang adalah penguasa langit dan bumi, langit dan bumi dalam kuasa Anda......"   Kemudian banyak sekali pengetahuan mengalir masuk ke dalam kepala Firdaus.   Pot kecil telah menjadi dunianya sendiri, dia adalah penguasa dari pot kecil, dan juga penguasa langit dan bumi, segala sesuatu yang ada di dalamnya, ada di dalam kendalinya.   Gerakan bela diri, ramalan, pengendalian hidup dan mati, ilmu pengobatan tradisional......   Firdaus yang terkejut tiba-tiba berteriak dan perlahan sadar.   "Tanda tangan! Segera tanda tangani ini! Jika tidak, aku akan membiarkan anakmu mati di sini!" Teriak Talib.   Melanny memohon sambil berlinang air mata, "Murlani, kami tidak perlu lagi uang ini, cepat bawa saja Firdaus ke rumah sakit, ya?"   Plak!   Talib menampar mulutnya, "Hei orang tua, apakah kamu bodoh? Sekarang anakmu lah yang merusak pot perunggu kakakku seharga empat milyar, kalian lah yang berhutang sebesar dua milyar kepada kami, mengerti?"   Sudut mulut Melanny berdarah, "Keluarga kami sudah miskin seperti ini, bahkan jika aku menandatanganinya, aku juga tidak punya uang untuk membayar kalian, haruskah kalian begini?"   “S*al, kenapa begitu banyak omong kosongnya?" Talib sekali lagi menendang Melanny.   Melanny memegang perutnya yang kram kesakitan, tak dapat berbicara.   Murlani yang duduk di kursi membalikkan tangannya dan memperhatikan cincin berliannya, ada kebanggaan di dalam matanya.   Talib bahkan lebih bersemangat lagi, dia mengangkat kaki dan hendak menginjaknya.   “Berhenti!” Firdaus tiba-tiba melompat dan bangkit dari tempatnya berbaring.   Talib berhenti, melihat ke arah Firdaus, lalu mendengus dingin, "S*al, orang ini belum mati?"   Firdaus berlari mendekat, sambil menopang ibunya, dia berteriak dengan marah, "Kalianlah yang s*alan!"   Heh!   Talib mencibir, "Ayo! Lanjut pukuli dia, aku akan memberi hadiah, jika mati aku yang akan bertanggung jawab!"   Beberapa pekerja yang tadi memukuli Firdaus, seperti baru saja memakai doping, dan sekali lagi berkumpul memukulinya.   Salah satu pekerja mengepalkan tangan kanannya menjadi sebuah tinju, menatap Firdaus dengan menghina, "Tak disangka ternyata kamu cukup tahan banting, mari kita lihat apakah akan sekuat besi?"   Setelah mengatakan itu, tinjunya langsung mengarah ke Firdaus.   Meskipun Firdaus mendapatkan kekuatan dari pot kecil, dia tidak bisa bela diri, hanya secara refleks menangkap tinju yang mengarah padanya   Peng!   Kretek!   Suara renyah tulang yang patah membuat Melanny memejamkan matanya ketakutan.   Setiap pekerja itu bisa mengangkat beban seberat ratusan kilogram, mereka memukuli lengan kurus Firdaus, bukankah lengannya akan patah?   Dia mengira, lengan Firdaus lah yang patah.   Hanya saja, detik berikutnya terdengar tangis kesakitan, namun itu bukanlah suara Firdaus.   Melanny buru-buru membuka matanya, dia melihat lengan pekerja yang tadi akan memukul Firdaus patah, tulangnya menusuk keluar dari kulitnya, menembus siku belakangnya, darahnya berceceran kemana-mana, tulangnya tebal dan keras.   Empat pekerja lain yang melihat kejadian itu, terdiam di tempat, tertegun.   Firdaus melangkah maju dengan cepat, kedua tangannya masing-masing mencekik leher seseorang dengan erat.   Peng!   Kedua orang yang dicekiknya itu bertabrakan, darah mereka berceceran.   Ratapan terdengar dimana-mana!   Deg deg!   Tubuhnya jatuh lemas ke tanah.   Saat melihat situasi yang kurang baik itu, kedua pekerja yang tersisa berbalik dan kabur.   Firdaus melangkah lebar, menendang kaki kanan salah satu dari mereka.   Kretek!   Kaki kanannya retak, dan pria bertubuh pendek itu jatuh ke tanah, memeluk kakinya yang patah dan menangis kesakitan.   Satu yang tersisa beruntung dapat melarikan diri.   Firdaus mengabaikannya, lalu menoleh ke arah Talib   Tangan Talib saat ini sedang ada di dalam pakaian wanita cantik yang tadi bersamanya, dan dia lupa mengeluarkannya.   Yang lebih menyedihkan adalah--   Karena gugup dan ketakutan dia memegangnya dengan kuat.   Ah……   Wanita itu berteriak, menyadarkan Talib.   Talib menguluarkan tangannya, "Hei! Kamu melukai orang, dasar tak berguna! Aku akan membuatmu menghabiskan hidupmu di penjara."   "Pengecut masih berani memberontak, dan masih ingin dipuji? Mimpi kau."   "Segera berlutut dan minta maaf padaku, lalu patahkan tangan dan kaki ibumu, maka aku akan melepaskanmu."   Wajah Talib penuh dengan kesombongan, meskipun situasi saat itu menakutkan, tetapi dia tetap saja begitu arogan.   Di matanya, Firdaus hanyalah seorang pengecut tidak berguna, apa yang bisa dia lakukan?   Hanya dengan satu kalimat, dia menjadi terkejut.   Murlani yang awalnya gugup akhirnya mulai tenang kembali dan kemudian tertawa, "Melanny, anakmu baru saja melukai orang, dia harus dipenjara!"   Wajah Mellany tegang, dia baru akan berbicara, mata Firdaus penuh dengan aura ingin membunuh, matanya yang dingin setajam elang, dan dia melangkah ke arah Talib.   Talib yang tidak takut melangkah maju, "Hei! Ayo, pukul aku! Kalau kau berani memukulku, aku akan membuat sisa hidupmu sia-sia! Semua...... "   Ah……   Sebelum dia selesai berbicara, Firdaus langsung mencekik lehernya dengan tangan kanan dan membuatnya berteriak.   Talib ingin melepaskan dirinya, tetapi dia sama sekali tak bisa melakukannya.   Detik berikutnya—   Dengan satu tangan Firdaus melempar tubuh Talib hingga melengkung di udara, dan membantingnya dengan kuat ke tanah, seluruh vila seperti ikut bergetar.   Aduh!   Sebelum tangisan Talib selesai, Firdaus telah memukulnya belasan kali.   Talib yang tadinya berwajah seperti monyet, seketika telah berubah menjadi seperti babi yang gemuk.   "Bukankah kau tadi memukulku dan ibuku? Kemarilah! Pukul lagi!"   Firdaus mengangkat kakinya dan menginjaknya dengan ganas. Dengan bunyi 'Kretek', pergelangan tangan Talib patah, tangannya menjadi seperti seonggok daging giling.   Lolongan kesakitan Talib bergema dengan keras di seluruh vila.   Tak lama, Talib segera berteriak agar berhenti. "Firdaus, aku mohon lepaskan aku!"   Kelugasan Firdaus membuat nyali Talib menciut.   Tentu saja—   "Maaf, masih ada yang terlewat."   "Jangan!Tolong jangan!" Talib memohon ampun dengan ngeri.   Sudut mulut Firdaus mencibir, dia mengangkat kakinya, dan menurunkannya dengan keras.   Kretek!   Ah……   Talib begitu kesakitan hingga seluruh postur wajahnya bergeser.   "Begini baru cukup!"   Ah……   "Dia membunuh orang!" Wanita itu berteriak dan akan melarikan diri.   Boom!   Firdaus menendang wanita itu hingga terbang,dia langsung menabrak dan menghancurkan kaca Land Rover baru, tubuhnya seperti seonggok daging, dia pingsan, dan perlahan merosot, hanya meninggalkan bekas berbentuk jaring laba-laba di kaca mobil dan suara alarm keamanan yang berbunyi degan keras.   Talib benar-benar terkejut dan tanpa sadar mengompol.   Firdaus menatap Murlani, "Masih tidak mau membayar hutang kepada keluarga kami?"   Murlani daritadi sudah ketakutan, melihat Firdaus, kedua kakinya gemetar, mulutnya gemetar dan dia tidak bisa berbicara.   "Bayar! Semuanya dibayar!" Talib ketakutan, dan menjawab lebih dulu.   "Kalau begitu berikan uangnya sekarang!"   "Aku, aku tidak punya uang sebanyak itu!"   Talib hampir menangis, Paman dan bibi Firdaus yang berhutang uang, kan? Dia menoleh ke arah kakaknya, Murlani.   Murlani menggeleng dengan cepat, "Aku, aku tidak punya uang sebanyak itu."   "Berapa banyak yang kamu punya?"   "Semuanya ada di dalam tas!"   Firdaus membuka tas Murlani, di dalamnya ada dua ratus juta rupiah. "Dua ratus juta ini adalah biaya rumah sakit aku dan ibuku hari ini."   "Ya, benar." Murlani dan Hamdu terus menganggukkan kepala.   "Dengar baik-baik! Dua milyar, tidak kurang satu perak pun, bunganya terserah, jika kurang, akan dibayar dengan kedua kakimu."   Setelah Firdaus selesai berbicara, dia mengangkat tangannya untuk menepuk wajah Talib, dan menatap Murlani dengan waspada.   Talib sekarang hampir mati kesakitan, tidak berani melawan, dan dia terus mengangguk.   Murlani juga mengangguk karena ketakutan.   Firdaus mengambil uang itu, memapah ibunya, dan melenggang keluar dari Villa.   Hanya satu kata: Lega!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD