Bab.8 Berulang-ulang Kali

1087 Words
  Tiga sosok berotot yang sangat familiar!   Sejak "menikah" dengan Zairawati, dia cukup beruntung untuk berkenalan dengan tiga orang ini.   Ketiga orang ini seperti hantu kecil yang terus bergentayangan, mereka datang untuk memukulinya tiga kali dalam sebulan..   Firdaus sangat ingin melawan, tetapi dia bukan lawan mereka, dia juga teringat ayahnya yang membutuhkan biaya rumah sakit, sehingga dia tidak berani melukai orang, dan tidak berani melawan.   Dengan begini, selama tiga bulan, dia sudah dipukuli sebanyak sembilan kali, dan hari ini adalah pertemuan ke sepuluh mereka.   Bisa disebut berulang kali, tapi bagi Firdaus, ini disebut bertubi-tubi.   "Hamid, patahkan semua tangan dan kaki orang ini, kuberi kau dua milyar."   "Orang ini tidak memiliki siapapun di belakangnya, dia hanya menantu bayaran, parasit tak berguna!"   "S*al! Berani mematahkan tanganku, kau harus membayarnya!"   Melihat adanya konflik antara Hamid dan Firdaus, Karim menjadi lebih percaya diri, dia berjalan ke samping Hamid dan ikut memakinya.   Ketika Hamid dan kedua anak buahnya mendengar hal itu, mata mereka seketika berbinar——   Dua milyar?   Kali ini diberi dua ratus juta juga tak apa, tetapi ini, dua milyar——   Benar-benar murah hati!   Tiba-tiba mereka menjadi sangat bersemangat.   Seorang anak buahnya menertawai Firdaus, menggoyangkan pipa di tangannya, "Hei, kamu terlahir sebagai samsak ya, kenapa banyak sekali orang yang ingin menghabisimu?"   Ekspresi Firdaus tidak berubah, "Orang banyak yang kau bilang, bukannya cuma tiga orang?"   Anak buah yang lain mengangkat alisnya dan mencibir, "Yo! Sejak kapan kau menjadi sangat kuat begini? Ku ingat kau selalu memeluk kepala dan berguling di lantai seperti pengecut, gerakannya sangat terampil, seperti sudah dilatih."   Haha...   Ada satu kata yang mengundang tawa.   Pengecut?   Firdaus sangat tertekan.   Huh!   Sambil menyeringai, "Apakah kau tidak tahu, hari ini berbeda dengan yang biasanya?"   Hamid mengerutkan kening, "Kenapa kalimat ini terdengar familiar?"   "Hamid, bukankah ini dialognya Penebang Vick?"   “Haha, kalau begitu kali ini kalian adalah Briar dan Bramble, beri dia pelajaran!" Hamid memerintahkan anak buahnya sambil tertawa gila.   "Baik!" Setelah itu, mereka berdua maju selangkah, "Maju! Tutupi kepalamu, berbaring di lantai, kami akan menghajarmu, sampai kepalamu botak."   Anak buah itu mengayunkan pipa baja di tangannya sambil mengancam.   "Hamid, suruh anak buahmu pukul dengan keras, pukul sampai aku puas, dan aku akan membayarmu!"   Tangan Karim yang patah terus menerus membuatnya kesakitan, dia baru akan puas jika Firdaus dihajar habis-habisan.   Lalu—   Brak! Buk!   Dua suara keras terdengar berturut-turut.   Dua anak buah yang masing-masing berbobot setidaknya 75 atau 80 kilogram menjadi seperti karung yang ditendang oleh Firdaus hingga terbang.   Hamid sedang menyulut korek api untuk menyalakan rokoknya, saat melihat anak buahnya yang terbang, dia terlonjak dan apinya membakar sehelai rambutnya, segera saja ruangan itu dipenuhi bau rambut yang terbakar.   Kedua anak buah itu bahkan tidak sempat berteriak dan langsung pingsan.   "Hei, kau berani memukul anak buah Hamid, habislah kau!" Karim yang melihat Firdaus turun tangan, hatinya gembira, dan berteriak.   Hamid seakan terbangun dari mimpi, korek apinya jatuh, "S*alan! Kau berani memukul! Aku...Ah..."   Sebelum kata-kata ancamannya selesai diucapkan, dia sudah tergantung di udara, tangan dan kakinya bergoyang, dan berteriak terkejut.   Suara Firdaus terdengar dingin, "Katakan! Siapa dua orang lain yang ingin memukulku selain Karim?   Setelah ketakutan Hamid reda, dia dengan tenang berkata, "Hei, lebih baik kau turunkan aku, berlutut dan mohon ampun, lalu beri mereka dua milyar untuk biaya rumah sakit, kalau tidak, aku akan menghabisimu."   "Menghabisiku?"   "Ya! Awalnya Pak Lutfi yang tidak membiarkanmu dipukul sampai mati, makanya masih melepasmu, kali ini Pak Talib dan Pak Karim ingin tangan dan kakimu dipatahkan, jika kau tidak segera melepaskanku, berlutut dan memohon ampun, ku jamin hari ini kau akan menjadi cacat."   Mata Firdaus berkedip dingin, "Dulu kau disuruh Pak Lutfi dan hari ini disuruh oleh Talib, benar kan?"   Melihat Firdaus yang bertanya dengan detail, Hamid menjadi takut, tetapi kepercayaan dirinya datang lagi. "Anggap saja kau pintar! Hari ini disuruh Pak Lutfi dan Pak Talib juga! Jika kau tidak melepaskanku, menyinggung dua bos besar itu, ditambah Pak Karim, besok kau tidak akan melihat matahari Kota Lastoro."   "Begitu rupanya!"   Sosok Lutfi Yastoyo muncul di benak Firdaus, putra dari pamannya Zairawati, cucu kesayangan Amalia Yastoyo, dan juga wakil presiden dari PT. Yastoyo, calon penerus PT. Yastoyo.   Orang dengan otoritas tinggi, dan berkuasa di PT. Yastoyo.   Sebaliknya, Zairawati, di PT. Yastoyo disebut direktur departemen proyek, tetapi sebenarnya dia adalah orang suruhan, pelayan Lutfi.   Sebelumnya, Lutfi memang selalu menghinanya, namun tidak pernah melakukan apapun, tak disangka, dia menusuk di belakang dan menyuruh orang untuk memukulinya.   Tujuannya sederhana-   Membuatnya mati lebih cepat, menjadi tumbal seperti yang seharusnya.   Perasaannya campur aduk.   "Hei! Apa kau takut? Cepat lepaskan, cepat lakukan sesuai yang kusuruh, atau..."   Tak!   "Berisik!"   Hamid belum selesai bicara, tapi Firdaus telah membantingnya, wajah Hamid langsung bersentuhan dengan lantai!   Ah……   Aduh!   Hamid melenguh, berteriak kesakitan dan memuntahkan darah.   Dia baru akan bangkit berdiri, tetapi punggungnya terasa berat, dan dia mengerang, sekali lagi bertabrakan dengan lantai.   Kaki Firdaus seperti batu besar yang menekan punggung Hamid, membuatnya hampir tercekik.   “Berapa banyak uang yang Lutfi dan Talib berikan padamu?" Firdaus bertanya dengan suara rendah yang haus darah.   Hamid masih sangat percaya diri, dia sedikit bergeser, sebuah hawa dingin bertiup di punggungnya, membuatnya bergidik.   Tapi--   "Hei, aku adalah anggota Asosiasi Gojo, cepat lepaskan, mohon ampun dan ganti rugi sekarang, kalau tidak aku akan menghancurkan tokomu."   Tak!   "Aku tak menyuruhmu berbicara!"   Firdaus menendang Hamid hingga terbang.   Ah……   Tubuh Hamid terbang seperti bola.   Tapi--   Sebelum sempat mendarat, Firdaus telah berlari ke depannya, dan menendangnya lagi ke seberang.   Ah……   Hamid bahkan belum sempat berteriak, tetapi Firdaus kembali mengejarnya dan menendangnya lagi.   Ahhhhh!   Hamid terbang di udara seperti karung, Firdaus menendangnya kesana kemari.   "Habislah kau! Organisasi Gojo pasti akan menghabisimu."   "Aku akan membuat kepalamu menjadi pispot lain kali!"   ...   "Huhu... tolong biarkan lepasanlah aku"   Hamid tadinya masih bicara keras dan memakinya, sehingga Firdaus menendangnya semakin keras, akhirnya dia tidak tahan dan memohon ampun kepada Firdaus.   Plak!   Hamid terjun bebas ke lantai, wajahnya sekali lagi mencium lantai, dan sudah bengkak hingga dia tidak bisa melihat dengan jelas.   Hamid hendak bangkit, tetapi setelah mencoba beberapa kali, dia tidak berhasi berdiri!   Firdaus berjalan mendekati Hamid, mengangkat tangan dan memukul-mukul wajah Hamid yang bengkak, "Kau memukulku sepuluh kali, setiap kali dua milyar, sini, beri aku dua puluh milyar."   Apa?   Hamid berteriak kaget, mana ada dia uang sebanyak itu? "Aku, aku hanya memukulmu sembilan kali."   "Bukankah ini yang kesepuluh kalinya hari ini?"   "Aku tidak memukulmu hari ini, kau ..."   Plak!   Firdaus menamparnya, "Bagaimana tidak memukul orang? Aku hanya sedang membela diri."   Rasa sakit yang membara di wajah Hamid membuatnya menelan perkataannya.   Membela diri?   Bahkan dia tidak menyentuhnya, tetapi Firdaus lah yang memukulnya duluan?   Tapi kata-kata ini, dia bahkan tidak berani mengatakannya.   Tendangan Firdaus datang lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD