"Apa harus aku belah hati aku, untuk bukti bahwa namamu telah ku ukir disana." - Marcelino Atmadja
-
"Gimana cara bedain kamu dengan bidadari?" Marcel Gombal.
Pipi Lili memanas seketika mendengar apa yang keluar dari mulut Marcel itu.
"Marcel mah gombal mulu ih." Ucap Lili.
"Aku beneran Sayang. Kamu itu cantik. Bidadari aja kalah." Balas Marcel. Ia berhasil lagi membuat pipi Lili merona.
"A..apa sih Marcel. Yaudah luka kamu udah aku obatin. Aku mau taro kotak P3K ini lagi ke dapur."
"Gak usah! Taruh disini aja. Biar Bi Minah yang naro itu."
"Kasian bi Minah udah tua, kalo harus bolak balik tangga cel."
"Udah , gak apa-apa. Biar bi Minah aja. Itu kan emang tugas dia kali sayang."
"Tapi Marcel, Bi Minah kasihan. Udah berumur." Marcel mulai kesal, Marcel marah.
"KALO AKU BILANG BIAR BI MINAH YA BI MINAH!? BISA GAK SIH KAMU NURUT SAMA AKU? AKU GAK MAU KAMU KECAPEAN NAIK TURUN TANGGA!?" Bentak Marcel.
"Tapi, aku cuma kasihan sama Bi Minah cel. Aku cuma mau naro Kotak P3K ini doang cel. Udah itu aja." Lalu Lili hendak Pergi dari Kamarnya untuk menaruh kotak P3K itu ke dapur. Marcel mengusap gusar Wajahnya lalu mencekal tangan Lili dengan sangat keras. Dan membuat Lili kesakitan. Lalu, membalikkan badannya menghadap Marcel Sambil menunduk. Menahan sakit dipergelangan tangannya.
"LILI! STAY HERE WITH ME PLEASE!? SEKALI INI AJA LO NURUT SAMA GUE BISA GAK HAH?!" Bentak Marcel lagi
Tes, Air mata Lili jatuh "S-sakit."
Lili menangis. Marcel pun meluluh ketika melihat Lili menangis, perasaan sakit dihatinya sangat terasa ketika melihat orang yang ia sayang menangis karena dirinya. Marcel Membawa gadis itu kedalam pelukannya. Lili yang menangis di dada bidang yang dimiliki oleh Marcel.
"Aku minta maaf. Aku gak ada niatan buat bentak kamu dan nyakitin tangan kamu ini. Tapi kamunya gak nurut sama aku." Marcel mempererat pelukannya.
"Maaf, aku lepas kontrol tadi." Ucap Marcel Lagi. Lalu mengambil kotak P3K itu dan mengobati tangan Lili yang merah itu karena cengkramannya. Marcel mengobatinya dengan sangat telaten. Dan Lili hanya diam, karena kesal dengan sifat Marcel yang seperti itu.
"Selesai." Ucap Marcel, lalu mencium pergelangan tangan Lili yang di balut perban itu.
"Yaudah, kamu pulang sana. Udah mau malem juga!" Ucap Lili ketus kepada Marcel.
"Kamu marah sama aku?" Tanya Marcel.
"Entahlah! Aku lagi pengen sendiri. Mau mandi juga. Mau Ganti baju mau istirahat juga!"
"Yaudah aku pulang. Kalo ada apa-apa kabarin aku." Ucap Marcel Seraya mengecup kening Lili. Dan langsung pergi keluar rumah. Tak lama, bi Minah datang membawa es teh manis dua.
"Non? Den Marcel kemana?" Tanya Bi Minah.
"Gak tau bi. Taro aja es nya di atas meja itu. Aku mau mandi dulu."
"Iya non."
--
Malam pun tiba, Marcel yang tengah duduk di balkon sambil sesekali menyeruput cappucino latenya itu. Marcel pun berniat nge-chat gadisnya itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Lili.
Marcel : Malem babe❤.
Lili : jg.
Marcel : masih marah sama aku?
Lili : pikir aja sendiri.
Marcel : jangan marah dong. Aku teraktir kamu es krim nanti besok sebagai ucapan maaf aku ke kamu.
Lili : es krim? Janji ya kamu beliin aku es krim? Aku gak marah deh sama kamu.
Marcel : iya aku janji. Yaudah, tidur sana udah malem. Nanti kamu sakit kalo begadang.
Lili : iya aku tidur ya.
Marcel : yaudah, jangan lupa baca doa. Terus..
Lili : terus?
Marcel : Jangan mimpiin pria lain selain aku.
Lili : iya Marcel. Yaudah aku tidur ya. Good Night Marcel❤
Marcel tidak menjawab pesan yang terakhir dikirimkan oleh Lili. Toh Lili pun hendak tidur. Marcel Mengerjapkan matanya. Ia lapar sekarang. Marcel pun keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur untuk mengambil makannan. Berharap ada yang bisa dimakan disana.
Marcel membuka kulkas yang berpintu 2 itu dan mengambil brownis di dalam kulkas itu, membawanya kek meja yang ada di dapur. Tapi, Marcel melihat ada 2 orang yang tak asing bagi Marcel, ya. Mereka orang tua Marcel.
"Kamu belum tidur nak?" Tanya papah Marcel. Dan Marcel sangat malas menjawab pertanyaan lelaki tua itu.
"Sayang, mamah lapar. Apa kamu mau nyuapin kue itu buat mamah? Kita makan kue itu sama-sama di meja makan?" Ucap Mamah Marcel. Marcel hanya berdehem menandakan bahwa ia setuju. Dengan malas, Marcel pergi ke meja makan sambil membawa kue nya itu dan di susul oleh Orang tuanya. Mereka duduk bersama di meja makan malam itu.
"Marcel, gimana sekolah kamu? Apakah baik-baik saja?" Tanya papah Marcel.
"Baik ko." Balas Marcel acuh tak acuh.
"Ini hal langka, kita bisa makan bersama satu meja bukan? Marcel, jangan merusak suasana okey." Ucap mamah Marcel.
Kring kring kringg
Bunyi ringtone hp Papah nya berbunyi. Dengan sekejap, papahnya mengambil hp dan langsung mengangkat telpon itu. Mungkin dari klien Bodohnya, batin Marcel. Papah Marcel seolah lupa dengan keberadaannya di meja makan itu. Marcel melirik mamah nya, yang kini sedang asyik dengan hp nya.
'Jangan harap mereka akan nganggep lo cel. Lo gak akan pernah di anggap ada oleh mereka!' Batin Marcel.
Marcel mendorong kursinya ke belakang lalu membanting kue itu ke lantai, banyak pecahan kaca yang berserakan disana. Marcel tidak peduli itu, Marcel langsung pergi ke kamarnya. Ia sangat muak dengan keluarganya ia sangat muak.
Gimana rasanya kalo kita ada di sekitarnya? Tapi, mereka tidak mengganggap kalian ada? Sakit bukan? Itulah yang Marcel rasakan setiap harinya. Penyemangat hidupnya itu sekarang cuma satu, yaitu Lili. Lili yang bisa membuatnya bahagia. Lili yang bisa mengerti keadaannua meski seringkali gadis itu menentang perkataannya yang membuat Marcel emosi seketika.
Apa Lili tau masalah yang di alami oleh Marcel? Tentu tidak! Marcel tipe orang yang tidak suka menyebarkan kesedihannya kepada orang lain. Menurutnya, ia tidak memerlukan belaskasihan dari orang lain. Ia hanya butuh orang yang selalu ada di sampingnya. Bukan yang berpura-pura simpati padanya.
Marcel masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintunya keras. Lalu, kembali ke balkon dan mengambil handphone yang tadinya dimeja. Lalu ia mengetikkan sesuatu untuk Lili
"Good sleep my princess❤".
--
Gimana part ini? Seru ngga? Berharap bisa menghibur.