Bab 2

1160 Words
"Laila ada apa nak?" Tanya Ibunya bingung.Ibu baru saja pulang setelah tadi mencari adik Laila yang pergi tiba-tiba karena mengejar penjual es krim keliling. "Bu, Ayah bu,"ucap Laila berurai air mata. "Ayah kenapa La, lalu ini kenapa ramai sekali?" Ibunya semakin bungung melihat kerumunan orang di dalam kamar. "Ayah terjatuh dari tempat tidur dan sekarang tak sadarkan diri, Laila yang memanggil mereka semua untuk membawa ayah ke rumah sakit," ucap Laila sambil terus meneteskan air matanya. "Ke rumah sakit? tapi bagaimana cara membayar biaya rumah sakit ayahmu nanti La, kita kan tidak punya pegangan sama sekali?" Tanya ibunya bingung. "Lalu kita harus apa bu? Tidak mungkin ayah terus dibiarkan seperti ini, sudah ibu tidak perlu khawatir soal biayanya biar Laila yang cari, yang terpenting kita bawa dulu ayah ke rumah sakit!" Laila berusaha menenangkan ibunya, meskipun sebenarnya ia juga bingung harus mencari uang kemana untuk membiayai pengobatan ayahnya.Biaya rumah sakit pasti membutuhkan begitu banyak uang. Setelah sampai di rumah sakit ayah Laila langsung dibawa ke ruang UGD untuk ditangani. "Silahkan mba urus administrasi dulu didepan," ucap seorang suster dengan lembut. "Ba-baik sus!" Laila melangkah dengan kaki gemetar iya sangat khawatir dengan keadaan ayahnya. Ia juga bingung bagaimana caranya untuk mendapatkan uang sebesar itu. "Maaf sus mau tanya soal biaya ayah saya," ucap Laila menghampiri bagian administrasi. "Baik mba sebentar, atas nama siapa?"Tanya suster "Bambang Suyono" "Untuk biaya menginap, tindakan dan obat obatan jadi 5 juta mba," ucap suster bagian administrasi tersebut. "Seketika Laila lemas, bahkan seluruh tabungan akupun tak sebanyak itu," ucapnya lirih. "Bisa didp dulu kan sus?" Tanya Laila berharap ada keringanan. "Boleh silahkan, sisanya nanti ketika pasien akan pulang," kata suster ramah. Selesai dari bagian administrasi Laila, Ibu serta adiknya mundar mandir didepan pintu UGD.Dengan wajah cemas mereka menunggu. ceklek.. Pintu UGD terbuka terlihat seorang Pria paruh baya berjas putih keluar dari sana. "Gimana dok keadaan suami saya?" Tanya Bu Nani langsung menghampiri dokter. "Allhamdulillah keadaannya tidak terlalu parah beliau sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa,"ucap dokter menjelaskan. "Kira-kira kapan ayah saya bisa pulang dok?" Kini giliran Laila yang bertanya. "Kalau kondisinya terus membaik sore ini sudah boleh pulang," ucap dokter."Yasudah kalau begitu saya permisi dulu masih ada pasien," lanjut dokter itu yang langsung pamit kepada Laila dan ibunya. *** Siangnya Dion berdiri di depan rumah Laila, sedari tadi dia mengetuk pintu tapi tak ada yang membuka. "Masih siang kok udah tutup aja," batinnya Warung Laila memang tutup tapi Dion menyangka mungkin sedang libur jualan atau mungkin sudah habis sehingga tutup lebih awal.Namun ketika melihat keadaan rumah yang sepi ia mulai bingung. "Laila kemana? Rumahnya kosong,"gumamnya. "Cari Laila mas?" Tanya seorang wanita paruh baya tetangga Laila. "Iya bu warungnya tumben udah tutup ya?" Tanya Dion. "Iya Laila lagi ke rumah sakit semalem ayahnya drop dan dibawa ke rumah sakit,"ucap ibu itu. "Ohh baik bu terimakasih infonya!" Dion langsung pamit dan pergi menyusul Laila di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit ia celingak celinguk mencari sosok Laila tapi tak kunjung bertemu, mau bertanyapun ia tak tau siapa nama ayah Laila akhirnya ia terus berjalan mencari-cari di setiap lorong rumah sakit. "Kasihan ya bapak itu, seperti nya keluarganya dari kalangan yang kurang mampu," ucap seorang suster yang berjalan dengan temannya. "Iya pedahal penyakit nya sudah lumayan parah tapi tidak mendapatkan penanganan yang seharusnya," timpal suster yang satunya lagi. Dion yang mendengarkan percakapan kedua suster tersebut langsung berpikir mungkin yang dibicarakan itu adalah ayahnya Laila.Dion langsung menuju ruangan tempat kedua suster tadi keluar dan benar saja itu ruangan ayahnya Laila. "La!" Ucap Dion membuat semuanya menoleh. "Loh kamu kok disini ? tahu dari mana?" Tanya Laila heran. "Tadi aku ke rumah kamu, terus kata tetangga kamu lagi ke rumah sakit jadi aku nyusul," ucap Dion yang berjalan mendekat. "Oohh!" Laila mengangguk. "Gimana keadaan ayah kamu?" Tanya Dion. "Udah lumayan baikan, sore ini sudah bisa pulang." Jawab Laila. "Yaudah kita ngobrol diluar aja yu, biar ayah istirahat!" Ajak Laila Dion pun mengikuti. "Kamu kenapa?" Ucap Dion yang melihat raut kebingungan di wajah Laila. "Entahlah aku belum punya uang buat bayar biaya rumah sakit" "Udah kamu gak perlu khawatir soal biaya biar aku yang bayarin dulu," ucap Dion sambil menggenggam tangan Laila. "Gak perlu biar aku coba cari pinjaman lain dulu aja!" Laila tidak ingin merepotkan. "Yaudah anggap aja kamu minjem ke aku, beres kan?" Laila sejenak berpikir . "Makasih ya" "It's okay!" Dion melangkah ke meja administrasi untuk mengurus pembayaran ayah Laila. Ia membayar semua biaya perawatan ayah Laila. Setelah semua selesai Dion kembali ke ruang rawat ayah Laila. "Makasih banyak" Ucap Laila. "Iya santai, udah gak usah makasih terus, kamu udah makan belum?" Tanya Dion saat sampai didepan ruang rawat ayah Laila. Laila hanya menggeleng. "Yaudah kamu tunggu sini aku cari makan dulu" Ucap Dion sambil berdiri hendak ke kantin. "Kamu makan apa?" Tanyanya. "Apa aja terserah" Ucap Laila lirih . "Oke" Dion melanjutkan langkahnya, ia berjalan ke arah kantin dan memesan beberapa makanan untuk dibungkus. "Ternyata dia baik" gumam Laila pelan. "Siapa yang baik?" Celetuk adiknya yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Apa sih de kepo" Ucap Laila cuek. "Kakak pasti suka ya sama kakak ganteng yang tadi? Ngaku deeh" Ucap adiknya. "Dih apaan sok tau kamu" Sebenarnya Laila juga tidak menampik, jika kini hatinya mulai tertarik dengan sikap Dion yang selalu bersikap baik padanya. Tapi Laila juga sadar diri ia tak boleh membiarkan perasaannya. "Nih makanan sama minum huat kamu La" ucap Dion yang baru kembali dari kantin. "Makasih" "Oh iya ini sekalian aku beliin buat ibu sama adik kamu juga, kamu anterin gih ke dalem" Sambung Dion sembari menyodorkan satu paperbag lagi. "Makasih ya, kamu baik banget sama aku Dion" Ucap Laila tersenyum. Dion merasa sangat senang akhirnya dia bisa melihat senyuman Laila yang semanis itu. Baru kali ini Dion melihat pemandangan seperti ini. Pedahal sebelumnya Laila selalu cuek kepadanya. Laila masuk ke ruang rawat untuk mengantarkan makanan yang Dion bawa. Sementara Dion menunggu dikursi depan ruangan. "Bu ini ada makanan dibeliin Dion" Ucap Laila. "Masya Allah baik sekali nak Dion, bilang terimakasih dari ibu ya" kata ibunya. "Iya bu nanti Laila sampein" Laila keluar dari ruangan dan duduk disebelah Dion. Keduanya makan dalam diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Namun sesekali keduanya diam- diam saling menatap . Saat tatapan keduanya bertemu jantung Laila berdebar tak beraturan. Sedangkan Dion , dalam tatapannya tersirat berbagai rencana jahil yang sudah tersusun rapih diotaknya. "Akhirnya dia mulai luluh juga sama gue" batin Dion. Selesai makan Dion pulang bersama Laila juga keluarga nya. Pak Bambang sudah diijinkantapi harus tetap rawat jalan karena kondisinya belum sembuh total. Sebelum pulang Laila juga sudah mengambil beberapa obat resep yang diberikan dokter. Ternyata obat-obatan nya sangat mahal untunglah Dion sudah mengcover semua biayanya termasuk obat obatan. Laila lagi-lagi tersenyum mengagumi semua kebaikan Dion. Dalam hatinya mulai tumbuh benih benih asmara tapi ia belum menyadari itu. Laila hanya merasa mungkin itu adalah sebuah perasaan kagum biasa saja, mungkin karena Dion telah baik dan banyak membantu Laila dan keluarga nya. Bersambung. . . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD