"Assalamu'alaikum Kaf," "Wa'alaikumsalam Bim, tumben subuh lo nelpon. Ada apa?" "Kaf Ray udah nggak ada." Seakan bumi yang di injak Kahfi menjadi seperti air yang mampu menenggelamkannya. Lama Kahfi terdiam tanpa mau berbicara kepada Bima setelah menerima kabar yang membuat dirinya terlihat hancur. "Kita tunggu lo di rumah Ray, ja-jangan ngebut. Perbanyak istigfar. Assalamu'alaikum." Bima tidak jauh dari sahabat yang lainnya. Dia sudah lama menangis seakan masih belum terima dengan keadaan yang tidak berpihak kepada mereka. "Wa'alaikumsalam." Pandangan Kahfi kosong. Air matanya mengalir deras seakan-akan semua yang dia lakukan dengan Ray selama ini berputar bagai kaset rusak. Kahfi sudah pernah berada di posisi ini, posisi dimana Fiyah di ujung kematian. Rasanya sama sangat

