Ucapan Pedas

1755 Words
Jingga Pov. Dapur menjadi tempat keseharianku yang wajib aku kunjungi di pagi hari. Di sini aku tak hanya memasak masakan yang disukai oleh Mei tapi juga mengawasi wanita itu diam - diam. Sebenarnya aku agak deg - degan menunggu Mei turun ke bawah sebab aku tahu dia dalam kondisi mood yang buruk. Percakapannya di telepon dengan Kevin kurasa sudah menyulut amarah yang entah bagaimana cara dia untuk melampiaskan kekesalannya. Mungkin saja aku yang menjadi sasarannya saat ini. Tap. Tap. Suara langkah turun dari tangga terdengar mengetuk lantai. Dia memakai sendal menuju ke dapur dan melipat tangan di depan dadaa. Tatapan sinis ia hadiahkan sambil bersandar di tembok. "Heh bisa ngak masak lebih cepet! Buat apa aku ngak ngusir kamu kalau kamu ngak berguna!" sinis Mei. Sesuai dugaan mood nya sedang buruk. Aku menatap Mei sekilas, berhasil menangkap riasan di wajahnya yang tebal. Rupanya ia turun dengan make up yang sudah sempurna. Namun ia hanya memakai kimono tidur yang tak sosok dengan make up maksimalisnya. "Cepetan taruh meja makan. Aku sudah lapar." sekarang ia menuju ke kulkas. Dia mengambil apel dan menggigitnya kuat - kuat. Sikapnya juga tak lagi anggun seperti yang dulu ia perlihatkan pada setiap orang. Lihat saja, sikapnya jauh berbeda dari ketika ada Kevin di sampingnya. Tanpa adanya pria yang mampu membuat kaki wanita terbuka lebar itu, Mei melepas topeng kemunafikan yang selalu ia pasang. Sekarang ia menjadi dirinya yang pembenci dan terganggu dengan semua hal. Dia bahkan mengomentari apel yang ia makan. "Apel ini juga kurang segar. Semuanya di sini membuat mataku sakit. Lantai kotor, kamu yang masak ngak selesai - selesai. Enaknya rumah ini di rombak aja." Aku sebenarnya tidak ingin mendengarkannya, tapi telinganya tidak tuli sehingga tidak mendengar ia mengoceh. Jadi saat menata makanan yang sudah jadi di piring, aku hanya menulikan pendengaran melihat ejekannya. "Tsk, kamu emang mirip ibumu ya? Wajah pas - pasan. Tubuh ngak bagus - bagus amat. Kamu juga cuma bisa masak dan bersih - bersih rumah, tapi kok..." Aku ingin tertawa kala ia tak bisa menyelesaikan ucapannya. Dia pasti tidak mau bilang kenapa Kevin suka merayuku meski tubuhku ia katakan pas - pasan. Mengenai pendidikan, Mei memang tidak tahu aku sudah lulus kuliah meski masih diploma. "Sudahlah kamu memang ngak cantik kok. Habis itu cepat pel rumah sebelum Kevin datang. Aku ngak mau nyewa pembantu padahal ada kamu di rumah ini." "Iya Bi." Hanya itu yang bisa aku katakan. Aku tak tersinggung saat ia menghina penampilanku yang apa adanya. Berbeda dengannya yang full suntikan atau oplas sehingga nampak mengerikan. Meski semua badanku serasa rontok setelah membersihkan rumah ini, aku sama sekali tidak keberatan. Aku yakin jika suatu saat nanti Mei akan ceroboh dan membuatku menemukan bukti pembunuhan yang ia lakukan. Sarapan sudah aku tata di piring. Mei bangkit dari kursi lalu mendekat arahku dan memeriksa apa yang ada aku masak. Dia tidak bersuara dan kembali duduk di meja makan. Tanpa sadar aku berdiri menunggu reaksinya terhadap masakanku yang sama sekali tidak membuatnya terkesan. Dan karena ia diam saja aku menaruh semua masakanku ke meja makan. "Fiuhhh akhirnya selesai juga," desahku lirih. "Heh apa yang kau tunggu? Cepetan ngepel!" perintahnya. Setelah mengatakannya mulutnya bergerak - gerak mengunyah emping yang aku goreng. Pagi ini aku memang memasak gado - gado yang sesuai dengan diet Mei. Tanpa berkata apapun, aku mengambil pel dan mulai membersihkan lantai pertama. Aku menuju kamar mandi lantai bawah dan bertemu dengan Mang Asep. "Mang, kenapa membawa pel?" "Stth, sudah Non. Biar mang Asep aja yang ngepel di atas. " Kebaikan hati mang Asep berkali - kali membuatku terharu. Dia sudah sering membantuku diam - diam, dan kali ini ia mengepel bagian yang tidak terlihat oleh Mei. Aku membawa timba berisi air, kain pel dan sapu. Sebelum aku pel, lantai rumah aku sapu terlebih dahulu. Setelah bersih dari kotoran aku mulai mencelup kain pel, kuperas dan mulai mengepel. Mei yang tadinya diam melihatku sibuk mulai mendekat ke arahku dan melewati lantai yang aku pel. Dengan sengaja ia membuang serpihan emping sembarangan, pastinya ia ingin pekerjaanku tidak selesai dengan cepat. Menyadari aku melihat remahan emping yang ia buang, Mei menyeringai ke arahku. "Apa yang kau lihat? Bersihkan donk. Memangnya buat apa kamu numpang di rumahku," gerutu Mei sambil mengemil emping dan membuangnya sedikit sedikit. Dia mengangkat sudut bibirnya seolah mengejek ketidakberdayaan ku. 'Rumahnya ya? Benar - benar gila harta. Padahal ia tahu jika rumah ini hasil kerja keras ayahku bersama ibuku.' Tanpa banyak membantah, aku menaruh pel dan kembalo mengambil sapu untuk membersihkan lantai rumah yang ia kotori. Brum. "Oh, Kevin datang!" Pekik Mei senang. Dia nampak bahagia seolah lupa penyebab dari mood nya yang buruk. Sikap seenaknya Mei berakhir begitu mendengar suara mobil Kevin datang dari pagar depan, yang langsung membuat Mei menuju kamar dan memperbaiki make upnya. Sedangkan aku, masih harus menyapu lantai yang dikotori Mei. Kemudian kembali mengepel sisa lantai yang belum aku pel. "Non lantai dua sudah saya pel. Non habis ini beristirahat saja," ucap mang Asep. "Makasih mang Asep." Aku merasa bersalah karena mang Asep ikut - ikutan bekerja. Aku tahu dia kasihan padaku dan aku tak memberitahunya kalau semakin aku nampak menderita maka Mei akan semakin lengah. Dan aku bisa mendapatkan bukti rencana pembunuhan Mei. Dia pun segera pergi menghilang ke tempatnya biasa menunggu perintah. Pada saat Kevin masuk ke rumah, Mei sudah memakai pakaian super seksi yang hampir mempertontonkan bagian - bagian pribadinya. Dengan langkah seperti peragawati ia mendatangi Kevin yang baru sampai di pintu masuk. Akan tetapi Kevin justru berwajah datar dan dingin, bahkan terkesan jijik pada Mei. Benar - benar sikap yang aneh. Itu bukan urusanku, aku lebih memilih menghindari mereka berdua. Langkah kakiku aku pacu menuju ke lantai tiga yang hanya ada kolam renang dan taman di rooftop. Di sini aku juga bisa melihat tanaman yang dulu ibuku rawat saat sebelum kemunculan wanita ular itu. "Jingga!" Teriak seseorang. Rencanaku buyar kala suara itu terdengar memanggil. Ditambah langkah kaki yang berbarengan dengan suara laknat itu semakin jelas mengetuk lantai. Aku tahu harus menghindari Kevin jika ingin fokus untuk menemukan bukti pembunuhan Mei. Sebab semakin lama aku bisa kehilangan tujuanku jika berlama - lama dengan Kevin dan mengikuti semua yang ia mau. Saat bersama dengannya aku lebih fokus menikmati Mei yang terbakar cemburu dari pada mencari bukti pembunuhan ayahku. Energiku terasa terisi penuh kala amarah berkobar di dadanya yang dengan susah payah menahan kecemburuannya. Aku bersembunyi di pojok dan berpura - pura merawat tanaman. Berharap manusia genit itu tidak menemukanku di sini. "Hei, kenapa kau ada di sini? Aku yakin jika kau belum sarapan. Jadi ayo kita sarapan dulu," ajak Kevin. Bagaimana bisa ia menemukanku. Ah lupakan, tempat ini tidak terlalu tersembunyi. Hanya saja aku cukup terkejut melihatnya bisa sampai ke sini hanya demi menjemputku untuk sarapan. Mei menggigit bibirnya entah kenapa. Mungkin dia malu ketahuan Kevin sudah membuatku memasak tanpa menyuruhku makan. "Tidak usah Daddy. Aku belum lapar..." Kruyuk. Kruyuk. Perutku lebih jujur dari mulutku. Mereka berbunyi di saat yang tidak tepat. Momen ini sangat memalukan. Kulihat Kevin melirik sinis pada Mei. Dan Mei memasang wajah terkejut tanpa dosa menghampiriku. "Kalau lapar kenapa ngak makan Jingga. Ayo kita makan dulu," ajak Mei yang kembali memasang topeng seperti malaikat. Kurasa inilah saatnya menujukkan pada Mei agar ia lebih yakin jika aku gadis bodoh. Jadi aku menolak lembut tawaran sarapan dengannya. "Aku belum mandi Bi. Jadi aku mandi dulu akh!" Kali ini tindakan Kevin sungguh tak terduga. Dia menggendongku sebelum aku selesai mengatakan alasan penolakanku. "Kau sangat rewel ya? Apa kau tidak tahu jika dilarang membantah perintah orang tua? " Kevin yang menggendongku ala bridal style sama sekali tidak memikirkan perasaan istrinya. Dari balik bahu Kevin yang luar biasa berotot, aku bisa melihat jari - jari kuku Mei yang mengepal menatap punggung suaminya. Bibirnya manyun ke depan bersama tatapan mata yang berapi - api karena cemburu. Sekali lagi aku ingin menertawakan wanita yang dengan percaya dirinya menganggap dirinya tinggi karena berhasil merebut ayahku dari ibuku, tapi harus merasakan kecemburuan karena suaminya lebih memanjakanku dari pada dirinya. Ups hampir saja aku lupa berakting agar tidak membuat Mei curiga. "Daddy, a- aku akan sarapan. Jadi turunkan aku ya?" Mei segera mendukung keinginanku. Dia merayu Kevin agar menurunkanku, yang jelas tindakan Kevin ini sangat romantis jika dilakukan pasangan. "Sayang, Jingga benar. Kan ngak baik dilihat orang kalau kamu menggendong Jingga. Mereka bisa mengira kalau Jingga sakit," tutur Mei dengan suara yang kalem dan manis. Akan tetapi jawaban dari Kevin justru menohok Mei. Pria itu tanpa memikirkan perasaan Mei langsung mengatakan apa yang ia rasakan. "Memangnya ada orang lain selain kita? Bukankah aku kemarin memintamu membawa pelayan, tapi kau justru mengaku - ngaku mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Kau kira aku mudah kau bohongi?" Hardik Kevin. "Itu..." Mei tidak bisa berkata - kata kala belangnya ketahuan. "Tak hanya itu, kau bahkan mengaku - ngaku memasak gado - gado untukku. Padahal aku tadi tanya berapa cabe yang kau gunakan saja ngak tahu. Kalau begini terus, kau tidak akan menginjakkan kakimu di rumahku sebagai nyonya rumah Pratama," cecar Kevin. Pratama? Astaga, itukan nama perusahaan yang sudah go internasional. Aku harus mengagumi kehebatan Mei yang bisa menggaet Kevin menjadi suaminya. Tak banyak wanita yang memiliki keberuntungan itu, apalagi wanita yang sudah menjadi janda. Dalam ayunan pelukan Kevin, aku memikirkan ribuan alasan kenapa pria ini mau menikahi Mei. Padahal ada banyak wanita yang kaya, antri untuk menjadi istrinya. Dan jangan bilang jika Kevin mau menikahi Mei karena cinta. Itu akan membuatku tertawa. Sikap yang ditunjukkan Kevin sama sekali tidak mencerminkan sikap pria yang jatuh cinta. Kami kembali di meja makan yang sudah aku tata sejak pagi. Bentuk meja oval membuat kursi terbagi menjadi sisi kiri dan kanan. Sekali lagi Kevin ada disampingku meninggalkan Mei kursi bagian lain. "Nah Jingga, kau makan yang banyak ya? Kau kan masa pertumbuhan. Bukan wanita yang udah mau lapuk." Eh? Lapuk?... Apa barusan ia menyindir Mei. Lama - lama aku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Lihat saja wajah Mei yang memerah karena marah, dan aku yakin dia juga sangat malu. Padahal tadi ia menghina penampilanku tapi sekarang suaminya mengatakan ia lapuk. Suatu saat aku akan membongkar motif pernikahan kalian. "Mei, kau harus ke kantor untuk memeriksa perusahaan almarhum Karim. Apa kau mau perusahaanmu bangkrut karena tidak ada yang mengawasi. Jangan bilang kau mau hidup enak seperti lintah yang tahunya hanya menyedot uang," ucap Kevin lagi. "Tentu saja, aku memang ingin mengunjungi perusahaan. " Meskipun Mei tersenyum, ekspresi wajahnya jelas tersinggung. Akhirnya aku mendapat tontonan yang bagus di pagi hari. Selain itu aku juga bisa mengunjungi Nada saat Mei nanti ke perusahaan. Aku ingin meminta pendapat Nada untuk semua ini. Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD