"Wah..wah... bagaimana ini? Lihatlah, kalian seperti sedang bercermin andai saja baju seragam kalian tidak berbeda" takjub Hendra saat melihat kedua putri kembarnya duduk dihadapannya, sedangkan Santi hanya terkekeh melihat reaksi sang suami yang menurutnya sangat berlebihan padahal, Hendra setiap hari melihat kedua putri kembarnya seperti ini.
"Paman terlalu berlebihan!!" sanggah seseorang yang disetujui sikembar dengan anggukan kepala mengundang delikan mata Hendra protes tak terima. Namun baru saja akan membalas ucapan keponakannya, sang istri sudah melerai.
"Sudah-sudah jangan bertengkar nanti kalian bisa terlambat. Ayo lanjutkan sarapan kalian. Rossa, Rossi kalian mau sarapan roti atau nasi goreng" lerai Santi kepada anak sepupunya Rosmalla Pradita atau sering dipanggil Mala. Ya dan sikembar itu adalah Rossa Kamilla dan juga Rossi Kasandra.
"Roti"
"Nasi goreng, aku mau nasi goreng" jawab Rossi sangat antusias berbeda dengan Rossa yang hanya menjawab dengan satu kata. Dan itu sudah menjadi hal biasa bagi keluarga mereka. Si Rossa yang dingin dan irit bicara dan juga Rossi yang ceria tentunya berbanding terbalik dengan sang kakak yang beda beberapa menit itu. Dan pada saat itu mereka tengah sekolah kelas tiga smp dan Rosmalla kelas satu SMA.
Dan begitulah sarapan pagi yang damai keluarga sikembar walau sesekali baik Hendra maupun Mala saling bersenda gurau bahkan Santi dan Rossi sering menimpali berbeda dengan Rossa yang hanya diam dan tersenyum kecil mendengar candaan keluarganya dipagi itu. Bahkan Rossa sendiri tak mendapatkan pirasat apapun pagi itu, firasat yang akan terjadi dimana selanjutnya akan merubah keadaan bahkan sifat semuanya.
Kejadian yang bahkan tak pernah semuanya duga akan terjadi dimana sebelumnya mereka baik-baik saja bahkan tertawa dengan candaan yang terlontar. Kejadian dimana merupakan kunci dari semuanya. ternyata tertawa berlebihan memang tidak disarankan karena konon katanya kesedihan akan menimpanya, dan itu akan dirasakan oleh sikembar dalam beberapa waktu kedepan.
"Kami berangkat dulu!!!" teriak ketiganya lebih tepatnya Rossi dan Mala kepada Hendra dan Santi yang kebetulan mereka tengah libur dari kerjanya.
"Ya hati-hati dijalan, cepat pulang dan jangan nakal" balas Santi sedikit berteriak yang diacungi jempol ketiganya.
"Aku tak menyangka mereka sudah besar, bahkan rasanya baru kemarin aku memakaikan popok pada sikembar dan memakaikan baju pada Mala" gumam Santi pada suaminya.
"Hm, akupun merasakan hal yang demikian denganmu. Berarti kita sudah tua ya?" canda Hendra yang dapat cubitan dari Santi di pinggangnya, dan tak berapa lama keduanya pun langsung tertawa dan memasuki rumahnya. Tanpa tahu apa yang menimpa mereka beberapa jam yang akan datang setelah mereka masuk kedalam rumah.
Beda halnya dengan seorang gadis yang kini tengah merasa marah kepada semuanya termasuk kepada sang ayah. Gadis ini meminta kepada orangtuanya untuk dibelikan sebuah villa dengan harga fantastis, yang tentu saja ditolak oleh sang ayah karena harganya yang memang sangat mahal.
"Aku gak mau tahu ayah!! Aku menginginkannya!! Atau aku akan berbuat nekat dimana kalian akan merasakan malu yang tak terkira" ancam gadis itu kepada orangtuanya dengan berani dan tak main-main.
"Dengar, ayah akan membelikannya jika kau sudah lulus nanti. Bahkan kau sudah beberapa kali tak naik kelas dan sekarang kau meminta ayah untuk membelikan sebuah villa yang mahal? Bahkan kau mengancam ayah? Tapi tetap saja ayah tidak akan membelikannya untukmu" jelas sang Ayah menolak secara mentah permintaan anaknya. Bukan karena tak menyayangi putrinya, namun ia lakukan hal ini sebagai pelajaran supaya putrinya tidak terlalu manja dan berlebihan.
"Baiklah, kalau begitu jangan salahkan aku kalau kalian akan malu nantinya" kembali sang gadis mengancam dan pergi meninggalkan kedua orangtuanya tanpa mau mendengar panggilan dari sang ibu yang sudah dilanda rasa khawatir mengingat betapa keras kepala putrinya itu.
"Ayah, bagaimana ini? Ibu takut" adu sang istri dipelukan sang suami itu.
"Tenang saja, anak itu mungkin hanya menggertak kita supaya keinginannya terlaksanakan. Nanti juga akan kembali jika dia sudah reda amarahnya" ucap sang suami menenangkan sang istri tercinta walau dalam lubuk hatinya paling dalam ia terus berdoa supaya anaknya tidak melakukan hal yang macam-macam karena ia tahu, bahwa putrinya itu tidak pernah mengingkari apa yang akan diucapkannya.
"Liat saja aku akan membuat kalian malu dan menuruti semuanya. Akan aku pastikan itu" gumam sang gadis yang kini tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata tanpa memikirkan pengguna jalan lainnya. Hingga, kejadian yang tak diinginkan terjadi. Ia menabrak sesuatu saat ia akan membelokan mobilnya disebuah belokan yang sepi.
"Apa itu?" tanya gadis itu cemas sambil melihat kaca spion untuk melihat orang yang ia tabrak. Karena tak jelas, gadis itu memundurkan mobilnya hingga suara "krak" terdengar membuat gadis itu lagi-lagi dilanda cemas dan takut.
"Aku, aku tak mau dipenjara. Sebaiknya aku pergi dari sini, mumpung tak ada orang yang melihatnya" gumam sang gadis penuh ketakutan saat ia turun dari mobil untuk melihat keadaan orang itu yang menurutnya hanya satu. Padahal korbannya dua orang dan satu lagi tak sengaja terlindas saat ia memundurkan mobilnya.
"Bukan aku pelakunya, bukan aku" gadis itu terus menggumamkan kalimat itu dengan wajah pucat dan tangan gemetar. Bahkan bayang-bayang seorang laki-laki yang tak sengaja terlindas terus memutar dikepalanya. Tubuhnya tremor parah dan terus meracau bukan dirinya yang menyebakan mereka meninggal.
Ditempat kejadian, tanpa gadis itu tahu seorang pemuda dengan seragam biru putihnya melihat kejadian tragis itu tanpa terlewat. Bahkan ia sempat akan mengejar mobil itu, namun panggilan seorang wanita membuat ia mengurungkan niatnya.
"Suamiku, nak tolong kami. Selamatkan kami, dan juga suamiku" ujar perempuan paruh baya itu dengan darah disekujur tubuhnya. Ia menangis tersedu-sedu saat melihat tubuh suaminya yang hancur karena terlindas. Dan ia rasa percuma meminta diselamatkan kepada pemuda itu, karena ia merasakan nafasnya juga semakin lama semakin melemah.
"Mas Hendra" gumam wanita paruh baya itu sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia sempat mengucapkan nama suaminya itu.
Ya, mereka berdua adalah Santi dan Hendra orang tua dari Rossa dan Rossi, dan juga pemuda itu adalah Azka Crossy Edward teman satu sekolah Rossa dimasa sekarang. Semula sepasang suami istri yang niatnya hendak berjalan-jalan sebentar ternyata berakhir begitu mengenaskan. Azka sendiri merasa bingung harus seperti apa, namun dalam hati ia akan memburu orang yang sudah menyebabkan kedua orang tua sahabatnya meninggal tanpa pertanggungjawaban.
"Aku akan membuat dia merasakan hal yang sama, aku akan melakukannya. Bahkan jika nyawa adalah taruhannya aku akan memberikannya. Pegang janjiku" sumpah seseorang saat berada dipemakaman Hendra dan Santi dengan pandangan penuh kebencian dan dendam.