"Hallo Tammy, Lo udah nyampe?"
"Udah nih, buruan ah. Lama!"..
"Ah elah. Bentar dua puluh menit an lagi.."
"Lama banget. Gila!"
..........................
******
Ketika ada peluang disitulah harapan akan terjadi. Satu yang harus di lakukan yaitu percaya. Percaya bahwa tidak ada yang mustahil, semua nya akan terjadi dalam semalam jika memang sang kuasa berkehendak.
Erlin adalah harapan satu-satunya dari pasangan laelani dan roup. Kedua orangtuanya sangat menaruh harapan besar kepadanya agar menyempurnakan keluarga nya. Entah apa yang kini menjadi pikiran sang kakak, yang sampai saat ini belum juga menormalkan dirinya kembali seperti awal.
"Hay girls..... w*****p broooo hahahahhahaha"
"Buruan ah, ngemeng mulu minum yuk..."
"Sorry ya gue telat"
"Yah, Lo udah biasa kayak gini..."
"Hahahahahahahahha"
Tepat jam delapan malam. Kurang lebih sudah dua tahun Iran tidak pernah bertemu dengan teman-teman nya saat satu kantor dulu. Di hari yang tepat ini, Iran menemui teman-teman nya untuk melepaskan rindu yang sudah lama terbendung. Di tempat karaoke lah mereka bertemu dan menghabiskan waktu.
"Eh Lo, gimana kabarnya ran?"
"Gue?. Hahahaha baik-baik aja"
Sudah tiga jam Iran menghabiskan waktu, menyanyi, menghabiskan minuman dan tertawa melepas beban. Iyah, belakangan ini Iran selalu kena omelan sang ibu, Laelani. Yang membuat nya pusing dan risih.
"Aneh banget si lu, tam. Baru nanya kabar setelah tiga jam berlalu hahahaha" saut Fadilo
Semuanya merasakan happy yang sekian lama terlupakan, Tummy, Renggo,Sabila, Fadilo, Darisa, Trita, dan tujuh teman lainnya.
Semuanya saling bertukar tawa, pengalaman dan cerita. Namun mereka semua belum mengetahui akan sifat aslinya Iran terkecuali Tummy, Iran yang kini sudah berbeda. Sebenarnya Iran sudah lama mengidap penyakit ini. Namun ia mengabaikan nya hingga akhirnya ia tidak bisa mengabaikan nya lagi. Satu persatu teman-teman Iran berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Kini tinggal Iran dan Tummy juga Renggo dan Fadilo. Mereka berempat adalah kawan dekat saat sekantor dulu. Yang saat ini sudah berpindah kantor dan berpencar.
Tummy adalah sahabat Iran yang sudah tahu dan menyadari sifat Iran, begitulah Tummy sangat dekat dengannya. Untungnya dengan penyakit yang Iran alami saat ini tidak tertular kepadanya. Padahal awalnya Iran seperti ini dikarenakan seseorang yang menghasut pikiran hingga ia melakukan hal diluar nalar. Yah Iran Gunawan adalah penyuka semua lawan jenis. Ia mencintai laki-laki begitupun wanita.
"Ran..?" Tammy mendekatkan dirinya dan berbisik
"Hm?" Singkat Iran yang tengah sibuk membalas chat...
"Hemm Lo,___"
"Eh, tam. Bentar ye pacar gue Dateng" Potong Iran
"Hah? Disini?" Heran tammy
"Iyah, Lo. Kalo mau pulang duluan. Duluan aja. Ok!" Iran melanjutkan dengan menghabiskan minuman nya.
"Guys gue duluan ya, bye..." Lanjut Iran.
"Ah gak seru nih.. ya hati-hati Lo," sahut Renggo..
Tammy tengah kebingungan. Karna ia tahu pacar Iran bukan hanya satu laki-laki namun wanita pun ia jadikan pacar. Tammy yang menyentuh dahi dan memejamkan mata, ia berfikir ingin rasanya merubah Iran agar normal seperti sedia kala.
..............................................
*******
"Wah gila ya Lo, Lin." Zaki menggelengkan kepala.
"Hahahaha. Gue gak nyangka sama diri sendiri woi. HAHA" Erlin tertawa lepas
"Apaan si kalian? Gue gak ngerti b*go" syali yang dari tadi bingung dengan tingkah kedua sahabatnya
"Hahahaha, gini-gini. Jadi___ balblablablabla...." Panjang lebar Zaki menjelaskan nya.
"Owalah. Kok Lo baru bilang si Lin? Terus gimana Tio? Lo bakal putusin dia?" Syali adalah orang yang menjodohkan Tio dengan Erlin, sangat akan mengecewakan jika hasilnya akan kandas. Jam menunjukkan sepuluh malam, sudah tak terasa mereka bertiga menghabiskan waktu hingga selarut ini. Begitu lah mereka. Waktu adalah hal yang sangat penting dan berharga denga kebersamaan ini mereka manfaatkan karna suatu saat nanti jika sudah menikah tentu akan berbeda cerita lagi.
"Ya enggaklah, cuman gue____" Langkah nya terhenti. Kedua sahabatnya yang sedang memerhatikan seketika heran kebingungan keduanya saling pandang seakan menanyakan 'kenapa?' lalu merekapun berhenti dan menatap mengikuti pandangan Erlin yang terpaku ke arah didepannya.
"Kak Iran?" .....
Nadanya bergetar, mata nya berbinar seketika Erlin menangis. Tubuhnya kaku dan mematung. Kini mereka bertiga menyaksikan pemandangan yang sangat menjijikkan. Bagaimana mungkin Iran yang tengah melakukan ciuman penuh dengan hasrat di lorong jalan yang sepi. Saling menyentuh tubuh satu sama lain, wajar saja jika memang Iran mencium laki-laki tapi saat ini Iran sedang melakukan perannya yang mencintai wanita. Wanita bertubuh langsing dan rambut sebahu tengah menyentuh kakak nya.
Kedua sahabat Erlin kaget dengan kejadian ini, Zaki yang melirik Erlin sementara syali melongo, jangan kan syali Erlin sang adik nya saja kaget, meskipun ia sudah mengetahui nya namun baru kali pertama ia menyaksikan nya dengan mata kepala sendiri. Zaki sesegera mungkin membalikkan badan kedua sahabatnya dan mengajaknya untuk lari dari lokasi yang tak seharusnya mereka tonton.
"Eh comon-comon.... Gak seharusnya kita disini, ini salah jalan. Ayok SYAL..."
Tubuhnya lemas, bahagia yang ia alami seketika menjadi Sambaran petir yang mampu menghancurkan dalam waktu sedetik. Pikiran nya sudah semrawut entah kini sangat-sangat rumit, apa? apa yang harus Erlin lakukan?... Ketika kakak kandung nya seperti ini.
Apa yang akan ia katakan kepada kedua orangtuanya? Sungguh kini ia sangat kebingungan. Sangat bingung sungguh.
"Eh, kalian duluan aja. Aku bisa kok pulang sendiri" Erlin mengusap air mata nya.
"Enggak-enggak Lo, harus kita antar sampai rumah. Ok" tegas Zaki.
Ketiganya memang sama-sama kaget dan shok tapi mereka harus pintar-pintar mengambil sikap agar tidak menyinggung perasaan Erlin.
Sampai lah mereka di apartemen Erlin.
"Makasih ya, kalian hati-hati"
"Lin, Lo___ baik-baik saja kan?" Tanya syali yang sangat bingung harus berucap apa.
Dengan kejadian tadi sangat tidak mungkin Erlin akan baik-baik saja, tentunya ia sangat hancur kini hati, jiwa semuanya kacau.
"Iyah Li, aku masuk yah bye" Erlin berjalan menuju lobi dan lalu melambaikan tangan nya "dah....."