Udara di luar makin mencekam, bongkahan salju mulai memadati jalanan. Untung saja sudah dua hari ini kampus diliburkan, kalau tidak Lea tidak habis pikir dengan semuanya. Bisa saja dia hipotermia di tengah-tengah aktivitas mengingat salju terkadang turun dengan lebatnya.
Sekarang ini tepat pukul dua siang Lea masih saja bergelung di bawah selimutnya yang tebal sedang asyiknya menonton serial komedi di televisi. Suara tertawa khas seorang komedian menjadi daya tarik acara tersebut.
Di saat sedang asyiknya mengunyah makanan, ponselnya berbunyi. Dicarinya dengan malas di mana benda itu tergeletak dan mengganggu acara santainya.
Dahinya mengernyit heran, nomor tak dikenal mengiriminya sebuah pesan singkat. Menimbang-imbang ingin membalas atau tidak. Dengan segala keberanian yang ada ia membalas pesan tersebut.
Maaf, siapa?
Tanpa menunggu beberapa detik kemudian balasan sudah sampai di ponsel nya.
Nick.
Belum tersadar dari terkejutnya balasan serupa memborongnya.
Aku sedang menuju rumahmu. Bersiaplah.
Demi Tuhan, Lea mengumpati Nick habis-habisan. Ia tidak mengerti jalan pikiran Nick, sebelumnya dengan nomor yang tidak dikenal seseorang mengiriminya pesan yang berisi ingin mengajaknya ke suatu tempat. Dan sekarang bahkan Lea belum menjawab mau atau tidaknya perihal ajakan Nick. Dan dengan tegasnya Nick memerintah Lea untuk bersiap-siap karena pria itu sudah menuju kerumahnya.
Tunggu!!
Bagaimana pria itu bisa tahu alamat rumahnya, sedangkan Nick tidak pernah mengantarkan Lea pulang atau semacamnya. Gotcha! Lea ingat, pasti ia mendapatkannya dari data diri mahasiswa.
Rektor sialan, mengganggu hari liburku, dengus Lea.
*
"Apa aku mengganggu waktu liburmu?" Nick melirik ke samping kanan. Ekor matanya memperhatikan Lea yang sedari tadi bermuka masam.
Sudah tahu. Mengapa bertanya! Tanpa mau menjawab, Lea hanya mengumpat dalam hati. Mukanya semakin masam jika mengingat kejadian sebelum mereka pergi tadi.
Lea yang sudah selesai berganti pakaian, terkejut melihat kakaknya sedang berbicara pada Nick. Dari cara menatapnya, Grace seakan-akan ingin memakan Nick hidup-hidup. Ah, jangan salahkan Nick yang hanya memakai pakaian santai berbalut mantel tebal sudah membuat kaum hawa merasakan indahnya dunia. Baru kali ini pula Lea melihat Nick menanggalkan pakaian formalnya.
Tidak, Lea tidak cemburu melihat Grace seakan mengajak bicara Nick. Tapi ia merasa aneh dengan hatinya yang tiba-tiba bergolak marah. Dengan lebih saksama memperhatikan kedua manusia itu Lea yakin Nick juga jengah dengan topik pembicaraan kakaknya dilihat dari wajah Nick yang hanya menampilkan kesan datar dan acuh.
Dibidiknya kamera ponsel Lea ke arah wajah Nick. Ya, Lea suka gaya seperti itu di mana Nick mencoba menoleh membelakangi Grace yang ada di sampingnya.
Dapat! semringah Lea.
Dengan cepat Lea memasukkan kembali ponselnya dan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia beruntung mempunyai lemari kaca di sisi ruang tamu untuk tempat persembunyiannya mengambil diam-diam gambar Nick.
"Kurasa iya." Lea sedikit tersentak atas perkataan Nick.
"Lupakanlah." Lea berkata sambil mengetatkan mantel coklatnya, pandangannya menerawang jauh melihat salju yang turun.
"Jika kau ingin fotoku lebih banyak, aku bisa memberikannya." Nick melirik Lea sinis dibalik kacamata hitamnya. Sudut bibirnya terangkat sebelah, seperti sedang mencemooh perbuatan Lea.
"Tapi aku lebih senang kau seperti itu, manis sekali.” Nick mengusap kepala Lea dengan sebelah tangannya. Ah, kau sangat menggemaskan.
Lea tersentak saat tangan kanan Nick mendarat di kepalanya, seperti ada aliran listrik yang menyengat. Dengan segera Lea sedikit menjauh mendekati kaca jendela dan bersandar.
Ia tak ingin termakan rayuan maut rektornya itu. Ia yakin Nick hanya akan mempermainkannya. Mana ada pria dewasa yang tertarik dengan bocah akhir belasan tahun macam dia. Yang pasti pria semacam Nick lebih menyukai wanita yang lebih pengalaman di bidang apa pun termasuk di ranjang.
"Aku yang seperti apa maksudmu, Sir?" Lea menoleh menatap wajah Nick yang memandang Lurus ke jalanan. Jika ia memiliki permohonan di penghujung tahun ini, hanya ada satu yang akan ia pinta. Daya tahannya terhadap pesona Nick. Apalagi dengan bakal janggut yang memenuhi rahang pria itu, melengkapi segala kesempurnaan yang ada pada Nick.
"Jika kita hanya berdua panggil aku Nick." Nick melepas kaca matanya dan menaruhnya di dashboard.
"Tapi itu tidak sopan." Lea meringis mendengar penuturan Nick. Ia juga merasa kurang sopan jika memanggil pria itu dengan sebutan nama. Sedangkan mungkin saja mereka mempunyai jarak usia yang banyak.
Nick mendengus mendengar balasan Lea. "Tidak sopan seperti ini maksudmu?"
Entah sejak kapan Nick melepas sabuk pengamannya dan mulai mendekati Lea. Kedua tangannya seakan mengunci tubuh gadis itu. Nick semakin memajukan wajahnya, matanya menatap tajam bibir mungil Lea.
Lea yang menyadari akan kejadian di perpustakaan beberapa waktu lalu akan terulang lagi semakin pucat. Tidak ia tidak ingin kejadian itu kembali lagi, ia bukan gadis murahan yang mengobral tubuhnya untuk pria yang baru dikenalnya. Lea menutup rapat kedua matanya ia ingin menangis rasanya, jika mengingat sikap Nick yang suka m***m tapi terkadang kembali ke sifat otoriternya.
Nick yang melihat Lea menutup rapat kedua matanya hanya bisa mendengus geli. Ia meniupkan pelan rambut-rambut Lea yang menutupi sebagian kecil wajah gadisnya. Dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Mau sampai kapan kau bersikap begitu?"
Lea merasa pipinya memanas saat tiupan nafas Nick mengenai seluruh wajahnya. Ia tidak berani membuka matanya sampai suara itu menginterupsi. Dan sekarang ia baru sadar bahwa mobil yang ditumpanginya sudah berhenti dan terparkir dengan sempurna di sebuah bangunan klasik. Ya Tuhan, ia baru sadar bahwa saat ini ia sedang dikerjai. Sial.
"Mulai sekarang aku tidak suka mendengar kau mengumpat di depanku, Lea.”
Tanpa mau membalas ucapan Nick Lea segera bergegas cepat meninggalkan Nick yang ada di belakangnya. Lea menyusupkan kedua telapak tangannya di saku mantel. Uh, jika saja si pengganggu ini tidak mengajaknya ke suatu tempat Lea yakin bahwa ia sekarang sedang berada di bawah selimut tebal sambil meminum cokelat hangat kesukaannya.
"Aku tahu kau kedinginan." Nick berjalan di samping Lea dan merangkul pinggangnya dengan tangan kanannya.
Lea terkejut dengan perlakuan Nick. Sebenarnya ia merasa nyaman di dekapan Nick tapi ia gugup sekarang ditambah lagi debaran jantungnya belum normal semenjak kejadian tadi.
"Kau hangat sekali." Lea mengucapkan pelan di ujung telinga Nick.
"Ya, karena aku berbeda denganmu." Nick membalas dengan menunduk berbisik di telinga Lea. Nafasnya seakan menggetarkan seluruh tubuh Lea.
*
Lea memandang ke depan pemandangan kota sore hari. Salju yang semakin lama semakin banyak turun dari langit. Tapi setidaknya penghangat restoran ini cukup membantu untuk menghangatkan tubuhnya.
"Aku dengar kau juga mengurus suatu perusahaan selain toko bungamu itu?" Nick menyesap espresso-nya.
"Ya, perusahaan peninggalan mendiang kedua orang tuaku. Perusahaan kecil tapi cukup untuk membantu semua karyawan menafkahi keluarganya.” Lea berkata sambil tersenyum memandang Nick.
Nick melihat senyum tulus Lea merasa tersentak, ia merasa tidak pernah melihat Lea senyum seperti itu. Seperti senyum seseorang. Nick mencengkeram sebelah tangannya yang berada di bawah meja.
"Apa nama perusahaanmu?"
"Greena Co.”
"Bukankah itu nama perusahaan yang beberapa bulan kemarin hampir mengalami kebangkrutan?" ucap Nick menaikkan sebelah alisnya merasa heran.
"Yaa ... dan sekarang aku memulainya dari awal." Lea tersenyum kecut.
"Dari yang aku tahu bukankah perusahaanmu itu selalu mengalami kemajuan yang sangat pesat. Dan sekarang dengan tiba-tiba ada berita yang menyiarkan itu semua.”
"Bukankah kita hidup seperti roda yang selalu berputar. Anggap saja yang kemarin aku sedang berada di bawah." Lea kembali menyesap cokelat hangatnya.
"Tadi kau bilang, kau yang akan memulainya dari awal. Bukankah kau mempunyai kakak?" Nick semakin penasaran dengan kehidupan Lea. Secara tidak sadar ia menjadi pria yang banyak bicara.
"Kurasa kau ingin tahu sekali kehidupanku, Sir." Lea terkikik geli melihat wajah Nick yang memandangnya dengan tajam.
"Lupakanlah." Nick dengan kasar menyenderkan badannya di sofa.
"Dia kakak tiriku. Ayahku menikah dengan ibunya sekitar lima tahun lalu. Dan karena merekalah perusahaan ayahku mengalami semua itu." Lea ikut menyenderkan tubuhnya di sofa panjang bulat itu, tepatnya di samping Nick.
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan uang. Tapi sikap mereka terhadap warisan ayahku tidak bisa kutorerir lagi." Nick melihat kemarahan mendalam dalam diri Lea.
"Apa kau tidak takut terhadap mereka?"
"Takut dengan mereka? Yang benar saja!" Lea mendengus.
"Kurasa mereka yang sepatutnya takut terhadap diriku. Mengingat aku ahli waris, dan bisa menendang mereka kapan saja," sambung Lea sambil menyesap minumannya.
"Kurasa kau perempuan tangguh, hm?" Nick memandang Lea dengan mata birunya. Seakan terhipnotis dengan tatapan Nick, Lea mengedarkan kembali pandangannya ke depan melihat pemandangan kota yang sepi akan lalu lalang kendaraan. Ia tak tahan melihatnya.
"Pengalaman yang mengajarkanku.”
"Pengalaman yang seperti apa?" Nick kembali bertanya, seakan akan ingin mengorek semua informasi tentang gadis di sampingnya ini.
Lea mengerutkan keningnya sambil sekilas menatap Nick. Pria ini bisa dikatakan termasuk pria yang ingin mengetahui hidup orang lain, pikirnya.
"Lupakanlah, Sir. Jadi untuk apa kau mengajakku ke restoran ini. Ku yakin pasti ada sesuatu dibalik semua ini."
"Jauhkanlah segala pikiran burukmu terhadapku, Gadis Kecil. Aku hanya ingin menikmati waktu bersamamu, apa itu salah?" Nick tersenyum tulus melihat wajah Lea yang tiba-tiba memerah. Seketika tangannya mengacak lembut rambut Lea.
"Memangnya aku siapamu?" Lengan Nick melingkari tubuh Lea. Tangannya mengelus lembut lengan Lea yang tertutup mantel, seakan-akan menambah kehangatan untuk Lea.
"Kau akan tahu jawabannya, Sayang," jawab Nick berbisik di telinga Lea sambil sesekali menciumnya. Lea yang mendapat perlakuan seperti itu hanya mencengkeram erat mantel yang dikenakan Nick.
"Apa kau tidak ingin makan sesuatu, Lea?" Nick sedikit menjauhkan tubuhnya tanpa melepaskan kontak fisik pada gadisnya.
"Tidak, Sir ...."
"Nick, Lea!" Perintah Nick penekanan di akhir kalimat.
“Tapi—
"Atau kau akan mendapat hukuman yang tidak kau duga sebelumnya." Nick menyeringai mengancam Lea. Lea yang hanya mendengar ucapan Nick hanya bisa menelan salivanya.
"Kau pria pemaksa, ya!”
**
Wanita berambut cokelat di sudut ruangan sedang memperhatikan interaksi satu pasangan yang sedang asyik nya berbicara. Dilihat dari caranya berbicara mungkin banyak yang mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Mereka terlihat serasi, tapi ia menampik itu semua. Ia merasa tidak rela.
Tangannya semakin mengepal dan wajahnya memerah kala sang pria dengan posesifnya melingkari tubuh sang wanita. Geraman halus terdengar jika orang memperhatikan secara detail dirinya. Matanya menyorot tajam melihat setiap aksi pria itu terhadap gadis di sampingnya.
Tiba-tiba hatinya mencelus saat pria itu menatap dirinya dengan lirikan yang datar, apalagi saat sang pria membisikan sesuatu dan sesekali mencium gadis di sampingnya dan masih melirik datar terhadapnya. Jadi sedari tadi pria itu mengetahui, jika ia ada di sini.
Rasanya ingin menangis juga menghancurkan segala apa yang ada di hadapannya. Tapi ia masih sadar, ia ada di mana. Dengan cepat ia meninggalkan restoran itu dengan tergesa, diliriknya sekali lagi pria itu yang masih mendekap gadisnya dan pergi berlalu.
**
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," ucap Nick sambil mengemudikan mobilnya.
"Tapi ini sudah hampir malam, Nick!” erang Lea protes. Dilihatnya arloji yang sudah menunjukkan 6:14PM. Ia sudah hampir empat jam bersama Nick. Tapi pria itu belum juga memulangkan dirinya.
"Kukira kau akan langsung memulangkanku,” sambungnya tersungut.
Nick hanya tersenyum sinis, bagaimana bisa ia memulangkan gadisnya ini mengingat ia baru beberapa jam bersama.
"Kau aman bersamaku, Sayang." Sambil memegang sebelah tangan Lea dan mengusapnya.
"Kaulah yang membuatku tidak aman, Pria Arogan!"
Bukannya membalas kata-kata Lea yang pedas, Nick malah tertawa renyah. Sedangkan Lea hanya bisa terpaku dengan suara tawa Nick. Ia seperti mendapatkan keajaiban dan sesuatu yang langka. Dan beberapa detik kemudian Nick juga tersadar ia baru tertawa selepas itu di hadapan seseorang. Belum pernah ia tertawa sebahagia itu semenjak tragedi yang menyakiti hatinya. Sedang mengontrol suaranya Nick kembali memasang seperti biasanya.
"Ya kau benar, Nona!"
Beberapa menit sudah berlalu mereka hanya memikirkan pikiran yang terlintas di otaknya masing-masing hanya suara radio dan mesin mobil yang terdengar. Tunggu...
"Kau bukan seorang psycho, 'kan?" tanya Lea tiba-tiba.
"Mengapa kau bertanya seperti itu?" Nick mengerutkan keningnya. Tapi matanya masih menatap lurus jalanan sepi di depannya.
"Kau membawa mobil ini ke dalam hutan dan aku baru menyadarinya. Bukankah ini kawasan Black Forest?" Lea memandang Nick horor, keringat dingin di telapak tangannya semakin membasahi.
"Ya, tebakanmu tepat." Nick menyeringai, sedangkan Lea tak mengerti arti wajah itu. Ketakutan semakin menjadi-jadi saat mobilnya semakin dalam memasuki hutan. Hanya lampu mobillah yang menerangi setiap jalan yang dilewati Nick.
Lea semakin bergidik saat suasana hutan yang terlalu mistis untuknya. Bahkan ia tidak bisa melihat jelas ke arah luar, akibat minimnya pencahayaan. Yang ia tahu dan rasakan semakin dalam mereka memasuki hutan semakin gelap dan juga semakin lebat pohon yang ada.
"Turunlah." Nick mematikan mobilnya dan melepas sabuk pengaman.
"Apa kau gila, ha!" Tanpa sadar Lea membentak Nick karena ketakutan yang menghinggapinya.
"Jangan membentakku, Lea." Nick menggeram, tidak memungkiri bahwa Lea tidak mendengar apalagi di tempat sunyi seperti ini. Lea tersentak akan hal itu.
"Maaf ... aku—“ Belum sempat Lea melanjutkan kata-katanya Nick langsung keluar dari mobil dan membanting pintu dengan kasar.
Dengan cepat ia menghampiri Nick. Sesudah keluar dari mobil, Lea mengamati daerah sekitar. Nick memarkirkan mobilnya di bawah pohon besar, yang mungkin usianya sudah ratusan tahun.
Ya Tuhan ini gelap sekali, batinnya meringis. Yang dilihatnya sekarang hanya bayangan-bayangan samar. Bahkan salju pun hanya sedikit yang sampai jatuh ke tanah karena rimbunnya pepohonan yang menutupi.
Apakah ini yang disebut orang dengan sebutan Black Forest atau hutan hitam. Hutan yang melegenda karena adanya rumor mistis, seperti penyihir, vampir, kurcaci dan sejenisnya. Bahkan yang Lea tahu hutan ini menjadi inspirasi Grimm bersaudara untuk membuat dongeng Puteri Salju. Jika memang benar, Lea setuju akan hal itu. Hutan ini benar-benar menyeramkan. Cukup sekali saja ini saja ia berada di sini.
Lea mendekati Nick yang sedang menyenderkan tubuhnya di kap mobil.
"Mengapa kita berhenti di sini?" tanya Lea sambil memasukkan kedua tangannya di saku mantel.
"Karena jalan itu tidak bisa dilewati dengan kendaraan,” ucap Nick sambil menunjukkan jalan menggunakan dagunya.
"Sebenarnya kita akan ke mana? Kita sudah terlalu jauh dari pinggir hutan, Nick." Lea meringis hampir menangis.
"Maka dari itu ayo kita mulai berjalan agar cepat sampai." Nick menegapkan tubuh kokohnya. Merapikan sedikit mantelnya yang terlipat akibat ia bersandar.
Matanya menatap gadisnya yang sudah ingin menangis karena ketakutan. Dipeluknya Lea memberi kekuatan lebih. Tangan kanannya merangkul erat pinggang Lea, dan memulai berjalan.
Lea yang mendapat pelukan dari Nick hanya bisa menyenderkan tubuhnya ke tubuh Nick dan memeluk pinggang pria itu dengan kedua tangannya dengan erat.
Hanya satu yang dirapalkan gadis itu di setiap langkahnya, Jangan jadikan aku makanan binatang buas di hutan ini.
Sedangkan Nick semakin mengeratkan pelukannya dan berjalan menyamakan langkah gadisnya yang mungil.
Ia bahkan tidak tahu, salah satu binatang dihutan ini sedang mendekapnya. Senyum Nick terukir menyeringai.