Baru beberapa hari di rumah mama mertuanya, Gibran pun sudah merasa bosan dengan aktivitas yang begitu monoton. Terlebih lagi jika dirinya seoarang diri menunggu mama dan Asyila pulang bekerja, dan baginya itu hal yang sangat tidak di sukainya. Karena dirinya memang jarang sekali bersantai seperti sekarang. Tapi walaupun Gibran di rumah isterinya, Gibran tetap saja memantau perusahaannya. Seperti yang di lakukannya sekarang, dirinya sedang meeting secara daring bersama karyawannya. Namun suara mamanya membuatnya menghentikan dulu meetingnya. “ Pak Iman … pak, pak Iman.” Panggilan mamanya terdengar begitu keras, sehingga Gibran yang berada di kamar pun keluar untuk melihatnya. Dia pun takut ada sesuatu yang terjadi. “ Ya ampun pak Iman kemana sih bi, kenapa saya panggil-panggil ngga nya

