“Morning...!” Ucap Naira menyapa orang di sekitarnya dengan raut wajah sumringah, gadis itu lantas menarik kursi meja makan berseberangan dengan kakaknya Nathan. Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas mengulas senyuman. Tidak hanya sang papa malah kakaknya Nathan juga kaget melihat adiknya yang berubah ceria dan ini sempat membuatnya khawatir. Nathan takut sekali trauma adiknya kembali kambuh dan dirinya sekali lagi bakal dilupakan kalau itu terjadi mah. Sementara Hariz, pria paruh baya itu tercengang melihat tampilan fashion putrinya yang hari ini terlihat sedikit berbeda dan lebih cantik dari hari-hari biasanya dalam balutan dress hitam selutut dan rambut panjangnya di biar tergerai begitu saja. “Naira.. Kamu baik-baik saja dik?” Nathan bertanya dengan hati-hati, sambil matanya masih

