HARI KEDUA

1475 Words
Hari kedua merangkap menjadi seorang mahasiswi. Berjalan menyusuri kampus, hendak menuju kantin setelah melewati kelas pagi bersama teman yang ia kenal melalui grup kelas selama beberapa hari sebelumnya. “Kemarin kau absen kelas. Kenapa?” tanya Rania sembari menoleh sekilas ke arah Alies lalu fokus kembali pada jalanan. “Ahhh kemarin aku benar-benar sial,” gerutu Alies sebal. “Memangnya ada apa?” “Aku tersesat dan sialnya bertemu dengan zombie tak berperasaan.” “Bukannya zombie memang mayat hidup? Mungkin hatinya dimakan oleh zombie lain,” timpal Rania polos. Sungguh, berbicara dengan gadis cupu-menurut Alies, karena selalu menggunakan rok selutut dan kemeja panjang berkacamata itu sedikit melelahkan. Entah terlalu polos atau bodoh. Namun, Alies tak ingin menghentikan keluhannya tentang hari lalu, terlalu mendongkol jika disimpan sendiri. “Maksud ku bukan benar-benar zombie Raniaaa,” jawab Alies sedikit gemas, tapi ini bukan apa-apa dibandingkan ketika bertukar pesan di hari-hari sebelumnya, membuatnya hampir melempar handphone miliknya ke dalam aquarium milik sang ayah. “Sifatnya yang seperti zombie,” jelasnya kembali sembari menarik kursi kantin sebelum melanjutkan. Duduk nyaman tanpa memutuskan kontak mata dengan Rania di seberang meja. “Dia seorang polisi kutub. Dingin dan tak berperasaan.” “Kenapa kau berurusan dengan polisi?” Sebelum menjawab, Alies lebih dulu mengangkat tangan guna memanggil seorang pelayan kantin kampus. Memesan minuman dan makanan untuk mengisi kekosongan perut yang ia tahan selama kelas berlangsung. “Kemarin ketika hendak berangkat menuju kampus, aku sempat lupa jalan. Aku mengitari beberapa jalan untuk memastikan, hingga akhirnya aku menemukan jalan lingkar, walaupun sempat bingung harus ke arah mana, tapi aku yakin pada satu jalur. Tapi kau tahu apa yang menyebalkan?” Alies tampak antusias. “Apa?” tanya Rania penasaran. “Mereka berteriak ketika aku memutar arah panda. Mereka menghalangi ku dengan kendaraannya, mengumpat, dan berteriak mengatakan aku gadis gila karena melawan arus jalan, padahal aku hanya ingin cepat menuju kampus karena sudah telat. Apa aku salah? Oh iya, tidak sampai disitu,” potong Alies memicu penasaran besar yang terlihat dari air muka gadis polos di hadapannya. “Tiba-tiba polisi datang dan membawa ku bersamanya.” “Mereka menculik mu?” tanya Rania membulatkan bola mata penuh. “Bukan bodoh, mereka membawa ku ke kantor polisi.” “HAH?” Rania spontan berdiri karena terkejut akan penuturan Alies. Pun gadis pemilik cerita ikut terkejut karena suara dencitan kaki kursi dari aluminium yang cukup mengganggu ketenangan antero kantin. “Sudah cukup. Duduk cepat! Kurasa reaksimu terlalu berlebihan,” perintah Alies sembari menggelengkan kepala, sedikit lelah dengan over reaction sang sahabat. “Hehehe Benarkah? Apa aku membuatmu marah?” tanya Rania setelah duduk rapi di kursinya kembali. Mencondongkan tubuhnya dengan air muka polos-merasa bersalah. “Berhenti bertanya,” Alies pun menggeser menu yang sudah berada di atas meja yang diantar oleh pelayan beberapa detik lalu. “Lebih baik kau makan, agar otakmu sedikit lancar. Ahh..aku juga tidak yakin, karena dalam hal belajar kau jauh lebih unggul dariku.” “Kau juga pintar Alies.” Rania berusaha meyakinkan dengan nada lambat dan halusnya. “Aku tahu, tapi berhenti merendahkan ku.” “Hm.” Begitu menurut dan segera menyapa menu pesanan yang tampak begitu menggiurkan baginya. Sedangkan Alies, ia menghela nafas tipis karena ternyata Rania dengan cepat menurut akan perintahnya, namun justru hal tersebut seakan-akan menunjukkan sahabatnya itu setuju bahwa dirinya memang bodoh. Ia ingin Rania mengklarifikasi sesuatu, namun tak ingin mendengar bujukan menggelikan lagi. Membingungkan memang. Di tengah santapan yang berbaur dengan cerna pengecap, tiba-tiba kebisingan mulai terdengar dari arah depan gedung fakultas. Membuat Alies seketika menghentikan suapan. Mencoba menatap dari tempat duduknya, namun benar-benar percuma karena para mahasiswa sudah mulai berkerumun menutup jalan. “Sepertinya terjadi sesuatu di depan,” ucap Alies kepada Rania tanpa memutuskan tatapan pada pusat kerumunan. “Di sana sangat ramai. Lihat!” Sebagaimana pun antusiasnya, tentu Alies akan tetap menyadari bahwa sedari tadi dirinya hanya berceloteh sendiri. Lalu spontan meluruskan pandangan ke arah sahabatnya yang tampak begitu fokus menunduk menyantap makanan, seakan-akan tak pernah bertemu dengan makanan selama berminggu-minggu lamanya. Kemudian Alies dengan cepat berdiri usai menarik nafas kasar karena sebal. Menarik pergelangan tangan Rania yang sibuk menggenggam sendok. “Bangun!” Dengan air muka terkejut dan bingung menjadi satu, Rania memandangi pergelangan tangannya dan wajah Alies bergantian. “Ada apa?” “Ini bukan waktunya untuk makan.” Lalu Alies menarik dan membawa Rania pergi dari meja makan. Rania yang tak perduli dengan sikap aneh sahabatnya, hanya menatap ke arah belakang, tak rela meninggalkan sisa makanan disaat perutnya masih merengek meminta diisi kembali. “Alies makananku belum habis,” rengek Rania namun terus manut dengan seretan Alies, pun untuk melepaskan genggaman erat jarinya pada sendok itu ia tak rela. Sesampainya di belakang keramaian, pribadi dengan tinggi sekitar 160 cm itu berjinjit dan loncat sekuat tenaga. Mencoba mengintip dibalik celah deretan kepala yang menutupi pandangan. “Sebenarnya ada apa Alies? Kenapa kau loncat-loncat?” tanya Rania yang sudah terlalu menumpuk kebingungan. “Kau tidak lihat para manusia ini?” timpal Alies lalu menghentikan loncatan. Menggaruk tekuk leher putus asa. “Hahh padahal aku sangat penasaran apa yang terjadi di depan.” “Memangnya ada apa?” tanya Riana polos. “Jika tahu…aku tak perlu menghabiskan tenaga untuk loncat-loncat seperti kanguru. Dasar bodoh.” Tingkat kekesalan Alies semakin meningkat. Berbicara dengan Rania memang sangat menguras emosi, lebih baik cepat menyingkir daripada harus merubah darah rendah menjadi darah tinggi dalam hitungan kerjapan mata. Baru saja hendak berbalik dan melangkah pergi, Rania lebih dulu menarik tangan Alies. “Kau mau kemana?” Alies menghela nafas pelan sebelum menjawab. “Menurutmu?” “Menyerah begitu saja?” “Kau pikir aku selemah itu? Tentu saja tidak. Aku akan mencari cara lain. Mungkin memanjat sesuatu yang lebih tinggi untuk menjangkau penampakan yang terjadi di depan sana,” jelas Alies yang kembali hendak melangkah pergi, namun lagi-lagi tertahan oleh genggaman jemari Rania di pergelangan tangannya. “Tidak perlu. Aku punya cara lain,” ucap Riana percaya diri, menarik sudut bibir puas akan ide yang hanya dirinya seorang yang tahu. Sedangkan Alies hanya terdiam mengamati ketika gadis manis polos di depannya itu melepaskan genggaman pada tangannya dan mengambil sebuah ancang-ancang. Entah apa yang akan dilakukannya, namun bagaimanapun Alies tetap mencoba percaya, karena yang terpenting baginya kini ialah hanya memuaskan rasa penasaran yang begitu besar. Rania menegakkan pundaknya, membenarkan posisi hingga menyingkap lengan kemeja setinggi siku. “Ekhem ekhem.” Bahkan saat ini ia mengeluarkan suara aneh yang membuat Alies mengerutkan dahi bingung. “Kau mau apa?” tanya Alies sembari menyentuh lengan atas Rania agar terdengar. “Shutttt,” bisik Rania meletakkan jari telunjuk di depan bibir merah mudanya. Walaupun dibuat kebingungan, Alies hanya mengangguk-anggukkan kepala. Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan gadis bermata empat ini_batin Alies. “HEY KALIAN,” teriak Rania yang tiba-tiba mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin, bahkan sendok di jari jemarinya masih terselip nyaman di sana, sesekali bergoyang mengikuti arah gerak. “PEMADAM KEBAKARAN SUDAH DATANG. CEPAT BERI JALAN! MINGGIR! MINGGIR!” Hahh..bahkan si polos itu tak tahu apa yang terjadi di depan sana, bagaimana bisa ia berteriak pemadam kebakaran? Tapi semua di luar nalar. Para kerumunan seketika memecah tengah guna memberi jalan usai mendengar suara nyaring dari Rania. Membuat Alies menganga tak percaya, ide buruk yang membuahkan hasil. Terlepas dari membohongi masa, mereka berdua tak perduli. Dari arah berdirinya, Alies perlahan menatap lurus ke depan. Namun betapa terkejut dirinya, di depan sana sudah terpampang pemandangan yang begitu mengerikan, sungguh untuk pertamakali dirinya sangat-sangat menyesal karena tak mampu mengontrol sifat ingin tahunya. Matanya terpaku tak berpaling, bukan karena tak ingin, akan tetapi tidak bisa dan dirinya sudah sampai pada titik tak sadarkan diri akan peristiwa yang ia tangkap dengan iris cokelatnya yang membulat. Sedangkan Rania masih bangga karena sudah berhasil membelah lautan keramaian penutup pandang. Namun, beberapa detik kemudian ekspresi itu berubah setelah melihat air muka sahabatnya yang tak wajar. “Alies ada apa? Apa kau sesenang itu sampai terdiam begini?” tanya Rania namun tak mendapat jawaban sedikit pun dari Alies. Hingga akhirnya ia pun memilih menoleh ke arah belakang dan mendapati pemandangan seperti yang dilihat Alies. “Astaga. Aku tak seharusnya meneriakkan pemadam kebakaran.” Ketika semua orang sibuk berbisik satu sama lain, Alies tak dapat menyadarkan dirinya dari keterkejutan. Memaku di tempat dengan tubuh yang bergetar hebat, mengambil langkah mundur perlahan bersamaan deru nafas yang tak bisa lolos dari kerongkongan. Terus mencoba menyelamatkan diri dengan menarik pasok udara menuju jantung, namun alih-alih dapat lolos dari rasa sesak, tetesan demi tetesan cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Hingga tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang, melepaskan topi miliknya dan memasangnya pada kepala kecil Alies hingga menutupi pandangannya. “Jangan melihatnya jika tak kuat.” Suara itu seketika menyadarkan lamunan Alies dan spontan mendongak ke arah pribadi tinggi di sampingnya. Menampakkan seorang pria tampan dengan geraian rambut cokelat bersinar yang beberapa helaiannya terjatuh menyentuh pelipis. “Kau? Bagaimana bisa...?” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD