Kencan Dua Kali Sehari

1147 Words
Gema muncul di depan rumah Sarah pagi hari berikutnya dan terlihat bersikap tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Hal tersebut membuat Sarah kesal bukan kepalang. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu pada Gema, tetapi tak jadi karena Mahesa, papanya ada di depan rumah dan akan berangkat bekerja. “Jangan dekat-dekat!” Sarah berkata dengan ketus pada Gema. Pemuda itu tidak menyahut dan hanya mengiringi langkah Sarah menuju halte bus. Ekspresi tenangnya mendadak terusik ketika sebuah motor berhenti tepat di depan Sarah. Pemotor tersebut membuka helm yang dipakai. Sarah langsung mengenalinya sebagai Morgan. “Hai … pacar!” sapa Morgan riang. Wajah Sarah memerah seketika. Ia ingat kembali kejadian sore kemarin dan rasanya kembali ingin bersembunyi di suatu tempat. “Lagi apa di sini?” tanya Sarah. Seingat Sarah, Morgan tinggal berlawanan arah dengannya. Jadi bukan keputusan tepat mendatangi Sarah seperti ini. Pastinya pemuda itu harus memutar arah dua kali lipat dari yang seharusnya. “Jemput pacar memang tidak boleh?” Morgan menjawab dengan pertanyaan lain dan ekspresinya jelas mengoda Sarah. Sarah jadi salah tingkah. Ia melirik Gema yang ikut mematung di sampingnya dan tahu lagi-lagi teman masa kecilnya itu marah. “Nih!” Morgan menyodorkan helm pada Sarah. “Ah … maaf ya, temannya aku culik di tengah jalan,” katanya pada Gema. Sarah bisa mendengar Gema mendengus dan berlalu tanpa mengatakan apapun. Ia jadi bertanya-tanya kembali kenapa sikap Gema menjadi buruk setiap kali berhadapan dengan Morgan. Sarah jadi memperhatikan Morgan dengan saksama. Selain tampan, pacarnya ini juga ramah pada semua orang. Berbeda sekali dengan Gema yang selalu bereaksi bagai patung batu. “Aneh, sepertinya saat menyatakan cinta kemarin kamu tidak sependiam ini.” Kuat-kuat Sarah mencengkeram jaket Morgan. Kenapa di saat seperti ini Morgan harus mengingat hal memalukan yang dilakukannya. Ia tahu betul Morgan hanya berusaha mencairkan suasana. Sejak tadi Sarah memang hanya diam saja. Namun, itu karena ia tidak terbiasa berdua saja dengan Morgan seperti ini. Kenyataan bahwa sekarang Morgan adalah pacarnya juga seperti mimpi saja. “Ayo katakan sesuatu!” Morgan berteriak di depan Sarah, mengatasi desau angin yang menganggu pembicaraan mereka. “Kalau kamu masih saja mengodaku, aku akan turun di sini!” ancam Sarah. Tentu saja dengan cara berteriak juga. Morgan tertawa keras, bahunya ikut berguncang karena hal itu. Ia lalu tak bicara lagi dan membawa motornya melaju lebih cepat. Tanpa terasa, Sarah sudah berada di depan gerbang sekolahnya. “Ke-napa berhenti di sini?” tanya Sarah gagap. Sarah bisa merasakan beberapa tatapan yang tak menyenangkan tertuju padanya. Ingat, banyak orang yang menyukai Morgan saat pemuda yang memboncengnya datang sebagai salah satu utusan pada perkenalan jurusan di sekolahnya. “Memang maunya berhenti di mana? Aku kan tidak mungkin meninggalkanmu di depan halte. Ini baru hari pertama pacaran, ingat penjagamu yang kutinggalkan dan menatapku dengan sinis. Apa katanya nanti?” Morgan menjawab dengan cepat. Saat bicara, tangannya tak berhenti bekerja melepaskan helm yang sedang Sarah gunakan. Sarah tidak mengerti tentang, Penjaga yang menatap dengan sinis. Ia mengucapkan terima kasih pada Morgan dan turun dari motor. “Ke depannya aku akan mengantar dan menjemputmu seperti ini, boleh, kan?” tanya Morgan. Sarah sama sekali tak keberatan. Ia malah senang. “Kita kencan dua kali sehari ya.” Kali ini Morgan mengedip genit. Perut Sarah jadi bergolak tak karuan. Ya Tuhan, apa memang seperti ini rasanya pacaran? Sarah bertanya-tanya dalam hati. *** Gema menyumbat telinganya dengan earphone. Orang-orang yang melihatnya pasti berpikir jika ia sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya. Pahal itu salah besar. Gema sangat peduli dengan apa yang sedang terjadi ini. Ia hanya tak ingin berkomentar saja. “Gila! Kamu hebat, Sarah!” Obrolan yang sedang didengar Gema sekarang tentang Sarah yang baru saja menjadi pacar Morgan. Mengesalkan memang, tapi ia tak punya pilihan lain selain mendapat informasi dengan cara seperti ini. Ia tak mungkin bertanya secara langsung pada Sarah. Saat ini ia sedang dalam posisi marah dan merajuk. Sarah tak mungkin menceritakan kisah cintanya pada Gema, seakrab apapun mereka. “Dia bilang kami akan kencan dua kali sehari!” Sarah terdengar malu-malu bicara. Para murid perempuan di kelas Gema terpekik. Ia sendiri merasa tercekik karena informasi itu. Kencan? Gema mendesah. Kepalanya mendadak sakit dan ia ingin pergi segera dari kelas. Saat pembicaraan para teman-teman Sarah menjadi semakin vulgar, Gema memutuskan beranjak. Ia harus menenangkan diri sebelum kemudian kembali bersikap biasa-biasa saja pada Sarah. Nasib Morgan tak lebih bagus dari Sarah. Salah satu temannya yang kebetulan ada di halte dan jadi saksi saat ia menerima cinta Sarah menyebarkan informasi sedemikian rupa hingga ucapan selamat menjadi ajang pertaruhan. “Dua bulan!” seru pemuda terakhir yang ikut dalam pertaruhan berapa lama Morgan akan bertahan bersama pacar barunya. “Woi … woi … woi!” Morgan menginterupsi, tetapi tak bisa menghentikan teman-temannya berspekulasi. Akhirnya ia mundur dan duduk di sudut ruangan. Karena tidak bisa ikut bertarung sebab pertaruhan tentang dirinya, Morgan menyibukan diri membuka catatannya tapi tak menemukan apa yang harus dibaca. “Sepertinya sebelum ini aku juga mengajak kamu pacaran.” Morgan menoleh dan melihat Elise sudah duduk di kursi kosong sebelahnya. Gadis cantik dengan ekor rambut sedikit pirang itu terlihat marah. Ia mencoba mengingat kapan Elise menyatakan cinta padanya. Sepertinya di taman kampus, saat itu mereka hanya berdua saja. Namun, Morgan sama sekali tidak memberikan jawaban pada Elise. Ia memang tidak pernah merasakan debaran saat bersama Elise. Berbeda ketika bersama Sarah. “Kamu teman yang baik.” Empat kata Morgan pasti bisa ditafsirkan Elise sendiri. Elise pintar, sangat pintar. “Kamu menolakku?” Elise terdengar tidak percaya. Matanya berkaca-kaca dan ia tidak mencoba menyembunyikannya. Morgan mencebik. Ia sebaikanya pergi sekarang sebelum terlibat dengan Elise lebih jauh lagi. Maka ia berdiri meninggalkan Elise begitu saja dan bergegas keluar. Sambil bersandar pada dinding di lorong menuju kelas, Morgan menghubungi Sarah. Sekarang pukul dua belas siang. Saat ini Sarah sedang istirahat dan Morgan bisa merasa sedikit semangat jika mendengarkan suara gadis tersebut sedikit. “Halo?” Suara Sarah terdengar imut di pengeras suara. “Halo … pacar! Aku tidak akan jadi Dilan dan bilang rindu itu berat!” Mendadak Morgan merasa kurang waras karena berkata demikian. Sarah terkikik di seberang sana. Sepertinya ia senang sekali mendengar suara Morgan di pengeras suara. “Sudah siang, kamu makan, kan, waktu istirahat?” tanya Morgan sok perhatian. “Kok, tahu … kalau jam segini aku istirahat.” “Aku pernah sekolah di sana juga. Eh, aku belum ngasih tahu kamu, ya?” Morgan menggaruk kepalanya. Ia memang belum memberitahu Sarah soal itu. “Apalagi yang belum kamu kasih tahu?” tanya Sarah. “Banyak!” Morgan berpikir sebentar. Kalau memang ia mejadi sedikit kurang waras, lebih baik dia gila sekalian. “Misalnya … aku cinta sama kamu!” Terdengar pekikan di sekitar Sarah. Morgan ingin tertawa, Sarah sekarang pasti kelabakan. Namun, juga bukan salahnya hingga terjadi hal seperti itu. Saat Morgan ingin berkata lagi. Panggilannya dengan Sarah sudah terputus saja. Ia jadi ingin segera bertemu dengan Sarah secepatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD