Sikap Manis Morgan

1110 Words
“Kok, kamu tidak pulang dengan Sarah?” Langkah gontai Gema terhenti tiba-tiba. Ia yang sejak tadi berjalan sambil menunduk kini harus mengangkat kepalanya. Di pintu pagar rumah Sarah orang tua lelaki gadis itu tengah berdiri. Sebelah tangannya memegang pagar. Lelaki yang rambutnya sudah sedikit memutih pada bagian samping kiri dan kanan tersebut memakai celana pendek dan kaus berwarna abu-abu. Ia menunggu jawaban Gema dengan tatapan tidak sabar. “Tadi Sarah pulang diantar temannya, Om.” Gema harus berbohong. Sarah tidak mungkin memberitahu kedua orang tuanya Morgan. “Diantar teman? Kalau begitu harusnya dia sudah sampai lebih dulu, kan?” tanya papa Sarah kembali. Matanya menyipit menuntut jawaban yang sebenarnya. Walau marah pada Sarah dan merasa dikhianati, Gema tidak mau gadis itu mendapat masalah. Ketidaksukaannya pada kenyataan Morgan ada di sisi Sarah sebagai pacar adalah urusan pribadi mereka. Sebagai sahabat, Gema tidak akan menjerumuskan Sarah karena hal seperti itu. “Mungkin mereka singah dulu ke toko buku, Om,” kata Gema. Ia melirik jalanan dengan cemas. Papa Sarah mengangkat bahu kemudian pergi. Namun, Gema tahu ini akan jadi sumber masalah. Sarah berkali-kali mengintip jam tangannya. Ia sudah terlambat sampai di rumah. Morgan melihat kekhawatiran di wajah pacarnya itu, ia lalu lekas berdiri. “Yuk …!” ajaknya. Sarah terdiam. Kekhawatiran di wajahnya sama sekali tidak disembunyikan. Jika harus pergi lagi mungkin suasananya tidak akan menyenangkan nanti. Salama perjalanan di belakang Morgan, sarah mencengkeram ujung jaket pacarnya kuat-kuat. Motor Morgan berhenti di tempat ia menjemput Sarah tadi. Gadis di belakangnya pasti kaget karena tiba-tiba mereka sudah sampai di dekat rumahnya. “Kenapa tidak turun?” tanya Morgan. “Mau ikut aku pulang, ya?” godanya. Bergegas Sarah turun dari boncengan. Ia membuka helm dan menyerahkan pada Morgan dengan kepala tertunduk. “Aku pikir kamu akan membawaku ke mana?” Suara Sarah pelan. Namun, Morgan jelas mendengar perkataan yang ditujukan padanya. Ia tersenyum walau tahu Sarah tidak bisa melihatnya. Kemudian diusapnya pipi gadis cantik tersebut dengan ujung jari. Sarah tersentak kaget dengan wajah memerah. “Saat pacarku tidak menikmati waktu yang dihabiskannya denganku artinya itu bukan kencan tapi penyiksaan. Aku maunya kamu senang saat bersamaku, bukannya tersiksa.” Suara jantungnya memekakan telinga Sarah. Ia melihat wajah Morgan lebih bersinar dari sebelumnya. Sarah sangat beruntung bisa mendapatkan pacar seperti Morgan. Ia biasa mendengar pacar teman-temannya yang berkelakuan lebih buruk setelah jadian. Pacarnya malah semakin manis saat telah benar-benar didapatkan. “Itu … mmm, besok minggu. Bagaimana kalau ken ….” “SARAH!” Sarah terlonjak kaget. Padahal ia baru mau mengajak kencan sungguhan Morgan. Mungkin mereka bisa pergi ke bioskop atau hanya jalan-jalan sambil berpegangan tangan di taman. Sekali lagi ia mendengar teriakan yang menyerukan namanya. Dengan melotot, ia berbalik dan memandang pemilik suara yang dikenalinya itu. Pemuda bertubuh tinggi kurus bernama Gema berdiri di pintu pagar rumahnya. Ia memakai baju kaus longar dan celana olahraga hitam. “Penjagamu galak sekali, pantas saja kamu cemas,” bisik Morgan di telinganya. Morgan sedikit menunduk untuk bisa mencapai posisi tersebut. Ia bisa merasakan tatapan kebencian Gema padanya. Ia lalu mengantungkan helm di setang motor. Dengan posesif memeluk Sarah dari belakang. Kini Morgan sedang mengamankan “miliknya”. Siapapun yang melihat pasti bisa menebak apa yang dilakukan. Dilihatnya pemuda yang ada di pintu gerbang telah menghilang. Pastinya ia merasa kalah dan hancur. “Apa-apaan sih, Morgan!” Sarah melepaskan diri dari pelukan. Bahkan telinganya memerah kini. Ia semakin takut saja. Bagaimana kalau ada salah satu pelayan di rumah yang melihat dan kemudian melaporkan sepak terjang Sarah di luar rumah, Ia bisa membayangkan bagaimana kemarahan Papa padanya. Mungkin saja mereka akan mengirim Sarah ke luar di tempat paling terpencil di dunia. “Ini harus dilakukan. Supaya penjagamu tidak lagi menganggu,” ujar Morgan memberitahu. Bagi Morgan pelukan tersebut lebih singkat dari yang seharusnya. Ia bisa paham kenapa Sarah tidak menyukainya. Ia pun tidak akan melakukannya jika saja Gema tidak terus-terusan memperlihatkan sikap permusuhan padanya. Morgan pacar Sarah sementara Gema hanya sahabat saja. Ia lebih berhak merasa tidak suka pada teman lelaki pacarnya ketimbang sebaliknya. “Sejak kemarin kamu menyebut soal penjaga.” Ekspresi wajah Sarah mendadak pucat. “Aku awalnya menyangka itu Gema, tapi sepertinya bukan. Apa itu sejenis makhluk halus.” Suara Sarah nyaris menghilang di kata terakhir. Morgan tertawa. Sarah memang lucu dan polos seperti dugaannya. Ia benar-benar tak sadar dengan perasaan sahabat dari kecilnya yang sama sekali tidak di sembunyikan. Bagaimana mungkin Sarah menyamakan Morgan dengan hantu atau dedemit? “Aku semakin bertanya-tanya bagaimana kamu bisa tetap tidak tahu.” Sarah menelengkan kepalanya karena tidak mengerti. Morgan jadi ingin sedikit mengoda lagi. Maka ia melayangkan kecupan ringan di pipi gadis cantik itu, lalu ia memutar pedal gas dan melajut cepat. Walau begitu ia masih bisa mendengar teriakan tidak setuju Sarah sebelum tertelan desauan angin. Morgan bukan tipe pemuda yang perhatian terhadap sekitar. Ia memang ramah dan dengan mudah bergaul, tetapi hanya sampai di situ saja. Saat tidak perlu, Morgan selalu tengelam dalam dunianya dan tidak peduli dengan sekelilingnya. Mungkin hal tersebut yang membuat Elise jadi memperhatikan Morgan. Ia cantik, bukan hanya karena anggapannya saja. Banyak orang yang mendekatinya karena kecantikan. Hanya Morgan yang tidak peduli mau bagaimanapun Elise mencoba mendekat. “Aku sudah mengatakan kalau menyukaimu.” Itu memang benar. Beberapa hari lalu, ia menemui Morgan dan mengatakan soal perasaannya. Menurutnya Morgan sama sekali tidak akan menolak untuk menjadi kekasihnya. Akan tetapi, Morgan malah menerima pernyataan cinta seorang gadis kelas tiga SMA. “Apa bagusnya gadis itu dibanding aku?” tanyanya. Bukannya menjawab pertanyaan Elise, Morgan malah meninggalkan dirinya begitu saja. Morgan lagi-lagi tidak peduli dengan perasaan Elise. Walau itu memang adalah salah satu pesona Morgan selain wajah tampan pemuda itu. Ia kini merasa kesal dengan ketidakpedulian tersebut. Polos adalah kata yang mengambarkan secara keseluruhan diri Sarah. Bukan hanya itu, Sarah juga bodoh dalam menilai orang lain di sekitarnya. Sarah bahkan tidak tahu bahwa pemuda yang ada di belakangnya amat sangat suka. Apa sih yang disukai orang-orang pada gadis bodoh seperti itu? Elise sama sekali tidak mengerti. Elise akhirnya mengikuti Morgan dan Sarah dari belakang. Harusnya ia pulang saja. Untuk apa juga ia jadi seorang penguntit sekarang. Ia sudah ditolak Morgan dua kali, sudah tidak ada harapan untuk hubungan mereka. Namun, tubuhnya menolak untuk mendengarkan. Rasanya ada petir yang menyambar saat melihat kejadian tersebut. Morgan tidak pernah bersikap manis, tetapi bersama Sarah ia menjadi orang lain. Elise tidak terima. Ia merasa sikap Morgan yang manis itu harusnya untuk dirinya bukan Sarah. Dicengkeramnya kemudi mobil kuat-kuat. Matanya tiba-tiba saja menjadi kabur karena air mata. Napasnya sesak dan jantung Elise seperti kena tikam. Aku sangat mencintaimu … tapi kenapa? Elise menunduk dan menangis sesegukan. Ia tidak terima Morgan malah menjadi pacar Sarah. Harusnya Morgan memilihnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD