bab 2 Cerita Irfan

405 Words
juga karena aku berusaha untuk jadi orang sukses itu saja”, kata Irfan panjang lebar. “Fans itu aku tipikal orang yang mendramatisir kepada orang lain, tentang diri aku, katanya kalau DM aku di Instragram jangan banyak – banyak nanti aku pusing, katanya kalau sama aku enggak usah halu, apakah menurut mereka orang yang menghormati aku itu di sebut gila, biasanya orang yang berucap begitu, sama aja menggambarkan dirinya sendiri, yah aku tahu suka ada fans yang emang orangnya tipe bilang mau jadi istri aku atau apapun itu, tapi aku tahu itu kan cuma bercanda kalau emang, punya niat enggak baik pun aku yang bisa menilai sendiri, tanpa harus hidup aku di atur oleh orang lain seperti ini, Rianti cuma kamu yang memperlakukan aku dengan sederhana dan apa adanya, enggak kayak fans aku yang sebagian hanya untuk keuntungan mereka sendiri”, kata Irfan panjang lebar. “Aku memperlakukan kamu, hanya untuk kamu bahagia saja Fan, dan aku emang bukan orang yang seperti mereka, bahkan aku ikut menanggung hal itu, karena tipikal mereka, bukanlah orang datang karena ketulusan karena ada maunya, sedangkan aku yang datang karena tulus dan kenal kamu dengan tulus, harus melalui semua ini, kita boleh mencintai seseorang di dunia ini, dan menyayangi seseorang tapi kalau emang karena nafsu semua itu jadi buta, dan orang yang tulus enggak memandang duniawi”, kataku dengan tegas, sambil tajam menatap mata Irfan. “Aku tahu, awal dari penyebab mama aku stroke itu adalah Tania, dan aku tahu awal masalah bermula juga, karena Tania ingin mengatur aku di rumah aku sendiri, dan bersikap enggak punya attitude, dia berpikir aku bela kamu, selama ini karena fans fanatik, padahal karena aku merasa seperti saudara sendiri sama kamu, dan terus terang aja, sejak papa aku kakinya basah karena diabetes, dan gulanya tinggi, sejak juga, mama aku stroke, keluarga aku yang lain mulai bersikap enggak seperti biasa, dan aku sudah mulai merasakan perubahan itu sejak, mama aku juga baru keluar dari rumah sakit Otak, bukan hanya itu, puncaknya kejanggalan di suasana rumah, sejak ada orang fisioterapi bawaan sepupu aku yang namanya Gina”, kataku bercerita panjang lebar. “Aku boleh lihat foto Gina, aku jujur punya feeling aneh sama Gina, tapi selama aku ke rumah kamu, emang aku juga enggak pernah ketemu sama Gina, aku berpikir, jangan – jangan ini semua awal dari sebuah permainan”, kata Irfan. Aku mengeluarkan foto perempuan berambut pendek, pada saat fisioterapi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD