Abraham POV
Krieett!
Aku membuka pintu ruang kerjaku dan menguncinya dari dalam. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan ini tapi aku sama sekali tidak melihat Zinia. Apa dia terjun dari jendela? Entahlah. Aku pun berjalan ke arah meja kerjaku.
Deg!
"Bodoh! Kalau mengantuk kenapa tidak ke kamar yang ada di sini? Kenapa malah tidur di kursi?" gumamku dan mencubit pipinya.
Dia menggeliat. Aku terkekeh. Dengan hati-hati aku mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar yang ada di ruangan ini. Aku meletakkannya ke atas tempat tidur dan menyelimutinya.
"Tidur yang nyenyak, my lovely wife" aku menutup pintu kamar itu dan kembali ke meja kerjaku.
Aku menghidupkan laptop ku. Aku membuka file-file kantor sekaligus social mediaku. Saat tengah asik dengan social media, tiba-tiba terbesit ide gila di otakku. Aku beranjak dari kursiku dan masuk ke dalam ruang tidur. Dengan mengendap-endap aku memfotonya yang sedang tertidur. Manis.
Setelah mendapatkan foto yang pas, aku segera keluar dari ruangan ini dan menuju meja kerjaku. Dengan bantuan kabel data foto itu kini sudah ada di dalam laptop ku.
Aku memposting fotonya itu ke akun instagramku dengan caption :
'Tidur yang nyenyak sayang. Mimpikan aku. Aku menyayangimu @GraziniaBrunella #sleepingbeauty #mylovelygirlfriend #myfuturewife #myprincess #iloveu'
Dalam sekejap, foto yang baru saja ku posting itu sudah dibanjiri komentar dari fans-fansku.kebanyakan dari mereka memuji kecantikan dan kemanisan princess-ku ini, bahkan ada yang mendoakan kami agar cepat memiliki anak. Ada-ada saja. Likers fotonya bahkan sudah mencapai sekitar 643. 643?! Banyak sekali.
Aku memang memiliki followers yang banyak. Mungkin karena wajah tampan blasteranku ini yang membuatku banyak disukai gadis. Ditambah lagi profesiku sebagai CEO dan statusku yang merupakan mantan model internasional makin membuatku memiliki banyak fans.
Tidak hanya aku adikku Tania juga begitu. Dia memang tidak memiliki fans sebanyak aku, tapi dia sangat terkenal disekolahnya sebagai the most wanted girl. Mungkin karena sifat ramahnya dan kepintaran yang ia miliki juga kecantikkan alaminya membuatnya menjadi sangat populer di sekolahnya.
"Abra?! Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk?" suara Zinia begitu mengagetkanku. Aku menutup laptopku dengan cepat agar ia tidak mengetahui kalau aku sudah memposting fotonya yang tengah tertidur.
"Aku bekerja disini, kenapa?" jawabku yang sudah mulai bisa menguasai diriku dari keterkagetan tadi.
"Oh! Jadi kau bos yang menyuruh anak buahnya untuk menyeretku ke ruangan ini?"
"Iya" jawabku. Aku beranjak dari kursi ku dan berjalan ke arahnya.
"Eh, diam disitu. Jangan mendekat"
"Kenapa? Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Aku tidak akan menciummu lagi, kecuali kalau kau yang paksa" ucapku dengan memberikan kedipan sekaligus senyuman mautku.
Semburat merah itu sudah bersarang dikedua pipi putihnya. Zinia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku yakin dia melakukan ini agar aku tidak melihat semburat merah itu. Betapa lucunya dirimu.
"Sudah jangan menghindar seperti itu. Aku sudah melihatnya. Kau sangat manis kalau seperti ini" aku mencubit pipinya gemas. Dia menepis tanganku dan berjalan menuju sofa abu-abu ku.
"Jangan menggodaku terus! Aku tidak suka itu, tuan Abra yang genit" jawabnya sedikit berteriak.
"Sayangnya, aku tidak bisa berhenti menggodamu my princess"
"Aku tidak tergoda dengan gombalan murahanmu itu!"
"Benarkah? Lalu kenapa pipimu memerah, seperti tadi? Hm?"
"Ehm.. itu karena suhu di ruangan ini sangat panas! Makanya bisa memerah" jawabnya. Pembohong. Jelas-jelas ruangan ini sangat dingin.
"Terserah kau saja" ucapku dan kembali duduk di meja kerjaku.
Kali ini aku tidak membuka social mediaku. Sekarang aku sedang fokus mengerjakan proyek yang tadi aku rapatkan bersama beberapa petinggi perusahaan, sekaligus mengecek dokumen-dokumen keuangan perusahaan ini.
-30 menit-
"Abra, aku ingin pulang"
"Iya nanti aku antar, tapi nanti setelah aku selesai mengerjakan ini"
"Aku bisa pulang sendiri tidak perlu diantar. Tolong bukakan pintunya aku ingin pulang"
"Tunggulah sebentar lagi"
"Aku mau pulang!"
"Berisik! Sudah diam jangan banyak mengoceh. Nanti akan ku antar pulang! Jadi diamlah"bentakku dan membuatnya diam untuk beberapa saat. Maafkan aku, tapi kalau aku sedang fokus aku tidak suka diganggu.
Tok!tok!tok!
"Siapa lagi itu!" teriakku masih tetap fokus pada laptopku.
"Ini gue Tommy! Mau nganterin berkas!" teriaknya dari luar. Aku tidak menjawab dan lebih memilih untuk beres-beres. Sebaiknya aku kerjakan ini di rumah saja. Kasian Zinia sudah menunggu lama.
"Ayo pulang" Zinia tidak menjawab dan hanya mengangguk.
Cklek!
"Kenapa pintunya mesti dikunci? Lagi ngapain kalian? m***m ya?" aku memukul kepalanya dan mengambil berkas yang ada di tangannya.
"Kalo ngomong dijaga!" ucap Zinia dan menendang kaki Tommy.
"Lu berdua malah buat gue tambah curiga" ujarnya.
"Udah kerja sana!" ucapku menengahi.
Dia mengangguk dan berjalan masuk ke ruangannya. Aku menggandeng tangan Zinia dan menariknya masuk ke dalam lift. Dia tersentak, namun dia tidak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya.
Saat kami keluar dari lift, semua karyawanku memfokuskan pandangannya padaku atau lebih tepatnya ke tangan kami yang saling terpaut. Aku hanya tersenyum menanggapi itu dan dengan cepat berlalu menuju ke parkiran.
"Masuklah" ucapku sambil membukakan pintu mobil untuk Zinia.
"Tidak kau suruh juga aku akan masuk" ketusnya.
Aku menutup pintunya dan berjalan ke sisi mobil lainnya. Aku menghidupkan mesin dan mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
"Kita makan dulu ya, baru kau ku antar pulang" tawarku.
"Antar aku dulu baru kau makan. Aku tidak lapar" tegasnya.
"Baiklah terserah kau saja" aku tidak ingin memaksanya sekarang. Kasihan dia sudah capek.
Tak lama, kami pun sampai dikediaman Zinia. Dia keluar dari mobil dan menutupnya dengan keras. Baru beberapa langkah, ia kembali dan mengetuk kaca mobilku. Aku pun menurunkan kaca mobil.
"Terima kasih" ucapnya dan masuk ke perkarangan rumahnya.
Tenyata gadis sepertinya bisa juga mengucapkan terima kasih. Kau memang lucu. Ah! Jadi makin sayang.
To Be Continue.