Chapter 9

1146 Words
Abraham POV "Baby!" Dia tertawa. Aku senang jika dia tertawa. Tapi jika dia tertawa untuk menertawaiku, aku tidak senang. Aku beranjak dari sofa dan mendekat ke arahnya. Dia berhenti tertawa dan berlari menghindariku. Aku mengejarnya dan dia terus menghindar. "Awas kau ya!" Dia terus berlari dan berlari. Apa dia tidak sadar kalau dia sudah masuk ke kamarku? Aku mengunci kamarku dari dalam dan berjalan mendekatinya yang sedang ada dibalkon kamarku. Sepertinya dia lupa kalau aku sedang mengejarnya sekarang. Dia terlihat terpesona dengan sunset yang disajikan di kawasan padat ibukota. Aku sengaja membeli apartement yang memiliki view sunset, karena aku ingin nanti setelah aku menikah setiap hari aku dan istriku akan melihat sunset sambil berpelukan. Tapi sepertinya aku tidak perlu lagi menunggu sampai menikah. Aku berjalan mendekat ke arah Zinia. Entah kenapa wajahnya terlihat sangat cantik jika seperti ini. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya dan meletakkan daguku di pundaknya. Aku merasakan badannya bergetar. Apa dia kaget? Atau mungkin dia gugup? "Abra!" pekiknya. "Sunsetnya indah, kan?" tanyaku. Aku mengeratkan pelukkanku padanya. Bbrrrhh.. Udara sore ini sangat dingin. Apa akan turun hujan? Entahlah aku tidak tau. Aku merasakan tangan Zinia meraba tanganku. "Ya Tuhan! Tanganmu dingin sekali!" pekiknya. Gadisku ini ternyata senang sekali memekik ya. Apa dia akan memekik seperti ini juga saat malam pertama nanti? "Jangan memikirkan yang aneh-aneh! Dasar m***m" Dia segera melepaskan pelukanku dan berbalik. Dia masuk ke dalam meninggalkanku sendirian di balkon luar. "Kau mau ke mana?" pekikku. Huh! Badanku sudah menggigil sekarang, aku seperti tidak sanggup lagi buat melangkah. Yang ku lakukan sekarang hanya diam sambil menggosok-gosokkan tanganku. Langit juga sudah mulai gelap. Tega sekali dia. "Ini pakai. Lain kali jangan suka shirtless kalo cuacanya kayak gini" ucapnya yang kembali ke balkon sambil membawa sweater ku yang sepertinya ditemukannya dilemari. 'Dia benar. Ini sudah mau hujan. Pantas saja dingin' "Kenapa masih disitu? Cepat masuk! Apa kau mau sakit?" omelnya. Ternyata dibalik sifat cueknya dia sangat perhatian. "Iya baby ku sayang!!" dia memutar bola matanya dan masuk ke dalam. Aku masuk dan menutup pintu kaca balkon kamarku. Ku lihat Zinia sedang melipat kedua tangannya didada dan bersandar pada pintu. Dia menatap tajam ke arahku. Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan? "Kunci kamarnya!" pekiknya. Dia menadahkan tangannya meminta kunci kamar padaku. "Kunci kamar? Untuk apa?" tanyaku bingung. "Kau mengunci kamarnya 'kan? Cepat berikan! Aku mau keluar" ucapnya. Oh iya aku baru ingat kalau aku mengunci kamarnya. "Untuk apa diluar? Di sini saja" jawabku santai dan duduk di atas sofa. "Tolonglah, Abra! Aku harus keluar untuk mengambil koperku" ucapnya. Apa dia berniat tidur dikamar yang sama denganku? Hah senangnya. "Baiklah, tapi cepat. Diluar dingin" tegasku lalu memberinya kunci kamar. Dia mengangguk dan dengan cepat keluar dari kamar. Aku menutup pintu kamar dan kembali duduk di atas sofa sambil menyelesaikan pekerjaan kantorku. "Ahhh.. Akhirnya selesai juga" gumamku. Aku melihat sekeliling kamarku dan sama sekali tidak melihat Zinia di sana. Kemana dia? Apa dia kabur? Ah! Seharusnya tak ku biarkan dia keluar tadi. Aku meletakkan laptop ku di atas sofa lalu berjalan keluar. Ku lihat kopernya masih tergeletak begitu saja di lantai. Pasti dia masih ada di sini. Aku menyusuri setiap sudut apartementku, tapi sama sekali tidak menemukannya. Saat aku melintas di dekat dapur. Aku mendengar suara perumpuan sedang bersenandung ria. Apa itu Zinia? Aku memulai mencium aroma masakan yang sangat harum. Pasti rasanya lezat. Aku pun melangkah masuk ke tempat yang sangat jarang aku kunjungi, dapur. Benar saja, Zinia sedang memasak di sana. Sepertinya dia baru saja habis mandi. Terlihat dari rambutnya yang masih setengah kering dan baju yang sudah ia ganti. Ia terlihat menggemaskan menggunakan piyama mickey mouse itu. Di tambah lagi celemek pink muda yang ia gunakan, menambah kesan manis pada dirinya. "Jangan melihatku seperti itu, penguntit" ucapnya. Dia berbalik sambil membawa semangkuk sup ayam dan meletakkannya di atas meja makan. "Cepat duduk" ketusnya. Aku tersenyum dan berjalan mendekat ke meja makan. Aku menggeser kursi di depannya dan duduk di sana. "Maaf kalau kau tidak suka lauknya. Habis cuma ini yang aku temukan di kulkasmu"  ujarnya sambil menunjuk lauk pauk yang tersaji di meja makan. Apa dia bercanda? Aku sama sekali tidak keberatan untuk memakan ini semua. Justru aku sangat senang, karena ini termasuk dalam daftar makanan favoritku. Sup ayam, tempe dan tahu goreng, dan juga sambal. Sudah lama aku tidak mencicipi masakan seperti ini. Terakhir kali aku mencicipi masakan seperti ini saat aku dan keluargaku berkunjung ke rumah nenek. Tepatnya 6 bulan yang lalu. "Untuk apa meminta maaf? Justru aku sangat senang. Ini semua makanan favoritku" dia tersenyum dan mulai mengambil nasi dan lauk pauk. "Ini makanlah. Jangan lupa berdo'a" dia memberiku sepiring nasi + lauk pauk. Apa dia sedang belajar menjadi istri yang baik untukku? Romantis sekali. "Terima kasih" dia tersenyum dan kembali mengambil nasi juga lauk pauk di piringnya. Setelah berdoa, kami pun langsung melahap nasi dan lauk pauknya itu. 'Ini enak sekali!!' "Tolong nasinya" ucapku padanya. Aku menyodorkan piringku yang sudah kosong. Dia memberiku satu sendok penuh nasi dan juga lauk pauknya. "Terima kasih" aku kembali memakan makananku dengan lahap. Sedangkan dia sudah selesai dengan makanannya. Dia beranjak dari meja makan dan menaruh piringnya di bak cuci piring. "Apa sudah selesai makannya?" tanyanya. Aku mengangguk dan membawa piringku ke bak cuci piring. Dia pun mulai membereskan meja makan dan menaruh piring kotor di bak cuci piring dan mulai mencucinya. Aku kembali duduk di meja makan. Entah kenapa ketika aku melihat punggungnya, rasanya aku ingin memeluknya. Punggungnya begitu hangat sampai-sampai aku betah jika terus memeluknya. Diam-diam aku melangkah mendekatinya dan bersiap untuk memeluknya. "Akhirnya.. AAAA!" pekiknya kaget. Astaga kupingku sakit sekali mendengarnya. "ABRA!!" teriaknya lalu mendorongku menjauh darinya. Aku hanya terkekeh dan melipat tanganku di d**a. "Apa yang ingin kau lakukan?! Mengagetkan aku saja" ketusnya. "Tidak ada. Hanya ingin memelukmu saja" jawabku terkekeh. "Genit!" dia mencubit pinggangku dan menghentakkan kaki dan pergi dari dapur. Menggemaskan. Aku pun melangkah keluar dari dapur dan menyusulnya. Dia sedang duduk di sofa di depan televisi sekarang. Yang dilakukannya hanya menggonta-ganti saluran tv tanpa berniat menontonnya. Mulutnya terus saja bergerak-gerak seperti sedang berbicara. Aku menajamkan pendengaranku untuk mendengar ocehannya itu. "Ah! Genit sekali dia. Enak saja dia memeluk tubuhku sembarangan! Dia juga tidak sopan.seenaknya shirtless di depan perempuan. Apa dia tidak tau kalau aku masih marah padanya tentang kejadian malam itu? Hah! Ya Tuhan. Apa aku sanggup menjalani hidup dengannya?" omelnya yang membuat aku terkekeh. "Pasti sanggup" ucapku yang membuatnya kaget. Dia hanya melihatku sekilas lalu beranjak dari ruang tengah. Dia mengambil kopernya dan menyeretnya menuju kamarku. Blam! Cklek! Cklek! Lihat lah tingkahnya, sangat menggemaskan seperti anak-anak. Pintu kamarku ditutupnya dengan keras dan dikuncinya dari dalam. Apa? Dikunci? Lalu aku tidur dimana? Hash!! "Baby!! Buka pintunya!" teriakku dari luar. Tak ada sahutan dari dalam. Astaga ternyata dia benar-benar marah padaku. Sepertinya aku harus tidur diluar malam ini. "Selamat tidur dengan tidak nyenyak Abra" gumamku. Aku pun mematikan lampu dan tidur dengan posisi terlentang di sofa. To Be Continue..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD