Kian sungguh lega setelah mengutarakan semuanya. Sekarang semua sudah jelas dan beres. Ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk bicara pada Bu Ivo. Senyum Kian tak berhenti mengembang sejak tadi. Rasanya sungguh lebih membahagiakan daripada kencan pertama. Ia tak pernah menyangka bahwa berdamai dengan Yongki akan membuatnya lepas beban sampai sebesar ini. Kian hendak menaiki anak tangga, tapi suara Lintang di dalam kamarnya membuat langkah Kian terhenti. Sepertinya Lintang sedang berdebat dengan seseorang di telepon. Kian berjalan mengendap mendekati kamar Lintang. "Bukan gitu. Beneran. Aku janji, deh, akhir pekan ini bakal dateng." "...." "Please ... Maafin aku, ya." "...." "Mana mungkin aku anggep kamu nggak penting?" "...." "Aku serius sama kamu. Aku beneran sayang sama

